
‘’Mba Nelda? Kok bengong? Lagi ngelihatin apa?’’ tulis seseakun yang membuat aku kembali menatap layar yang tengah siaran langsung itu.
‘’Ah iya, ma’af guys. Kayaknya untuk hari ini aku cukupkan sampe di sini dulu. Kapan-kapan aku akan ngobrol online lagi dengan kalian ya. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.’’
‘’Terima kasih banyak teruntuk kalian yang menyempatkan waktu untuk menonton live-ku, sehat selalu ya dan semoga selalu dalam lindungan Allah. Aku pamit dulu, assalamua’alaikum,’’ kataku sembari melambaikan tangan layar ke camera dan segera mengakhiri live di aplikasi itu.
Dengan pelan aku menutup kembali laptop dan membiarkan benda pipihku terletak di meja itu. Aku bergegas melangkah ke ruang bermain putri mungilku. Dengan mengendap-endap aku menuju pintu yang tengah terbuka itu.
‘’Adik senang Om bisa ke sini lagi. Om kata Mama dan Bibi selalu sibuk,’’ sungutnya terdengar olehku dari luar.
‘’Iya, Dik. Ma’afkan Om ya. Om kadang sibuk kerja. Tapi kan ada Mama sama Bibi yang akan bermain sama Adik.’’
‘’Nggak, Om. Adik maunya main sama Om atau main sama Papa.’’
Membuat aku terkesiap mendengar ucapan putri semata wayangku itu. Dia hanya ingin bermain bersama Reno atau papanya? Kenapa bisa sedekat ini anakku dengan lelaki asingitu? Apa aku selama dirawat di rumah sakit dia sering berkunjung ke rumahku untuk bermain dengan Naisya?
‘’Iya deh. Kan Om udah di sini. Yuk kita main!’’
‘’Main mobil-mobilan boleh ya, Om?’’
‘’Tapi Om jadi mobilnya.’’
Mataku terus saja memandangi Naisya dan lelaki asing bernama Reno. Dia tampak merangkak dan Naisya pun menaiki punggungnya, dengan pelan dia berjalan dengan merangkak. Itu pun berhasil membuat putriku tertawa kecil dan begitu terlihat bahagianya dia. Membuat aku menyunggingkan bibir, tersenyum tipis.
‘’Ya Allah. Alhamdulillah. Mama bisa melihat kamu sebahagia ini, Nak,’’ lirihku dengan suara bergetar. Tangan seseorang yang memegang pundakku membuat aku kaget seketika.
Aku menoleh,’’Bibi? Ya Allah, bikin kaget aja,’’ keluhku yang menatap wanita yang tak asing lagi bagiku. Dia berdiri sembari menelusuri wajahku lalu terkekeh pelan.
‘’Lah, kok kaget, Bu? Itu artinya tadi Ibu melamun. Ayo melamunin apa?’’
‘’Jangan-jangan Ibu terharu melihat Mas Reno ya? Ayo ngaku,’’ godanya yang membuat aku menggeleng secepatnya.
‘’Duh, si Bibi. Ini tuh aku bahagia aja, Naisya bisa sebahagia itu sekarang. Aku seneng banget, Bi. Bisa melihatnya sebahagia itu,’’ kataku lirih.
‘’Iya, Bu. Bibi paham dan Bibi pun senang banget ngelihat Naisya sesenang itu.’’
‘’Makanya Bibi menyuruh Mas Reno ke sini. Kemaren waktu Ibu di rumah sakit Naisya sering bermain dengannya, Bu.’’
‘’Ya Allah, pantes aja anakku bisa sedekat itu dengan Reno. Tapi, kok sebelumnya dia enggak pernah mau bermain sama temen Papanya. Kenapa malah sekarang bisa sedekat itu dengan Reno?’’ gumamku dalam hati dan mengusap mukaku dengan pelan.
‘’Bibi pantau sesekali Naisya nanti ya. Jangan biarkan bermain sama orang asing berdua aja. Bibi paham kan maksudku?’’
Aku bergegas melangkah meninggalkan si bibi yang tampak termenung. Entah apa yang dipikirkannya. Aku bergegas melangkah ke kamar tanpa menunggu jawaban darinya. Kututup pintu kamar dan menghenyak di ranjang.
‘’Entah kenapa hatiku nggak enak aja rasanya ketika lelaki asing datang ke rumahku ini, padahal aku masih istrinya Mas Deno. Biar bagaimana pun aku akan tetap jaga diriku. Karena aku bukan sebrengsek suamiku itu.’’
Ah iya, aku baru teringat. Kan aku minta tolong ke bibi untuk membuatkan poster. Aku bergegas melangkah mencari keberadaan bibi di dapur. Dia tampak asyik beberes dapur sembari bernyanyi riang. Membuat aku tersenyum saja memandangi bibi yang bernyanyi riang.
‘’Eh, Ibu? Ada yang bisa Bibi bantu?’’
‘’Ini Bi, poster itu udah siap? Tadi aku tiba-tiba kepikiran,’’ kataku sembari tersenyum.
__ADS_1
‘’Aduh, ma’af Bibi lupa memberi tahu Ibu. Kayaknya udah dipasangkan langsung oleh si Mas itu deh, Bu.’’ Dia tampak menepuk keningnya pelan, membuat aku kembali tersenyum lebar.
‘’Nggak apa-apa, Bi. Kita cek aja keluar yuk!’’ ajakku kemudian yang disahut dengan anggukan oleh bibi. Kami pun bergegas melangkah ke luar dari rumah menuju gerbang yang dikunci itu.
‘’Eh, Bibi lupa ngambil kunci. Bentar ya, Bu?’’
Aku mengangguk dan si bibi bergegas melangkah menuju pos security dan meraih kunci pagar. Dia berjalan tergopoh-gopoh dan membukakan kunci pagar.
‘’Nah, ini langsung dipasang. Gercep banget si Masnya kalo kata anak zaman now nih, Bu,’’ katanya dengan antusias yang berhasil membuat senyuman terbit kembali di bibirku. Aku memandangi poster yang terpampang indah di depan pagar itu. Di sana tertulis
Dibutuhkan security rumah pribadi dengan kriteria:
Pertama, laki-laki minimal berumur 20 dan maksimal 45 tahun.
Kedua, bertanggung jawab dan disiplin.
Ketiga, bersedia menginap di sini.
Keempat, punya suara yang keras.
Dan jika berminat hubungi nomor Wattsapp si empunya rumah, 083182957613.
Dengan mengirimkan foto dan surat lamaran, kirim ke nomor yang tertera.
Aku kembali tertawa kecil membaca kriteria atau persyaratan yang nomor empat.
‘’Bi, Bibi ini lucu banget deh. Coba Bibi baca yang nomor empat,’’ ujarku menoel lengan bibi Sum.
‘’Iya, Bi. Tapi enggak begitu juga kan?’’
‘’Trus gimana nih, Bu? Kita bikin ulang posternya?’’
‘’Nggak usah, Bi. Ini aja udah bagus kok. Cuman yang satu itu bikin aku ketawa. Tapi enggak apa-apa deh.’’
‘’Kalo dibikin ulang juga nggak apa-apa kok, Bu. Biar Bibi temui lagi si Mas ganteng di sebelah itu,’’ tunjuknya yang mengarah ke warung warnet yang tak jauh jaraknya dari rumahku. Aku menggeleng secepatnya.
‘’Nggak usah, Bi. Ini aja ya. Nggak baik dituker terus. Lagian nanti malah dianggep sama orang kalo Bibi berulang ke sana mencari Mas ganteng itu,’’ godaku dengan sengaja.
‘’Ah, si Ibu. Nggak apa-apa kalo demi Ibu mah apa pun akan Bibi lakukan,’’ sahutnya yang membuat aku terkekeh pelan.
‘’Bibi bisa aja.’’ Aku mencubit lengannya hingga dia mengernyit menahan perih. Habisnya gemes sekali sama si bibi.
‘’Bi, nanti kalo Naisya mau tidur siang. Bibi bawa aja ke kamar ya. Jangan sampe Reno ikutan juga,’’ kataku kemudian. Yang disahut dengan anggukan dan senyuman oleh si bibi.
‘’Aku kayaknya mau istirahat dulu deh, Bi. Entah kenapa kepalaku mendadak pusing,’’ imbuhku sembari memijit kepala yang mulai terasa pusing.
‘’Ya Allah, apa Ibu belum minum obat kali ya?’’
Aku coba berpikir sejenak,’’Ah iya. Ya Allah ternyata belum, Bi. Aku lupa.’’
‘’Ma’af, Bu. Bibi pun lupa mengingatkan. Kalo gitu Ibu makan obatnya di kamar saja atau di mana? Biar Bibi bawain air matang,’’ ujarnya kemudian.
__ADS_1
‘’Nggak apa-apa, Bi. Bibi kan sibuk juga. Bawa ke kamar aja. Dan nasi juga ya, Bi,’’ pintaku pada wanita yang kuanggap sebagai keluargaku itu.
‘’Siap, Bu. Bibi ambilin dulu ya.’’
Aku menyahut dengan anggukan. Tampak si bibi sudah bergegas melangkah. Sedangkan aku kembali ke kamar tidurku. Pantas saja kepalaku terasa pusing kembali, obatku belum dikonsumsi untuk pagi ini saking lupanya aku. Tak berselang lama wanita separuh baya itu sudah membawakanku nasi, obat dan segelas air putih.
‘’Makan dulu ya, Bu. Setelah itu baru istirahat,’’ ujarnya yang bergegas meletakkan nampan yang berisi nasi dan sambal di nakas.
‘’Iya, Bi. Makasih banyak ya.’’
‘’Sama-sama, Bu.’’
‘’Kalo gitu Bibi cek dulu Naisya ya,’’ katanya kemudian.
Aku menyahut dengan anggukan. Tampak si bibi kembali melangkah ke luar, sedangkan aku melangkah dengan pelan menuju nakas. Aku memaksakan diri untuk makan sedikit nasi terlebih dulu. Setelah itu aku lanjut memakan obat. Ah, untung si bibi membawa sedikit cemilan untuk obat mualku. Kubiarkan saja piring bekas makan terletak di nakas. Habisnya kepala terasa pusing kembali. Seketika aku terdengar bunyi benda pipih berdering, tapi di mana?
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Namun, tak kudapati keberadaannya. Ah, iya bukankah benda itu kuletakkan di ruangan kerjaku. Dengan pelan aku melangkah ke ruang kerja. Benar saja, benda pipih itu terletak di atas meja kerjaku. Aku bergegas meraihnya dan membawa ke kamar tidur. Kupandangi layar benda canggih itu banyak sekali pesan yang masuk.
‘’Selamat siang, Bu. Perkenalkan saya Budi. Saya ingin melamar jadi security di rumah Ibu. Kira-kira kapan saya bisa mengantar berkasnya, Bu?’’ tulis nomor baru yang mengaku nama Budi itu di aplikasi hijau.
‘’Selamat siang juga. Oke, Budi. Kamu bisa datang besok pagi bawa semua berkas persyaratan yang telah ditentukan dan nanti akan saya kirimkan alamat rumah saya kalo kamu enggak tahu,’’ balasku kemudian yang bergegas mengirimkan balasan pesan untuk lelaki yang akan melamar jadi security rumah pribadiku.
Tak berselang lama, masuk lagi beberapa pesan.
‘’Assalamua’alaikum, Bu. Perkenalkan saya Dodo, saya dapat nomor Ibu dari teman saya. Katanya Ibu ada lowongan pekerjaan ya? Saya butuh banget pekerjaan apa pun itu asalkan halal. Apalagi security, saya sudah berpengalaman dan pernah jadi security di rumah pribadi artist. Ma’af bukan saya sombong atau gimana, saya hanya berkata yang sejujurnya, Bu. Oh ya, jadi kapan saya bisa mengantarkan berkasnya, Bu? Saya berharap nantinya bisa terpilih jadi security di rumah Ibu.’’
‘’Wa’alaikumussalam. Besok pagi tolong anterin ke rumah saya. Kamu tahu alamatnya?’’
‘’Tahu, Bu.’’
Membuat aku terheran. Aku merasa sedikit aneh saja dengan lelaki yang bernama Dodo ini. Ah, atau memang karena lelaki itu pernah lewat di depan rumahku. Trus dia melihat ada poster lowongan kerja, makanya dia menghubungi nomorku dan siapa tahu dia me langsung menulis alamat rumahku. Bisa saja kan? Tapi kenapa aku merasa aneh saja ya? Aku menggeleng dan berusaha menepis prasangka buruk yang hadir.
‘’Ya udah, kamu anterin aja persyaratan berkasnya besok pagi ya,’’ balasku kemudian.
‘’Reno?’’ Aku bergegas membuka pesannya.
‘’Assalamua’alaikum, Nel. Kamu di rumah kan? Kok aku nggak ngelihat kamu? Kamu baik-baik aja kan?’’
‘’Wa’alaikumussalam, aku ada di rumah. Aku lagi kerja, Ren. Alhamdulillah, aku baik-baik saja.’’ Segera kukiramkan pada kontak yang kuberi nama ‘’Reno’’ itu. Aku kembali meletakkan ponselku. Lelaki itu begitu peduli padaku, entah apa maksudnya. Aku tak tahu, entah dia bermaksud lain. Tapi aku akan tetap berhati-hati. Karena tak mungkin lelaki asing sebaik itu pada perempuan jika tak ada maksud lain.
Aku merebahkan tubuh untuk beristirahat. Entah kenapa kepalaku hari ini terasa pusing kembali. Atau karena aku telat minum obat?
‘’Assalamua’alaikum, Nel. Besok Mama ke rumah ya. Papa Alhamdulillah udah membaik keadaannya. Biar Papa tinggal sama si Mbak saja. Mama kangen banget sama cucu Mama. Kamu nggak sibuk besok kan?’’
‘’Mamanya Mas Deno?’’
Bersambung.
Terima kasih banyak teruntuk Readers yang masih setia membaca novelku. Ma’af jika Author sering enggak update karena akhir-akhir ini Author sering drop, tapi Alhamdulillah sekarang udah membaik. Jika kalian suka dengan novel ini, mohon supportnya ya dengan cara like, vote, koment, dan share. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
See you next time.
__ADS_1
Instagram: n_nikhe