Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Sahabat Tempat Berkeluh Kesah


__ADS_3

‘’Sampah itu harus dibuang pada tempatnya, Fan.’’


‘’Aku mengerti, Nel. Yaa, walaupun aku nggak tahu bagaimana rasa sakit yang kamu rasakan. Tapi, aku yakin rasanya sangaat sakit,’’ kata Fani lirih.


Aku membenarkan ucapannya dalam hati. Kini tak ada sahutan dariku, aku hanya fokus menyetir. Karena sebentar lagi akan sampai juga di rumah. Lebih baik aku bercerita di rumah saja bersama Fani.


Tak berselang lama si roda empat sudah tiba di depan rumahku. Tampak pagar besi tertutup. Langsung kubunyikan klakson dan menurunkan kaca mobil.


‘’Wah, rumah kamu bagus banget, Nel,’’ pujinya yang terus memandangi rumahku.


‘’Alhamdulillah. Iya, Fan. Tapi kan nggak selamanya jadi milik kita. Ini hanya titipan, bukan?’’


Aku tersenyum memandangi sahabatku yang tak berkedip netranya memandangi rumahku. Hingga si bibi Sumi tampak tergopoh-gopoh, bergegas membuka pagar.


‘’Kamu selalu saja begitu, Nel. Nggak pernah berubah. Kata-katamu itu nggak bisa aku bantah,’’ ungkap Fani sambil tersenyum lebar beralih menatapku. Aku terkekeh.


‘’Udah, Bu,’’ teriak bibi Sumi. Aku langsung melajukan si roda empat untuk meletakkannya ke garasi.


Aku dan Fani pun bergegas turun.


‘’Eh, ini toh yang namanya Bu Fani,’’ sapa si bibi Sumi sambil tersenyum ramah.


‘’Iya, Bi. Tapi, jangan panggil Ibu dong. Aku kan belum menikah,’’ sungut Fani yang membuat aku tertawa kecil.


‘’Ya, nggak apa-apalah, Bu Fani. Kalo gitu cepat atuh menikah biar cocok dipanggil Ibu,’’ canda si bibi yang berhasil membuat Fani terkekeh.


Aku pun ikutan tertawa kecil mendengar candaan wanita yang sudah kuanggap sebagai keluargaku itu.


‘’Yuk kita masuk,’’ ajakku pada Fani, namun seketika buah hatiku berlari lalu memelukku.


‘’Ma, Mama pulang dari mana?’’ Naisya melepaskan pelukan dariku lalu beralih menatapku.


‘’Mama dari market, Sayang.’’


‘’Kok nggak bawa Adik,’’ sungutnya dengan manja. Membuat aku tersenyum lebar.


‘’Adik kan tidur tadi. Tidurnya pules banget.’’


Aku mensejajarkan tinggiku dengan anak semata wayangku.


‘’Kenalkan, ini sahabat lama Mama. Tante Fani namanya,’’ lanjutku sambil beralih menatap Fani yang tengah menunjukkan seulas senyuman.

__ADS_1


‘’Hallo cantik,’’ sapa sahabatku sambil melambaikan tangannya.


‘’Hallo, Tante. Nama Adik Naisya.’’


‘’Wah, bagus namanya yah. Nanti main sama Tante ya, Dik.’’ Yang disahut anggukan oleh Naisya.


‘’Eh, Bibi? Aku lupa ngambil barang belanjaan di jok mobil. Tolong bawa ke dalam semuanya ya, Bi,’’ pintaku pada si bibi yang tengah senyum-senyum.


‘’Baik, Bu.’’


Aku memberi kode pada Fani agar mengikuti langkahku untuk memasuki rumah, sedangkan Naisya tengah kugandeng tangan mungilnya.


‘’Assalamua’laikum.’’


‘’Wah, besar rumah kamu ya, Nel. Bagus juga.’’ Mata Fani tak hentinya memandangi rumahku. Aku hanya mengulum senyuman.


‘’Adik main aja sendirian ya, Ma,’’ kata si buah hatiku yang menatapku.


‘’Emang Adik mau main sendirian?’’


‘’Maulah, Ma. Kan Adik udah besar.’’ Membuat aku tertawa kecil, begitu juga dengan Fani.


‘’Ihh, gemesin anak kamu ini, Nel.’’ Sahabatku itu menoel pipi Naisya.


‘’Makanya kamu menikah gih, Fan,’’ kataku sambil mengedipkan sebelah mata. Seketika ekspresinya berubah. Terdengar helaan napas dari wanita itu.


‘’Kamu kan tahu kalo aku masih trauma ditinggal—‘’


‘’Aku mengerti, Fan. Ma’afkan aku ya. Aku percaya kamu akan menemukan orang yang tepat dan bisa mengobati rasa luka dan traumamu itu,’’ selaku cepat dan bergegas membuka pintu kamar tidur.


‘’Adik ke ruang bermain dulu ya, Ma.’’


‘’Adik bisa sendiri?’’ Aku menoleh.


‘’Bisa dong. Kan Adik udah besar.’’ Anak semata wayangku bergegas melangkah sedangkan aku mematut punggung kecilnya dengan seulas senyuman.


‘’Ayo masuk, Fan. Kamu pasti capek,’’ titahku yang membuat Fani terkekeh.


‘’Aku segan, Nel. Masa aku istirahat di kamar kamu,’’ keluh wanita berambut sebahu itu.


‘’Lah, ngapain segan coba? Dulu aja kita sekamar,’’ sanggahku cepat.

__ADS_1


‘’Itu dulu, Nel. Sekarang beda lagi. Kamu kan udah bersuami. Sedangkan aku masih single.’’ Membuat aku menggeleng.


‘’Jadi kamu segan masuk ke kamar aku, karena aku udah bersuami?’’


‘’Fan, kamu kan sudah tahu kalo aku nggak akan balikan lagi dengan Papanya Naisya. Aku udah memutuskan untuk sendiri. Jadi nggak ada kata segan,’’ jelasku panjang lebar dengan nada kesal.


‘’Iya deh. Kalo begitu kata kamu,’’ pasrahnya.


Aku bergegas memasuki kamarku, diikuti oleh sang sahabat. Kugantungkan tas kembali pada tempatnya. Sedangkan Fani tampak menghenyak di tempat tidurku.


‘’Kalo kamu kepanasan hidupin aja AC ya, Fan,’’ ujarku tanpa menoleh, sambil meletakkan kunci mobil di nakas.


***


Sudah hampir setengah jam kami beristirahat ditemani minuman dan beberapa cemilan yang dihidangkan oleh si bibi.


‘’Jadi kamu nggak ada kepikiran untuk buka hati lagi, Nel?’’


Ucapannya mampu membuat aku tersedak. Untung saja tadi bibi membawakan air putih juga, segera kuteguk air putih hingga tandas.


‘’Eh, ma’af, Nel.’’ Dia malah terkekeh. Begitulah sahabatku ini, aku tersedak dia malah terkekeh.


‘’Bukannya tadi aku udah bilang ke kamu. Kalo aku nggak ada niat untuk membuka hati. Apalagi rasa trauma yang membekas di hatiku. Kamu juga tahu kan bagaimana rasa trauma, tentu akan sulit untuk membuka hati kembali. Sulit untuk percaya lagi pada lelaki,’’ jelasku lirih sambil meletakkan gelas kosong di nakas. Fani mengangguk paham.


‘’Tapi, bagaimana kalo lelaki itu memang sungguh-sungguh ingin mengobati rasa trauma kamu, Nel?’’ Membuat aku terdiam membisu.


Lelaki mana maksud Fani? Apa Reno yang ditemuinya tadi di depan market Kurnia? Sangat lama tercipta keheningan di antara kami. Aku menghela napas berat.


‘’Untuk saat ini memang aku belum berpikiran untuk buka hati, Fan. Sulit bagiku untuk percaya pada lelaki lagi. Aku sekarang fokus membesarkan dan mendidik Naisya. Ya, kalo suatu saat Allah menghadirkan jodoh untukku. Aku berharap dia adalah lelaki baik dan bertanggung jawab. Dia bisa menerima dan menyayangi anakku seperti anaknya sendiri,’’ lanjutku sambil menatap Fani. Tak ada sahutan ataupun sanggahan dari sahabatku.


‘’Oh iya, aku mau menanyakan sesuatu. Mata kamu itu sembab dan itu dari tadi aku perhatikan. Apa kamu ada masalah di rumah? Ceritalah ke aku, Fan,’’ kataku yang membuka suara.


Ya, aku penasaran dan sekaligus cemas melihat mata sahabatku yang sembab dan seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikannya. Seketika air matanya luruh dan tubuhnya berguncang hebat menahan isak tangisan. Membuat aku terkesiap dan mendekati sahabatku itu.


‘’Aku menyesal banget, Nel. Udah membawa Chika menginap di rumahku. Aku jadi bertengkar sama Mama. Sampai aku kena tampar.’’ Membuat aku terkesiap mendengar ucapan Fani.


‘’Maksud kamu, Tante menampar kamu karena membawa Chika menginap ke rumah?’’ ulangku kemudian yang disahut dengan anggukan lemah olehnya.


‘’Ya Allah. Kok bisa?’’ Aku membungkam mulut saking kagetnya.


Ya, aku tahu betul bagaimana mamanya Fani. Beliau itu tak pernah main tangan pada anak semata wayangnya. Jangankan main tangan, berkata kasar saja tak pernah. Kenapa Tante itu melakukan itu semua? Hanya karena membawa si Chika pelakor itu membuat Fani dapat tamparan dari mamanya? Apa karena Tante itu tahu kalau si Chika itu seorang pelakor? Tidak, tidak mungkin mamanya Fani mengetahui itu semua.

__ADS_1


‘’Aku akan bantu cari tahu semua ini, Fan,’’ kataku dalam hati.


Bersambung


__ADS_2