
Aku kasihan sekali dengan majikanku ini. Kemarin dia selesai kecelakaan setelah menyerahkan suaminya pada si pelakor. Mereka berselingkuh ternyata sudah empat tahun lamanya, namun bu Nelda tak pernah mengetahui perselingkuhan itu. Ya, saking polos dan baiknya wanita yang bernama bu Nelda. Seringkali hatiku bertanya-tanya, kok bisa-bisanya pak Deno berselingkuh di belakang istrinya?
Lelaki tak tahu diuntung dan tak pernah bersyukur. Padahal istrinya menemani dari nol, mulai dari dia yang tak punya apa-apa. Bu Nelda selalu bersikap sabar, dia menerima apa adanya keadaan suaminya itu, tak pernah mengeluh, dan bahkan dia meminta papanya untuk memberikan pekerjaan pada pak Deno hingga naik daun. Tetapi apa balasan dari seorang pak Deno setelah dia punya segalanya? Lelaki itu malah main api di belakang sang istri.
Aku tak habis pikir dengan isi kepala pak Deno, kok bisa-bisanya dia tega menyakiti istri sesempurna bu Nelda? Kenapa aku mengatakan istri yang sempurna? Dia wanita yang pintar memasak, sholeh, cantik dan wanita karier lagi. Luarbiasa bukan? Lelaki itu manusia bodoh. Sudah ada wanita yang sesholehah istrinya, kenapa masih melirik ke wanita lain.
Dan lebih parahnya lagi, kabarnya si pelakor itu wanita sexy yang selalu menampakkan lekuk tubuhnya. Aduuh, sungguh hati pak Deno sudah tertutup dan terkunci, tak tahu lagi mana wanita yang baik dan mana wanita yang buruk.
Ya, masih mendingan bu Nelda menyerahkan lelaki itu pada si pelakor. Bagaimana kalau kedua pasangan haram itu dimutilasinya seperti berita yang tengah viral di televisi? Tapi, tidak dengan bu Nelda. Saking baik dan mulianya hati seorang bu Nelda. Aku menjulukinya wanita berhati malaikat.
Kalau aku di posisi majikanku itu, aku sungguh tak sanggup. Dan aku bakalan memusnahkan keduanya atau bahkan memutilasi mereka. Lain halnya dengan bu Nelda. Apa ada wanita seperti dia di dunia ini? Yang hatinya begitu baik dan mulia padahal dia sudah dikhianati selama bertahun-tahun. Dia juga wanita yang tegar menurutku. Kalau aku berada di posisinya, mungkin aku tak kan sanggup atau memilih mengakhiri hidup jika tak dapat memusnahkan kedua orang yang berselingkuh di belakangku.
Kini bu Nelda memilih untuk sendiri. Walaupun terkadang hatinya perih jika anak semata wayangnya sering menanyakan papanya yang tak pulang-pulang ke rumah. Terpaksa bu Nelda berbohong, karena belum waktunya dia untuk mengetahui semua yang terjadi pada kedua orang tuanya itu. Dia tak tahu apa-apa. Contohnya saja hari ini, Naisya ingin sekali bermain dengan papanya, dia begitu merindukan sang papa. Hingga membuat dia menyuruhku untuk menghubungi pak Deno itu.
Namun, aku berusaha untuk mencari alasan. Kukatakan kalau papanya sangat sibuk bekerja di kantor. Eh, ternyata dia malah memintaku untuk menelpon mas Reno sebagai ganti papanya untuk bermain. Membuat aku dilema. Bu Nelda pasti akan terasa berat untuk mengizinkan lelaki asing menginjakkan kaki ke rumahnya, apalagi statusnya masih sebagai istri pak Deno walaupun mereka tak seatap lagi.
Aku tahu betul bagaimana seorang bu Nelda yang selalu berusaha menjaga dirinya dari lelaki asing. Buktinya tatkala aku ingin menghubungi mas Reno untuk memintanya datang ke sini, si ibu malah melarangku. Eh, lelaki yang baru menjabat sebagai security itu tiba-tiba datang dan menawarkan dirinya untuk bermain dengan Naisya. Aku tak setuju jika dia bermain dengan Naisya, apalagi dia orang baru di sini dan kita tak tahu apakah dia benaran orang baik atau malah sebaliknya.
Tapi majikanku itu malah setuju jika anaknya bermain dengan lelaki berseragam itu, katanya lebih baik. Daripada anaknya bermain sama mas Reno atau pak Deno.
Sejujurnya, dari awal aku kurang menyukai security pribadi bu Nelda yang baru beberapa hari ini bekerja di sini. Apalagi sejak aku mengetahui gerak-geriknya yang membuat aku curiga. Dan tatkala dia menerima telepon dari seseorang, dia menjauh dariku. Waktu itu aku mengantarkan kopi dan sarapan pagi untuknya. Sejak itu entah kenapa membuat aku semakin mencurigainya. Seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh lelaki itu.
Aku mengendap-endap melangkah mengikuti langkah lelaki berpakaian seragam itu yang tengah memegangi tangan Naisya. Kuyakin dia hendak membeli es krim yang tadi dijanjikannya pada Naisya.
‘’Tapi, sebentar bukankah Bu Nelda menyuruh ke warung terdekat saja? Kenapa dia malah ke arah lain? Bukannya warung terdekat itu di sana,’’ gumamku yang memandangi lelaki itu dan Naisya yang langkahnya semakin menjauh dariku.
‘’Ya Allah, apa yang akan dilakukan olehnya?’’
Membuat aku semakin cemas dibuatnya. Apalagi lelaki yang bernama Dodo itu baru saja bekerja di sini. Bu Nelda belum tahu bagaimana dia sebenarnya. Bagaimana kalau dia melakukan sesuatu pada Naisya? Tidak! Aku tak mau hal itu terjadi. Ah, sebentar bukankah tadi aku bawa benda canggih di saku-saku? Kutelpon saja bu Nelda untuk memberitahu ini semua. Aku tak bisa sendirian kalau seperti ini. Bergegas kutekan nomor kontaknya.
Berdering..
‘’Ya Allah, angkat dong, Bu.’’ Aku mondar-mandir dengan perasaan resah. Kenapa ya, ibu tak mengangkat telponku? Apa dia sedang sarapan? Atau terjadi sesuatu padanya?
‘’Ya Allah, gimana nih? Mana sekarang mereka nggak nampak lagi. Ke mana sebenarnya lelaki itu membawa Naisya?
‘’Nggak, aku harus menuruti lelaki itu. Takutnya terjadi sesuatu sama Naisya. Aku nggak mau terjadi sesuatu sama dia.’’
__ADS_1
Seketika lewat mas tukang ojek.
‘’Mas, Mas! Anterin aku, ke arah sana ya!’’ tunjukku seketika. Aku bergegas menaiki motornya tanpa ada jawaban dari lelaki itu. Motornya pun langsung melaju.
‘’Dik! Ini Bibi mau jemput Adik. Semoga kamu baik-baik aja ya,’’ monologku dalam hati.
Aku terus merapalkan do’a untuk Naisya agar dia diberikan keselamatan oleh Allah. Netraku terus mencari keberadaan mereka. Tadinya terakhir aku melihat mereka di sini. Kutelusuri beberapa warung dengan mataku. Namun, tak kudapati keberadaannya.
‘’Mas, di sini aja ya,’’ pintaku yang menepuk pelan pundak si mas ojek, bergegas aku turun dari motor. Untung saja ada uang dua puluhan di saku-saku.
‘’Nih, Mas. Makasih banyak ya,’’ kataku yang menyodorkan uang. Lalu bergegas aku melangkah, namun panggilan lelaki itu mampu membuat aku menoleh.
‘’Kembaliannya nih, Bu,’’ teriaknya karena aku sudah lumayan jauh darinya.
‘’Ambil aja kembaliannya ya, Mas.’’
‘’Wah, terima kasih banyak ya, Bu.’’
Aku hanya menyahut dengan anggukan walaupun si mas itu tak nampak jika aku tengah mengangguk. Kembali kulanjutkan langkah. Mataku sibuk memandangi sekitarnya guna mencari keberadaan Naisya. Seketika mataku tertuju pada rumah sederhana yang di depannya ada warung.
‘’Itu kayaknya Naisya deh sama Dodo? Alhamdulillah, akhirnya aku menemukan mereka,’’ lirihku dengan napas turun-naik.
‘’Mas Dodo! Kamu kenapa bawa Naisya sejauh ini!’’ kataku dengan nada kesal, pak Deno malah menatapku tajam.
‘’A—anu, Bi..’’ Dia malah menggarut kepala, wajahnya seperti ketakutan. Aku yakin dia takut jika aku bakalan mengadukan kelakuan anehnya ini pada bu Nelda.
‘’Bi, Dodo itu membawa Naisya karena mau mengajaknya beli es krim,’’ Kali ini lelaki itu yang bersuara. Apa iya?
‘’Saya kira ini atas suruhan Bapak,’’ kataku dengan berani. Membuat dia terkesiap.
‘’Bi, aku baru kenal sama Dodo. Jadi mana mungkin aku yang nyuruh Dodo ke sini. Ini cuman kebetulan aja kok. Tadi aku lewat di sini. Eh, ternyata aku melihat anakku. Kukira sama lelaki asing, makanya aku mencoba untuk mengecek sendiri. Setelah ditanya, ternyata security,’’ jelasnya panjang lebar.
Namun, entah kenapa aku tak begitu mempercayai ucapan lelaki itu. Bisa saja dia berbohong atau main kode-kode’an dengan Dodo. Entah kenapa aku merasa ada yang janggal saja.
‘’Dik, pulang sama Bibi ya,’’ kataku yang beralih menatap Naisya.
Aku sengaja tak mempedulikan ucapan lelaki yang sudah mengkhianati majikanku itu. Sejak aku tahu semua yang dilakukannya terhadap bu Nelda, benih-benih benci pun tumbuh seketika. Hingga saat ini melihatnya lama-lama membuat aku muak. Teganya dia menyakiti hati wanita sebaik bu Nelda.
__ADS_1
‘’Kita ajak juga Papa ya, Bi?’’ Membuat aku terkesiap dan lidahku kelu seketika.
‘’Pa, kita pulang ke rumah ya. Mama pasti nungguin Papa di rumah.’’ Dia menatap pak Deno dan menarik tangan lelaki itu.
‘’Sayang, kita kan udah ketemu di sini. Papa nggak bisa pulang ke rumah. Papa sekarang sibuk banget.’’ Lelaki itu mensejajarkan tingginya dengan si gadis kecil. Seketika wajah Naisya cemberut.
‘’Yah Papa kok gitu sih? Padahal aku pengen banget Papa pulang ke rumah. Biar kita bisa main bareng lagi.’’
‘’Ma’afkan Papa ya, Nak. Papa harus kerja untuk Adik dan juga Mama.’’
‘’Cuih! Kerja apaan? Kerja selingkuh yang ada,’’ cibirku dalam hati. Seketika benda canggihku berdering, kutatap layarnya. Ternyata panggilan dari bu Nelda. Aku membawa benda canggih itu menjauh dari mereka.
‘’Assalamua’alaikum, Bi. Bibi nelpon aku tadi?’’ Suara majikanku di seberang sana, tapi suaranya seperti habis menangis.
‘’Wa’alaikumussalam, Bu. Iya. Eh, sebentar kok suara Ibu kayak habis nangis? Ibu kenapa? Ibu baik-baik saja kan?’’
‘’A—aku baik aja kok, Bi. Mertuaku yang nggak baik keadaannya. Beliau masuk rumah sakit.’’
‘’Ya Allah! Bu, Ibu tenang dulu ya. Do’akan saja Bu Minah semoga beliau cepat pulih.’’
‘’Ya Allah, kalo begini bagaimana aku mau ngasih tahu ke Bu Nelda kalo Naisya sekarang bertemu dengan Papanya. Malah jadi bertambah lagi beban pikirannya,’’ gumamku dalam hati.
‘’Aamiin. Bantu do’a juga ya, Bi.’’
‘’Pasti, Bu. Tapi Ibu jangan terlalu di pikirin. Nggak baik buat kesehatan Ibu. Bibi nggak mau Ibu malah sakit lagi. Jadi nggak usah terlalu di pikirin yah. Serahkan semuanya pada Allah.’’
‘’Iya, Bi. Oh ya, Bibi tadi mau nelpon aku kan? Ada apa, Bi?’’
‘’Humm, tadinya mau ngasih kabar ke Ibu kalo Naisya sama si Mas itu masih jajan di warung. Itu aja sih, Bu, Supaya Ibu jangan cemas.’’
‘’Ma’afkan Bibi ya. Bibi nggak mau menambah beban pikiran Ibu lagi.’’
Bersambung..
Oh iya, ada dua orang Readers yang minta aku untuk update 2 episode atau lebih. Ma’af sebelumnya aku belum bisa. Kecuali udah banyak yang baca dan koment novel aku biar aku makin semangat nulis. Ini enggak, kadang cuman satu aja komentarnya. Gimana aku mau semangat untuk update cobak? Kalo udah ada 10 komentar atau 5 minimal deh. Aku bakalan double update. Oke.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe