Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Bukan Seperti Dulu Lagi


__ADS_3

Entah kenapa hari ini wajah mas Deno selalu membayang di benakku.


‘’Ah, Nelda. Kamu itu wanita bodoh. Masa iya, lelaki pengkhianat itu masih aja kamu ingat. Dia tuh udah bahagia di sana bersama selingkuhannya,’’ monologku dalam hati yang selalu mengingatkan diri sendiri.


Aku mengusap muka dengan kasar. Kuraih benda canggih itu, rasanya sudah lama aku tak melihat komentar para fans. Kemarin aku memasukkan foto anak semata wayangku dengan caption kau adalah hidupku. Ternyata ada 100K like dan 4K komentar. Untuk menghalau rasa suntuk, aku memutuskan untuk membaca komentar para fans.


‘’Anak sholehah. Semoga sehat selalu ya, Dek.’’


‘’Kasihan banget sama Naisya. Jadi korban perselingkuhan Papanya. Semoga Mba Nelda selalu kuat dan sabar. Kami selalu ada untukmu dan Naisya.’’


‘’Ma’af, Mba. Apa Mba beneran udah cerai sama suami Mba? Soalnya dia menikahi si wanita murahan itu.’’


Mataku melotot melihat salah satu komentar dari seseakun itu. Menikah? Dengan Chika si pelakor? Dari mana wanita itu tahu kalau mas Deno menikahi Chika? Sampai sekarang kata-kata talak itu belum diucapkannya padaku atau pun sekadar surat cerai. Bahkan beberapa minggu nan lalu aku meminta cerai padanya, namun dia enggan untuk menceraikanku.


Apa maksud lelaki itu? Apa maksud dia menggantungku tak bertali seperti ini? Dan jika dia benar-benar menikahi Chika, itu artinya pernikahan mereka tak kan sah secara agama. Karena sekarang wanita murahan itu tengah mengandung. Dalam Islam, tidak sah pernikahan wanita yang tengah mengandung.


Aku jadi penasaran, dari mana wanita itu mengetahui kalau Deno sudah menikahi Chika. Aku langsung mengklik akun profil wanita yang berkomentar tadi. Langsung kukirimkan pesan padanya. Ya, lebih baik lewat pesan kubalas komentarnya. Tentu lebih privasi, aku takut nanti semua fans membaca balasan komentar dariku.


‘’Assalamua’laikum, Mba. Aku mau nanya. Mba bilang kalau Mas Deno sudah menikahi wanita itu. Kalo boleh tahu, dari mana Mba tahu ya?’’ Segera kukirimkan.


‘’Wa’alaikumsalam. Wah, akhirnya saling chat’an juga sama Penulis. Bahagia banget aku. Kalo soal itu, aku tahunya pas ada penggrebekkan di sini. Kedua pasangan mesum itu digrebek warga, ada yang tahu kalo mereka belum menikah. Nah, makanya dipaksa untuk menikah. Rumah aku nggak begitu jauh dari rumah Chika.’’


Jadi selama ini warga di sana tak mengetahui kalau wanita murahan itu membawa lelaki ke rumahnya? Sungguh pandai sekali dia menyembunyikan aibnya.


‘’Ternyata beneran mereka sudah menikah. Tapi percuma aja. Kan Chika lagi hamil.’’


‘’Dasar bodoh!’’


Bangkai busuk apabila di simpan rapat-rapat, akan tercium juga di kemudian hari.


***


‘’Bu, Bibi mau ke market dulu ya. Kebutuhan Naisya udah habis.’’ Si bibi menghampiri aku yang tengah menghirup udara segar di bawah pohon mangga depan rumah. Aku menoleh dan bangkit.


‘’Biar aku aja yang membeli, Bi.’’

__ADS_1


‘’Ibu yakin?’’ Aku mengangguk cepat.


‘’Bibi menjaga Naisya aja ya.’’


‘’Oke, Bu.’’


Aku bergegas melangkah memasuki rumah. Lalu ke kamar untuk mengambil tas. Pakaianku cukup begini. Baju kaos lengan panjang, rok bewarna cokelat, dan dilengkapi dengan kerudung pashmina. Aku di rumah memang berpakaian yang menutup aurat, apalagi sejak aku tak seatap dengan lelaki itu.


Kusandang tas lalu mematut diri di kaca.


Ah iya, hampir saja aku lupa mengambil kunci mobil. Aku langsung menyambar kunci mobil yang terletak di nakas. Kumasukkan juga ponsel ke tas yang tengah kusandang. Mataku tertuju pada Naisya, yang tertidur begitu pulas.


Kulangkahkan kaki ke luar dari kamar. Aku langsung menghampiri bibi ke dapur terlebih dahulu.


‘’Bi?’’


Seketika wanita separuh baya itu memegang dadanya. Membuat aku terkekeh pelan.


‘’Kaget yah, Bi?’’ kataku sambil menahan tawa.


‘’Ngelamunin apa sih, Bi? Habisnya Bibi sih melamun. Untung aja tadi nggak aku sengajain untuk mengagetkan Bibi,’’ kataku sambil tertawa keras.


‘’Ada-ada saja si Bibi ini. Ya udah, aku mau pamit dulu. Mau ke market.’’


‘’Oke deh, Bu. Hati-hati ya. Jangan ngebut bawa mobilnya.’’


Aku menyahut dengan anggukan lalu bergegas melangkah ke luar.


***


Aku membuka pagar terlebih dahulu lalu mengeluarkan si roda empat.


‘’Bi, tutup pagar ya,’’ teriakku dari dalam mobil. Semoga saja si bibi mendengar teriakanku. Kulajukan si roda empat hingga membelah jalanan.


Tak berselang lama si roda empatku sudah memasuki pekarangan market. Segera kuparkirkan.

__ADS_1


Aku langsung memasuki market. Mungkin karena sekarang hari Minggu, jadi banyak sekali orang-orang berbelanja di market ini. Kuambil keranjang terlebih dahulu, lalu melangkah ke tempat persabunan. Memilih sabun untuk anak kecilku. Mataku tertuju pada arah sebelah kanan.


‘’Itu kayak Fani deh. Apa aku salah lihat kali, ya?’’ Aku melangkah menghampiri wanita yang kukira itu adalah Fani.


Kudekati dia, ternyata benar. Dia adalah Fani. Ya, sahabat lamaku. Walaupun akhir-akhir ini dia mengacuhkanku, bahkan dia menuduhku kalau aku hanya memfitnah Chika saja. Dia tak percaya kalau Chika sudah berselingkuh dengan suamiku selama empat tahun. Tapi biar bagaimana pun dia tetap sahabatku.


‘’Fan? Kamu di sini juga?’’


Aku memandanginya sambil menunjukkan seulas senyuman. Berbeda dengan wanita itu, yang hanya bermuka masam saja padaku. Mungkin Fani punya masalah kali. Aku hendak memeluknya, namun dia bergegas menjauh.


‘’Kamu nggak perlu basa-basi!’’ Aku terkesiap mendengar ucapan Fani yang begitu ketus padaku. Ini bukan Fani yang aku kenal dulu.


‘’Kali ini aku to the point aja ke kamu. Tolong kamu bersihkan kembali nama Chika. Dia itu nggak bersalah. Dan dia cuman sekretaris Deno. Kamu aja yang berlebihan cemburunya.’’


Dia berkata sambil berkacak pinggang. Aku menggeleng cepat. Fani yang kukenal tak seperti ini. Aku tahu betul bagaimana sifatnya. Kami sudah lama bersahabat bahkan sejak sekolah SMA dulu. Teringat olehku, ketika aku menginap di rumahnya dan besoknya bergantian lagi, giliran dia yang menginap di rumahku.


‘’Kamu bicara apa, Fan? Sepertinyaa otak kamu mulai dicuci sama wanita itu deh. Kamu nggak tahu yang sebenarnya. Kamu lebih percaya sama dia dibandingkan aku?’’


‘’Tolonglah, Fan. Kita itu udah lama bersahabat. Dan kamu tahu siapa aku, begitupun aku yang tahu banget siapa kamu. Sekarang aku lihat, ini bukan kamu deh kayaknya. Ini bukan sahabatku yang kukenal.’’ Kali ini nada suaraku sungguh naik. Aku mematut Fani dari bawah hingga ke atas. Dia jauh berbeda, berubah total.


‘’Cukup!’’


Aku kaget bukan main dengan suara Fani yang menggelegar sambil menunjuk ke arahku.


‘’Aku sekarang berbeda. Aku memang bukan sahabatmu yang dulu. Fani yang dulu kamu kenal, udah mati!’’


‘’Astagfirullah, Fan. Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu. Apa salahku, Fan? Apa salahku? Kalo aku punya salah, kamu bisa jelasin sama aku.’’


Dia memalingkan wajahnya.


‘’Kamu cukup ya, Nelda. Jangan coba-coba menceramahi aku. Dulu kita memang bersahabat, tapi sekarang itu beda lagi.’’


‘’Kamu tahu? Chika itu baik banget. Dia yang membayar biaya administrasi Papaku.’’ Ucapan Fani membuatku terkesiap. Bibirku bergerak hendak bicara, namun dia secepatnya melanjutkan ucapannya.


‘’Nggak seperti yang ada di benakmu itu. Kamu yang ternyata berhati busuk, Nelda. Buktinya kamu memfitnah Chika sampe namanya buruk di sosial media.’’

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2