
‘’Nel! Cukup, Nel!’’ bentaknya dengan suara menggelegar dan berusaha merebut benda pipih yang tengah kugenggam.
Akhirnya aku terpaksa mengakhiri live di instagram karena dia terus saja berusaha merebut benda pipih dari tanganku, aku takut nanti malah terbentur ke lantai apalagi perjuanganku untuk mendapatkan benda pipih ini sangat susah, dulu ketika aku masih gadis bekerja siang dan malam. Ya, sekarang yang penting followersku sudah tahu kalau lelaki yang selama ini dipuja olehnya adalah lelaki yang hobi main gila dengan wanita murahan.
Aku bergegas memasukkan kembali ke saku-saku.
‘’Apa kata kamu, cukup? Kamu yang cukup, Mas!’’ jawabku tak kalah lebih emosi lagi.
‘’Tega kamu selama ini sama aku! Apa kurangnya aku? Apa yang nggak kuberi ke kamu, semuanya kuberikan! Aku temeni kamu dari nol, Papaku memberikan pekerjaan untuk kamu dan udah kaya raya kamu malah main dengan wanita murahan ini. Kamu bener-bener keterlaluan, Mas!’’ kuluapkan semua amarahku, kukeluarkan apa yang kurasakan. Agar hatiku lebih tenang dan agar beban pikiranku sedikit berkurang.
‘’Hu! Dasar lelaki nggak tahu diri!’’ sorak para pengunjung cafe, camera mereka masih menyorot pertengkaranku dengan lelaki itu. Aku tak mau tahu, biarlah semua orang tahu bagaimana kelakuan mas Deno yang sebenarnya. Ini belum seberapa untuk membalas perselingkuhannya yang selama 4 tahun dilakukannya itu kepadaku.
‘’Nel, aku bisa jelaskan semuanya ke kamu.’’
‘’Nggak! Nggak ada lagi yang perlu kamu jelaskan ke aku, semuanya sudah jelas!’’
‘’ Jangan di sini, kamu nggak malu sama orang-orang. Tuh lihat!’’
‘’Hah? Apa? Malu katamu? Kamu yang nggak tahu malu, bukan aku!’’
‘’Cukup!!!’’ bentak si pelakor dengan deraian air mata. Ternyata wanita murahan itu bisa mengeluarkan air mata juga. Cuih! Sepertinya air mata buaya.
‘’Sekarang kamu harus tanggung jawab, Mas! Aku sekarang sedang mengandung anakmu!’’ Hatiku sungguh sakit seperti ditusuk ribuan belati. Di Rahim wanita itu ada benih suamiku? Tubuhku rasanya mati rasa. Ya Allah, kuatkan aku.
Sandiwara apalagi ini? Tapi jika benar pun tak apa-apa, bukankah aku tak menginginkan lelaki brengsek itu lagi. Ya, walau hatiku terasa sakit dan sebenarnya sulit bagiku memercayai ini semua, tetapi buktinya sudah nampak oleh mata kepalaku sendiri ketika aku mendengar bunyi benda pipih yang berdering, entah di mana.
Aku memutuskan untuk mencarinya, ternyata tergeletak di bawah lemari dan ada beberapa pesan masuk serta panggilan tak terjawab, aku langsung mengecek dan membaca pesan, itu membuat aku kaget bukan kepalang yang ternyata itu adalah selingkuhannya mas Deno, yang katanya sudah 4 tahun berpacaran. Lalu aku memutuskan untuk memindahkan nomor si pelakor itu ke benda pipihku dan aku meminta tolong kepada bibi Sum untuk membeli kartu baru demi menjalankan rencanaku.
Jika teringat itu semua hatiku sungguh hancur berkeping-keping ditambah lagi pengakuan si pelakor ini yang katanya tengah mengandung anak suamiku. Ya Allah! Ujian apalagi ini? Sungguh berat rasanya bagiku.
Mata lelaki itu melotot.
‘’Apa? Kamu jangan mengada-ngada deh Chika!’’
‘’Aku nggak mengada-ngada, Mas. Tapi setiap hari kita tidur bersama dan melakukan--’’ lelaki itu bergegas membekap mulut si pelakor itu.
__ADS_1
Benar gila wanita murahan ini, membuka aibnya di depan orang banyak. Dan bangga dengan perbuatan haramnya itu. Dia tampak bergegas menarik tangan si pelakor.
‘’Eh, kamu mau ngapain, Mas? Aku mau bicara sama istri kamu!’’ Tanpa memperdulikannya, mas Deno bergegas membawanya. Entah ke mana, aku pun tak tahu.
‘’Dasar lelaki tukang selingkuh, hu!’’ sorakan para para pengunjung café sedari tadi seperti tengah menonton televisi ikan terbang yang tengah tayang film berjudul ‘’kumenangis’’.
Sejak dari tadi aku berusaha untuk tetap tegar dan kini aku tak bisa lagi berpura-pura tegar. Badanku terasa lemas tak berdaya dan terduduk lemas di lantai dengan deraian air mata, dadaku terasa sesak dan hatiku terasa ditusuk ribuan belati. Tulang belulangku terasa lepas begitu saja.
‘’Allah! Kuatkan aku,’’ lirihku dengan suara bergetar.
‘’Mba, yang sabar dan kuat, ya? Lelaki seperti dia nggak pantas untuk dipertahankan.’’ Tampak beberapa orang wanita yang menghampiriku dan membantu untuk berdiri. Mereka membawaku untuk duduk di kursi yang disediakan untuk para pengunjung café.
‘’Makasih banyak ya, Mba, Dek.’’ Mereka tampak mengangguk dan menatapku dengan tatapan iba. Aku menghela napas pelan dan berusaha menenangkan pikiranku. Tampak wanita berkerudung itu memesan air putih dan menyodorkan kepadaku.
‘’Diminum dulu airnya ya, Mba.’’
‘’Ah, iya. Ma’af jadi merepotkan.’’ Aku bergegas meraih segelas air dari tangan wanita yang berhati malaikat itu. Lantas meneguknya hingga tandas. Alhamdulillah aku sudah merasa enakan daripada tadi. Walaupun hatiku masih terasa sakit.
‘’Nggak merepotkan sama sekali kok, Mba. Sudah seharusnya kita saling tolong menolong dalam kebaikan, bukan?’’
Seketika aku teringat dengan putriku, Naisya. Yang sedari tadi pagi kutinggal dengan bibi Sum. Kasihan sekali anakku.
‘’Oh iya, saya pamit dulu untuk pulang. Anak saya pasti nyariin.’’ Aku bergegas beranjak, kepalaku terasa pusing.
‘’Ta—tapi Mba masih pusing sepertinya, kita anter aja ya?’’ Mereka menatapku dengan raut wajah cemas. Benar sekali, kepalaku kini terasa pusing sekali. Mungkin karena terlalu memikirkan masalah rumah tanggaku.
‘’Makasih, Mba. Tapi, alhamdulillah saya baik-baik saja,’’ kilahku secepatnya.
‘’Beneran nih, Mba? Pake apa pulang?’’
‘’Saya pake mobil.’’
‘’Ya Allah! Kalo nyetir sendiri bahaya itu. Biar saya aja yang ngantarin, kebetulan saya bisa nyetir.’’
‘’In syaa Allah saya baik-baik saja, makasih karena kalian udah baik banget ke saya.’’
__ADS_1
‘’Saya pamit dulu.’’ Tanpa pikir lagi aku bergegas melangkah ke luar dari café. Ya, aku tak mau banyak merepotkan mereka lagi. Kepalaku masih terasa pusing, langkahku terhenti tatkala sudah berada di luar café.
‘’Ya Allah! Pusing banget nih kepala.’’
‘’Bu, Ibu baik-baik saja?’’ lelaki yang berpakaian seragam itu menghampiriku.
‘’Iya, Pak. Saya baik-baik saja.’’
‘’Tapi, wajah Ibu pucat banget.’’
‘’Saya memang kurang sehat, Pak. Kalo begitu saya pamit dulu.’’ Dengan langkah gontai aku melangkah menuju tempat parkiran. Lantas langsung menaiki mobilku dan menghidupkan mesinnya.
Nel! Kamu harus kuat. Naisya pasti sedang menunggumu di rumah. Tak berselang lama mobilku sudah keluar dari pekarangan café. Seketika bayangan mas Deno menari di benakku dan terbayang semuanya. Dadaku kembali terasa sesak, sungguh begitu sakit hati ini. Lelaki yang selama ini kupercayai, lelaki yang selama ini kuanggap setia. Ternyata dia adalah seorang lelaki pengkhianat yang berani bermain api di belakangku bahkan sudah bertahun-tahun.
Aku pun salah, kenapa aku tak menyisakan sedikit ketidakpercayaan dan was-wasku untuk mas Deno. Kini penyesalan pun tiba, aku menyesal sudah percaya sepenuhnya kepada lelaki itu dan aku juga menyesal sudah memberikan segalanya kepada dia. Kalau boleh jujur, sebenarnya di hatiku masih tersisa cinta untuknya yang berstatus sebagai suamiku itu, tetapi hati kecilku berkata aku harus melepaskan lelaki pengkhianat yang tega bermain api di belakangku, apalagi sudah 4 tahun dia bermain gila dengan wanita murahan itu tanpa memikirkan aku dan putrinya.
Pikiranku sungguh kacau, dadaku seperti ada sesuatu yang menghimpit sangat terasa sesak dan air mata lolos begitu saja di pipiku. Aku yang terayun dalam lamunan dalam pikiran yang tak menentu membuat aku tak fokus lagi menyetir, alangkah kagetnya aku tatkala melihat mobilku.
‘’Ya Allah, tolonglah aku. Bagaimana ini, mana mobinya semakin dekat lagi.’’
Aku semakin berusaha membelokkan mobilku, namun apalah daya.
Braaakkkkk!
Bersambung…
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh ya, ada yang minta request POV Deno nggak nih?
Karena udah ada yang baca dan koment, maka akan aku update 2 kali hari ini. Makasih banyak sekali lagi, yang udah suka dengan novel recehku ini.
See you next time! ❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1