
‘’Nel, awas kamu ya!!’’
Pesan singkat yang mampu membuat aku terkesiap. Dia mengancam aku? Mungkin mamanya sudah memberitahu semua yang kukatakan tadi lewat telpon. Aku yakin lelaki itu sudah bersandiwara lagi pada mamanya itu.
‘’Aku nggak takut sedikit pun dengan ancamanmu, Mas!’’
‘’Bu? Siapa? Bapak ya?’’ Aku beralih menatap bibi Sum yang terheran memandangiku.
‘’Iya, Bi. Dia mengancam aku. Nggak ada angin nggak ada hujan, eh sekali ngechat langsung deh mengancam.’’
Kuletakkan kembali benda canggih itu. Aku tak kan membalas pesan yang tak penting itu, biarkan saja apa yang diucapkannya. Mau dia mengancamku atau bagaimana, aku tak kan takut padanya. Memangnya aku salah mengatakan yang sejujurnya pada wanita yang masih berstatus sebagai mertuaku itu? Selama ini aku sudah mengikuti semua kemauan lelaki itu, aku sudah mengikuti permainannya yang membuat aku tertekan dengan kondisi ini.
Siapa yang tak tertekan coba berpura-pura bahagia, padahal hatiku tersiksa lahir dan bathin dengan semua yang telah dilakukan oleh lelaki pengkhianat itu. Ya, aku tak lagi mementingkan kebahagiaan orang lain. Kebahagiaan aku dan anakku yang lebih penting saat ini.
‘’Ya Allah, Bu. Kok teganya si Bapak begitu ya? Padahal dia yang bikin massalah kok Ibu yang diancamnya.’’
Membuat aku menghela napas dengan gusar,’’Aku nggak tahu lagi apa yang ada di pikirannya, Bi.’’
‘’Tapi, aku nggak akan takut dengan ancamannya, Bi. Karena aku nggak ada salah apa pun, dia yang salah di sini. Allah Maha Tahu mana yang benar. Cepat atau lambat balasan pasti datang untuknya!’’
‘’Ibu benar banget. Bibi akan selalu support Ibu dan selalu mendo’akan yang terbaik untuk Ibu,’’ kata wanita separuh baya itu yang mendekatiku, memberikan senyuman penyemangat untukku.
‘’Makasih banyak, Bi. Aku nggak tahu mau balas pake apa kebaikan Bibi. Aku berdo’a semoga Allah sendiri yang akan membalas semua kebaikan Bibi,’’ lirihku dengan mata yang berkaca-kaca. Bibi tampak mengangguk lantas tersenyum.
‘’Oh iya, Ibu belum sarapan kan? Ini udah jam berapa loh, Bu. Ntar Ibunya sakit.’’ Wanita separuh baya itu seperti mengalihkan pembicaraan kami.
Mungkin beliau tak ingin aku memikirkan sesuatu hal yang membuat pikiranku terbebani. Bibi Sum menatap benda yang melingkar di dinding kamarku, aku pun ikut memandangi benda itu. Ya Allah! Ternyata sudah menunjukkan pukul 08.49 saja.
‘’Boleh aku minta tolong bawa ke kamar aja sarapannya, Bi?’’ Rasanya aku begitu malas sekali keluar dari kamar.
‘’Boleh dong, Bu.’’ Tampak wanita separuh baya itu tersenyum.
‘’Menunya apa, Bu? Apa yang biasanya aja?’’
‘’Humm, kayaknya roti bakar sama susu coklat aja deh, Bi. Sekalian bawa obatku ya,’’ pintaku pada bibi Sum yang tengah bangkit dari duduknya. Seketika kedua netra bibi tertuju pada putri semata wayangku yang masih terlelap tidur.
‘’Siap, Bu. Eh, Naisya nyenyak banget tidurnya ya, Bu?’’
‘’Alhamdulillah, iya, Bi. Karena semalam dia nggak bisa tidur.’’ Aku menatap Naisya yang masih terlelap.
__ADS_1
Semalam dia entah kenapa matanya enggan untuk terpejam. Saat kutanya sahutnya masih ingin bermain. Aku rasa dia merindukan papanya, karena dia sudah lama tak tidur bersama. Dulu, sebelum tidur pasti dia bermain dulu dengan papanya. Tetapi kenapa dia tak mau mengatakan padaku, kalau dia tengah merindukan sosok papanya itu?
‘’Ma’afkan Mama ya, Nak,’’ gumamku dalam hati yang masih menatap putri semata wayangku dengan tatapan sendu.
‘’Mungkin dia rindu sama Papanya kali, Bu,’’ kata bibi dengan hati-hati. Aku beralih menatap bibi yang masih mematung.
‘’Bibi bener juga. Aku pun berpikir demikian, Bi. Tapi—‘’ Aku menghentikan pembicaraanku. Tak tahu lagi apa yang harus aku katakan, hanya air mata yang mampu menjelaskan betapa perih hatiku ini.
‘’Bu, Bibi mengerti apa yang Ibu rasakan walaupun Bibi nggak pernah merasakannya,’’ katanya lembut dan bergegas menghenyak kembali di sebelahku. Tangannya menepuk lenganku dengan pelan.
‘’Ibu sarapan dulu ya. Sudah jam 09.00 sekarang loh.’’
‘’Bibi siapkan dulu sarapan Ibu, ya?’’ Kusahut dengan anggukan.
Tampak wanita separuh baya itu melangkah ke luar dari kamarku. Kedua netraku kembali memandangi Naisya yang masih nyenyak tertidur. Hatiku begitu teriris memandanginya. Dia yang dulu begitu dekat dengan sang papanya. Kini, ditinggalkan begitu saja. Kemarin tatkala mas Deno tiba-tiba datang ke rumah, anakku langsung berlari dan memeluk erat papanya. Seperti anak yang sudah sekian lama yang tak bertemu dengan sang papa.
Ya Allah! Aku harus bagaimana? Apalagi sebentar lagi hari ulang tahun anak semata wayangku. Dia pasti menanyakan keberadaan papanya. Apa aku egois seperti ini? Apa aku salah? Tapi di sisi lain, tak mungkin aku mempertahankan lelaki pengkhianat seperti mas Deno. Apalagi dia sudah menanam benih di rahim selingkuhannya itu.
‘’Astaghfirullah!’’ Aku mengusap muka dengan kasar berkali-kali. Seketika panggilan bibi Sum membuyarkan lamunanku.
‘’Bu, sarapan dulu ya. Ini Bibi bawakan roti, susu, dan buah-buahan,’’ ujarnya yang meletakkan nampan di nakas. Seketika aku menyeka buliran air mata dengan ujung kerudungku.
‘’Iya, Bu. Bibi mah ntar sebentar lagi sarapannya. Kan Ibu tahu sendiri kalo Bibi nggak bisa makan sepagi ini,’’ katanya sambil tersenyum.
‘’Ya udah, kalo gitu Bibi lanjut kerja dulu ya, Bu. Mau bikini kopi buat Mas Dodo juga.’’ Aku menyahut dengan anggukan lantas tersenyum.
Bibi Sum bergegas melangkah ke luar. Ah iya, aku sampai lupa kalau aku sudah punya security di rumah. Ya, sudah dua hari lelaki yang bernama Dodo itu bekerja di sini. Walaupun kerjanya tak begitu berat, tetap aku berikan gaji yang lumayan plus makan dan minum kopi di rumahku, si bibi yang bikini setiap hari. Tugasnya hanya membuka, menutup pagar, dan menjaga keamanan di pekarangan rumahku. Aku tipe orang yang royal dan tak akan sungkan memberikan sesuatu pada orang yang baik padaku.
Aku jarang sarapan dengan sebuah roti dan segelas susu, aku lebih sering sarapan dengan nasi dan sambal. Namun, kali ini terasa malas olehku makan nasi. Biar roti dan segelas susu saja, yang penting perutku sudah terisi. Aku yang tengah menyantap roti seketika benda canggih itu berdering, tapi sepertinya itu pertanda pesan masuk. Karena kalau panggilan masuk deringnya akan lebih kuat lagi. Kubiarkan saja, aku masih asyik menyantap roti yang masih tersisa sedikit. Lalu kuteguk pelan segelas susu cokelat. Benda canggih itu kembali berdering, kali ini deringnya lebih kuat.
‘’Apa jangan-jangan lelaki pengkhianat itu?’’ Begitu malas rasanya bagiku untuk mengangkat telepon itu, apalagi jika benaran dari lelaki pengkhianat. Membuang waktu saja, apalagi pikiranku butuh istirahat.
‘’Ah, apaan sih? Siapa sih yang ganggu aku terus?’’ Aku meletakkan gelas yang kosong dengan kasar, saking kesalnya diri ini. Dengan malas aku meraih benda pipih itu.
‘’Ternyata Reno, mau ngapain dia?’’
‘’Assalamua’alaikum,’’ sapaku lemah.
‘’Wa’alaikumussalam, Nel. Aku nggak ganggu kamu kan?’’
__ADS_1
‘’Ya iyalah,’’ gumamku dalam hati. Entah kenapa, jika berurusan dengan lelaki membuat aku kehilangan mood.
‘’E—enggak.’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu. Oh ya, gimana kabar Naisya?’’
‘’Ini lelaki kenapa sih? Heran deh!’’
‘’Humm, Naisya alhamdulillah baik dan sehat.’’
‘’Kamu beneran kan, Nel? Jangan sungkan-sungkan ya kalo minta bantuan ke aku atau kalo Naisya nggak ada temen bermain, aku mau kok jadi temen bermainnya Naisya.’’
Ucapannya seketika mampu membuat senyuman terbit di bibirku, namun seketika kutarik kembali.
‘’Kamu jangan terlalu percaya sama lelaki, Nel. Dia baik nggak mungkin nggak ada maksud lain,’’ monologku dalam hati yang berusaha menyadarkan diri.
Jangan sampai karena perilakunya membuat aku luluh seketika. Nanti malah aku jatuh hati padanya. Tidak, kini sulit untukku mempercayai lelaki lagi. Aku sudah trauma. Sekarang susah mencari lelaki yang benaran bertanggung jawab dan setia.
‘’Makasih banyak ya, Ren. Udah mau bantu aku selama ini.’’
‘’Oh ya, aku mau makan obat dulu. Assalamua’laikum,’’ kataku pelan yang menyudahi pembicaraan aku dan Reno lewat telepon. Langsung kuputuskan sepihak, tanpa menunggu jawaban dari lelaki itu. Karena aku tak mau berlama-lama bicara dengannya. Kuletakkan kembali benda canggih itu di tempat tidur.
‘’Aku nggak habis pikir dengan Reno. Udah sering aku cuekin. Eh, dia tetep aja kayak gitu sama aku. Apa coba maunya lelaki itu?’’ rutukku sambil meraih nampan, yang ternyata ada obatku di sana. Hanya tersisa beberapa tablet lagi. Bergegas kutelan dengan segelas air putih.
‘’Bu, Mas Dodo itu kayak mencurigakan deh.’’
Aku menoleh, si bibi yang tiba-tiba menghampiriku dan berdiri di ambang pintu kamar. Membuat aku tersenyum lebar. Mencurigakan? Tak mungkinlah, Dodo itu lelaki baik dan dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi mana mungkin dia berbuat hal yang tidak-tidak. Tentu dia ingin bertahan lama bekerja di rumahku. Apalagi dia sedang membutuhkan biaya untuk keluarganya di kampung halaman.
‘’Mencurigakan bagaimana, Bi? Nggak mungkinlah, itu perasaan Bibi saja kali,’’ sanggahku sambil menatap wanita separuh baya itu yang ekspresinya tak bisa kuterjemahkan.
‘’Mencurigakan dari gerak-geriknya, Bu. Bibi yakin ada sesuatu yang disembunyikan sama si Mas itu. Tapi Bibi nggak tahu apa yang sedang disembunyikannya,’’ lirihnya kemudian.
‘’Nggak, Bi. Dodo itu orangnya baik kok. Nggak boleh berprasangka buruk sama orang lain. Apalagi tanpa bukti, iya kan?’’ kataku dengan lembut.
Bersambung.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe