
POV Pelakor
‘’Kamu di mana? Cepat ke rumah sekarang juga! Nggak pake lama!’’ Membuat tenggorokanku tercekat.
Apa mami sudah berada di rumah? Apa mami sudah mengetahui semua yang kusembunyikan darinya? Lalu kenapa wanitaku itu terdengar berbeda suaranya, seperti tengah menahan amarah yang begitu besar.
‘’Ma—Mami udah di rumah sekarang?’’ kataku dengan tenggorokan tercekat, namun tak ada sahutan dari seberang sana.
‘’Ha—hallo, Mi!’’ Tetap saja tak ada sahutan.
Bergegas kupandangi layar benda canggih. Aduh! Ternyata sudah diputuskan sepihak oleh mami. Membuat aku memijit kening yang terasa mulai sakit.
‘’Apa Mami udah di rumah? Nggak! Aku nggak mau nanti para warga membongkar semuanya tentang aku. Bisa-bisa Mami akan mengamuk besar sama aku!’’
Aku bergegas menghampiri wanita berambut sebahu itu yang tengah tercengang. Rupanya dia sudah memesan minuman dua gelas coffie latte.
‘’Chik? Kenapa kok muka kamu kayak gitu?’’
‘’Mamiku ternyata pulang, Fan. Aku disuruh ke rumah. Katanya ada hal penting.’’
‘’Ka—kamu aku tinggal, nggak apa-apa kan? Lain kali aja kita lanjutkan ngobrolnya ya,’’ lanjutku yang bergegas merogoh tas brandedku. Kuraih dua lembar uang ratusan dan menyodorkannya pada Fani.
‘’Ma’af ya, Fan. Aku buru-buru. Ini janji aku tadi ke kamu.’’ Tanpa menunggu jawaban dari Fani, aku langsung bergegas melangkah ke luar dari café itu.
‘’Perasaanku kenapa nggak enak yah?’’ Aku menggeleng cepat dan berusaha menepis semua prasangka buruk yang menghantuiku.
Braakk!
‘’Aw!’’ Aku mengerang kesakitan karena terhuyung ke lantai.
‘’Dasar! Miskin! Pakek matanya dong. Sudah miskin belagu lagi,’’ hardikku menatap wanita berkerudung itu. Aku bergegas bangkit dan mengusap lenganku yang kesakitan.
‘’Ma—ma’af, Mba. Aku beneran nggak sengaja. Mba juga—‘’
‘’Alah, masih aja ngelak!’’ Aku mengibaskan tangan dan bergegas meninggalkan wanita tak tahu diri.
Aku tak mau menghabiskan waktu dengan wanita miskin tak tahu diri seperti wanita itu. Aku harus kembali ke rumah sekarang juga. Bergegas aku menghidupkan mesin dan keluar dari pekarangan café. Kulajukan si roda empat dengan kecepatan tinggi. Aku khawatir jika terlambat, entah apa yang akan terjadi.
‘’Nggak! Kamu belum terlambat, Chik!’’ Aku menggigit kuku sambil fokus menyetir. Entah kenapa hatiku tak tenang dibuatnya.
***
__ADS_1
Selang beberapa menit, mobilku sudah memasuki pekarangan rumah mewahku. Aku langsung turun dan meletakkan mobil di garasi. Entah kenapa kali ini jantungku berdegup lebih kencang. Kucoba mengatur napas. Lalu dengan pelan melangkah menuju pintu rumah. Ah iya, kunci rumahku! Bergegas kurogoh tas branded.
‘’Tunggu tapi kayaknya pintu udah kebuka sendiri deh,’’ gumamku.
Kucoba membuka pintu. Astaga! Napasku tersenggal dan jantung berdegup makin kencang. Apa mami sudah duluan datang daripada aku? Dengan langkah berat aku memasuki rumah. Semuanya tampak berantakan. Guci mahal yang kubeli pecah begitu saja di lantai.
‘’Ya ampun! A—apa Mami—‘’
‘’Iya. Mami udah tahu semuanya!’’
Aku menoleh ke sumber suara. Tampak mami berdiri dengan wajah yang memerah. Aku terkesiap dan tak bisa bernapas dibuatnya. Apa mami sudah tahu semuanya? Lalu bagaimana nasipku setelah ini?
‘’Percuma Mami ngasih kamu semua fasilitas. Ternyata begini kelakuan kamu!’’ Mami bergegas melangkah dan satu tamparan mendarat di pipi kananku.
Membuat aku sungguh terperanjat dan memegangi pipi bekas tamparan dari mami. Bagaimana wanitaku itu bisa tahu?
‘’M—Mi, kenapa Mami menampar aku?’’ lirihku dengan air mata mulai menetes.
‘’Kenapa kata kamu? Masih aja kamu tutupin semuanya dari Mami?’’
‘’Mi, apa maksud Mami?’’
Seumur hidup baru kali ini mami menamparku. Selama ini aku adalah anak yang dimanja, apalagi aku adalah anak semata wayang mami dan papi. Tapi, kini? Seolah aku melihat ada ribuan kebencian dan kekecewaan mendalam di sorot matanya.
‘’Mi! Cukup! Tega Mami sama aku ya!’’ teriakku dengan deraian air mata sambil memegangi pipi yang terasa sakit.
‘’Kamu yang tega sama Mami!’’
‘’Jodi! Mana kopernya? Segera bawa ke sini!’’ Apa maksud mami?
Seketika lelaki bertubuh kekar itu membawa koperku, membuat aku terperanjat. Aku menggeleng secepatnya.
‘’Silahkan pergi dari sini dan cari orangtua yang bisa menerima kamu!’’ Mami melemparkan koper hingga berdentum keras.
Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku terasa mimpi. Orangtua yang selama ini menyayangiku, kini mengusirku begitu saja dari rumah. Aku bergegas berlutut di kakinya dan berpegang erat.
‘’Mi, jangan usir aku. Aku ini anak satu-satunya Mami. Aku memang salah, tapi aku janji—‘’
Dengan deraian air mata aku berlutut di kaki wanita yang melahirkanku itu, namun seperti tak ada iba sedikit pun di hatinya. Hingga dia menyeretku keluar dengan kasar.
‘’Jodi! Bawa koper itu keluar!’’ Lelaki itu membawa koperku keluar seiring dengan mami yang menyeretku dengan kasar.
__ADS_1
Apa aku laporkan saja ke papi? Tidak! Papi pasti sudah tahu dari mami semuanya. Dan dia tak mungkin berpihak padaku.
‘’Pergi kamu dari rumahku! Mulai detik ini kaamu bukan anakku lagi. Dan jangan pernah kembali!’’ Mami mendorong tubuhku dengan kasar, membuat aku terhuyung ke tanah.
Ternyata para tetangga menonton perlakuan kasar mami terhadapku. Aku menatap mereka dengan tatapan tajam!
‘’Dasar! Ini semua karena kalian! Hidupku jadi hancur. Aku akan balas semua perlakuan kalian terhadapku!’’ Aku menghapus air mata dengan kasar.
‘’Hu! Rasain tuh anak manja. Diusir sama Maminya.’’
‘’Makanya jadi orang jangan belagu.’’
‘’Biarin aja diusir sama Maminya. Biar nggak bikin maksiat lagi di kampung ini.’’
‘’Bener tuh. Atau jangan-jangan dia sedang mengandung lagi.’’
Bermacam ragam hinaan yang dilontarkan para warga padaku. Aku bangkit dengan pelan. Rasanya perut bagian bawahku terasa sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada calon bayiku. Bayi ini akan membuat aku dekat dengan mas Deno. Tanpanya mungkin aku akan ditinggalkan oleh lelaki itu. Aku tak mau hal itu terjadi.
‘’Ku—kunci mobilku?’’ Aku bergegas mencari di tas brandedku.
Tapi, tak kutemukan. Lalu kurogoh saku-saku baju. Nihil! Tak kutemukan. Atau jangan-jangan kuncinya terjatuh ketika aku ditampar oleh wanita itu? Aku bergegas ingin memasuki rumah kembali, namun dihadang oleh pria bertubuh kekar itu.
‘’Mau ke mana kamu? Ibu Bos nggak memberi izin!’’ Kedua lelaki itu menatapku dengan tatapan tajam.
‘’Minggir kalian! Ini rumah aku dan aku berhak memasuki rumah ini. Kalian di sini nggak lebih dari seorang pembantu!’’ Aku berusaha untuk masuk, namun kedua lelaki itu menahanku.
‘’Kamu mau cari ini?’’ Seketika mami datang dan memperlihatkan benda kecil yang tengah kucari.
‘’Mi, kembalikan kunci mobilku!’’ pintaku sambil berteriak. Dia malah tersenyum sinis.
‘’Apa kamu bilang? Kunci mobil kamu?’’ Dia tertawa besar.
‘’Semua fasilitas itu dari Mami. Dan Mami berhak mengambil kembali.’’ Wanita itu malah bergegas melangkah ke belakang.
‘’Mami!!’’ teriakku yang berusaha untuk masuk, namun lelaki itu menahanku.
‘’Pergi dari sini!’’ usirnya. Aku seperti merasa mimpi dibuatnya dengan apa yang terjadi hari ini. Apa mami tak sayang lagi padaku? Dia lebih memilih para warga ketimbang anaknya sendiri?
‘’Oke, aku nggak akan pernah lupa, Mi. Dengan apa yang udah Mami lakuin ke aku. Mulai detik ini kamu bukan lagi orangtuaku!’’
Bersambung.
__ADS_1