
‘’Makasih banyak ya, Bi. Tapi mereka jadi kan beli es krim tadi?’’
Yang ditanya malah mematung dengan ekspresi yang sulit untuk kuterjemahkan.
‘’Bi?’’ panggilku, sengaja aku menaikkan suara agar wanita itu tersadar dalam lamunannya. Entah apa yang tengah di pikirkannya kali ini. Tak biasanya si bibi termenung bak patung yang dipajang.
‘’Ah ya, ma’af, Bu.’’ Aku menggeleng seketika.
‘’Ada apa sih, Bi? Bibi ada masalah apa? Coba cerita ke aku. Mana tahu aku punya solusi atau sekurangnya bisa membuat Bibi lega setelah menceritakan semuanya.’’ Aku menepuk lengan wanita separuh baya itu dengan pelan.
‘’Bibi nggak ada masalah apa-apa. Hanya saja Bibi kepikiran sama lelaki yang bernama Dodo itu. Dia mencurigakan banget, Bu,’’ bisiknya padaku. Tentu membuat aku tersenyum lebar. Entah ke berapa kalinya si bibi mengatakan hal ini padaku. Kuhela napas dengan pelan.
‘’Ya Allah! Udah sering aku bilangin ke Bibi. Itu cuman perasaan Bibi aja kali. Sesopan dan sebaik dia mana mungkin akan macam-macam,’’ kataku pelan.
‘’Kalo memang Bibi mencurigainya. Mau nggak Bibi memata-matainya 24 jam, gimana?’’ usulku sambil terkekeh. Eh, si bibi malah cemberut. Membuat aku makin terkekeh saja dengan ekspresi lucunya itu.
‘’Ibu mah, Bibi ini serius loh.’’
‘’Iya, Bi. Tapi nggak baik juga terlalu berprasangka buruk pada orang lain. Aku paham dengan kekhawatiran Bibi kok. Lagian dia kan udah bilang kalo dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi, mana mungkin dia akan berani macam-macam.’’
‘’Kalo gitu aku ke dalam dulu ya, Bi. Jangan dipikirin apa yang nggak pantas untuk dipikirin.’’ Aku kembali menepuk pundak bibi.
‘’Bibi nggak masuk ke dalam? Atau mau nungguin Dodo di sini?’’ godaku kemudian.
Bibir si bibi tampak manyun, itu membuat aku semakin tertawa kecil. Bisa saja dia membuatku bahagia. Ya, wanita separuh baya itu jika kesal atau marah maka ekspresi wajahnya akan semakin lucu karena pipinya yang seperti bakpau. Aku langsung melangkah memasuki rumah dan menuju kamar tidur. Kedua netraku tertuju pada gadis kecilku. Tadi dia berhasil membuat darahku hilang seketika.
Bagaimana tidak, si bibi memopong tubuhnya. Kukira anakku itu tadi pingsan atau terjadi sesuatu padanya. Eh, ternyata dia terlelap di atas motor, begitu kata si bibi padaku. Itu membuat aku merasa sedikit lega. Ya, memang semalaman dia kurang tidur. Mungkin belum terbiasa tanpa kehadiran sosok seorang papa di sampingnya. Aku harus bagaimana lagi. Tak mungkin aku tetap mempertahankan lelaki seperti mas Deno. Mungkin orang lain menganggapku egois? Atau malah sepemikiran dan sependapat denganku?
‘’Ya Allah, aku sampe lupa. Kalo Mama masuk rumah sakit,’’ lirihku menepuk kening dengan pelan.
Padahal sebelum wanita separuh baya itu tiba, aku selalu kepikiran mama. Sekarang malah aku lupa kalau wanita yang masih berstatus sebagai mertuaku itu tengah terbaring di rumah sakit. Kuakui bibi mampu membuat aku lupa akan segala beban pikiran yang hinggap. Padahal begitu banyak beban pikiran yang kupikul. Tapi, bibi mampu membuat aku seolah tak punya beban pikiran apa pun.
‘’Aku beruntung bisa kenal dan dekat dengan Bibi,’’ gumamku kemudian. Ah iya, bagaimana kalau aku membezuk mertua selagi anakku tertidur pulas?
‘’Tapi entah kenapa aku belum siap untuk bertemu sama Mama.’’ Aku menggeleng secepatnya.
‘’Nelda! Kenapa kamu nggak siap? Ini kan bukan salah kamu. Buktikan pada mertuamu itu, kalo kamu adalah orang baik.’’ Ya, seperti pepatah Minang ciek lantai tajungkek ciek dibuangan. Aku bermasalah cuman sama anaknya, bukan sama mamanya. Jadi bagaimana pun juga, aku akan tetap bersikap baik ke mama. Apalagi selama ini mama dan papa sangat baik padaku. Tak mungkin aku melupakan kebaikan beliau.
Kalau begitu baiknya aku membersihkan diri dan beberes dulu.
***
Kali ini aku mengubah penampilanku. Aku sudah rapi dengan baju kemeja lengan panjang bewarna tosca, rok muslimah kekinian yang bewarna tosca sebagai bawahannya dan dilengkapi kerudung pashmina bewarna hitam pekat. Tak hentinya aku mematut diri ke cermin. Padahal sepuluh menit nan lalu aku sudah selesai merapikan diri dan berpakaian.
__ADS_1
Namun, aku masih betah di depan cermin. Ya, dulu aku sangat suka bergamis dan berkerudung lebar. Tapi seringkali suamiku melarang. Dia menyuruh untuk mengganti penampilanku. Dengan berat hati kuganti kerudung lebar itu dengan pashmina, tapi gamisnya tetap kukenakan.
‘’Kayak gini nggak akan kelihatan tua lagi. Mungkin selama ini gayaku nggak disukai sama Mas Deno. Tapi aku udah terlambat. Ahh, andai saja sejak dulu aku berpakaian kayak beginian.’’ Seketika aku tersadar dan mengucapkan istighfar berulang kali.
Kenapa aku malah seperti menyalahkan diri? Ini tak ada sama sekali sangkut pautnya sama penampilan kamu, Nel. Toh, banyak wanita cantik yang penampilannya tak bosan mata memandang, namun suaminya tetap saja jajan di luar sana. Suami yang baik akan menerima istrinya dengan segala kekurangan yang dimiliki, dia akan menjadi pelengkap segala kekurangan dan sekaligus menjadi penutup kekurangan sang istri. Atau bahkan dia berusaha merubah penampilan istrinya agar terlihat cantik di depannya, tentu bukan dengan cara menyalahi aturan agama Islam.
‘’Bu?!’’ panggilan si bibi mampu membuat aku tersadar dari lamunan panjang. Aku menoleh seketika.
‘’Eh, Bibi? Bikin aku kaget aja. Tiba-tiba ada di kamar kayak hantu,’’ sungutku kemudian sambil memegangi dada yang tadinya berdetak kencang.
‘’Ibu, Ibu! Bibi dari tadi di sini. Ibu yang nggak menganggap keberadaan Bibi. Malah melamun sih,’’ katanya sambil tertawa renyah.
‘’Ah, beneran, Bi? Ya Allah.’’ Aku mengusap muka dengan kasar dan wanita separuh baya itu menggeleng dengan sikapku.
Ya, saking terayunnya aku dalam lamunan hingga keberadaan si bibi tak aku ketahui. Tak tahu aku kapan wanita yang kuanggap sebagai orang tuaku itu memasuki kamar, yang jelas dia sudah berada di belakangku.
‘’Bibi tadi bertanya. Mau ke mana Ibu serapi ini?’’ Astaghfirullah, pertanyaan yang dilontarkan bibi pun tak kudengarkan sama sekali saking terhanyutnya aku dalam lamunan.
‘’Ya Allah, ma’afkan aku ya, Bi,’’ sahutku lirih dan berkali-kali mengusap muka. Bibi Sum tampak menghela napas pelan.
‘’Apa sih yang Ibu lamunin? Sampe segitunya.’’
‘’Aku teringat aja, Bi. Seandainya dulu penampilanku kayak gini, mungkin suamiku nggak akan selingkuh.’’
‘’Itu tandanya dia bukan lelaki yang baik untuk Ibu,’’ lanjutnya.
‘’Bibi benar juga.’’
‘’Kalo gitu aku mau ke rumah sakit dulu ya, Bi. Mumpung Naisya masih tidur,’’ kataku yang menyudahi pembicaraanku dengan bibi. Langsung aku menyambar benda canggih dan memasukkannya ke dalam tas branded bewarna tosca itu, lalu aku menyandangnya.
‘’Bu, Ibu nggak boleh pergi sendirian. Kan Ibu baru sembuh. Bibi takut terjadi sesuatu sama Ibu.’’ Membuat aku tersenyum lebar. Si bibi ada saja, kalau begitu aku seperti seorang ratu yang dikawal sama prajuritnya ke mana-mana.
‘’Aku bukan Ratu, Bi. Aku Nelda,’’ candaku dengan sengaja.
‘’Ibu ini ya. Padahal hatinya sedang patah, masih aja bisa melawak. Bibi salut sama Ibu,’’ ujar si bibi sambil tertawa kecil.
‘’Kan ini karena Bibi. Aku kuat dan bisa melewati ini semua karena support Bibi.’’ Aku mendekatinya dan menatap wanita separuh baya itu dengan tatapan dalam.
‘’Bibi tenang aja. Aku insyaaAllah baik-baik saja. Aku janji akan kabari Bibi nanti.’’
‘’Ya udah. Ibu janji ya, kalo ada apa-apa kabari Bibi langsung.’’
‘’Iya, Bi. Aku janji. Ya udah, aku pamit dulu. Assalamua’alaikum.’’ Bergegas kuraih punggung tangannya untuk takdzim, namun si bibi malah berusaha menghindarkan tangannya.
__ADS_1
Tapi aku malah semakin berusaha agar dapat menyalami tangannya. Ya, biasanya aku tak pernah seperti ini sama si bibi. Jika aku hendak berjalan ke luar, maka aku akan meminta izin dan mengucapkan salam saja. Lain dengan sekarang, semakin ke sini aku semakin merasa kalau bibi Sumi adalah pengganti mama yang didatangkan oleh Allah untukku.
‘’Wa—wa’alaikumussalam, Bu. Hati-hati. Ya Allah si Ibu pake cium tangan segala.’’
‘’Aku titip Naisya ya, Bi.’’ Aku kembali menoleh sejenak dan melangkahkan kaki ke luar dari kamar menuju luar rumah.
‘’Humm. Ibu mau ke mana?’’ Lelaki yang berseragam itu menghampiriku tatkala aku menuju pagar.
‘’Saya mau ke luar sebentar, Do,’’ sahutku. Sengaja aku tak menyebutkan tempatnya.
Entah kenapa kali ini feelingku kuat dengan apa yang dikatakan oleh si bibi tentang lelaki ini, aku mulai merasa curiga pada lelaki yang sudah jadi security di rumah pribadiku. Tampak dia seperti tengah dilanda kebingungan. Entah apa yang membuat dia bingung.
‘’Tapi, semoga aja feelingku salah.’’
‘’Tolong bukain pagar ya, Do.’’
‘’Ah ya. Baik, Bu.’’ Dia bergegas membukakan pagar untukku.
‘’Makasih banyak ya, Do. Kalo ada yang mau masuk tanpa sepengetahuan saya, jangan diberi izin. Kamu paham?’’ tegasku yang memandangi lelaki berseragam itu menutup kembali pagar setelah aku berada di depan jalan.
Dia mengangguk sopan,’’Paham, Bu.’’
Kulangkahkan kaki sedikit dan berdiri di depan jalan sambil menunggu taxi lewat. Tak berselang berapa lama taxi sudah lewat, kulambaikan tangan. Ia pun berhenti dan langsung kunaiki si roda empat itu dengan mengucap basmallah.
‘’Ya Allah. Bagaimana bisa aku ke rumah sakit itu, sedangkan aku nggak tahu di mana rumah sakitnya. Ah, aku jadi lupa nanyain sama Juwita. Astaghfirullah! Bagaimana ini?’’
Seketika benda canggih di dalam tasku berdering. Kuambil dan langsung mengeceknya. Ada pesan dari nomor baru, siapa? tanpa pikir lagi, langsung kubuka pesan itu.
‘’Mba Nelda. Ini aku Juwita. Bu Minah sekarang di rumah sakit Pelita Ibu.’’ Seketika aku bernapas lega membaca pesannya. Alhamdulillah!
‘’Oke. Makasih banyak ya, Juwita. Ini aku mau otewe ke sana. Kamu masih di rumah sakit nemenin Mama kan?’’ Kuketik pesan balasannya dan langsung mengirimkan ke nomor baru itu. Kembali kusimpan benda canggih.
‘’Pak, saya turunnya di rumah sakit Pelita Ibu aja.’’
‘’Oke, Mba.’’
Bersambung.
Ma'af baru update, Readers. Aku lagi sibuk bantuin Emak plus ada acara jugak. Btw, mana nih komentarnya? Biar aku semangat bikin episode barunya.
Terima kasih banyak yang tetap setia nungguin lanjutan novelku, sehat selalu dan dimudahkan rezekinya.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe