Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Ternyata Cuman Mimpi?


__ADS_3

‘’Bukannya suamiku udah aku serahkan sama kamu, Chika!’’ ulangku kembali dengan ketus. Dia menatapku begitu sangat tajam dan terus saja mendekat ke arahku yang tengah berbaring. Aku takut jika wanita murahan ini melakukan sesuatu padaku.


‘’Ma—mau apa lagi kamu?’’ dia malah diam membisu tetapi matanya menatapku lebih tajam, seperti singa yang akan menerkam mangsanya. Ya Allah! Tolong lindungi aku dari orang yang berniat jahat padaku.


‘’CHIKAA!!!’’


‘’Astaghfirullah! Ya Allah. Ternyata aku cuman mimpi.’’ aku terbangun dengan keringat dingin yang bercucuran dan aku mengela napas lega. Ya, untung saja hanya mimpi.


Bagaimana kalau mimpiku jadi kenyataan? Apalagi seorang Chika, si pelakor yang bisa saja melakukan apa pun itu demi mendapatkan apa yang dia mau. Ahh! Bukankah lelaki pengkhianat itu sudah akuserahkan sepenuhnya pada si wanita murahan itu. Bukannya itu yang dia mau? Lalu kenapa lagi dia menerorku dengan mengirimi pesan yang berupa ancaman padaku.


Oh iya, aku lupa mungkin karena aku telah memviralkan si pelakor dan lelaki pengkhianat itu. Ah, itu belum seberapa untuk membalas pengkhianatan lelaki dan wanita itu. Kurasa mereka pantas mendapatinya, anggap saja sebagai bonus untuknya. Seharusnya mereka berterima kasih padaku, sudah memviralkan di akun instagramku yang begitu lumayan banyak followersnya.


Jarang loh ada penulis baik hati sepertiku yang memviralkan orang-orang yang sudah membuat hatinya teriris. Hanya aku yang seperti itu, ya hanya Nelda. Untung hanya aku viralkan saja. Bagaimana kalau aku mutilasi si pelakor dan calon mantan suamiku itu? Seperti yang tengah tayang di televisi.


Apalagi si pelakor itu sudah mengandung benih milik lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu. Ah, sepertinya aku tak kan mampu melakukan hal seburuk itu. Tapi, kurasa itu memang pantas didapatkan oleh lelaki yang berkhianat di belakangku selama empat tahun dan wanita pelakor murahan itu.


‘’Arrggh!’’ aku mengerang dan berkali-kali mengusap muka dengan kasar. Mataku seketika tertuju pada benda yang melingkar di dinding. Seketika membuat aku terperanjat kaget.


‘’Ya Allah! Jam 07.00?’’


‘’Bu?’’ suara yang tak asing lagi bagi telingaku.


‘’Ah, iya? Bibi? Adik?’’ wanita paruh baya yang setia menemani dan membantu pekerjaan rumah tanggaku itu tengah duduk termangu di kursi sembari menggendong Naisya. Sejak kapan dia di sini? Apa bibi Sum sejak tadi memanggilku?


Naisya bergegas menghampiriku dan aku pun langsung memeluknya dengan erat.


‘’Ma, Mama sakit ya?’’ ucapnya dengan logat anak kecil.


‘’Iya, Dik. Ma’af ya Mama ninggalin Adik sama Bibi,’’ kataku dengan suara bergetar.


Ya Allah, hatiku terus saja teriris ketika bersama dengan putriku. Dan aku teringat dengan lelaki pengkhianat itu, bagaimana nanti kalau Naisya bertanya papanya. Apa yang harus aku jawab? Sedangkan dia masih kecil dan tak tahu apa-apa.


Sangat lama aku memeluknya sembari mengelus pucuk kepala putriku, lantas melepaskannya dengan pelan.


‘’Kok Bibi nggak bilang-bilang dulu mau ke sini,’’ kataku yang beralih menatap bibi Sum yang ikut terharu sedari tadi.


‘’Bibi udah hubungi kok,. Tapi nggak Ibu angkat. Eh, ternyata Ibu masih terlelap,’’ jelasnya sembari tersenyum.


‘’Dan sejak tadi juga Bibi manggil Ibu,’’ imbuhnya yang membuat aku menghela napas pelan.


‘’Ya Allah, ma’af ya, Bi.’’


‘’Eh, Bibi sejak jam berapa di sini?’’ Naisya masih nyaman duduk di sebelahku.

__ADS_1


‘’Sejam jam 06.00, Bu.’’


‘’Astaghfirullah! Kenapa Bibi nggak bangunin aku?’’ aku menepuk kening pelan. Ternyata begitu nyenyak tidurku hingga bibi Sum menelpon pun aku tak tahu.


‘’Nggak tega Bibi, Bu. Tadi aja ada lelaki tampan yang datang ke sini. Dia juga nggak mau bangunin Ibu tuh.’’


‘’Lelaki tampan?’’ tanyaku dengan heran. Apa Reno yang dimaksud oleh bibi Sum?


‘’Iya, Bu. Tadinya dia mau bawa sarapan untuk Ibu. Eh, Ibu sedang tidur nyenyak.’’


‘’Dia nggak tega bangunin Ibu. Trus pergi lagi deh. Sekalian Bibi suruh dia bawa tuh makanannya,’’ imbuhnya dengan antusias.


‘’Lah, kenapa, Bi? Dia kan udah susah bawain aku makanan,’’ sungutku kemudian.


‘’Nih, Bibi juga bawa makanan kesukaan Ibu. Makanya Bibi sendiri yang menolak makanan yang dibawanya.’’ dia memperlihatkan rantang yang tengah dijinjingnya sedari tadi.


Dalam hati aku juga membenarkan ucapan bibi Sum, apalagi jika dia yang memasak tentu akan sesuai rasanya di lidahku. Ditambah pula makanan favoritku.


‘’Lagian siapa tuh lelaki? Kayaknya perhatian banget sama Ibu.’’ aku hanya terdiam saja.


‘’Bibi pasti repot banget ya,’’ kataku dengan lirih mengalihkan pembicaraan.


Ya, biasanya bibi memasak hanya sesekali saja. Karena memang lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu tak suka masakan bibi Sum, katanya. Padahal masakan bibi begitu enak. Dia lebih suka jika aku yang memasak katanya. Membuat bibi Sum berkurang tugasnya di rumah.


Tugasnya hanya mencuci baju, menggosok, beberes rumah, dan menjaga Naisya jika aku ada keperluan ke luar. Terkadang pun aku juga membantu bibi, seperti beberes rumah. Ah, ternyata hanya berupa gombalannya saja, lebih tepatnya cara menutupi kesalahan besar yang dilakukannya selama ini. Padahal dia sering makan di luar bersama si pelakor itu. Eh, dia malah sok-sok’an tak sesuai dengan perutnya masakan di luar itu. Ternyata hanya dusta semata demi menutupi bangkai yang selama ini disimpannya.


‘’Bi, makasih banyak ya.’’


Bibi hanya mengangguk saja seiring dengan senyuman yang terpancar di bibirnya. Tangan bibi Sum masih sibuk menyiapkan makanan untukku. Sedangkan Naisya nyaman sekali duduk di dekatku.


Beberapa menit kemudian.


‘’Bu, sarapan dulu ya. Atau Bibi yang nyuapin?’’ bibi Sum menyodorkan padaku. Ucapannya membuat aku tertawa kecil lalu menggeleng. Aku bergegas meraihnya, sedangkan bibi mengajak putriku untuk duduk di pangkuannya. Tampak dia menguap sedari tadi.


‘’Kayaknya Naisya ngantuk deh, Bi,’’ kataku lirih. Wanita paruh baya itu beralih menatap putriku yang sedang dalam pangkuannya.


‘’Iya, Bu. Mungkin karena dia kurang tidur semalam.’’ Membuat hatiku iba seketika.


Ya, tak biasanya Naisya berpisah dariku, apalagi ketika dia tidur. Selalu aku yang menemaninya. Sebelum tidur pun aku menunggunya hingga dia benaran terlelap. Makanya dia merasa kesepian dan tak bisa tidur ketika aku tak lagi di sampingnya.


‘’Dan Alhamdulillah aku masih hidup sekarang. Bagaimana kalo aku udah meninggal? Nggak tahu lagi bagaimana nasip putriku. Baru semalam aja aku nggak di rumah, dia susah banget untuk memejamkan matanya.’’ aku membatin.


‘’Bu?’’

__ADS_1


‘’Ah, iya, Bi.’’


‘’Sarapanlah dulu, Bu!’’ titahnya kemudian. Aku mengangguk dan beralih menatap piring yang berisi makanan sejak tadi yang kuabaikan begitu saja. Dengan terpaksa aku bergegas menyantapnya. Ada sambal rendang kering, sayur asem, dan goreng tempe.


‘’Bibi nggak sarapan?’’ tanyaku kemudian, tatkala makanan masuk ke mulutku sesendok.


‘’Ibu kan tahu, jam segini Bibi belum bisa makan.’’ beliau tampak tersenyum sembari membelai rambut Naisya. Tampak putri kecilku itu sudah terlelap begitu saja. Kasihan sekali, pasti dia ngantuk berat karena tak tidur semalaman.


Beberapa saat kemudian, aku telah selesai sarapan dan masih tersisa makanannya di rantang. Dengan pelan aku membereskannya.


‘’Biarkan Bibi aja yang membereskan, Bu.’’


‘’Nggak apa-apa, Bi. Lagian Naisya udah terlelap di pelukan Bibi. Dan pasti sulit untuk berdiri.’’ membuat bibi beralih menatap Naisya, dia seketika tersenyum lebar.


‘’Alhamdulillah, akhirnya tidur juga Naisya ya, Bu.’’


‘’Oh iya, kata Ibu mau cerita ke Bibi kenapa Ibu bisa kecelakaan seperti ini,’’ kata bibi Sum mengingatkan apa yang aku janjikan kemarin.


Aku menghela napas berat, hingga pada akhirnya aku menceritakan semuanya ke bibi Sum dan beliau mendengarkan dengan antusias, berbagai ucapan dan istighfar yang keluar dari mulut bibi Sum saking kesalnya dia pada lelaki dan si pelakor itu. Apalagi aku sudah cerita beberapa hari nan lalu ke bibi tentang perselingkuhan papa dari anakku itu, tetapi waktu itu bibi Sum belum tahu bahwa si pelakor tengah mengandung benih dari lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku.


‘’Dan yang paling sakit rasanya, ternyata perempuan itu sedang mengandung anak dari Mas Deno,’’ imbuhku kemudian. Yang berusaha menahan buliran air mata dengan mati-matian, akhirnya luruh begitu saja.


‘’Sakit, Bi! Sakit banget,’’ aku menangis sesegukan. Menumpahkan segala rasa perih yang ada di pikiranku. Membuat bibi Sum terperanjat kaget dibuatnya dan membekap mulutnya.


‘’Ya Allah! Teganya si Bapak.’’


‘’Arrggh!’’ Kepalaku kembali terasa sakit yang luarbiasa. Mungkin dikarenakan aku yang punya beban pikiran yang begitu banyak.


‘’Bu, Ibu kenapa?’’


‘’Istirahatlah. Dan jangan memikirkan yang lain. Terutama lelaki itu, Ibu berhak untuk bahagia.’’


‘’Dan Ma’afkan Bibi yang udah memaksa Ibu untuk bercerita semuanya,’’ imbuhnya pelan.


Aku hanya mengangguk. Kutarik napas dan membuangnya dengan pelan. Ternyata benar, rasa sakit kepalaku berkurang. Dengan pelan aku membaringkan tubuhku. Mataku tertuju pada Naisya yang masih terlelap di pangkuan bibi Sum. Malang sekali nasipmu, Nak.


‘’Nel! Kamu harus pindah ruang rawatmu sekarang juga.’’


Bersambung..


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.


Dan ma’af untuk Readers yang nungguin lanjutan novelku. Aku kira nggak ada yang suka, soalnya nggak ada yang komen. Nah, tadi aku lihat ternyata ada yang koment. makanya aku memutuskan untuk update double untuk hari ini. Terima kasih banyak untuk yang setia membaca novelku.

__ADS_1


See you next time! ❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2