Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Bibi Sumi


__ADS_3

‘’Tapi, tunggu! Kenapa aku merasa lelaki ini ada hubungannya dengan Pak Deno?’’


‘’Kalo aku memaksanya untuk jujur, aku yakin lelaki ini tetap nggak akan mau mengakuinya. Ah, lebih baik aku cari tahu saja sendiri.


Lelaki itu masih menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Tanpa bicara lagi, aku bergegas meninggalkannya dan melangkah memasuki rumah. Ah iya, aku harus menjemur pakaian dulu. Bergegas aku ke belakang dan mengambil cucian yang sudah dikerjakan oleh si mesin canggih itu. Segera kubawa keluar, tak lupa meraih hanger yang tergantung.


Jam segini panas siang masih terasa menyengat, semoga saja jemuranku kering. Aku bergegas menjemur pakaian di samping rumah. Seketika aku mendengar suara yang taka sing lagi bagiku, dia seperti sedang bicara lewat telepon. Dengan siapa dia bicara? Kuletakkan kembali baju yang tadinya hendak kujemur dan memasang pendengaran baik-baik, mumpung tempat jemuranku begitu dekat dengan pos. Jadi aku bisa menguping pembicaraan lelaki itu, mana tahu ada sebuah rahasia yang dia simpan dari bu Nelda.


‘’Aku udah melakukan semua yang Bapak mau. Dan sekarang aku butuh uang.’’ Membuat aku terkesiap. Apa aku salah dengar? Ah, tak mungkin. Pendengaranku masih bagus. Kupasang baik-baik kembali pendengaran.


‘’Pak, bukannya Bapak berjanji setelah aku menuruti semua, Bapak akan menambah uangnya. Aku ini butuh uang untuk dikirim ke kampung. Kalo Bapak kayak gini aku akan berhenti bekerja sesuai perjanjian kita.’’


Aku membungkam mulutku. Apa maksud semua ucapan lelaki itu? Apa dia bicara sama pak Deno? kalau memang iya, berarti dia bersekongkol dengan lelaki pengkhianat itu. Bahaya ini!


‘’Kecurigaanku beberapa hari ini ternyata benar.’’


Aku berniat menghampiri lelaki itu dan memaksa dia untuk terus terang atas semua yang disembunyikannya selama ini. Tapi, tunggu! Aku yakin dia tak kan mau untuk berterus terang.


‘’Tapi, aku ini benci dengan lelaki bermuka dua itu,’’ geramku dalam hati dan mengepalkan tangan, ingin sekali aku menonjok mukanya itu.


Aku menarik napas pelan dan menghembuskannya, biar sedikit tenang. Itu yang diajarkan oleh majikanku, aku selalu mempraktikkan. Benar saja, diriku merasa lebih tenang setelah mengamalkannya.


‘’Sum, kamu tenang dulu. Jangan gegabah.’’ Aku berusaha mengingatkan diri sendiri agar tak bertindak gegabah.


Lebih baik aku melanjutkan pekerjaan dulu, pakaian yang terletak di ember sejak tadi belum kunjung kujemur. Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai menjemur pakaian. Ah, ya aku harus memastikan kembali keadaan majikanku. Langsung aku melangkah ke dalam rumah, kuletakkan dulu ember di belakang dan langsung menuju kamar majikanku.


‘’Bu, Ibu baik-baik saja kan?’’ kataku sambil mengetuk pintu bu Nelda yang tengah tertutup, namun tak ada sahutan dari dalam sana. Apa beliau tertidur? Atau terjadi sesuatu sama majikanku itu? Tidak! Bu Nelda pasti baik-baik saja.


‘’Bu, makan siang dulu ya. Bibi nggak mau Ibu kenapa-napa. Kasihan juga Naisya kalo Ibu sakit lagi. Ibu sayang kan sama Naisya?’’

__ADS_1


Seketika pintu berderit dan terbuka, tampak majikanku itu wajahnya sendu, pucat, dan tak bersemangat.


Seketika pintu berderit dan terbuka, tampak majikanku itu wajahnya sendu, pucat, dan tak bersemangat.


‘’Aku nggak ada selera, Bi,’’ ungkapnya dengan lirih.



‘’Bu, jam segini kan makan siang Ibu. Makan aja sedikit ya?’’


‘’Ibu kenapa? Biasanya selalu cerita ke Bibi. Bibi sedih ngelihat Ibu kayak gini. Apa sih yang terjadi sama Ibu tadi sepulang dari refreshing?’’ lirihku dengan suara bergetar.


Kali ini aku tak dapat lagi menyembunyikan kekhawatiranku pada majikan. Beliau hanya menunduk dengan wajah sendu. Mungkin waktunya belum tepat, mudahan lain kali bu Nelda bisa menceritakan semua yang terjadi padanya. Sekarang waktunya belum tepat.


Aku menghela napas berat,’’Ya udah kalo Ibu belum siap cerita sekarang, nggak apa-apa. Tapi, Ibu harus makan siang ya.’’


‘’Iya, Bi,’’ sahutnya singkat.


Makan siang sejak tadi sudah kusiapkan, jauh sebelum majikanku datang. Dia masih saja termangu dengan tatapan kosong. Membuat hatiku terenyuh. Ada apa sebenarnya? Ke mana lelaki itu membawa bu Nelda hingga membuat bu Nelda sesedih ini?


‘’Ini Bu, makan dulu ya.’’ Aku menyodorkan piring. Karena dia sedari tadi hanya termenung saja.


‘’Ah iya, makasih, Bi. Biar aku yang ngambil sendiri,’’ katanya lembut. Aku jadi tak tega melihat bu Nelda seperti ini. Lebih baik aku melihat Naisya dulu ke ruang bermainnya.


‘’Bibi mau ke dapur?’’ Seketika langkahku terhenti.


‘’Enggak, Bu. Bibi mau ngelihat Naisya aja.’’


‘’Astaghfirullah! Sampe aku lupa sama Naisya. Di mana dia, Bi? Dia nggak rewel kan?’’

__ADS_1


‘’Bibi paham kok, Bu. Naisya udah tidur dari tadi. Ibu tenang aja ya,’’ sahutku sambil tersenyum. Membuat dia bernapas lega dan mengangguk, aku bergegas kembali melanjutkan langkahku.


‘’Apa aku kasih tahu aja Bu Nelda ya?’’


Tapi, pasti majikanku itu tak kan percaya dengan apa yang kudengar tadi. Bu Nelda itu orangnya begitu polos dan selalu berprasangka baik pada orang lain, apalagi orang yang baru dikenalnya.


Kubuka dengan pelan pintunya. Tampak putri kecil itu tengah terlelap.


‘’Alhamdulillah. Bibi kira kamu udah bangun, Dik,’’ lirihku yang bernapas lega. Seketika benda canggih di saku-saku membuyarkan lamunanku. Bergegas aku menghenyak di tempat tidur milik Naisya.


Siapa ya? Jam segini yang menelponku? Apa mas Reno? Bergegas aku mencek benda canggih itu. Ah, benar saja! Di layarnya tertera nama kontak ‘’Mas Reno’’


‘’Bagaimana ini? Apa aku angkat? Tapi, aku kan udah janji sama Bu Nelda.’’ Aku menghela napas gusar, akhirnya aku memutuskan untuk membiarkan benda canggih itu terletak di nakas. Ia masih berdering, untung bunyi deringnya tak terlalu keras.


‘’Ma’af ya, Mas Reno.’’


Tapi, tetap saja benda canggih itu berdering kembali. Ini adalah untuk kesekian kalinya berdering, aku tetap tak mau mengangkat telepon dari lelaki itu. Aku tak mau nanti majikanku malah salah paham lagi. Ya, kemarin dia kesal padaku, gara-gara aku mengaku kalau aku minta bantuan pada lelaki yang bernama Reno itu selama bu Nelda dirawat di rumah sakit. Itu membuat dia sangat kesal, saking kesalnya dia mendiamiku dan bersikap dingin padaku.


Selama aku di sini tak pernah sikap bu Nelda begitu padaku, baru kali ini. Ya, itu semua karena perbuatanku. Tapi, aku tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Berawal dari aku ketemu sama lelaki itu ketika pulang dari rumah sakit. Eh, dia malah menawarkan untuk mengantarkanku pulang ke rumah.


Awalnya aku ragu dan ingin menolak, namun dia mengatakan kalau dia bukan orang jahat dan dia mengaku bahwa dialah yang melarikan majikanku ke rumah sakit tatkala kecelakaan. Membuat raguku hilang seketika dan aku tak menolak lagi untuk diantar oleh lelaki yang bernama Reno itu. Eh, tiba di rumah dia malah mengajak Naisya berdongeng dan nampaknya lelaki itu menyukai anak kecil.


Naisya yang dulunya tak suka bermain dengan lelaki asing, kini betah bermain dengannya dan Naisya selalu saja menanyakan lelaki itu jika dia tak datang ke rumah, dia merengek padaku biar si mas itu bisa bermain bersamanya di rumah. Aku terpaksa menuruti kemauannya, karena dia tak ada teman untuk bermain. Apalagi aku begitu sibuk dengan pekerjaan rumah. Ditambah aku takut dia rewel.


Dan satu lagi, aku masih teringat ketika Naisya demam. Panasnya begitu tinggi, membuat aku semakin cemas dan aku tak tahu lagi harus bagaimana, selain minta tolong pada lelaki itu. Tanpa merasa berat dia langsung bergegas membelikan sirup ke apotik untuk Naisya, eh sepulangnya diguyur hujan lebat.


‘’Mas Reno itu lelaki baik, aku yakin. Tapi, Bu Nelda malah nggak suka sama dia. Ya, aku paham sih dengan statusnya sekarang.’’


Seketika benda canggihku berdering kembali, kali ini bunyinya berbeda. Yang kuyakin itu adalah pesan dari mas Reno.

__ADS_1


‘’Assalamua’alaikum, Bi. Kok Bibi nggak ngangkat telepon aku? Aku mau nanyain kabar Nelda dan Naisya. Apa mereka baik-baik saja? Kalo boleh, nanti aku main ke sana ya.’’


Bersambung.


__ADS_2