Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Maminya Chika


__ADS_3

‘’Bu, ma’af. Apa Ibu nggak kasihan sama Non Chika? Apalagi Non itu—‘’ Membuat darahku seketika naik mendengar ucapan lelaki yang bernama Jodi, dia asisten pribadiku.


‘’Kamu nggak tahu apa-apa tentang Chika. Jadi stop untuk mengatakan hal itu,’’ kataku tegas dan menunjuk lelaki yang berdiri di sampingku.


Ya, keputusanku untuk mengusir Chika adalah keputusan yang tepat. Jujur saja, aku sangat kecewa pada anak semata wayangku. Awalnya, aku pulang ke kampung halaman itu karena berniat menjemput Chika supaya dia mau ikut denganku ke luar kota, tempat papinya bekerja. Tapi, apa yang aku dapati? Aku langsung mendapatkan ucapan yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.


Tetangga mengatakan kalau anakku itu dipaksa nikah di balai adat. Katanya Chika ketahuan membawa lelaki menginap di rumah. Aku tak tahu harus meletakkan di mana mukaku ini, saking malunya sama warga di kampung. Setelah mendengar kabar yang tak mengenakkan itu, aku langsung menghubunginya. Aku menyuruh dia untuk segera pulang ke rumah.


Setibanya di rumah aku memarahinya dengan sepuas hatiku dan bahkan menampar perempuanku itu. Ya, baru kali ini tanganku berani mendarat di pipi nan mulus. Lalu aku menyeretnya keluar dari rumah dengan kasar dan kulemparkan juga kopernya yang sudah disiapkan oleh asisten pribadiku sebelum dia tiba di rumah. Dulu, jangankan untuk menampar. Untuk memarahi saja aku tak tega. Karena dia adalah anak kesayanganku, anak semata wayangku.


Lain dengan sekarang, Chika sudah membuat aku sungguh kecewa dan dia sudah mencoreng mukaku. Selama ini aku memberikan semua fasilitas padanya, bukan berarti dia bisa hidup dengan seenaknya saja. Bukan berarti aku mengizinkan dia hidup dengan bebas. Sejak dulu aku sudah mengajarkan dia untuk selalu menjaga diri dan mengingatkannya, jangan sekali-kali coba membawa lelaki ke rumah walaupun hanya sekadar mengobrol.


Eh, kenyataannya bagaimana sekarang? Nasihatku seakan-akan tak didengarnya, aku mungkin dianggap hanya sebagai sampah. Atau karena dia merasa kesepian karena semua temannya sudah berumah tangga? Kenapa Chika tak mengatakan sejujurnya padaku. Bahkan aku ingin menjodohkannya dengan anak sahabat papinya yang di luarkota. Tapi, dia menolak dengan mentah-mentah.


Ah, entah apa yang ada di pikirannya anak itu. Aku tak mengerti dan tak habis pikir. Sekali lagi, aku sungguh kecewa padanya. Apalagi ketika warga mengatakan, Chika membawa lelaki menginap di rumah. Apa mereka melakukan hal yang tak senonoh juga? Aku menghela napas panjang.


‘’Ya, sejujurnya aku juga merasa sedih. Karena sudah mengusir anakku. Tapi dia juga harus diberi pelajaran,’’ gumamku lirih.


Senakal-nakalnya sikapku, aku masih bisa menjaga harga diriku sebagai wanita. Teringat olehku, ketika beberapa tahun nan silam pacarku mengajak ke hotel bersamanya. Membuat aku memutuskan dia pada detik itu juga. Aku tak suka lelaki seperti tipe dia. Jika dia menyayangiku, tentu dia akan selalu menjaga harga diriku. Apalagi waktu itu status kami masih berpacaran.


Hingga pada akhirnya membuat aku memutuskan untuk menjomblo saja. Beberapa tahun kemudian, lalu aku bertemu dengan Papinya Chika di sebuah perkantoran ternama di luarkota. Waktu itu aku tengah bersama papaku, menemani beliau bekerja di kantor. Karena papa baru saja sembuh dari penyakitnya, membuat aku memutuskan untuk menemani papa. Karena takut terjadi sesuatu, apalagi kondisi beliau belum pulih total.


Sejak pertemuan itu, aku dan papanya Chika semakin dekat. Kami bahkan memilih nongkrong di café pada waktu senggang. Tentu atas izin kedua orangtuaku. Setahun aku mengenalinya. Dia mampu mengobati rasa sakit hatiku, dia mampu meyakinkanku bahwa dia lelaki yang tipe menjaga kehormatan wanita. Aku pun mulai membuka hatiku, papa dan mama pun merestui. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan.


Begitulah aku, aku tak bisa dipermainkan sembarangan.


Aku kembali beralih menatap Jodi. Membuat badmood saja ucapan dari asistenku ini. Goreng pisang yang sedari tadi terhidang di meja belum kusentuh sama sekali. Apalagi kopi yang mengepul, tentu kini tak ada lagi kepulannya.


‘’Ma—ma’af, Bu. Saya hanya mengatakan apa yang tengah mengganjal di pikiran saya saja. Kalo gitu saya berjaga-jaga dulu di depan, Bu,’’ katanya dengan sopan, lalu meninggalkanku begitu saja. Aku tak menyahut apapun.


‘’Neneng!’’ panggilku dengan kencang.

__ADS_1


‘’Ah iya, Bu?’’ Dia tergopoh-gopoh melangkah ke arahku.


Dia adalah Neneng, ART yang kubawa dari luarkota. Di sana ada dua orang ART, maka aku memutuskan untuk membawa Neneng saja ke sini. Supaya bisa membantu-bantuku di sini, apalagi ART yang sebelumnya bersama Chika sudah dipecat oleh anakku itu. Entah apa alasannya.


‘’Nanti buatkan kopi yang hangat dan pisang goreng juga buat saya. Sekarang saya mau istirahat dulu,’’ kataku sambil beranjak.


‘’Lalu yang ini bagaimana, Bu?’’ Wanita itu beralih menatap sepiring pisang goreng dan segelas kopi yang belum kusentuh di meja.


‘’Terserah kamu. Kamu itu kan tahu kalo saya nggak suka makanan dingin kayak begitu.’’ Aku langsung melangkah ke kamar.Sepertinya pikiran dan tubuhku butuh istirahat barang sejenak.


***


Sore harinya, sesuai rencana aku dan kedua asistenku yang hendak mendatangi si Deno. Lelaki yang telah menikahi anakku secara sembunyi itu. Aku akan membuat perhitungan untuknya, tentu dengan penuh sandiwara dulu.


‘’Mba, ruang pasien yang bernama Deno di mana, ya?’’


‘’Ma’af, Bu. Ibu siapanya Mas Deno, ya?’’ Membuat aku menghela napas gusar.


‘’Ma’afkan saya ya, Bu. Saya kira tadi Ibu bukan siapa-siapanya Mas Deno. Karena beliau menyuruh untuk tidak mengatakan di mana ruang rawatnya ke sembarang orang.’’


‘’Ruangnya di lantai dua, ruang B nomor 2, Bu.’’


Aku harus banyak sabar,’’Oke, Mba. Makasih.’’ Aku memberi kode pada dua lelaki asistenku. Kami bergegas melangkah ke ruang yang sudah dikatakan tadi.


‘’Bu, Ibu harus bisa menjaga emosi ya. Jangan sampe rencana kita gagal,’’ katanya yang membuat aku menoleh dan menghentikan langkah.


‘’Saya akan berusaha semampu saya untuk itu. Kalian jangan ragu. Kalian tinggal membantu sesuai rencana yang kita sepakati,’’ lirihku sambil menatap kedua asistenku. Keduanya tampak mengangguk.


**


Aku berusaha untuk memasang muka sebaik mungkin seolah tak terjadi apapun, seolah aku tak mengetahui hal buruk tentang Chika dan lelaki biadab itu.

__ADS_1


‘’Heem. Ternyata ini lelaki yang bernama Deno itu,’’ gumamku dalam hati yang memandanginya tengah terbaring di brankar.


‘’Deno?’’ Membuat dia terkesiap dan langsung bergegas duduk.


‘’Ta—Tante? Maminya Chika?’’ katanya dengan terbata.


Aku yakin kalau anakku sudah memperlihatkan fotoku pada lelaki ini, hingga begitu mudah dengannya mengenali wajahku. Padahal aku jarang sekali di kampung. Buktinya sudah enam tahun aku tak menginjakkan kaki ke kampung halaman.


‘’Panggil Mami aja. Bukankah kamu sudah menikahi anak saya?’’ Aku langsung menghenyak di kursi sebelah brankar itu.


‘’Ma’af, Tan. Eh, Mami. Aku terdesak menikahi Chika. Membuat aku nggak sempat memberi tahu sama Mami dan Papi.’’ Pandai sekali lelaki ini bersandiwara. Lihat saja nanti, siapa yang lebih pandai bersandiwara. Kamu atau aku? Ikuti saja permainanku.


‘’Nggak apa-apa. Mami ngerti kok. Chika udah cerita semuanya ke Mami.’’


‘’Dan Mami ke sini mau mengecek keadaan kamu. Kalau kamu bisa besok, Mami akan ajak kamu ke luarkota. Karena Chika juga akan Mami bawa ke sana,’’ lanjutku sambil menatap ekspresinya yang tengah keheranan.


‘’Tapi, itu juga kalo kamu mau sih. Kalo enggak, Mami nggak akan memaksa. Tapi, Chika tentu akan jarang banget ketemu sama kamu. Bahkan bisanya cuman sekali empat tahun bertemu. Karena Mami dan Papi menetap di luarkota,’’ kataku dengan tersenyum sinis.


Membuat dia terkesiap. Sangat lama lelaki yang bernama Deno itu terdiam membisu,’’ Toh kamu juga nggak kerja di sini kan? Di sana bisa dicarikan kerja sama Papi,’’ lanjutku sambil menukik alis.


‘’Akan aku pikirkan, Mi.’’


Sepertinya lelaki ini mencurigaiku. Baiklah, aku akan berusaha supaya dia mau ikut denganku. Aku menghela napas panjang lalu beranjak dari duduk. Kutepuk lengannya.


‘’Besok pagi Mami akan ke sini lagi. Kamu harus ingat, kalo kamu benar-benar butuh Chika. Kamu pasti nggak akan membiarkan dia pergi begitu saja tanpa ada kamu di sampingnya.’’


Aku langsung memberi kode pada kedua asistenku untuk melangkah ke luar dari ruangan ini. Kulangkahkan kaki, namun seketika ada yang lupa. Aku menoleh sejanak.


‘’Cepat sembuh, Deno.’’ Lelaki itu hanya menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2