Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Bibi Sumi


__ADS_3

‘’Assalamua’laikum, Bi. Kok Bibi nggak ngangkat telepon aku? Aku mau nanyain kabar Nelda dan Naisya. Apa mereka baik-baik saja? Kalo boleh, nanti aku main ke sana ya.’’


Aku mengusap muka dengan kasar setelah membaca isi pesan dari si mas Reno. Aku harus bagaimana? Apa aku balas saja pesannya? Lalu apa yang harus aku katakan?


‘’Aku jadi serba salah,’’ gumamku. Kenapa aku bilang serba salah?


Ya, jika aku tak membalas pesan lelaki itu, nanti sangkanya aku tak tahu terima kasih dengan bantuan yang diberikannya selama ini. Jika aku membalasnya, nanti majikanku malah salah paham dan kesal padaku. Apalagi aku sudah berjanji tak kan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tak mau bu Nelda salah paham lagi padaku.


‘’Aduhh! Pusing nih kepala. Nanti aja deh aku bales pesannya.’’ Aku menggaruk kepala yang tak gatal. Mataku tertuju pada si gadis mungil yang mengucek bola matanya. Rambutnya tampak berantakan.


‘’Wah, Adik udah bangun ya?’’


Dia hanya menyahut dengan anggukan. Kubiarkan dia mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Selang beberapa menit.


‘’Kita mandi dulu ya, Dik. Setelah itu kita makan siang dan Bibi kasih kue coklat,’’ kataku kemudian yang disahut dengan anggukan kembali olehnya.


‘’Mama mana, Bi? Udah pulang kan?’’


Aku tersenyum dan mengangguk,’’Mama udah pulang, Dik. Tapi lagi istirahat dulu di kamar,’’ ungkapku sambil melukiskan senyuman.


‘’Adiknya mandi di kamar mandi depan aja ya. Biarkan Mama istirahat dulu,’’ lanjutku.


‘’Iya, Bi. Tapi Mama nggak lagi sakit kan?’’ Pertanyaannya mampu membuat aku tersenyum lebar.


Anak seusianya sudah perhatian sekali sama mamanya. Itu yang membuat aku salut sama majikanku, dia berhasil mendidik anaknya. Bagaimana tidak berhasil coba, zaman sekarang anak seusianya gemar sekali bermain gadget di luar sana, sementara Naisya tak kenal dengan benda canggih yang begituan. Itu semua tak terlepas dari didikan sang mamanya.


Aku menggeleng secepatnya, ‘’Nggak kok, Dik. Mama lagi capek aja.’’


‘’Ya udah, yuk mandi dulu, Dik.’’ Dia tampak bangkit dan aku bergegas meraih handuk kecil yang tergantung di balik pintu.


Ya, memang di ruang mainannya juga disediakan handuk dan beberapa helai pakaiannya sehari-hari untuk jaga-jaga kalau misalnya pintu kamar majikanku tertutup. Aku bergegas menuntun Naisya menuju kamar mandi di depan yang dekat sekali dengan ruang tamu. Walaupun kamar mandi dekat dengan ruang tamu, ia tetap terjaga dari bau yang tak sedap. Karena aku setiap hari selalu menaburkan wewangian untuk kamar mandi itu, juga yang memakai kamar mandi depan hanya Naisya dan para tamu, itu pun hanya sesekali saja. Dulu sewaktu pak Deno di sini, yang sering berkunjung itu teman kantornya. Kini lelaki itu tak ada lagi di sini.


***

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, aku dan Naisya sudah kembali ke ruang bermain.. Langsung aku memilih pakaian yang akan dikenakan olehnya dan bergegas membantu memakaikan baju Naisya. Tak lupa kuoleskan minyak kayu putih dan bedak harum ke tubuh mungilnya.


‘’Nah, udah cantik dan harum lagi. Gimana kalo Adik makan siang? Adik pengen makan apa?’’


‘’Nasi goreng sosis aja ya, Bi.’’ Membuat aku tersenyum lebar, tak biasanya Naisya memintaku untuk membuatkan dia nasi goreng sosis. Biasanya dia selalu menyantap roti dan susu. Jarang yang namanya nasi masuk ke perutnya.


‘’Ya udah. Adik main dulu di sini, biar Bibi bikini ya.’’ Dia mengangguk dan bergegas meraih mainannya. Aku langsung melangkah menuju dapur. Tak lupa kukumpulkan semua bahan untuk membuat nasi goreng. Untung saja stock sosis masih ada di kulkas. Jadi, aku tak perlu repot-repot membelinya ke market.


****


Tak berselang lama nasi gorengku sudah bisa diangkat, bergegas kumasukkan ke piring. Sengaja aku membuat untuk ukuran dua porsi. Satu untuk Naisya dan satu lagi untukku. Karena perutku sedari tadi pagi belum diisi. Kubiarkan satu piring terletak di dapur. Harumnya sungguh mengunggah selera. Naisya pasti suka apalagi kecapnya aku sengaja melebihkan. Kusiapkan segelas air putih. Lalu membawa nasi goreng dan air minum itu melangkah menuju ruang mainan Naisya.


‘’Tadaaa, nasi goreng ala Bibi udah bisa disantap.’’ Aku bergegas menghidangkan di meja kecil itu, Naisya seketika beralih duduk di kursi.


‘’Wah, makasih ya, Bi.’’ Wajah mungilnya tampak begitu sumringah.


‘’Sama-sama, Sayang.’’


‘’Mau Bibi suapin?’’


‘’Pinter banget Adik ya. Ya udah, kalo gitu Bibi tinggal dulu ya.’’ Dia menyahut dengan anggukan, tangan mungilnya menyendok nasi goreng dan dengan pelan menyuap. Aku bergegas keluar dari ruangan.


‘’Bu, Ibu baik-baik aja kan?’’ kataku sambil mengetuk pintu kamarnya. Namun, tak ada sahutan di dalam sana. Apa majikanku itu baik-baik saja? Ah, apa yang terjadi sebenarnya?


‘’Naisya tadi nanyain Ibu, dia udah bangun dan udah mandi juga. Bibi mau melanjutkan kerja nih,’’ kataku yang masih mengetuk pintu yang tertutup.


Seketika pintu berderit dan menampakkan mukanya yang terlihat sendu. Ya, sekuat-kuatnya wanita pasti ada masa rapuhnya. Bu Nelda yang kukenal adalah wanita kuat dan mandiri, buktinya dia tak melakukan hal aneh ketika tahu suaminya berselingkuh selama empat tahun. Di luar sana, banyak berita beredar wanita bunuh diri karena mendapati suaminya yang berselingkuh.


Beberapa hari ini setahuku bu Nelda tak begini amat. Apa sebenarnya yang terjadi pada majikanku ini?


‘’Ma’af, Bi,’’ lirihnya.


‘’Bu, kalo ada masalah cerita ke Bibi. Jangan buat Bibi cemas begini. Nggak baik juga Ibu memendam masalahnya sendiri.’’ Dia tampak mengerjap pelan dan terdengar helaan napas bu Nelda.

__ADS_1


‘’Aku kira aku akan bisa refreshing, Bi. Nyatanya jauh dari luar ekspektasiku.’’


Membuat aku terkesiap,’’Apa maksud Ibu?’’


‘’Tempat yang kudatangi itu membuat aku teringat dengan masa lalu. Ketika aku dan Mas Deno menghabiskan waktu bersama—‘’


‘’Ma—maksud Ibu Dodo membawa Ibu ke tempat yang pernah Ibu datangi bersama Bapak?’’ Aku memotong ucapan bu Nelda.


Membuat aku terkesiap. Kenapa bisa-bisanya lelaki itu membawa majikanku ke tempat yang pernah melukiskan masa lalu? Aku tak habis pikir dengan lelaki aneh itu. Apa dia sengaja membawa bu Nelda ke sana?


‘’Apa ini ulahnya si Bapak Deno? Apa ini atas suruhannya?’’


Bu Nelda tampak mengangguk,’’Ta—tapi ini bukan salahnya Dodo, Bi. Mungkin ini hanya kebetulan saja,’’ katanya dengan cepat.


Kini aku yakin sekali, kalau ini semua atas rencana dan suruhan si bapak. Ya, beberapa hari ini aku perhatikan gerak-geriknya mencurigakan sekali. Aku harus melakukan sesuatu agar aku punya bukti untuk membuktikan kalau lelaki yang bernama Dodo itu tak sebaik apa yang disangka oleh majikanku.


‘’Bisa saja dia bersekongkol dengan si Bapak pengkhianat itu, Bu,’’ kesalku yang tak bisa lagi menahan apa yang mengganjal di pikiran. Wajahnya yang tadi sendu, kini berubah seketika.


‘’Aduh, si Bibi ada-ada aja deh. Dodo itu nggak kenal sama Mas Deno,’’ sanggahnya sambil terkekeh yang membuat aku menghela napas pelan.


Susah rasanya bagiku untuk menjelaskan pada majikan, kalau si lelaki pengkhianat itu memang dalang di balik ini semua dan Dodo benar bekerja sama dengan lelaki itu. Kujelaskan dia tetap tak kan percaya dan lagian aku juga tak ada bukti. Sebaiknya aku usahakan dulu untuk mencari bukti agar majikanku percaya.


‘’Begitu polosnya Bu Nelda,’’ gumamku dalam hati sambil menggeleng.


‘’Kalo memang si Dodo itu pelakunya. Bibi nggak akan beri ampun dan Ibu harus pecat dia,’’ tegasku kemudian. Dia kembali tertawa kecil.


‘’Nggak akan, Bi. Dodo itu orang baik. Mana mungkin dia bersekongkol dengan seorang Deno.’’


Membuat aku kembali menggeleng dengan kelakuan bu Nelda. Dia tipe orang yang tak mudah berprasangka buruk kepada orang yang baru dikenalinya. Apalagi Dodo itu manis mulut dan bermuka dua, tentu itu menjadi senjata untuk dia agar bu Nelda percaya kalau dia adalah lelaki baik-baik.


‘’Bu?’’ panggilku karena seketika dia terlihat termangu.


‘’Ah iya, Bi?’’

__ADS_1


‘’Bibi mungkin nggak pernah merasakan apa yang Ibu rasakan. Bibi yakin rasanya begitu perih dan hancur sekali. Tapi, cobalah berdamai, Bu. Jangan pikirkan lelaki yang nggak pantas untuk diperjuangkan. Bibi yakin dengan keputusan Ibu yang menyerahkan lelaki itu ke si Pelakor. Karena sampah harus dibuang pada tempatnya. Juga karena Ibu berhak bahagia,’’ kataku panjang lebar. Kedua netranya tampak berembun dan menatapku dengan tatapan sendu.


Bersambung.


__ADS_2