Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Sungguh Keterlaluan


__ADS_3

‘’Ngapaian aku harus pindah ruangan, Ren?’’ ucapku dengan terheran, menatap lelaki yang baru saja dua hari ini aku kenal dia. Dia masuk dengan terburu-buru, tanpa mengucapkan salam dan tanpa menghubungiku. Itu membuatku terheran dengan tingkah lakunya.


‘’Ada Deno dia mau ke sini. Dan barusan aku ngelihat dia sedang menanyakan ruangan kamu,’’ sahutnya dengan wajah cemas.


‘’Yuk, kamu harus pindah ruangan dan aku udah ngasih tahu Dokter Irma, dia udah setuju.’’


‘’Nggak, Ren. Aku nggak akan pindah,’’ kataku dengan kesal.


Sedangkan bibi Sum masih memeluk anakku sambil menatap heran ke arahku. Mau ngapain lagi si lelaki itu ke sini? Bukannya aku sudah memberikannya kebebasan. Bukannya aku sudah memberikannya pada si wanita murahan itu?


‘’Bi, tolong ya. Bawa Naisya pulang dulu. Aku nggak mau anakku ketemu Papanya sekarang,’’ titahku pada wanita yang setia menemaniku selama ini. Dia tampak mengangguk dan dengan pelan merubah posisi putriku.


‘’Uang masih ada kan, Bi? Pake maxim online aja ya. Atau aku aja yang langsung bayarin,’’ kataku yang bergegas meraih benda pipih yang tergeletak di sampingku.


Aku langsung membuka aplikasi bewarna kuning itu, tak lupa aku menulis alamat lengkap dari tempat dijemput dan ke mana diantar. Untung saldoku di dana masih banyak, jadi sekalian aku langsung bayar saja.


‘’Ada kok, Bu. Biar Bibi aja yang bayar.’’


‘’Eh, udah aku bayarin, Bi. Dan drivernya udah mau ke sini.’’


‘’Ke sini dulu deh Bi. Biar Bibi tahu yang mana drivernya,’’ kataku yang melambaikan tangan ke arah bibi Sum, dia bergegas bangkit sembari menggendong Naisya yang tengah terlelap. Dia mendekatiku dan aku memperlihatkan foto driver itu, kebetulan di akunnya itu menggunakan foto asli.


‘’Ya udah, Bu. Bibi pulang dulu ya. Cepat sembuh, Bu,’’ katanya dengan lirih sembari menepuk lenganku pelan.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Wanita itu bergegas melangkah sembari menggendong putriku. Seketika hilang dari pandanganku.


‘’Ma’afkan Mama ya, Nak. Sekarang waktunya belum tepat buat Adik untuk ketemu sama Papamu,’’ batinku.


‘’Nel!’’


‘’Ah iya, Ren.’’


‘’Kamu harus pindah, Nel,’’ katanya kemudian.


‘’Nggak, Ren. Aku nggak salah apa-apa, kenapa aku harus pindah? Dan aku nggak takut sama lelaki itu,’’ sahutku yang menggunakan kata ‘’lelaki itu’’, saking kesalnya aku. Dia tampak memijit keningnya dan mendekat ke arahku.


‘’Nel, aku aku takut kalo dia macam-macam sama kamu,’’ katanya pelan dan menghenyakkan bokongnya di kursi. Aku menghela napas pelan.


‘’Nggak, nggak akan, Ren. Lagian ini rumah sakit, apalagi sesiang ini. Jadi dia nggak mungkin bisa macam-macam sama aku.’’ wajah tampannya tampak begitu cemas. Entah itu tulus dari dalam hatinya atau hanya sebagai sandiwaranya saja. Ah, entahlah!


‘’A—atau kamu mau baikan lagi sama dia ya?’’


‘’Ren! Kamu bicara apa sih? Hah?’’ nada suaraku kali ini benaran tinggi.

__ADS_1


Dan terasa mendidih darahku dibuatnya. Siapa yang tak marah coba, lelaki yang empat tahun bermain di belakangku dan dia sudah membuat wanita murahan itu hamil. Mendengar namanya saja bikin hatiku teriris, apalagi jika Reno menuduhku untuk baikan sama si lelaki itu.


‘’Ma—ma’af deh kalo gitu. Ma’af kalo aku salah bicara,’’ katanya dengan lirih. Aku hanya berdehem saja dan mengalihkan pandanganku darinya.


Seketika netraku tertuju pada lelaki yang mematung di depan pintu.


‘’Ka—kamu? Ngapain kamu ke sini?’’ dia bergegas melangkah dan matanya menatap tajam ke arah Reno, membuat Reno menunduk saja.


‘’Aku ini masih suami kamu. Kenapa kamu berduaan dengan lelaki ini, hah?’’ tampak urat lehernya karena saking keras suaranya dan saking marahnya dia. Aku tersenyum sinis.


‘’Oh, jadi kamu masih suami aku, iya? Terus gimana dengan kamu yang selingkuh dengan wanita murahan itu selama empat tahun, yang nggak aku ketahui sama sekali dan juga ternyata wanita murahan itu sedang mengandung anak dari kamu?’’ suaraku tak kalah keras darinya. Kutepis semua rasa sakit yang hadir mendadak.


‘’Ngaca dong, Mas! Gimana kelakuan kamu dan apa yang udah kamu perbuat ke aku selama ini! Jangan egois!’’


‘’Jadi kamu mau membalasnya dengan cara berduaan dengan lelaki brengsek ini? Iya?’’


‘’Atau…Kamu juga bermain di belakangku?’’


‘’CUKUUP!!’’ teriakku sambil menunjuknya dengan telunjuk kiriku.


‘’Jangan kamu menuduh aku. Tolong kamu pergii dari sini sekarang juga! Pergii!!’’


‘’Jadi kamu mengusir aku? Udah lancang kamu sekarang ya! Aku ke sini bukan mau menjenguk kamu.’’


‘’Sampai kapan aku akan bohongi Papa dan Mama kamu? Hah?’’


‘’Pokoknya aku nggak mau tahu. Kamu harus menutupi semuanya, jangan sampe nanti penyakitnya kambuh cuman gara-gara kamu yang ngebongkar semuanya,’’ katanya sembari menatapku dengan tatapan tajam.


Kalau saja tanganku tak sedang terpasang infus, pasti aku akan menamparnya berkali-kali. Enak saja dia menyuruhku untuk tutup mulut, dia hanya memikirkan orang tuanya saja, dia tak peduli dengan hatiku yang dikoyak-koyaknya.


‘’Hei, Mas! Ini semua karena kamu! Kamu kan yang membuat ulah? Ngapain gara-gara aku pula kamu bilang!’’


‘’Udah deh, Mas! Aku nggak mau banyak omong sama kamu! Sekarang lebih baik kamu ceraikan aku!’’ pintaku dengan suara lantang. Reno masih terpaku di kursi, sembari menyaksikan aku dan lelaki pengkhianat itu.


‘’Sekarang juga!’’ imbuhku dengan nada suara meninggi. Membuat lelaki itu mulutnya ternganga dan menggeleng berkali-kali.


‘’Enggak, Nel! Aku nggak akan menceraikan kamu sebelum kamu memberiku anak lelaki!’’


Astaghfirullah! Sungguh keterlaluan lelaki ini. Dia sungguh gila. Setelah semuanya dilakukannya padaku, seenaknya dia berkata seperti itu padaku. Di mana letak otaknya? Setelah dia menusuk hatiku beribu kali, kini dia memintaku untuk memberinya anak lelaki? Dia kira aku hanya wanita untuk pembuat anak saja? Dasar lelaki tak tahu diri!


‘’Gila kamu, Mas!’’


‘’Pak, Bapak udah bikin ribut di sini. Dan menganggu kenyamanan pasien, silakan keluar, Pak!’’ usir suster Lili yang tiba-tiba muncul ke ruang rawatku. Namun, lelaki itu tetap saja tak mau keluar dan menatapku dengan tatapan tajam.

__ADS_1


‘’Atau mau saya panggilkan Satpam?’’


‘’Nggak perlu! Aku bisa keluar sendiri!’’ ketusnya. Dia bergegas mendekat ke arahku. Aku harus berhati-hati. Ternyata dia hanya berdiri di belakang Reno. Apa lagi yang mau dia lakukan?


‘’Awas kamu!’’ bisiknya di telinga Reno. Namun, masih terdengar samar olehku. Dan dia bergegas melangkah, matanya terus saja menatapku. Seketika dia hilang dari pandanganku. Aku menghela napas lega.


‘’Nel, ka—kamu nggak apa-apa kan?’’ aku hanya menggeleng saja.


‘’Bu, itu siapa sih? Mantan suami Ibu ya?’’ tanya wanita berseragam itu yang bergegas mendekatiku, lantas mencek tensi darahku. Aku tak mampu menjawab hanya terdiam saja.


‘’Aku nggak habis pikir dengan lelaki pengkhianat itu. Dia udah selingkuh, tapi masih aja minta anak dariku. Gila banget tuh orang!’’ aku membatin.


‘’Tensi darahnya udah normal, Bu. Tapi nanti Dokter Irma yang akan memeriksa kondisi Ibu lebih lanjut.’’


‘’Dokter Irma lebih berpengalaman dari saya,’’ imbuhnya kemudian yang membuat senyuman terbit di bibirku.


‘’Iya, Sus. Makasih banyak ya,’’ sahutku. Dia hanya mengangguk lalu tersenyum ramah.


‘’Ya udah, Bu. Saya ke ruangan pasien yang lain dulu. Nanti kalo Ibu butuh apa-apa tinggal pencet bel saja.’’


‘’Oh iya, Bapak ganteng kan ada di sini,’’ ucapnya yang beralih menatap Reno yang sedari tadi terpaku.


‘’Saya kan ada di sini, Sus,’’ jawabnya yang melirik ke arah suster.


‘’Ah, iya. Kalo gitu saya titip Bu Nelda ya.’’


‘’Kayak barang aja deh, Sus,’’ sanggahku sembari tertawa kecil. Wanita itu ikut tertawa kecil hingga gigi gingsulnya tampak.


Sedangkan Reno hanya tersenyum saja. Wanita berseragam itu kembali melangkah ke luar.


‘’Kamu baiknya menjauhi aku deh, Ren. Nanti malah macam-macam dia sama kamu,’’ kataku dengan pelan.


‘’Nggak, Nel. Aku nggak takut ancamannya.’’ dia menggeleng secepatnya dan menatapku, aku malah mengalihkan pandanganku.


‘’Dan siapa lagi yang akan menjagamu selain aku?’’


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Dan ma’af untuk Readers yang nungguin lanjutan novelku. Karena hari ini aku sedikit kurang enak badan, makanya telat update. Dan juga dari semalam nggak bisa direview apa yang kuupdate. Entah kenapa. Pun hari ini susah banget.


See you next time! ❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2