Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Tak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

‘’Bi?’’ keluhku sembari menatap wanita itu.


Kali ini aku tak sependapat dengan bibi, biar bagaimana pun juga Reno tak bisa seenaknya ke sini. Apalagi statusku masih seorang istri dari lelaki yang bernama Deno itu. Walaupun dia sudah mengkhianatiku selama empat tahun, dia sudah bermain gila dengan wanita lain di belakangku. Namun, secara agama dan hukum dia masih berstatus sebagai suamiku.


‘’Kan Mama jadi marah, Bi. Mama nggak ngizinin,’’ keluh Naisya kemudian dengan buliran air mata hendak jatuh lagi di pipinya. Kali ini aku tak tahu lagi harus bicara apa.


‘’Bu, izinin ya? Kasihan Naisya loh,’’ bisik wanita yang setia menemaniku itu. Aku menghela napas berat hingga akhirnya memutuskan untuk mengangguk pelan.


‘’Nah, tuh Mama Adik ngizinin. Senang nggak, Dik?’’


‘’Senang, Bi,’’ sahutnya yang mulai memancarkan senyuman di bibirnya.


‘’Kali ini aku terpaksa mengizinkan lelaki lain masuk dan bermain di rumah bersama anakku. Ya, aku memang nggak ada pilihan lain lagi. Daripada aku harus mengizinkan anakku bertemu dengan Papanya. Yang ada akan semakin membuat hatiku teriris dibuatnya,’’ gumamku dalam hati.


‘’Tapi Adik mandi dulu ya. Siap itu kita sarapan dulu sambil menunggu Om Reno. Oke?’’


‘’Oke, Bi,’’ sahutnya dengan riang.


Tak ada lagi tampak kesedihan di raut wajah mungilnya. Segitu dekatkah lelaki yang bernama Reno itu dengan anakku? Hingga bisa mengalihkan pikirannya yang tengah merindukan sang papanya. Aku tak habis pikir, kenapa anakku bisa sedekat ini dengan lelaki asing itu.


‘’Ma,’’ panggil putri mungilku yang mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Adik mandi dulu sama Bibi ya. Mama istirahatlah, kan Mama baru pulang dari rumah sakit,’’ katanya yang membuat aku terharu dan sekaligus juga gemes.


‘’Iya, Sayang. Duh, anak Mama ini pinter dan sholehah banget.’’ Aku mensejajarkan tubuhku dan menoel hidung mungilnya.


‘’Siapa dulu, kan Mamanya juga pinter dan sholehah. Ya kan, Dik?’’ Bibi Sum kali ini bersuara. Membuat aku tersenyum dan menepuk lengannya dengan pelan.


‘’Ahh, Bibi bisa aja.’’


Dia terkekeh pelan,’’Bibi bicara apa adanya loh, Bu.’’


‘’Udah deh, Bi. Ntar aku malah melayang terbang tinggi dibuatnya karena mendengar ucapan Bibi.’’


‘’Bawa Adik mandi gih sana, Bi,’’ titahku kemudian.


Bibi malah tersenyum lebar dan bergegas menarik tangan Naisya dengan pelan. Sepertinya si bibi membawa Naisya mandi ke kamar mandi di depan. Di ruang kamar tidurku ini juga terdapat kamar mandi di dalamnya. Jika aku yang memandikan Naisya, maka aku akan memilih untuk memandikannya di sini saja dan lain halnya dengan bibi, dia pasti lebih memilih untuk memandikan Naisya di ruang depan saja. Aku yakin dia segan.


Aku merasa bosan sekali, apalagi baru keluar dari rumah sakit. Ahh, sudah dua minggu lebih rasanya aku tak menulis novel. Tapi, apakah pembacaku masih setia menunggu kelanjutan dari cerita yang kubuat? Dengan pelan aku melangkah ke ruang kerjaku. Yang dekat sekali dengan kamarku jaraknya. Ya, ruangan kecil yang minimalis. Di dalamnya ada kursi dan meja untuk menulis. Tak lupa pula laptop tertata indah di meja itu. Aku bergegas memasuki ruangan yang beberapa minggu ini tak pernah kusinggahi.


Pintu berderit dan aku menutupnya kembali.


‘’Mudahan saja aku bisa fokus kembali untuk menulis,’’ lirihku sembari menatap seluruh ruangan yang tampak minimalis.


Aku menghenyak di kursi dan tanganku menari indah di keyboard. Aku kembali membaca dan menelusuri naskah yang beberapa minggu ini kuabaikan. Semoga saja aku tak kehilangan ide kali ini agar aku bisa melanjutkan kembali cerita yang selama ini kugantung. Kasihan juga para pembacaku yang mungkin tengah menunggu lanjutan dari novel yang kutulis.


Ahh, tapi ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dulu, kalau tidak aku selesaikan maka aku tak akan tenang dibuatnya. Apalagi menulis ini butuh ketenangan, jika pikiranku melayang ke mana-mana, maka tulisanku tak kan terangkai dengan indah.


‘’Bu, Ibu di mana? Sarapan dulu yuk!’’ Suara yang tak asing lagi bagi telingaku. Duh, iya aku belum sarapan.


‘’Atau Ibu nanti ditemanin sama Mas Reno aja sarapannya,’’ goda si bibi terdengar di ruang sana.


‘’Ah, Bibi. Jangan bilang begitu dong. Bibi mah suka godain aku,’’ keluhku.


Aku menutup laptop dengan pelan, lalu bangkit dan menutup pintu ruangan kerjaku kembali. Aku melangkah menuju ruang makan, setibanya di ruang makan mataku disuguhkan oleh pemandangan yang membuat perutku makin keroncongan. Ya, sudah tertata dengan indah masakan bibi di meja. Ada semur jengkol, rendang daging, tempe dan tak lupa pula buah-buahan tertata indah. Membuat aku tercengang dibuatnya. Tak pernah bibi mau memasak semur jengkol, tapi kini kenapa dia mau memasak semur jengkol?


‘’Bi! Sini dulu deh sebentar,’’ panggilku kemudian yang masih menatap hidangan yang tertata dengan indah di meja.


Tak berselang lama si bibi sudah menampakkan batang hidungnya,’’Hemm, Ibu pasti bingung kan?’’

__ADS_1


‘’Iya, Bi. Ini nggak biasanya Bibi masak semur jengkol. Tapi sekarang kok malah—‘’


‘’Bu, jadi begini. Beberapa hari yang lalu Bibi ke pasar. Eh, nemu jengkol yang besar-besar dan Bibi kepikiran, dibuat semur jengkol pasti enak banget nih. Mana tahu nanti Ibu juga suka dan apalagi orang yang benci sama jengkol nggak ada di sini,’’ katanya panjang lebar.


‘’Ke pasar? Jadi putriku dibawa Bibi juga ke pasar. Ah, nggak mungkin. Tapi sama siapa ditinggalinnya?’’ kataku dalam hati bertanya-tanya.


Ya, beberapa hari nan lalu aku masih berada di rumah sakit dan tak mungkin bibi menitipkan Naisya ke orang lain. Lalu sama siapa anakku ditinggal oleh bibi?


‘’Ah, sudahlah. Kan yang penting putriku nggak kenapa-napa.’’ Aku berusaha menepis semua rasa penasaranku itu.


‘’Bu? Ibu kenapa?’’


‘’Ah, enggak kok, Bi. Aku baik-baik saja.’’


‘’Tadi tuh aku cuman bingung aja. Biasanya kan Bibi nggak pernah masak yang beginian,’’ kataku sembari tersenyum memandangi hidangan yang telah disediakan oleh bibi.


‘’Ibu nggak suka? Biar Bibi simpen aja. Nanti Bibi yang makan atau kita kasih aja ke tetangga kali ya?’’


‘’Nggak, Bi. Aku sebenarnya suka banget malahan. Aku nggak makan jengkol itu selama ini karena ngehargai Mas Deno aja yang katanya nggak suka sama jengkol.’’


‘’Eh, ternyata dia bohongi aku selama ini. Di luar malah ini makanannya sama si pelakor itu,’’ kesalku. Berhasil membuat bibi terkesiap.


‘’Ma—maksud Ibu?’’


‘’Bibi inget nggak pas aku nyuruh Bibi menyiapkan makanan di meja yang aku pesen di luar?’’


‘’Inget, Bu. Trus?’’


‘’Nah, itu makanan yang dipesen si pelakor untuk Mas Deno. Aku yang sengaja menghubunginya, aku menyamar jadi sepupu Mas Deno dan aku minta dia untuk mempesenkan makanan untuk Mas Deno karena dia belum makan sama sekali. Eh, tahu-tahunya ada sambel semur jengkol yang dipesen wanita itu.’’


‘’Bibi mau tahu gimana reaksi mukanya ketika itu?’’


‘’Sakit banget hati aku, Bi. Berulang kali aku dibohongi oleh lelaki pengkhianat itu. Dulu dia padahal bilang enggak suka masakan di luar. Katanya dia hanya suka masakan buatan aku saja. Ternyata semuanya itu hanya dusta,’’ geramku sembari mengepalkan tangan.


‘’Astaghfirullah, tega banget si Bapak. Bibi nggak habis pikir dengan semua yang dilakuinnya sama Ibu. Tapi nih ya Bu, menurut Bibi si Bapak itu mah nggak pantas untuk dipertahankan dan nggak pantas ditangisi.’’


‘’Bibi yakin, Ibu pasti kuat dan bisa membesarkan Naisya tanpa Bapak. Bibi akan selalu ada di samping Ibu,’’ katanya lirih.


‘’Sekarang Ibu harus sarapan dulu. Udah jam delapan loh, apalagi Ibu masih dalam proses penyembuhan,’’ imbuhnya kemudian.


Aku menarik napas pelan lalu menghembuskannya agar pikiranku sedikit tenang. Dalam hati aku juga membenarkan ucapan bibi. Ya, aku harus sarapan biar ada tenaga untuk berdiri.


‘’Makasih banyak ya, Bi. Jangan bosen memberikan nasihat untukku,’’ kataku lirih dan menghenyak di kursi.


‘’Iya, Bu. Sama-sama. Kalo gitu Bibi temani Naisya dulu sarapan ya.’’


Aku menyahut dengan anggukan, lantas wanita itu hilang dari pandanganku. Dengan malas aku menambuhkan nasi dan menambahkan rendang serta tempe. Aku ingin meraih semur jengkol, namun tanganku terhenti dan mengundurkan niat untuk menyantapnya.


‘’Ah, Nelda-Nelda. Kamu ini gimana sih. Gara-gara lelaki itu kamu jadi membenci semur jengkol,’’ kataku lirih dan menggeleng berkali-kali.


Sekarang aku makan pakai sambal rendang dan tempe aja kali ya.


Tak berselang lama, aku sudah selesai sarapan. Ya, aku sarapan hanya sedikit saja. Apalagi seleraku masih tak ada. Dengan pelan aku membereskan meja dan melangkah membawa piring bekas makananku, namun langkahku terhenti.


‘’Bu, biar Bibi yang membereskan. Ibu kan masih sakit.’’ Dia bergegas mengambil alih piring dari tanganku.


‘’Lah, Bibi kan cuman satu piring doang. Aku bosen nggak ada kerjaan, Bi,’’ keluhku yang memandangi bibi bergegas membawa piring bekas makananku menuju wastafel.


‘’Iya. Kan ini tugas Bibi. Nanti dilihatin sama Mas Reno gimana? Bibi yang dimarahin nanti.’’

__ADS_1


Membuat aku bergegas melangkah mengikutinya menuju wastafel,’’Bibi bicara apa tadi?’’ ujarku yang berpura-pura tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh bibi barusan.


‘’Enggak. Tadi tuh ada malaikat lewat, Bu.’’ Dia malah mengalihkan perkataannya.


‘’Bibi ini ada-ada aja deh,’’ kataku sambil menggeleng.


Ada-ada saja tingkah si bibi. Dia selalu saja menyebut nama lelaki asing itu sebagai candaan atau bagaimana. Aku pun tak tahu. Tapi, mana mungkin lelaki itu sepeduli itu padaku.


‘’Ya Allah! Apa sih yang kamu pikirkan, Nel,’’ kataku dalam hati berusaha mengingatkan diri sendiri. Si bibi tampak mencuci piringku tadi dan segera membilasnya. Lalu kembali membawa piring bersih itu dan meletakkannya di rak piring.


‘’Bi, Bibi beneran mau nyuruh Reno ke sini?’’ Aku menghampiri bibi yang tengah menyusun beberapa piring di rak.


‘’Ya, beneranlah, Bu. Masa Bibi bohongin Naisya. Kasihan dia kan.’’


‘’Ibu keberatan?’’ imbuhnya kemudian.


‘’A—aku nggak tahu, Bi. Aku nggak tahu harus gimana. Kan Bibi tahu status aku masih istri sahnya si Bapak dan nanti malah terjadi fitnah kalo Reno datang ke sini. Apalagi sudah dua minggu lebih suamiku enggak di rumah lagi,’’ kataku dengan hati-hati.


‘’Iya, Bu. Bibi paham dan mengerti kok gimana posisi Ibu. Tapi daripada Bapak yang ke sini lebih baik Mas Reno kan, Bu? Ibu pilih mana? Lagian kan ada Bibi juga di sini. Kecuali hanya Ibu dan Naisya di sini, nah baru itu salah dan jadi fitnah.’’


‘’Bibi benar juga. Tapi mainnya tolong di ruang bermain Naisya aja ya, Bi. Jangan beri izin ke kamar kalo misalnya Naisya mengajak. Bibi juga harus awasi dia bermain,’’ kataku kemudian.


‘’Siap, Bu. Kalo soal itu serahkan ke Bibi. Nggak mungkinlah Bibi membiarkan lelaki yang nggak ada ikatannya sama Ibu masuk ke kamarnya Ibu.’’ Dia tampak terkekeh.


‘’Makasih banyak ya, Bi? Aku ke kamar dulu,’’ pamitku kemudian yang disahut dengan anggukan dan tersenyum oleh si bibi.


Aku pun bergegas melangkah ke kamar. Mataku tertuju pada benda pipih yang tengah tergeletak di tempat tidur. Aku langsung meraihnya. Kuperhatikan banyak sekali notifikasi bermunculan di benda canggihku itu. Ya, sudah dua minggu lebih aku tak menghiraukannya, aku tak mengacuhkan. Apalagi biasanya aku memang aktif di media sosial dan tempat platform menulis online. Aku bergegas mencek notifikasinya. Ternyata pesan banyak sekali yang masuk lewat aplikasi itu.


‘’Assalamua’alaikum, Ka. Apa iya Kakak kecelakaan setelah kejadian yang menimpa rumah tangga Kakak?’’


‘’Mba, kami fans Mba selalu mengirimkan do’a untuk Mba dan anaknya. Yang kuat ya, aku yakin Mba pasti wanita yang kuat.’’


‘’Ma’af nih, Ka. Kalo aku di posisi Kakak, aku akan minta cerai ke lelaki brengsek itu. Dia nggak pantes diperjuangkan lagi, Ka. Jangan sampe Kakak terusan makan hati dibuatnya. Aku sebagai fans beratnya Kakak hanya bisa mendo’akan, semoga Kakak selalu dalam lindungan Allah dan aku yakin Kakak pasti kuat menerima semua ini.’’


‘’Assalamua’alaikum. Kak, bagaimana kabar Kakak dan Naisya? Ada berita yang beredar kalo Kakak kecelakaan. Saya kaget mendengarnya Kak. Smoga aja Kakak baik-baik saja dan cepat sembuh.’’


Begitu banyak sekali pesan yang kudapat dari para fans. Ada seribu pesan yang belum kubuka. Ya, sebaiknya aku live dulu hari ini, karena mereka di luar sana begitu sangat mengkhawatirkan keadaanku. Aku kembali melangkah ke ruang kerjaku dan menghenyak di kursi. Kubuka benda berlayar lebar itu dan menghidupkannya. Ah iya, aku belum memakai make-up. Bergegas kuraih make-up yang terletak di lemari.


Ya,memang aku sengajakan menyimpan make-up khusus untuk di ruang kerjaku, jika aku ingin siaran langsung mendadak maka aku akan lebih mudah untuk berhias tanpa keluar lagi. Tak berselang lama aku pun telah selesai. Kutatap mukaku ke cermin. Ya, masih terlihat pucat. Tapi tak apa-apa. Tanpa pikir lagi aku bergegas menghidupkan siaran langsung.


‘’Assalamua’alaikum. Selamat pagi menjelang siang sahabat. Bagaimana kabarnya? Semoga kalian sehat selalu dan selalu dalam lindungan Allah ya. Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin.’’


‘’Wa’alaikumussalam, Mba. Alhamdulillah aku sehat, aamiin. Senang banget bisa melihat live Mba lagi. Gimana kabarnya, Mba? Mba udah sehat kan?’’


‘’Mba masih kelihatan pucet ya? Baru keluar dari rumah sakit? Semoga Mba cepat pulih kembali dan biar bisa berkarya lagi. Kami setia menunggu lanjutan cerita dari Mba.’’


‘’Alhamdulillah Ya Allah. Aku beberapa minggu ini sangat mengkhawatirkan Kakak. Ingin sekali aku menjenguk ke rumah sakit. Tapi aku nggak tahu di mana tempatnya.’’


‘’Maa syaa Allah, wanita kuat.’’


‘’Kita selalu support dan do’akan Mba. Yang kuat ya.’’


Bibirku seketika bergumam ‘’Maa syaa Allah’’, ya begitu banyak sekali respon yang tertulis dan tentu membuatku susah untuk membacakannya satu-persatu. Mereka begitu peduli dan perhatian sekali padaku. Membuat aku terharu dan lebih bersemangat lagi.


‘’Aku juga seneng banget bisa live lagi walaupun hanya secara online menyapa kalian. Alhamdulillah keadaanku lumayan membaik, baru kemaren aku keluar dari rumah sakit. Ma’af ya guys enggak bisa membacakan pesan kalian satu-persatu. Terima kasih banyak ya dan semoga Allah membalas kebaikan kalian. Mengenai lanjutan novel, akan aku usahakan besok untuk update kembali. Karena hari ini enggak memungkinkan rasanya dan kepalaku masih terasa sakit. In syaa Allah besok akan aku usahakan ya.’’


Aku yang tengah asyik live tiba-tiba terdengar suara yang tak asing lagi bagiku. Ya, pasti lelaki itu. Membuat aku tak fokus untuk live. Entah kenapa aku merasa risih saja jika lelaki asing menginjakkan kaki di rumahku ini. Apalagi aku masih berstatus sebagai istri dari Deno, lelaki yang teganya mengkhianatiku.


Bersambung.

__ADS_1


Instagram: n_nikhe❤


__ADS_2