Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Harus Disingkirkan


__ADS_3

‘’Ma, ma’afkan aku ya. Bukan aku nggak mau mempertahankan rumah tanggaku dengan Mas Deno. A—apalagi si perempuan itu juga hamil anak darinya,’’ jelasku seadanya dengan sesegukan. Aku menyeka buliran air mata yang sejak tadi hadir, dengan kasar.


‘’Aku mengatakan yang sebenarnya. Bukan aku bermaksud untuk menjelek-jelekkan Mas Deno ke Mama, tapi itu memang kejadian yang sebenarnya. Dan—aku nggak bisa lagi menutupi ini semua dari Mama. Aku nggak tahu lagi harus bicara apa.’’


‘’Ma! Apa Mama marah ke aku?’’


‘’Hallo, Ma!’’ Aku bergegas memandangi ponselku. Ya Allah ternyata sudah putus sambungan teleponnya. Apa mama mertua mendengar semua penjelasan aku? Atau beliau sendiri yang memutuskan sambungan sepihak karena marah padaku.


‘’Nggak, nggak apa-apa. Aku hanya berkata yang sebenarnya ke Mama. Buat apa beliau marah? Seharusnya yang dimarahi itu adalah anaknya sendiri, bukan aku.’’


Aku menghela napas berat, kuletakkan kembali benda pipih itu di sebelahku. Sudah berniat hendak istirahat namun ada-ada saja gangguannya. Tubuh dan pikiranku ini butuh istirahat yang cukup, apalagi baru tadi aku pulang dari rumah sakit setelah beberapa hari di rawat di sana. Mataku tertuju ke nakas, di sana terpampang indah foto pernikahan aku dan si lelaki pengkhianat itu. Dengan pelan aku bangkit dan melangkah. Kuambil dan memandangi foto itu dengan hati yang teriris.


‘’Kenapa, Mas? Kenapa kamu malah menodai penikahan suci kita? Teganya kamu,’’ kataku dalam hati, tanpa kusadari buliran air mata kembali lolos begitu saja. Aku menyeka buliran air mata dengan kasar.


‘’Jangan habiskan air matamu hanya demi menangisi si lelaki bajingan itu, Nel. Kamu perempuan bodoh.’’ Aku menggeleng berkali-kali. Setiap kali memandangi foto itu membuat hatiku semakin teriris dibuatnya.


‘’Foto ini harus segera disingkirkan, jika masih terpampang di sini, yang ada akan membuatku semakin sakit hati.’’ Aku bergegas mengambilnya dan memasukkan ke dalam kantong plastik bewarna hitam yang berukuran besar.


‘’Bi!’’


‘’Iya, Bu. Sebentar,’’ sahutnya, yang sepertinya tengah berada di ruang keluarga.


‘’Ada yang bisa Bibi bantu?’’ Wanita separuh baya itu memasuki kamarku.

__ADS_1


‘’Ini, Bi. Aku minta tolong, singkirkan foto ini atau Bibi buang juga boleh.’’ Aku menyodorkan kantong plastik hitam yang berisi beberapa buah foto. Membuat dia terdiam seketika dan meraih apa yang tengah kusodorkan. Bibi tampak mengecek apa isi dari kantong yang bewarna hitam itu.


‘’Lah, Ibu yakin akan membuang foto ini?’’


‘’Yakin, Bi. Karena memandangi foto itu membuat hatiku semakin teriris dibuatnya,’’ kataku dengan lirih.


‘’Ya udah. Bibi taruh di gudang aja ya, Bu?’’ Aku hanya menyahut dengan anggukan.


Wanita yang setia menemaniku itu bergegas melangkah sembari menenteng kantong plastik hitam menuju gudang belakang.


Ini adalah yang terbaik untukku dan untuk putri mungilku. Jika foto itu masih terpajang di kamar pasti Naisya akan terus saja terpikir sama papanya, begitu pun denganku. Membuat hatiku semakin teriris saja memandangi foto yang terpajang itu.


Lebih baik disingkirkan saja. Aku bergegas melangkah menuju ruang keluarga, tampak Naisya tengah duduk di temani dengan kue cokelatnya, aku yakin bibi Sum yang membuatkannya, karena biasanya memang beliaulah yang membuatkan kue untuk Naisya, katanya biar hemat dan bisa disimpan di dalam kulkas, jaga-jaga jika Naisya kepengen lagi.


‘’Sayangnya Mama makan kue ya?’’ Aku bergega duduk di samping putri mungilku, tampak dia masih fokus menikmati kue cokelatnya dan mukanya pun tampak belemotan.


Awalnya hanya sekadar hiburan dan mencurahkan isi hati saja lewat tulisan itu. Qadarullah, ternyata banyak sekali pembaca yang suka dengan tulisan yang aku tulis.


‘’Iya, Ma. Ini Bibi yang buatin kemarin. Banyak banget,’’ celoteh Naisya yang membuat rasa sedih di hatiku hirap begitu saja.


‘’Banyak ya, Dik? Kenapa enggak dibagi sama Mama?’’ godaku seketika.


‘’Kan Mama nggak suka kue yang banyak coklatnya.’’

__ADS_1


Aku tertawa kecil dan mengelus rambutnya yang tampak sudah panjang sebahunya itu.


‘’Anak pinternya Mama nih. Adik tahu aja kalo Mama nggak suka sama kue yang banyak coklatnya.’’


‘’Kan Adik memang pinter, Ma.’’


Membuat aku semakin gemas saja memandangi putri mungilku dan dia juga mampu membuat hatiku terobati, disaat hatiku remuk redam.


Malam harinya ba’da isya, benda pipih yang sedari tadi tak kuacuhkan itu dia berdering. Membuat aku mengalihkan pandangan dan bergegas meraihnya.


Nomor baru? Ahh, baiknya tak usah kuangkat. Mana tahu orang suruhan si pelakor atau si Deno yang ingin menerorku. Aku harus berhati-hati. Kembali kuletakkan benda pipih itu di ranjang. Hanya selang dua menit, benda itu berdering lagi. Dengan malas aku meraihnya. Ternyata ada pesan di aplikasi hijau daun itu dari nomor baru yang tak dikenal.


‘’Selamat malam, Bu. Ma’af sebelumnya aku menganggu waktu istirahat Ibu. Aku Intan, mantan karyawannya Pak Deno. Aku dan kawan-kawanku sudah keluar dari perusahaannya setelah berita viral itu, ya walaupun kami belum tentu mendapat pekerjaan lagi, Bu. Dan kayaknya dia marah banget dan nggak terima. Aku khawatir dengan Ibu, bagaimana kalo dia macam-macam ke Ibu nanti. Ibu harus berhati-hati ya. Dan ma’afkan aku yang begitu lancang ke Ibu,’’ tulisnya dari nomor baru itu.


Kucocokkan dengan nomor yang menghubungiku tadi. Sama, berarti tadi dia hendak bicara denganku lewat telepon. Membuatku terharu. Dia yang sudah hilang pekerjaannya, masih teringat dengan keadaanku. Oh iya, dari mana perempuan yang bernama Intan itu mendapatkan nomor Wattsappku?


‘’Makasih banyak ya, Intan. Kamu udah memberitahu aku. In syaa Allah, aku akan baik-baik saja.’’


‘’Soal pekerjaan kamu dan kawan-kawanmu nggak perlu khawatir. Cepat atau lambat kalian akan bekerja lagi di perusaahaan itu, tapi dengan Direktur yang berbeda. Banyak berdo’a saja ya,’’ balasku kemudian, sebanyak dua kali kukirim pada wanita yang mengaku bernama Intan itu.


Dari hati yang paling dalam, sebenarnya aku merasa iba pada semua karyawan yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang dipegang oleh lelaki pengkhianat itu, karena aku tahu mereka sebenarnya merasa berat mengundurkan diri dari perusahaan yang bisa dibilang gajinya lumayan besar di sana dan mereka membanting tulang demi kebutuhan untuk keluarganya masing-masing.


Jika keluar dari perusahaan Buana itu, pun mereka belum tentu mendapatkan pekerjaan yang sebanding dengan perusahaan sebelumnya. Apalagi sekarang begitu sulit mencari pekerjaan di daerah Lawang ini. Hanya ada dua perusahaan kantor di sini, yaitu Linggarjati dan Buana. Jika perusahaan Linggarjati tak mungkin bisa menampung karyawan sebanyak itu, karena karyawannya memang menetap sejak dulu di perusahaan itu dan mereka mempunyai skill yang luarbiasa, bisa diandalkan oleh perusahaan ternama, tentunya yang sangat dibutuhkan di dalam dunia perusahaan.

__ADS_1


Bersambung.


Ma’af karena Author kemarin enggak update karena sedang sakit, do’akan Author sembuh agar bisa update setiap hari ya.


__ADS_2