
POV Mamanya Fani
‘’Ingat, di dunia ini nggak ada yang gratis,’’ bisikku di telinga wanita yang selama ini kucari.
Lalu melangkah kembali ke kamarku. Aku duduk menggoyangkan kaki sambil tersenyum bahagia. Padahal sebelumnya hari-hariku selalu saja meneteskan air mata, karena suamiku yang kembali masuk rumah sakit setelah bertahun-tahun yang tak kambuh penyakitnya. Ya, dia mengidap penyakit asma. Hingga membuat dokter menyarankan agar suamiku itu dirawat dulu seminggu ini di rumah sakit.
‘’Anak yang selama ini kucari. Eh, dia sendiri yang datang ke rumahku. Jadi tenagaku nggak terbuang begitu saja untuk mencari wanita manja itu,’’ lirihku sambil tersenyum licik.
Tadi Fani bicara padaku, dia meminta izin agar aku membolehkan temannya tinggal untuk sementara di sini. Kukira temannya itu Nelda. Eh, setelah aku tanya ternyata Fani anaknya si Setia. Mengingat nama itu membuat darahku naik ke ubun-ubun. Tapi dengan senang hati aku mengizinkannya. Apalagi aku juga punya seribu rencana yang akan kujalankan.
Teringat olehku kejadian beberapa tahun nan silam. Gara-gara lelaki yang bernama Setia, aku jadi kehilangan saudara kembarku. Namanya Mita, si cantik yang punya rambut lebat lagi hitam. Dulu dia punya hubungan dengan Setia, mereka berpacaran dan saling mencintai. Namun, suatu ketika kedua orangtua Setia malah tak merestui jika anaknya menikah dengan Mita, kembaranku.
Lelaki itu menurut saja apa mau kedua orangtuanya, hingga dia memutuskan kembaranku. Tapi, Mita tak mau putus darinya karena dia begitu mencintai Setia dan ingin hidup bersama. Lelaki itu tetap memutuskan kekasihnya hingga Mita menjadi orang yang berbeda. Selalu melamun dan jarang sekali keluar dari kamar. Dia selalu mengurung diri dalam kamar hingga tak makan apapun.
Pada akhirnya dia bunuh diri. Itu membuat hidupku hancur dan sejak itulah aku bersumpah akan membalas semuanya pada lelaki yang bernama Setia itu. Aku tak rela kehilangan kembaranku. Kalau saja dia tak memutuskan Mita, mungkin kini kembaranku itu masih hidup.
Kenapa dia harus menuruti ucapan kedua orang tuanya? Atau dia juga bisa membujuk kedua orangtuanya? Bukankah dulu dia pernah mengatakan padaku kalau dia begitu sangat mencintai kembaranku. Tapi, kenyataannya kembaranku meninggal karena ulah lelaki itu. Akan kupastikan anaknya ataupun istrinya akan menanggung semua perbuatan yang telah dilakukannya pada beberapa tahun nan silam.
PRAANG!
Membuat aku terperanjat mendengar suara itu. Apa wanita itu sengaja memecah piringku? Langsung aku bergegas ke belakang. Kuyakin wanita manja itulah pelakunya. Alangkah kagetnya tatkala aku memandangi piring mahal jadi serpihan kaca yang kini berjatuhan di lantai.
‘’Kamu mecah piring mahal aku?!’’ bentakku sambil menunjuk wanita itu dengan telunjuk kiriku.
‘’Ma—ma’af, Tan. Nggak sengaja,’’ sungutnya yang membuat darahku seketika mendidih.
‘’Hei! Dengar ya, kamu itu cuman menumpang di sini. Jadi jangan macem-macem!’’
Aku langsung saja menjambak rambutnya yang terurai panjang. Sontak dia menatapku tajam dan meringis kesakitan. Mataku tertuju pada beberapa buah piring yang bersih. Selama sejam cuman tiga buah piring yang selesai dibersihkan olehnya? Dasar wanita manja!
‘’Hentikan, Tante!’’ teriaknya dengan nada meninggi.
Tak ingin jika anakku terbangun nanti, malah semuanya terbongkar. Aku tak mau jika Fani mengetahui hal ini. Dia pasti marah padaku karena memperlakukan Chika seperti ini. Bergegas aku menghentikan aksiku itu. Dia tampak memperbaiki rambutnya sambil matanya melotot ke arahku. Anak ini memang harus diberi pelajaran setiap hari. Sepertinya dia juga suka melawan orangtua! Memang kalau bapaknya kurang ajar, anaknya pun akan meniru kelakuan bapaknya.
‘’Tante mau membunuh aku? Hah?’’
Dia berkacak pinggang menatapku. Seperti orang yang hendak mengajak berantam saja. Aku tertawa besar. Kalau aku melawannya bisa terjadi gempa dunia.
__ADS_1
‘’Kalo aku mau membunuh kamu itu mudah saja bagiku. Tapii karena aku ini orang baik ya, makanya aku izinkan kamu tinggal di sini. Atau mau aku anter koper kamu ke luar?’’
‘’Ta—Tante, aku mohon jangan. Baiklah, aku akan turuti semua keinginan Tante,’’ katanya dengan terbata dan memasang wajah memelas. Tentu saja membuat aku makin bahagia. Memang kata-kata itu yang kuinginkan keluar dari mulutnya.
‘’Yakin akan menuruti kemauanku? Semuanya?’’ Aku mendekatinya, lalu mengangkat sebelah alis. Dia mengangguk kemudian.
‘’Oke, aku akan izinkan kamu untuk tetap tinggal di rumahku. Tapi, sesuai perjanjian tadi. Kamu harus nurutin semua keinginanku. Paham?’’ Aku menatapnya dengan tatapan tajam.
‘’I—iya, Tante.’’
Dia mengangguk cepat, tak seperti tadi yang sering melototiku. Anak itu akan sering kuberi pelajaran agar tak suka melawan pada orangtua.
‘’Bagus. Cepat selesaikan piring itu. Biar kamu bisa makan,’’ titahku lalu meninggalkan wanita manja itu begitu saja.
Aku kembali ke kamar, kututup pintu. Sepertinya tubuhku perlu beristirahat sejenak. Apalagi beberapa hari ini aku selalu saja begadang karena menjaga suamiku. Kubaringkan tubuh, berusaha untuk memejamkan mata. Namun, ia begitu enggan untuk terpejam.
Beberapa saat kemudian, aku melangkah ke ruang makan. Tampak wanita manja itu tengah mengeluh dengan muka lelah. Membuat aku tersenyum lebar.
‘’Baru cuman cuci piring yang aku suruh, tampangnya udah kayak orang mau meninggal saja,’’ cibirku dalam hati.
Seketika Fani sudah berdiri di belakangku entah sejak kapan anakku itu berada di sini. Aku bergegas menghenyak di sebelah wanita bernama Chika itu. Lalu memasang muka semanis mungkin.
Dia nampak tercengang, aku tak menghiraukan. Mungkin dengan sifatku yang berubah-ubah. Segera kuambil piring yang berisi sambal rendang daging itu dari tangannya.
‘’Aduh! Malah jatuh. Gimana dong?’’ Dengan sengaja aku menjatuhkan daging rendang itu ke lantai. Untung saja Fani tengah meminum air putih. Mudahan saja kelakuanku ini tak nampak oleh putriku.
‘’Ta—Tante?’’ Dia malah terkesiap memandangiku.
‘’Kenapa, Ma? Apa yang jatuh?’’ Dia bergegas menghampiriku dan memandangi daging yang berserakan di lantai.
‘’Kok bisa jatuh, Ma?’’
‘’Mama mau ngambilin daging buat Chika. Eh malah jatuh,’’ sungutku kemudian.
Anakku itu memandang aneh ke arahku, entah apa yang ada di pikirannya. Aduh! Jika dia curiga padaku, bagaimana? Aku harus pandai bersandiwara di depan Fani.
‘’Ma—ma’af yah, Chika. Tante nggak sengaja.’’ Eh wanita itu malah melotot ke arahku. Masih belum kapok dia ternyata.
__ADS_1
‘’Wanita manja ini harus diberi pelajaran lagi nih.’’
‘’Terus gimana dong, Ma? Sambal rendang hanya dua potong saja. Trus apa yang akan Chika makan?’’ keluh Fani.
Seketika terdengar bel berbunyi di depan. Kuyakin itu adalah temannya Fani, Ella. Karena dia yang sering ke sini akhir-akhir ini, dulu Nelda yang sering main ke sini. Tapi entah kenapa kini tak lagi wanita itu berkunjung ke sini, aku merasa persahabatan mereka agak renggang saja. Ah, mudahan persahabatan mereka baik-baik saja.
‘’Tuh pasti Ella yang datang. Kamu ke depan sana gih. Kalo soal Chika, biar Mama yang memasak buat dia.’’ Aku tersenyum lalu mendorong tubuhnya dengan pelan, hingga Fani menjauh dari ruang makan. Aku kembali menatap ke arah Chika, sepertinya dia tengah kesal.
‘’Nggak apa-apa. Kan belum sampai 5 menit jatuhnya. Jadi bisa diambil.’’
‘’A--atau Tante bikini aja telur ceplok? Enak loh buatan Tante,’’ godaku seketika membuat dia menatap aneh ke arahku.
‘’Bikini telor ceplok aja, Tante. Aku laper banget nih,’’ keluhnya yang tengah mengusap perut. Aku memandang ke arah perutnya. Kenapa perutnya tampak buncit ya? Apa ini penglihatanku saja?
‘’Tante?’’ panggilnya, mampu membuyarkanku.
‘’Ah iya. Tante bikini dulu ya. Kamu duduk cantik aja di sini,’’ kataku. Bergegas kumelangkah ke dapur lalu bernyanyi riang sambil mencari telur di kulkas.
‘’Ke mana akan kamu cari orang sebaik aku coba, Chika,’’ lirihku tersenyum sinis sambil menyalakan api kompor gas.
Kupecahkan telor lalu mengisikannya ke dalam mangkok kecil. Tak lupa kuiriskan daun seledri, bawang merah, dan bawang putih. Lalu kutaburkan garam sebanyak-banyaknya. Aku tersenyum puas menatap telur yang tengah kumasak. Tak berselang lama harumnya sudah menyebar dan tentu sudah matang.
Aku langsung menyajikannya ke piring. Lalu bergegas kubawa menuju ruang makan, membuat aku tersenyum sinis memandangi wanita manja yang tengah mengelus-elus perutnya.
‘’Tadaa! Inilah telor ceplok ala Tante. Enak banget loh. Papanya Fani aja sering minta buatkan telor ini ke Tante. Karena dia ketagihan dengan enaknya,’’ kataku sambil menghidangkan di hadapannya.
Dia malah kaget melihat kehadiranku. Entah apa yang dilamunkan oleh wanita itu sambil mengelus perutnya. Aku merasa ada yang aneh saja dengan wanita manja ini. Apa benar dugaanku? Dia tengah mengandung? Tapi bukannya dia belum punya suami? Aku menepis semua prasangka.
Dia tampak bergegas mengambil telur itu lalu meletakkan di atas nasinya. Tak ada sopan santunnya nih anak. Tak ada pakai basa-basi segala.
‘’Satu, dua…’’
‘’Puaahh!’’ Dia memuntahkan apa yang telah dimakannya.
‘’Tante sengaja ya?!’’ bentaknya seketika.
Tatapannya begitu tajam ke arahku. Seperti singa hendak menerkam mangsanya.
__ADS_1
‘’Hei! Aku udah berbesar hati membuatkan telor ceplok untuk kamu. Kamu berani membentak aku? Kamu mau aku berlaku kejam sama kamu, hah?’’
Bersambung.