
‘’Nel, jangan bohongi diri kamu. Aku tahu luka di hatimu begitu dalam. Walaupun aku nggak pernah merasakannya. Jangan siksa diri kamu kayak gini.’’
Dalam hati aku membenarkan ucapan lelaki itu, namun di sisi lain aku bingung. Dia kok bisa sebaik ini padaku? Apa dia ada maksud lain?
‘’Jika melepaskan adalah terbaik untuk kamu dan membuat rasa lukamu berkurang, maka lepaskanlah dia. Ma’af karena aku ikut campur masalah kamu,’’ lirihnya yang membuat aku menoleh padanya.
Kupandangi wajahnya sejenak. Seperti dia ikhlas mengatakan semua dari hatinya. Dari sorot mata lelaki itu tak ada tersimpan kebohongan di sana, tulus. Apa aku terlalu mencurigainya? Apa karena aku yang trauma dengan lelaki yang bermanis mulut seperti suamiku? Kuakui kini tak mudah bagiku untuk mempercayai lelaki.
‘’Kamu benar, Ren. Makasih banyak ya. Kamu udah mau support aku dan selalu baik sama aku,’’ kataku pelan. Seketika senyuman terbit di bibirnya.
‘’Sama-sama. Itu udah tugas aku untuk menyuport kamu. Aku senang bisa bantu kamu.’’
Entah kenapa setiap kali ucapan yang keluar dari mulut Reno, begitu sulit untuk kupercayai.
‘’Kalo gitu aku pamit dulu ya, Ren.’’ Aku bergegas bangkit, namun dicegah olehnya.
‘’Tunggu! Aku mau memberikan ini sama kamu,’’ ujar lelaki itu sambil memperlihatkan kunci di tangannya. Aku tak asing lagi dengan kunci itu. Ah iya, kunci mobilku.
‘’Ya Allah! Bukannya mobilku udah nggak ada lagi karena aku kecelakaan waktu itu.’’
‘’Ku—kunci mobil aku?’’ kataku terbata dan menatap kaget yang tengah dipegang oleh lelaki di depanku. Dia tersenyum lalu mengangguk.
‘’Kamu tunggu dulu di sini ya. Soalnya tadi aku parkirkan di dalam rumah sakit. Tunggu di sini dan jangan ke mana-mana,’’ katanya yang bergegas meninggalkan aku yang tengah mematung.
Maksudnya dia mau membawa mobilku ke sini? Berarti mobilku selama ini dibawanya ke bengkel? Ya Allah! Aku kira si roda empat itu sudah tiada. Ternyata dia masih ada.
Tak berselang lama si roda empat bewarna hitam pekat itu sudah tiba di sampingku. Reno bergegas turun dan melemparkan senyuman padaku.
‘’Ya Allah. Makasih banyak ya, Ren. Kamu udah memperbaiki mobil aku,’’ kataku yang mendekatinya.
Dia sudah seringkali membantuku dan selalu ada di sampingku. Masih tersimpan di memoriku, tatkala dia menyelamatkan aku dari dua orang lelaki yang menculik dan menyekapku disuatu tempat yang sangat jauh dari rumah sakit. Dia berhasil menyelamatkanku dan membawa kembali ke rumah sakit. Andai saja Reno tak menyelamatkanku, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Sekarang lagi-lagi dia kembali menyelamatkanku.
‘’Sama-sama, Nel.’’ Lelaki bernama Reno itu tersenyum dan mengangguk. Tangannya menyodorkan sebuah kunci padaku. Tanpa pikir aku bergegas meraihnya.
‘’Rencananya aku mau jual sih mobil ini, karena kamu nggak pernah nanya ke aku soal mobilmu.’’ Membuat tawaku pecah seketika dan menggeleng pelan.
‘’Kamu ya, Ren. Bisa aja kamu. Entah kenapa aku nggak pernah mikirin mobilku ini,’’ sahutku seadanya menatap lelaki itu. Dia berhasil mengundang tawaku.
‘’Oh ya? Kok bisa?’’ Keningnya mengernyit sambil terkekeh pelan.
‘’Ya, mungkin karena aku lebih fokus ke kesehatanku aja,’’ jawabku.
‘’Nel, Nel! Kamu ada-ada aja deh. Kamu berbeda daripada wanita yang lain,’’ katanya yang berhasil mengundang tawaku kembali.
__ADS_1
‘’Emang. Kan aku Nelda bukan dia atau pun mereka.’’ Dia tertawa kecil seketika.
Entah kenapa seakan-akan tertawaku lepas seperti ini. Apa karena dia memang lelaki yang tulus kebaikannya padaku? Ah, kamu tak boleh seperti ini.
‘’Nelda, kamu belum tahu siapa sebenarnya Reno dan apa maksud di balik sikap baiknya ini. Kamu harus hati-hati,’’ gumamku dalam hati mengingatkan diri sendiri.
‘’Aku pulang dulu ya, Nel. Kamu hati-hati bawa mobilnya. Kabari aku kalo udah sampe di rumahmu ya,’’ katanya yang membuat aku mengerjap.
‘’Dia ke sini pake mobil aku. Lalu dengan apa dia pulang? Kalo laki-laki lain pasti akan minta pulang bareng aja. Lain dengan laki-laki di depanku ini. Siapa dia sebenarnya?’’
‘’Ka—kamu pulang pake apa, Ren?’’
‘’Aku pulang pake taxi aja. Kan nggak baik kalo kita berduaan di mobil dan kamu pasti nggak senang juga,’’ katanya yang berhasil membuat aku terpaku sejenak.
‘’Kamu hati-hati bawa mobilnya ya. Kalo gitu aku pamit duluan.’’
Tanpa menunggu sahutan dariku lelaki itu bergegas meninggalkanku. Sangat lama aku terpaku. Siapa dia sebenarnya? Mengapa dia hadir di hidupku dan seperti jadi malaikat untukku? Apa benar dia adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk aku?
Bunyi ponsel di tasku membuat aku tersadar dari lamunan. Langsung aku mengambil dan memandangi layar benda canggih itu.
‘’Bibi? Ya Allah, aku jadi lupa. Bibi pasti khawatir banget sama aku.’’ Kuhela napas pelan bergegas mengangkat telepon dari si bibi.
‘’Assalamua’laikum, Bi.’’
‘’Wa’alaikumussalam. Ya Allah! Ibu baik-baik aja kan? Kenapa nggak ngabari Bibi?’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu, Bu. Dari tadi Bibi nungguin kabar dari Ibu.’’
‘’Trus gimana keadaan Bu Minah?’’
Aku kembali menghela napas berat,’’A—aku nggak diizinin sama anaknya untuk membezuk Mama,’’ lirihku seadanya.
‘’Ma—maksudnya sama Pak Deno?’’
Aku mengangguk cepat, walau aku tahu kalau bibi tak kan mungkin melihat anggukanku sekarang.
‘’Kalo gitu Ibu pulang aja sekarang. Untung Bibi langsung telepon Mas Reno tadi. Bibi itu khawatir banget sama Ibu.’’
‘’Jadi Bibi yang nelpon dia? Ya Allah, nggak seharusnya Bibi menelpon dia. Aku sama dia itu nggak ada hubungan apa-apa. Dan Bibi tahu kan status aku gimana?’’ ucapku dengan nada kesal. Kuyakin wanita separuh baya itu tengah keceplosan bicara hingga membuat dia terdiam lama.
‘’Ya udah, Bi. Nanti kita bicara lagi di rumah. Aku mau pulang sekarang,’’ kataku pelan yang menyudahi pembicaraan dengannya tanpa menungga jawaban. Kuputuskan sambungan telepon sepihak dan bergegas memasuki mobil.
‘’Ada-ada aja si Bibi. Apa maksudnya coba? Apa dia nggak tahu dengan statusku ini?’’ Aku memasang safety belt seketika dan menghidupkan mesin si roda empat.
__ADS_1
***
Tak berselang lama si roda empatku sudah tiba di depan rumah. Kubunyikan klakson. Masih belum tampak si bibi, hingga kubunyikan lagi untuk kedua kalinya. Dengan tergopoh-gopoh wanita separuh baya itu melangkah ke arahku dan matanya menatap lama ke arah mobil. Kuturunkan kaca dan menampakkan wajahku.
‘’Eh, Ibu ternyata. Kirain siapa,’’ katanya sambil terkekeh dan langsung membukakan pagar untukku.
‘’Makasih, Bi,’’ ujarku dingin dengan wajah datar.
Aku sengaja bersikap dingin, agar si bibi bisa instropeksi diri terhadap apa yang telah dilakukannya. Bergegas kumasuki mobil ke garasi lalu mematikan mesinnya.
‘’Bu, ma’afkan Bibi.’’ Akhirnya kata-kata yang kutunggu diucapkannya juga.
‘’Kita bicara di dalam aja,’’ kataku dingin.
Aku langsung melangkah memasuki rumah dan si bibi mengikuti langkahku. Sejujurnya aku tak tega bersikap dingin seperti ini pada bibi, tapi aku sedikit kecewa dan kesal terhadap apa yang dilakukannya itu. Sengaja aku melangkah ke ruang keluarga, supaya Naisya tak terusik tidurnya.
‘’Bu, ma’af Bibi sudah membuat Ibu marah,’’ lirihnya yang ikut menghenyak di sofa, sebelahku.
‘’Aku nggak marah sama Bibi. Aku tuh cuman kesel dan kecewa sama Bibi. Kenapa Bibi selalu melibatkan Reno dan Reno aja. Bibi tahu kan dengan status aku sekarang? Aku ini masih istri orang, Bi!’’ Kutumpahkan segala rasa yang menjanggal di pikiranku dan nada suara kali ini begitu naik. Hingga membuat wanita itu tak berkutik dan hanya menunduk saja.
‘’Aku nggak habis pikir dengan Bibi. ‘’ Aku menggeleng dan mengusap muka dengan kasar.
‘’Kenapa Bibi harus melibatkan lelaki itu? Jawab pertanyaan aku!’’
‘’Ma’afkan Bibi. Bibi nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Cuman Mas Reno yang bisa membantu dan dia juga baik kok orangnya.’’
‘’Bibi paham dan mengerti kenapa Ibu sangat kesal dan kecewa sama Bibi. Tapi Ibu juga harus mengerti kenapa Bibi melakukan ini semua. Itu karena Bibi nggak mau Ibu kenapa-napa,’’ lanjutnya dengan suara bergetar.
Membuat hatiku terenyuh seketika. Dalam hati aku juga membenarkan ucapan si bibi, tapi tak seharusnya lelaki itu yang dilibatkan dalam segala hal di hidupku. Kecuali kalau aku sudah bercerai dengan suamiku. Mungkin dia tak punya pilihan lain lagi selain meminta bantuan pada lelaki asing itu.
Kuhela napas dengan pelan dan mendekatinya,’’ Aku juga minta ma’af ya, Bi. Aku itu bingung dengan statusku ini.’’
‘’Ma’afkan aku. Bibi jangan sedih lagi yah. Aku nggak kesel dan kecewa lagi kok sama Bibi. Tapi janji sama aku, jangan minta bantuan apa-apa lagi sama lelaki itu. Sekarang kan udah ada Dodo,’’ imbuhku yang bergegas menyeka buliran air mata si bibi.
‘’Makasih ya, Bu. Udah mau mema’afkan kesalahan Bibi,’’ lirihnya. Senyuman mulai terbit di bibirnya. Aku menyahut dengan anggukan.
‘’Tapi bagaimana Bibi bisa berjanji kalo Mas Reno terus saja memaksa. Dia itu paling nggak bisa kalo Ibu sedih atau Ibu dalam bahaya. Karena dia cinta banget sama Ibu.’’
Bersambung.
Kalo kalian suka novelku bantu like, koment, vote dan share ya. Supaya aku lebih semangat lagi nulisnya.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
__ADS_1
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe