
‘’Aku akan bantu cari tahu semua ini, Fan,’’ gumamku dalam hati.
***
Sahabatku menceritakan semua yang terjadi antara dia dan mamanya. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang membuat Tante Siska itu menyimpan rasa dendam pada Chika. Tapi aku tak tahu, entah apa. Di satu sisi aku menyalahkan Fani juga, kenapa dia tak berunding dengan mamanya terlebih dahulu sebelum membawa si pelakor itu menginap ke rumahnya.
Ya, walaupun wanita itu sudah membantu semua biaya administrasi papanya. Ah, aku tak tahu isi pikiran wanita ****** itu. Bisa-bisanya dia mendekati sahabatku, aku yakin dia-lah yang mempengaruhi Fani selama ini. Dasar wanita licik dan murahan!
Mataku beralih menatap sang sahabat yang tengah tertidur pulas di tempat tidurku. Ya, dia lelah setelah menangis sejadi-jadinya, setelah menumpahkan segala rasa yang ada di hatinya. Apalagi dia ada masalah sama Tante Siska, yang tak pernah sekalipun memarahinya. Pikiran dan tubuh Fani butuh istirahat untuk sementara.
‘’Kasihan sekali kamu, Fan,’’ lirihku.
Baiknya untuk sementara, kubiarkan saja Fani tetap berada di sini bersamaku sampai dia baikan dengan sang mama. Mataku tertuju pada benda nan canggih. Segera kuraih dan bergegas menekan nomor kontak Tante Siska.
Berdering..
‘’Assalamua’laikum, Tan.’’
‘’Wa’alaikumsalam. Eh, Nelda? Ini benaran kamu?’’
Membuat aku tertawa kecil.’’Iya, Tan. Ini aku Nelda. Tante dan Om apa kabar?’’
‘’Tante baik. Cuman Om kamu yang masuk rumah sakit udah seminggu lebih nih, Nel.’’
Membuat aku terkesiap, apa penyakit asma Om itu kambuh kembali? Ya, setahuku dulu semasa sekolah SMA papanya Fani mengidap penyakit asma. Itu udah lama dan waktu itu sudah mulai berangsur sembuh.
‘’Ya Allah. Aku belum sempat menjenguk Om, Tante. Semoga saja beliau cepat sembuh ya.’’
‘’Aaamiin. Nggak apa-apa. Tante paham kok. Apalagi kamu udah berkeluarga, pasti sibuk banget. Ngurus anak dan suamimu.’’
Membuat aku tersenyum tipis saja. Bukan karena aku sibuk mengurus suami atau pun anak, hanya saja aku sedang berusaha menenangkan diri. Apalagi kemarin Fani sempat salah paham padaku.
‘’Tante? A—aku ngga sengaja ketemu Fani tadi di market. Udah lama banget aku nggak ketemu sama dia. Makanya aku bawa ke rumah dan bolehkan kalau Fani menginap dulu di sini, Tan?’’
Kusengajakan tak menanggapi ucapan wanita separuh baya itu, aku langsung membahas Fani. Aku ingin tahu bagaimanakah reaksi Tante Siska.
‘’Terserah kamu, Nel. Tante nggak peduli lagi sama sahabat kamu itu,’’ ketusnya yang membuat aku terkesiap.
‘’Ma—ma’af, Tante. Maksud Tante apa?’’ Aku berpura-pura tak paham apa yang tengah terjadi di antara Fani dan Tante Siska.
‘’Kamu tahu Nelda, dia sudah bikin Tante kecewa. Masa iya dia lebih memilih gadis manja itu daripada Tante Mamanya. Dia malah melawan sama Tante.’’ Aku menghela napas berat.
Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh beliau. Aku tahu betul bagaimana sifat Tante Siska, beliau itu baik dan penyayang. Dulu aku sering bermain ke rumahnya, bahkan menginap di sana. Beliau memperlakukanku dengan baik, bahkan sekedar membantu untuk menyapu atau beberes saja aku tak dibolehkan. Aku cuman makan, tidur dan bermain saja bersama Fani.
Tapi, mengapa kini sikap Tante begitu berbeda pada si pelakor? Feelingku mengatakan kalau ada sesuatu yang terjadi, yang membuat Tante Siska berlaku seperti itu pada wanita yang bernama Chika.
‘’Chika maksud Tante? Tan, Fani kayak gitu karena dipengaruhi sama wanita itu. Begini aja, Tan. Gimana kalo nanti kita ketemuan, biar kita bisa ngobrol. Ada hal penting juga yang harus aku ceritakan ke Tante.’’
__ADS_1
‘’Dipengaruhi? Apa maksud kamu, Nel?’’
‘’Biar jelas, nanti kita ketemuan aja, Tan. Aku akan ceritakan semuanya ke Tante.’’
‘’Oke, tapi kamu nggak usah bawa sahabatmu itu.’’ Aku tersenyum lebar. Sepertinya Tante Siska masih kesal dan kecewa sama anaknya.
‘’Oke, Tan. Nanti aku kirim alamat cafenya ke Tante atau aku yang jemput.’’
‘’Nggak usah, Nel. Tante naik taxi aja nanti ya. Kalo gitu udah dulu. Sepertinya di depan ada tamu.’’
Sambungan telepon pun terputus secara sepihak.
***
Mumpung anakku sedang tidur siang di ruang bermainnya, aku memutuskan untuk mandi dan sekalian berwudu’ untuk sholat zuhur. Tak berselang lama aku sudah selesai melakukan ritual, begitu juga dengan berwudu’. Bajuku sudah terpasang rapi dan bergegas aku meraih mukenah yang tengah tergantung di hanger lalu langsung memasangnya.
Tak lupa kuambil juga sajadah lantas menghamparkannya. Aku laksanakan kewajiban empat raka’at dengan untaian do’a yang begitu panjang kupanjatkan pada Sang Maha Kuasa.
Beberapa menit kemudian, kurapikan kembali mukenah dan sajadah.
***
‘’Kamu mau ke mana, Nel?’’ Fani yang baru bangun tidur langsung menatap heran ke arahku yang tengah mematut diri ke cermin.
‘’Mau ke luar sebentar, Fan,’’ sahutku tanpa menoleh.
‘’Kamu main aja sama Naisya ya. Aku nggak lama kok.’’
‘’Kalo butuh apa-apa minta aja sama Bibi ya, Fan,’’ lanjutku yang tengah menyambar tas lalu kusandang.
‘’Jangan lama ya. Aku kan baru di sini. Segan aku, Nel,’’ keluh Fani yang membuat aku terkekeh.
Aku mengangguk lalu mengambil kunci mobil di nakas. Aku bergegas melangkah ke luar dari kamar.
‘’Bu? Mau ke mana?’’ Ternyata ada si bibi yang tengah menjemur pakaian. Dia menghentikan tangannya lalu menatapku.
‘’Ke luar sebentar, Bi. Jaga Naisya ya.’’ Aku langsung melangkah ke garasi.
‘’Siap, Bu. Hati-hati bawa mobilnya.’’ Aku menoleh lalu menyahut dengan anggukan sambil tersenyum.
***
Tak berselang lama si roda empatku sudah tiba di depan café nan sederhana. Segera kusharelok ke Tante. Bergegas kuparkirkan si roda empat. Lalu langsung turun dan melangkah memasuki café. Aku memilih meja yang terletak di belakang sekali, tepat di dekat kolam. Biar refresh dan santai, juga jauh dari keramaian.
Kufotokan di mana tempatku berada dan segera mengirimkannya pada wanita separuh baya itu. Ceklis dua bewarna biru, itu artinya sudah dibaca olehnya. Sambil menghalau rasa bosan aku memilih berselancar di media sosial. Banyak sekali pesan dan komentar yang kuterima dari follower.
Ada yang bertanya kenapa aku tak seaktif dulu lagi menulisnya, ada yang bertanya kapan aku akan kembali update kelanjutan novel, ada yang bertanya tentang masalah rumah tanggaku, dan banyak lagi pertanyaan para netizen. Aku memutuskan untuk membalas pesan mereka yang bertanya tentang kelanjutan novelku. Ya, memang akhir ini aku kurang aktif menulis, moodku berantakan. Entah kenapa ideku itu tak seperti biasanya yang mengalir deras.
__ADS_1
‘’Nelda?’’ Aku bergegas memasukkan ponsel k etas lalu bangkit.
‘’Tante?’’ Aku langsung takdzim dan Tante Siska pun memelukku dengan erat.
‘’Udah lama banget Tante nggak ketemu kamu, Nel,’’ ungkapnya setelah melepaskan pelukan dariku.
‘’Sama, Tan. Aku juga udah lama banget nggak ketemu sama Tante.’’ Kami bergegas menghenyak di kursi.
‘’Mba!’’ panggilku sambil melambaikan tangan. Wanita berkerudung itu berjalan tergopoh-gopoh melangkah ke arahku.
‘’Ya, Mba. Mau pesan apa?’’
‘’Espresso dua dan sticknya dua ya.’’ Wanita berkerudung itu langsung mencatat pesananku.
‘’Baik, Mba.’’ Dia berlalu meninggalkan kami. Aku beralih menatap wanita separuh baya yang tengah termenung. Tatapannya kosong.
‘’Tan?’’ panggilku dengan lembut.
‘’Ah, iya, Nel.’’
‘’Sebelumnya aku minta ma’af Tante. Ma’af kalo aku ikut campur. Aku ingin meluruskan kesalahpahaman antara Tante dan Fani. Aku mau menjelaskan kalo Fani itu udah dipengaruhi sama si pelakor. Juga karena—‘’
‘’Si—si pelakor? Siapa maksud kamu? Chika?’’ Membuat Tante Siska terperanjat kaget, matanya membulat. Entah kenapa dengan spontan bibirku menyebutkan kata ‘Si pelakor’.
Aku menghela napas pelan,’’Iya, Tante. Wanita itu selingkuh sama suamiku selama 4 tahun,’’ ungkapku dengan suara bergetar. Membuat wanita di depanku terperanjat kaget dan menutup mulutnya.
‘’Ya Allah, Nel. Empat tahun?’’ ulangnya kembali. Aku hanya menyahut dengan anggukan.
‘’Dasar wanita murahan, wanita nggak beres. Sama aja sama Bapaknya!’’
Aku terkesiap, melihat muka Tante Siska seperti menahan amarah yang begitu besar.
‘’Maksud Tante? Papanya Chika?’’
‘’Iya. Dialah penyebab meninggalnya kembaran, Tante.’’
‘’Astaghfirullah!’’ Aku membungkam mulutku sendiri saking kagetnya. Jadi karena itu Tante Siska membenci wanita itu? Kutelusuri sorot mata beliau, seperti ada kebencian dan dendam di sana.
‘’Papanya Chika yang membunuh kembaran Tante?’’ Seketika menetes buliran air mata wanita separuh baya itu.
‘’Dia dulu punya hubungan sama kembaran Tante, Mita. Kembaran Tante begitu sangaat mencintai lelaki itu, mereka akan memutuskan untuk segera menikah. Tapi, ternyata hubungan mereka nggak direstui oleh kedua orangtua lelaki itu. Mamanya menyuruh untuk meninggalkan Mita dan lelaki itu akan dijodohkan sama wanita lain,’’ kata Tante Siska di balik isakan tangisannya, ucapannya terjeda.
‘’Lelaki itu malah menuruti semua kemauan orangtuanya. Dia memutuskan hubungan dengan kembaran Tante. Tapi, Mita ini nggak mau dan nggak ingin berpisah dari lelaki brengsek ini. Membuat Mita terus mengurung diri di kamar. Dia terus saja menangis dan berteriak. Hingga pada akhirnya dia bunuh diri..’’ Membuat buliran air mataku ikut menetes.
Tubuh Tante Siska berguncang hebat karena menahan suara tangisannya. Aku tak bisa berkata apa-apa untuk saat ini, aku langsung memeluk beliau dengan erat sambil mengelus punggungnya.
‘’Kita sama-sama punya dendam sama keluarga Setia, lelaki brengsek. Kamu mau kan bekerja sama untuk balas dendam?’’
__ADS_1
Bersambung