
‘’Jangankan untuk ngobrol. Mau nginap sekali pun di rumah kamu, aku mau-mau aja.’’
‘’Kamu beneran kan, Fan?’’ Dia mengangguk cepat.
Aku sungguh bahagia sekali, sahabatku sudah kembali seperti dulu lagi. Fani yang kukenal beberapa tahun nan lalu. Kalau begitu, aku harus beritahu bibi Sumi supaya beliau menyiapkan sesuatu atau masakan untuk sahabatku ini. Apalagi dia tak pernah ke rumahku ini. Dulu, dia hanya sering ke rumah lamaku, rumah yang kami tempati dulu bersama papa dan mamaku sebelum beliau meninggal dunia.
Aku bergegas merogoh tas.
‘’Sebentar ya, Fan.’’
Aku langsung memencet nomor kontak si bibi.
Berdering..
‘’Assalamua’laikum, Bi.’’
‘’Bi, aku sebentar lagi mau otewe pulang ke rumah. Bibi siapkan masakan yang enak ya. Aku bawa sahabatku nih, yang sering aku ceritain ke Bibi itu,’’ kataku sambil merangkul pinggang Fani lalu tersenyum menatapnya.
‘’Ihh, jangan repot-repotlah, Nel.’’ Aku meletakkan jari telunjuk di bibirku. Pertanda aku menyuruh Fani untuk diam.
‘’Bibi ingat kan?’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu, Bi. Tapi, nggak usah buru-buru menyiapkannya ya, Bi.’’
‘’Kesukaan Fani? Jus apel, gulai ikan, dan telor balado. Tapi, cabenya jangan cabe hijo ya, Bi,’’ jelasku.
Ya, sahabatku itu dia memang alergi sama cabe hijau, bahkan jika dia memakan cabe itu perutnya akan terasa melilit dibuatnya.
‘’Udah ah, Nel. Repot nanti Bibinya,’’ kata Fani yang menepuk lenganku. Aku tertawa kecil.
‘’Nggak usah cemas, Fan. Bibi Sum mah suka direpotin,’’ sahutku sambil terkekeh. Membuat si bibi ikut tertawa di seberang sana.
‘’Aku suka juga kok kesukaannya Fani. Itu aja yah, Bi.’’
‘’Eh, tapi Naisya udah bangun? Dia nggak rewel kan, Bi?’’
Aku menghela napas lega,’’ Ya udah, Bi. Ini aku belum bayar belanjaan. Udah dulu ya, Bi. Assalamua’laikum.’’
Kembali kuletakkan benda canggih di tas. Mataku tertuju pada isi keranjang Fani. Cuman dua botol minuman dan sebungkus cemilan saja? Aku mengernyitkan kening.
‘’Cuman ini yang kamu beli, Fan?’’
Dia malah cengengesan sambil menggaruk kepala. Aku memandangi Fani, kenapa seperti dia tengah menyembunyikan sesuatu? Ah, aku baru sadar kalau matanya sembab. Lalu pipinya?
__ADS_1
‘’Ya Allah, ini kenapa pipi kamu, Fan?’’ Aku memegang dengan pelan.
‘’Udah nggak apa-apa kok, Nel. Kita sekarang mau bayar belanjaan kan?’’ Aku menghela napas berat, seperti dia mengalihkan pembicaraanku.
‘’Ya udah. Nanti kamu harus cerita ke aku di rumah ya.’’ Fani tampak mengangguk.
Aku bergegas ke kasir untuk menghitung belanjaanku yang sedari tadi aku acuhkan. Begitu juga dengan sahabatku, kami berjalan beriringan. Wanita berseragam bermerk market Kurnia itu segera menghitung belanjaanku.
‘’Sekalian saja ini, Mba,’’ kataku yang bergegas mengambil belanjaan Fani dari tangannya.
‘’Lah, ini kan belanjaan aku. Biar aku aja yang bayar, Nel.’’
‘’Jangan menolak rezeki. Do’a penolak rezeki nggak ada loh. Emangnya kamu tahu do’a penolak rezeki. Nggak tahu kan?’’ Aku bergegas memberikan belanjaan sahabatku pada si mbak kasir.
‘’Kamu mah, Nel. Nggak berubah dari dulu ya,’’ katanya sambil mencubit perutku yang membuat aku mengelus perut.
‘’Semuanya dua ratus empat delapan rupiah, Mba.’’ Dia menyodorkan belanjaanku yang sudah dikemas ke plastik berukuran besar itu.
Aku bergegas merogoh tas dan mengambil tiga lembar uang berwarna merah. Lalu aku menyodorkan pada wanita berkerudung cantik di depanku. Dia terheran.
‘’Uang lima puluhan ada nggak, Mba?’’
‘’Ini saya sengajakan untuk melebihkan. Untuk Mba belikan ke bakso,’’ jelasku sambil menunjukkan seulas senyuman.
‘’Wah, makasih banyak ya, Mba. Semoga Mba selalu murah rezeki dan sehat selalu,’’ katanya merapalkan do’a, lalu mengambil uang yang sedari tadi kusodorkan padanya.
‘’Sama-sama, Mba. Aamiin. Kalo gitu saya pamit dulu.’’ Dia menyahut dengan anggukan sambil tersenyum ramah.
‘’Yuk, Fan.’’ Kami pun melangkah ke luar dari market Kurnia.
‘’Nelda?’’ Aku menghentikan langkah.
Lelaki itu? Kenapa aku bisa bertemu kembali dengannya? Aku memalingkan wajah dan beralih menatap Fani yang tampaknya kebingungan.
‘’Iya, Ren. Kamu ngapain di sini? Eh, maksudnya. Kamu belanja juga?’’
‘’Kebetulan aku tadi lewat di sini. Terus nampak kamu deh.’’ Dia tersenyum manis.
Entah kenapa senyumannya itu seperti memberi penguat untukku. Tidak! Sadar, Nelda! Kamu belum tahu siapa lelaki di depan kamu ini, siapa dia yang sebenarnya. Jangan sampai kamu jatuh ke lobang yang sama. Lelaki itu sulit untuk dipercaya. Aku menghela napas pelan dan mengusir rasa yang sulit untuk kuterjemahkan. Ah, iya. Kukenalkan saja Fani pada Reno. Mana tahu mereka cocok. Siapa tahu lelaki itu jatuh hati nanti pada sahabatku. Biar lelaki ini tak mengharapkanku lagi.
‘’Hem. Ren, kenalkan. Ini sahabat aku Fani.’’
‘’A—aku Fani,’’ sapanya sambil menyodorkan tangan. Lelaki itu malah menelungkupkan kedua tangannya di dada.
__ADS_1
‘’Aku Reno,’’ sahut lelaki itu.
Membuat tangan Fani menggantung di udara lalu dia menggaruk kepalanya. Tapi entah kenapa Reno tatapannya tak berhenti tertuju padaku. Padahal sahabatku lebih cantik dariku, walau dia tak berkerudung.
‘’Kalo gitu, kami duluan ya, Ren. Ada urusan penting soalnya.’’ Aku mengakhiri pembicaraan dengan Reno.
Tak mampu lama berada di depan lelaki ini, entah kenapa. Tapi, entah kenapa sulit bagiku untuk membuka hati kembali. Bukan berarti aku belum bisa move on dari mas Deno. Ya, mungkin rasa trauma itu masih membekas.
‘’Hem, iya, Nel. Tapi Naisya sehat-sehat aja kan?’’
‘’Alhamdulillah. Dia sehat,’’ sahutku cepat dan bergegas menarik tangan Fani. Mungkin dia kebingungan. Aku mempercepat langkah.
‘’Nel?’’ panggilannya membuat aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke belakang.
‘’Hati-hati ya. Jangan ngebut bawa mobil,’’ kata Reno dengan lembut.
Entah kenapa ucapannya bisa menusuk jantungku ini, membuat jantung berdebar tak karuan. Ah, ini tidak mungkin! Aku berusaha untuk menghalau rasa yang tak karuan. Kutarik napas dengan pelan lalu menghembuskannya.
‘’Iya, Ren. Kamu juga hati-hati ya.’’
Dia menunjukkan seulas senyuman. Entah kenapa aku merasa ada yang aneh padaku ketika melihat senyuman dari lelaki itu. Aku langsung melangkahkan kaki menuju parkiran.
***
Si roda empat membelah jalanan. Aku dan sahabatku hanya larut dalam pikiran masing-masing sejak tadi.
‘’Nel? Kayaknya lelaki tadi suka sama kamu deh.’’ Dia memecah keheningan di antara kami. Membuat aku menoleh lalu kusengajakan tertawa keras.
‘’Lah, kenapa kamu? Aku serius loh, Nel,’’ keluhnya yang berhasil membuat aku kembali tertawa. Sesekali melirik pada wanita di sebelahku, karena masih fokus menyetir.
‘’Kamu udah berapa lama kenal sama dia?’’ Membuat aku menghela napas berat.
‘’Belum lama. Semejak aku kecelakaan,’’ kataku seadanya tanpa memandang ke arah Fani.
‘’Kecelakaan? Kapan, Nel?’’
‘’Waktu aku mempertemukan Mas Deno dengan Chika. Ah, lebih tepatnya aku menyerahkan suamiku pada si pelakor itu,’’ jelasku sambil terkekeh. Aku menoleh sejenak, matanya membulat.
‘’Ya Allah? Maksud kamu ini gimana? Kamu aneh-aneh aja deh, Nelda.’’
‘’Sampah itu harus dibuang pada tempatnya, Fan.’’
Bersambung.
__ADS_1