
‘’Bibi mungkin nggak pernah merasakan apa yang Ibu rasakan. Bibi yakin rasanya begitu perih dan hancur sekali. Tapi, cobalah berdamai, Bu. Jangan pikirkan lelaki yang nggak pantas untuk diperjuangkan. Bibi yakin dengan keputusan Ibu yang menyerahkan lelaki itu ke si Pelakor. Karena sampah harus dibuang pada tempatnya. Juga karena Ibu berhak bahagia,’’ kataku panjang lebar. Kedua netranya tampak berembun dan menatapku dengan tatapan sendu.
‘’Bibi benar banget. Sangat susah rasanya untuk berdamai, Bi. Dan memang aku yang menyerahkan lelaki itu pada selingkuhannya. Tapi entah kenapa setelah aku mengunjungi tempat menyimpan kenanganku itu, membuat aku selalu ingat dengan keromantisan yang kami lakukan, aku keingat kebersamaan—‘’
‘’Bu, Ibu pasti bisa melewati semua ini. Pelan-pelan saja ya.’’
‘’Bibi yakin kalo si lelaki bermuka dua itu dalang di balik ini semua,’’ kataku yang tak mampu menyembunyikan apa yang kuketahui ketika aku menguping pembicaraan Dodo lewat telepon, aku tak bisa jika tak mengeluarkan pikiran yang mengganjal. Membuat majikanku mengerjap pelan.
‘’Maksud, Bibi?’’
‘’Ya Bibi yakin kalo ada seseorang di balik ini semua.’’ Jika aku mengatakan Dodo kembali, aku yakin majikanku tetap tak akan percaya. Karena aku berkata tanpa adanya bukti.
‘’Siapa, Bi? Atau Bibi menuduh Dodo lagi? Udahlah, aku tahu niat Bibi ini baik. Tapi, Dodo nggak seburuk apa yang Bibi kira.’’
‘’Tuh kan. Bener apa kata aku. Bu Nelda tetap nggak akan percaya.’’
Aku menghela napas berat, tak ingin lagi membahas sesuatu yang tak dipercaya oleh majikanku itu. Aku tak mau menambah panjangnya perdebatan di antara kami. Biarkan kucari dulu buktinya, akan kuusahakan untuk mencari bukti.
‘’Bu, sebaiknya Ibu makan siang dulu ya.’’ Aku berusaha mengalihkan pembicaraanku.
Dia tampak mengangguk,’’ Temani aku ya, Bi. Bibi pasti belum makan kan?’’
‘’Bibi akan temani. Kebetulan belum, Bu. Tadi habis ngurusin Naisya.’’
Aku dan majikanku bergegas melangkah ke ruang makan. Seketika aku teringat dengan nasi gorengku yang masih setia menunggu di dapur. Pasti ia sudah dingin sekali.
‘’Mau ke mana, Bi? Di sini aja makannya,’’ kata majikanku yang berhasil membuat aku menghentikan langkah.
‘’Bibi mau ngambil nasi goreng, Bu. Tadi pas bikin nasi goreng buat Naisya, Bibi bikin dua porsi. Rencana satu porsi untuk Bibi sih,’’ jelasku.
‘’Ibu mau nasi goreng apa nasi biasa nih? Biar Bibi bikini.’’
‘’Nggak usah, Bi. Aku makan nasi biasa aja.’’ Majikanku tampak mengeleng cepat dan dia menghenyak di kursi.
‘’Ya udah Bibi ambil nasi goreng dulu ke belakang.’’ Yang disahut anggukan oleh bu Nelda.
Aku langsung melangkah menuju dapur. Ah benar saja, nasi gorengnya sudah dingin. Tapi tak apa-apa. Akan tetap terasa enak bagiku. Langsung kubawa menuju ruang makan. Kulihat ternyata bu Nelda termenung dengan tatapan kosong.
‘’Bu? Kok nggak duluan aja?’’
‘’Ah ya, Bi? Aku nungguin Bibi. Nggak seru makan sendirian,’’ sahutnya sambil menatap nasi goreng di tanganku. Membuat aku tersenyum lebar.
‘’Ibu bisa aja. Yuk kita langsung makan. Udah laper banget nih Bibi.’’ Aku langsung menghenyak di kursi sebelah bu Nelda.
‘’Pasti Bibi nggak makan dulu tadi ya? Bi, makan itu nomor satu. Jangan langsung kerja tanpa makan. Nanti Bibi sakit gimana?’’
Ini yang membuat aku semakin terharu dan salut dengan seorang bu Nelda. Dia memperlakukanku bukan seperti ART, melainkan seperti keluarganya sendiri. Menurutku, jarang sekali yang ada majikan seperti bu Nelda di luar sana. Aku beruntung sekali dipertemukan dengannya.
__ADS_1
Masih teringat olehku, awal aku mencari kerja di sini. Tak ada lowongan kerja untukku dan kebetulan aku lewat di depan rumah mewah bu Nelda. Ada banner lowongan kerja terpampang di sana, kalau rumah mwah itu butuh ART. Tanpa berpikir aku langsung menawarkan diri untuk jadi ART di rumah ini.
Alhamdulillah, aku diterima dengan baik kehadiranku. Apalagi aku bercerita kalau aku sebatang kara di rantau orang. Ya, kampungku begitu jauh dari sini. Niat hati merantau untuk mengubah hidup, apalagi aku hanya seorang diri. Kedua orangtuaku sudah lama sekali meninggal akibat runtuhan gempa besar, waktu itu aku baru berusia 3 tahun yang tak tahu apa-apa.
Hingga orang lain mengadopsiku, namanya Mak Inah. Beliau merawat, menjaga, dan mendidikku hingga aku tumbuh besar. Tapi ketika aku tamat SMA, mak Inah mendadak sakit. Akhirnya beliau menghembuskan napas terakhir. Waktu itu hatiku hancur sekali, sungguh! Aku tak tahu harus ke mana. Apalagi di usiaku masih remaja.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bekerja bantu-bantu orang di pasar, dari sanalah aku mendapatkan biaya untuk hidup sehari-hari. Ya, walaupun kadang tak mencukupi. Tapi tetangga selalu saja mengulurkan tangannya, mereka begitu peduli padaku. Dengan berat aku menjalani kehidupan sehari-hari tanpa keduaorang tua dan mak Inah.
Aku yang sudah dua puluh tahun usianya, masih betah sendiri. Ah lebih tepatnya, aku lebih sibuk untuk membanting tulang dan tak pernah kepikiran untuk membina rumah tangga. Pun orang yang mendekatiku selalu saja ada kata penolakan dariku dan aku selalu menjauhi orang yang ingin dekat denganku.
Tapi ketika aku sudah berkepala tiga, aku sudah merasa kesepian. Kebetulan lelaki yang mendekatiku dulu datang kembali melamarku, tanpa berpikir aku langsung menerimanya. Toh dia selama ini yang selalu berusaha mendekatiku. Setelah menikah, kami hidup bahagia walaupun aku tak kunjung memberikannya keturunan.
Tahun ketujuh pernikahan kami, suamiku tak pulang semalaman. Keesokannya dia mengirimiku pesan. Alangkah terperanjat dan hancurnya hatiku ketika dia mengatakan kalau dia harus berpisah sama aku, dia memilih menuruti kata orangtuanya yang ingin menjodohkannya dengan wanita yang bisa memberikan keturunan. Aku begitu tak berdaya dan hatiku terasa disayat sembilu olehnya. Tapi, aku harus bagaimana. Tak ada yang bisa kulakukan, selain mengikhlaskannya.
Pun aku tak bisa memberinya keturunan, karena aku divonis mandul sama dokter luar negeri waktu itu. Sejak aku cerai dengan lelaki itu, hari-hariku terasa suram dan aku mengurung diri di rumah hingga aku pernah pingsan di dalam rumah karena tak makan dua hari. Untung Dita tetanggaku mampir ke rumah, dia langsung membawaku ke rumah sakit dan menanggung biaya rumah sakit selama aku dirawat di sana. Juga aku selalu curhat tentang problem yang menimpaku saat ini, hingga aku diberi nasihat oleh Dita.
Pelan-pelan aku bisa menerima semua itu dengan ikhlas, tapi bukan berarti aku bisa membuka hati lagi untuk lelaki lain, bukan berarti aku bisa menikah kembali. Aku malah nyaman dengan kesendirian, walaupun aku tiap hari harus membanting tulang. Tiga tahun kemudian, aku memutuskan untuk merantau dan mencari pekerjaan, hingga aku bertemu akhirnya dengan bu Nelda.
Begitulah, makanya aku mengubur kenangan masa lalu yang membuat hatiku tercabik kala itu. Ya, baru sekarang aku ingat kembali.
Kini lukaku sudah kering, ia sudah sembuh. Tapi, masih ada rasa sedih tatkala aku teringat masa laluku. Namun, aku sangat bersyukur sekali sekarang tinggal dengan keluarga bu Nelda, aku diperlakukan layaknya seperti keluarganya sendiri. Bu Nelda juga memintaku untuk menetap di sini, tentu aku bahagia sekali.
‘’Lah, bukannya Bibi pernah bilang kalo melamun itu nggak baik untuk kesehatan. Ini malah Bibi yang ikut melamun. Ada apa sih, Bi?’’ Membuat aku tersadar dari lamunan.
‘’A—anu. Nggak, Bu.’’
‘’Bi, muka Bibi itu kayak sedih banget loh. Bibi kepikiran aku? Aku baik-baik aja kok. Atau kepikiran kampung halaman?’’
‘’Kan aku udah bilang. Bibi di sini aja sama aku dan Naisya, keluarga Bibi.’’
‘’Bibi kepikiran masa lalu aja, Bu,’’ sahutku seadanya.
‘’Masa lalu biarlah berlalu, Bi.’’ Membuat aku tersenyum lebar.
***
Selesai makan siang bu Nelda langsung menemani Naisya di ruang bermain, sedangkan aku beberes meja makan. Ah, iya aku baru ingat. Bergegas aku langsung menuju ruang main Naisya. Tampak majikanku itu tengah tertawa bersama anaknya, itu membuat aku ikut bahagia.
‘’Eh, Bibi? Ayo masuk. Bibi kayak orang lagi nunggu hutang aja,’’ katanya sambil terkekeh yang memandangi aku mematung di ambang pintu. Aku tertawa kecil dan langsung bergegas masuk.
‘’Bu, Bibi mau pinjem handphone Ibu boleh? Paket Bibi udah habis.’’
‘’Lah, paket Bibi habis? Kok nggak bilang sama aku. Kan aku udah bilang, Bi. Kalo paket datanya habis biar aku yang beliin.’’
Lagi-lagi membuat aku salut sama majikan. Tapi, kali ini aku sebenarnya berbohong. Paket dataku masih ada. Aku meminjam benda canggih itu hanya untuk menjalankan semua rencanaku.
‘’Ya udah, nanti aku isiin ya. Sekarang pake handphone aku aja dulu.’’ Dia bergegas menyodorkan benda canggih itu.
__ADS_1
‘’Iya, Bu. Bibi pake dulu ya.’’ Bu Nelda menyahut dengan anggukan.
Aku langsung melangkah, seketika langkahku terhenti. Seperti ada yang lupa tapi apa? Kucoba mengingat-ingatnya.
‘’Handphone ketinggalan di ruang bermain Naisya.’’ Aku langsung berbalik dan melangkah kembali ke ruang itu. Membuat bu Nelda mengernyitkan kening.
‘’Handphone Bibi ketinggalan kan?’’ Aku terkejut tatkala benda canggih itu sudah berada di tangan bu Nelda dan menyodorkan padaku, langsung saja aku mengambilnya.
‘’Ah iya, Bu. Makasih.’’ Kembali aku melangkah menuju kamar.
‘’Ah, untung saja Reno nggak menghubungiku ketika Bu Nelda memegang tuh handphone.’’
Aku mengelus dada dengan perasaan lega.
Setibanya di kamar, langsung aku menghenyak di tempat tidur. Kucari kontak atas nama seseorang di ponselnya bu Nelda. Tak kutemukan. Lalu kucoba menekan huruf ‘’Si’’
‘’Nah ini dia.’’
Langsung kupindahkan nomornya ke ponselku. Dan kuambil ponsel simpananku di lemari, yang selama ini tak pernah kugunakan, disaat genting seperti inilah manfaatnya.
‘’Mba Chika. Kirimkan aku nomor Pak Deno ya. Ini aku Dodo temannya. Aku sekarang ganti nomor. Nomornya Pak Deno udah terhapus.’’
Tak berselang lama, sudah tampak centang dua bewarna biru. Itu artinya sudah dibaca oleh selingkuhan pak Deno itu.
‘’Alhamdulillah. Nomornya langsung dikirim. Untung dia nggak banyak tanya. Tapi apa beneran ini nomor Pak Deno?’’ Lebih baik aku coba mengirimi pesan langsung.
‘’Pak Deno. Ini aku Dodo, ini nomor baru aku.’’ Aku mau tahu, apa balasan darinya. Seberapa dekat pak Deno dengan lelaki itu dan apa benar mereka bekerja sama.
‘’Kamu ganti nomor lagi? Berapa kali sih kamu ganti nomor. Aku susah menghubungi kamu tahu nggak? Apa kamu udah berhasil mengambil berkas itu di rumah si Nelda?’’
Membuat aku membungkam mulut tatkala membaca balasan pesan dari lelaki pengkhianat itu.
‘’Ternyata benar dugaanku selama ini. Ya, ini akan jadi bukti untuk aku.’’
Aku sengaja memakai ponsel lama yang nomornya tak diketahui oleh pak Deno. Supaya penyamaranku tak diketahui. Aku bergegas membawa ponsel bu Nelda dan ponsel lamaku, sedangkan ponsel yang biasa kupakai kubiarkan saja terletak di tempat tidur.
‘’Bu, Bibi mau bicara sebentar dengan Ibu,’’ kataku yang berdiri di ambang pintu. Tampak dia menoleh dan terheran.
‘’Dik, main sendiri dulu ya. Mama mau bicara sama Bibi.’’ Si gadis kecil itu mengangguk dan kembali asyik bermain dengan mainannya. Aku dan bu Nelda melangkah ke ruang keluarga.
‘’Mau bicara apa, Bi? Kayaknya penting banget,’’ kata majikanku sambil terkekeh. Aku menghenyak di sebelah bu Nelda.
‘’Ini Ibu baca aja sendiri ya.’’ Aku menyodorkan ponsel yang selalu kusimpan itu.
‘’Ya Allah! Jadi selama ini, Dodo itu bekerja sama dengan Mas Deno?’’
Bersambung.
__ADS_1