
POV Si Pelakor (Chika)
‘’Chika!’’ Tak kuhiraukan panggilan wanita itu.
Aku tersenyum menang. Akhirnya aku berhasil membuat mereka bertengkar, hingga tamparan mendarat di pipi Fani. Awalnya aku sungguh kaget, kenapa wanita bersanggul besar setega itu menampar anak semata wayangnya. Hanya karena anaknya yang membawaku kembali ke rumahnya? Kenapa sebenarnya wanita bersanggul lebar itu? Kenapa dia seperti menyimpan kebencian yang amat dalam padaku?
‘’Sepertinya dia punya dendam sama aku. Tapi kenapa? Toh, aku nggak pernah mengusik hidupnya,’’ kataku dalam hati.
Begitu banyak pertanyaan yang muncul di benakku. Seketika aku sudah berada di depan jalan. Aku menoleh ke belakang, ternyata Fani mengikutiku.
‘’Chik, ma’afkan aku,’’ katanya berucap lirih.
‘’Fan, seharusnya aku yang minta ma’af ke kamu. Gara-gara aku kamu jadi ditampar sama Mama kamu. Ma’af banget ya.’’
‘’A—aku nggak tahu kenapa Mama kayak gitu. Mamaku yang kukenal biasanya nggak kayak gitu, Chik.’’
‘’Aku nggak tahu harus bagaimana cara membujuk Mamaku supaya beliau membolehkanmu untuk menginap sementara di rumahku.’’ Seketika teringat olehku, teman lamaku yang begitu baik.
‘’Apa aku coba menginap di rumah Reina aja kali ya. Apalagi dia juga sendiri di rumahnya. Pasti dia membolehkanku menginap di rumahnya untuk sementara,’’ gumamku dalam hati.
‘’Hem, nggak apa-apa, Fan. Aku ke rumah teman lamaku aja.’’
‘’Ta—tapi, bagaimana cara aku membayar semua uang yang kamu berikan untuk biaya administrasi Papaku? A—aku..’’
‘’Kamu cuman perlu memperbaiki namaku kembali atau kamu bisa meminta Nelda untuk membuat postingan kalo aku bukanlah perebut suaminya.’’ Membuat dia mengerjap, terdengar helaan napasnya yang begitu berat.
‘’Ya, aku tahu kamu tentu lebih memilih Nelda daripada aku. Tapii kan kamu tahu sendiri siapa aku sebenarnya. Aku pun udah cerita semuanya ke kamu,’’ lanjutku karena wanita itu hanya terdiam membisu.
‘’Akan aku usahakan, Chik,’’ sahutnya lemah.
‘’Kalo gitu aku pergi dulu ya.’’ Karena taxi sudah tampak dekat melaju ke arahku.
Seketika aku melambaikan tangan. Aku bergegas memasuki taxi sambil melambaikan tangan ke arah Fani yang tengah termenung. Roda empat itu pun melaju membelah jalanan. Aku tersenyum sinis, walaupun hidupku tercampak ke sana ke mari, tapi setidaknya hari ini aku bisa mendapatkan kebahagiaan dan keuntungan.
Ya, Fani dan mamanya bertengkar gegara aku. Tentu aku merasa bahagia sekali, aku bisa jadi bahan perpecahan antara ibu dan anak itu. Yang kedua, aku sudah bisa merasuki pikiran Fani. Aku sudah bisa mempengaruhinya. Kuyakin dia akan segera menemui si sok suci itu untuk membersihkan namaku di sosial media.
‘’Pak, ke jalan Merpati yah.’’
‘’Baik, Mba,’’ sahutnya, menoleh sejenak lalu kembali fokus menyetir.
Tak berselang lama, taxi sudah berada di depan rumah yang tak asing lagi bagiku. Aku segera turun dan menyerahkan ongkosnya pada si bapak sopir.
‘’Reina pasti seneng banget dengan kedatanganku ke rumahnya,’’ kataku sambil menenteng koper lalu bergegas mengetuk pintu.
‘’Rei! Aku datang nih.’’ Namun, tak ada sahutan dari dalam.
Apa dia sedang di luar atau dia tengah terlelap tidur? Kuulangi kembali mengetuk pintunya sambil memanggil nama wanita itu. Namun, nihil. Tak ada sahutan sama sekali. Aku menghela napas dengan kasar. Apa aku hubungi saja sahabatku itu? Bergegas kurogoh tas brandedku.
‘’Astaga! Handphoneku malah mati lagi. Aduh! Gimana nih?’’
Aku menghela napas gusar dan meletakkan kembali ponsel ke tas. Apa aku tunggu saja Reina? Mungkin dia berada di luar atau sedang terlelap.
‘’Mba Chika kan?’’
Seketika wanita separuh baya menghampiriku sambil menunjuk ke arahku. Seingatku namanya bu Nining, tapi entah aku lupa.
‘’Iya, Bu. Reina ada di dalam kan?’’
Aku bergegas bangkit. Seketika wanita separuh baya itu menunduk, seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikannya dariku.
‘’Bu?’’
‘’Ah, iya. Mba Reina—‘’
‘’Kenapa dengan Reina?’’ selidikku dengan nada meninggi menatap tajam ke arah wanita separuh baya itu.
__ADS_1
‘’Dia nggak pernah nampak lagi di sini. Bahkan sudah sebulan, Mba Chika.’’ Membuat aku terkesiap. Ke mana Reina selama sebulan ini? Apa dia dijemput orangtuanya?
‘’Mungkin dijemput Mamanya kali, Bu.’’
‘’Nggak, Mba. Saya nggak pernah nampak Bu Ratih itu pulang. Kan saya tetangga dekatnya.’’
Lalu ke mana sahabatku itu? Ah, kenapa aku malah tak pernah menghubunginya? Aku malah asyik dengan mas Deno setiap waktu. Hingga tak ada lagi waktu untuk sahabatku, Reina.
‘’Ya ampun. Lalu ke mana Reina?’’ Aku mengusap rambutku dengan kasar.
‘’Bu, bisa nggak aku menumpang cas handphone? Batreiku habis. Aku mau menghubungi Tante Ratih.’’ Seketika dia tampak berpikir.
Ah, apa aku minta tolong saja untuk mencaskan ponselku ini? Biar aku menunggu saja di sini. Aku yakin ibu ini adalah orang baik-baik.
‘’Kalo nggak, Ibu caskan saja handphone ini ya. Biar aku tunggu di sini,’’ kataku sambil merogoh tas branded. Lalu mengambil charger di saku-saku koperku.
Kupegangkan ke tangannya ponsel dan charger itu,’’Baiklah, Mba Chika. Mari ikut ke rumah saya.’’ Wanita separuh baya itu mengambil benda yang kusodorkan.
‘’Nggak usah, Bu. Aku menunggu di sini saja. Sambil nyari angin,’’ ujarku sambil terkekeh kecil.
Membuat ibu itu tersenyum lalu mengangguk. Dia pun hilang dari pandanganku. Ya, rumahnya di samping rumah sahabatku ini. Aku tahu betul bagaimana sifat bu Asih itu, karena dulu aku sering bermain ke sini.
Aku menghenyakkan bokong di kursi santai milik Reina yang terletak di luar rumahnya, dekat dengan pagar yang tertutup. Kendaraan berlalu lalang, saling menyapa di antara mereka. Seketika lewat kendaraan bermotor yang bunyi knalpotnya memekakkan telinga.
‘’B*lshit,’’ upatku sambil berteriak kencang. Eh, lelaki itu malah tertawa keras.
‘’Dasar tak tahu diri!’’
Ah, sungguh malang nasipku. Hari ini aku begitu sial. Entah di mana aku akan tinggal untuk sementara. Ini semua karena si sok suci itu.
‘’Awas aja kamu wanita sok suci! Hidup kamu nggak akan tenang,’’ gumamku dengan tersenyum sinis.
Sudah dua jam aku duduk. Perut terasa keroncongan. Begitu perih rasa perutku. Apalagi sejak berbadan dua ini, jadi mudah lapar. Tampak lelaki yang membawa gerobak lewat, sepertinya yang dibawa oleh lelaki itu adalah sate kalau dilihat dari bentuknya.
‘’Apa aku makan sate aja kali, ya? Dari pada aku mati sia-sia."
‘’Ah, masa aku makan sate di pinggir jalan. Kayak gembel dong.’’ Aku bergidik ngeri.
‘’Mba? Jadi beli satenya kan?’’ Membuat aku tersadar dari lamunanku.
‘’Iya, iya. Aku laper nih. Satu, makan di sini,’’ ketusku.
‘’Oke. Mohon ditunggu yah, Mba,’’ katanya tersenyum ramah.
Aku menatapnya dengan tatapan malas. Sungguh malas rasanya membeli sate ini, apalagi di pinggir jalan. Seumur hidup aku tak pernah makan sate dan tak pernah makan di pinggir jalan begini.
‘’Jangan pake lama.’’
‘’Yang sabar dong, Mba.’’
Aku memperbaiki rambutku yang sedari tadi mungkin berantakan tak karuan.
‘’Ini satenya, Mba. Monggo dimakan.’’ Lelaki itu menyodorkan sepiring kecil sate yang asapnya mengepul. Ah, ternyata harum juga nih makanan.
‘’Sendoknya ini udah Bapak cuci bersih kan?’’ tanyaku dengan spontan sambil melirik ke sendok yang diletakkannya di piring. Seketika dia tersenyum.
‘’Sudah dicuci bersih itu, Mba. Ngga mungkin ngga dicuci. Walaupun saya seperti ini, saya masih tahu kebersihan kok.’’
‘’Awas aja kalo siap makan sate ini aku sakit. Aku akan tuntut Bapak,’’ ancamku kemudian.
‘’Astagfirullah, Mba. InsyaaAllah, semuanya bersih kok.’’ Dia menggeleng habis. Membuat aku muak mendengar kata istigfar yang terlontar dari mulutnya itu.
Perut dari tadi bernyanyi riang. Daripada mendengar celotehan lelaki tua itu, lebih baik aku mengisi perut terlebih dahulu. Dengan pelan kusuap, takut nanti lipstick mahalku malah luntur.
Tak berselang lama aku sudah selesai makan. Ada beberapa pembeli yang melirik aneh ke arahku. Aku pun membalasnya dengan tatapan tajam. Ah, kalau tidak karena aku tengah berbadan dua. Aku tak kan mau makan sate di pinggir jalan begini.
__ADS_1
‘’Mba Chika, ini handphonenya.’’ Wanita separuh baya itu menyodorkan ponsel dan chargerku.
‘’Hem, makasih banget ya, Bu.’’
Bergegas kuambil dan mengecek benda itu. Ternyata baru 40 persen. Tak apa lah. Setidaknya bisa menghubungi tante Ratih. Kumasukkan kembali k etas branded milikku.
‘’Mba Chika tadi beli sate?’’ Dia menatap heran ke arahku. Lalu beralih menatap gerobak milik si bapak itu.
‘’I—iya, Bu. Habisnya aku laper banget,’’ kataku dengan gelagapan.
‘’Ibu suka sate kan? Pesanlah, biar aku yang bayar. Sebagai ucapan terima kasihku.’’ Aku tersenyum manis.
‘’Wah, benaran nih, Mba Chika?’’ Aku menyahut dengan anggukan.
‘’Pak Jo, saya mau pesan sate banyakin dagingnya ya. Tapi, Mba Chika itu yang bayar.’’
‘’Siap, Bu. Dapat rezeki nih ceritanya ya,’’ katanya sambil terkekeh.
Kurogoh uang di tas branded. Ah, cuman ada uang lima puluhan.
‘’Nih uangnya. Sekalian untuk bayarin Ibu ini,’’ kataku yang bergegas menghampiri lelaki yang tengah sibuk digerobaknya.
‘’Aduh, Mba. Saya ngga punya uang kecil.’’
Aku menghela napas dengan berat,’’Ambil aja.’’ Aku bergegas menenteng kembali koper dan menggeser posisiku. Aku ingin menaiki taxi, namun sejak aku duduk di sini belum tampak taxi yang lewat.
‘’Ya Allah. Ternyata Mba baik juga orangnya ya. Makasih banyak, Mba,’’ teriaknya dengan girang.
‘’Mba Chika! Makasih juga ya,’’ teriak wanita separuh baya. Aku tak menoleh sedikit pun.
‘’Aduh, mana perutku masih merasa lapar lagi. Kayaknya sate tadi kurang porsinya deh,’’ gumamku sambil mengelus perut.
‘’Hem, apa aku cari rumah makan saja di sekitar sini.’’ Aku bergegas melangkahkan kaki. Sejauh ini kaki melangkah namun tak kutemukan rumah makan mewah. Hanya ada rumah makan kecil saja. Aku ogah kalau makan di tempat rumah makan kecil begitu.
‘’Capek banget,’’ keluhku sambil memperbaiki rambut yang diberantakan oleh angin.
***
Aku terperanjat tatkala dua lelaki berbadan besar dan tinggi itu menghampiriku. Lengannya bertato dan berkalung besar. Membuat aku merasa ketakutan dengan ekspresi wajahnya yang menurutku seram.
‘’Ma—mau apa kalian?’’ Kucoba mengusir rasa takut yang tiba-tiba menyeruak begitu saja.
‘’Jangan takut cantik. Kami cuman mau berkenalan saja,’’ katanya sambil mengedipkan mata nakal.
Sepertinya mata lelaki itu tengah mengarah pada baju dress seksi yang kukenakan. Kedua lelaki itu menatapku dari bawah hingga ke atas. Membuat aku merasa jijik ditatap aneh seperti itu. Aku yang hendak berlari, seketika tangan kekarnya mencekal lenganku dengan kuat.
‘’Lepaskan!’’ teriakku yang berusaha untuk melepaskan tanganku darinya.
‘’Hussh, jangan berisik. Kamu harus temani kami dulu. Kita bersenang-senang.’’
‘’Jangan macam-macam sama aku!’’ ancamku dengan suara bergetar. Koperku terlepas begitu saja dari tangan, begitu juga dengan tas brandedku. Lelaki yang satu lagi bergegas mengambilnya.
‘’Hei! Jangan ambil barangku!’’
‘’Kamu pilih yang mana cantik? Mau bersenang-senang sama kita atau…’’
‘’Atau membiarkan kita mengambil semua barang ini?’’
‘’Nggak! Kembalikan!’’ teriakku, namun mereka malah tak peduli dengan teriakkanku.
‘’Bos, kayaknya tas ini mahal banget. Kalo dijual berapa harganya ya?’’
‘’Dasar kurang ajar! Itu barang milik aku!’’
‘’To—tolooong!’’
__ADS_1
Bersambung.