
‘’Ya Allah! Jadi selama ini, Dodo itu bekerja sama dengan Mas Deno?’’ Aku terperanjat setelah membaca isi pesan yang diperlihatkan oleh si bibi.
Lelaki yang kupercaya untuk bekerja di sini, ternyata dia bekerja sama dengan lelaki pengkhianat itu. Aku menyesal! Menyesal sudah menerimanya bekerja jadi security pribadi rumahku di sini. Aku sungguh mimpi dengan semua ini, Dodo yang kukenal ramah, sopan dan baik ternyata begini kelakuan aslinya. Kenapa aku malah tak mempercayai ucapan bibi Sum? Kenapa aku begitu mudah menyimpulkan bahwa dia lelaki baik? Apa aku terlalu polos? Ya, ternyata dia hanya berpura-pura baik saja. Ternyata benar, bahwa kita tak bisa menilai orang lain dari segi covernya saja.
‘’Ibu harus bertindak secepatnya. Kalo dibiarkan dia tetap bekerja di sini, bisa-bisa dia disuruh lagi berbuat yang aneh-aneh sama lelaki itu.’’ Dalam hati aku membenarkan ucapan bibi.
Apalagi isi pesannya itu yang menyuruh si Dodo untuk mengambil berkas di rumahku. Apa berkas surat yang berisi perjanjian itu yang akan diambilnya? Supaya perusahaan yang diberikan papa jatuh ke tangan lelaki pengkhianat itu. Ya, kini aku mulai paham. Untung saja aku menyembunyikan surat itu. Tak kan kubiarkan lelaki pengkhianat itu mengambil surat perjanjian yang ditanda tangani oleh papa.
‘’Bibi benar. Aku akan temui Dodo sekarang juga,’’ kataku yang mengembalikan ponsel itu pada bibi dan aku mengambil ponselku dari tangan bibi.
Aku bergegas melangkah menuju kamar tidur. Kuambil beberapa lembar uang ratusan dari dompet. Lalu membawanya ke luar dari rumah. Kupandangi dari jauh, lelaki berseragam itu tampak asyik mendengarkan musik dangdut sambil bernyanyi riang.
‘’I—Ibu?’’ Dia tampak kaget menatap ke arahku.
‘’Ini gaji kamu selama kerja. Kalo kurang segera hubungi saya. Kamu nggak bisa lagi kerja di sini,’’ kataku to the point yang membuat dia terpenganga.
Kugenggamkan secara paksa ke tangannya. Namun, dia masih saja seperti kebingungan. Memang lelaki ini pandai sekali bersandiwara.
‘’Ma—maksud Ibu? Aku dipecat gitu? Apa salahku, Bu?’’
‘’Kamu intropeksi aja diri kamu sendiri.’’
‘’Segera pergi dari sini!’’ usirku kemudian yang kini sudah merasa kecewa dan kesal dengan lelaki yang kupercayai itu. Aku tak pernah mengusir orang yang bekerja di rumahku, baru kali ini. Saking kecewa dan marahnya aku.
‘’Bu, aku ini butuh kerja. Aku butuh uang. Makanya aku kerja di sini. Kalo Ibu pecat aku, gimana kehidupanku? Gimana dengan Emakku di kampung?’’ Wajahnya tampak memelas.
Dasar lelaki! Dia malah sok tak tahu dengan apa yang telah dilakukannya. Seolah dia tak pernah berbuat salah. Apa ini yang dimaksud oleh bibi, lelaki bermuka dua? Aku memang wanita yang mudah iba, apalagi tatkala Dodo yang meminta kerja denganku, dia dalam keadaan butuh sekali untuk hidupnya sehari-hari.
__ADS_1
Kemarin dengan gampangnya aku mempercayai kata lelaki yang bernama Dodo itu, tapi tidak dengan sekarang. Aku sudah tahu apa yang disembunyikannya dariku. Kini rasa iba itu sudah hilang begitu saja. Kalo saja lelaki itu tak bekerja sama dengan Deno, aku berniat ingin membelikan rumah untuk keluarganya di kampung. Kuundurkan niat, setelah mengetahui sikap asli dari seorang Dodo.
‘’Kalau kamu memang beneran butuh kerja. Kamu nggak akan membohongi saya kayak gini!’’
‘’Membohongi apa maksud Ibu?’’ Aku mencoba menenangkan diri, agar tak tersulut emosi.
‘’Kamu bekerja sama kan dengan si Deno? Jujur aja sekarang sama saya!’’
‘’Bu, aku bisa jelaskan ini semua. Ini nggak seperti apa yang Ibu pikirkan,’’
‘’Udah ya. Kamu lebih baik pergi dari sini sebelum saya laporkan ke polisi!’’ ancam bibi seketika. Yang entah sejak kapan dia berada di belakangku.
‘’Ta—tapi aku beneran nggak bekerja sama dengan siapa namanya tuh, Pak Deno ya?’’
Membuat aku semakin naik pitam, begitu pun dengan bibi. Wanita separuh baya itu bergegas mengeluarkan ponsel di sakunya dan memperlihatkan pada lelaki itu. Wajahnya seketika berubah.
‘’Hei! Sebaiknya pergi dari sini!’’ Suara yang tak asing lagi bagiku.
Si Dodo yang tadinya membantah sekarang dia bergegas melangkah dan meninggalkan pekarangan rumahku. Aku menarik napas dengan pelan lantas membuangnya. Kini aku merasa sedikit tenang. Mataku kembali beralih menatap lelaki tampan yang masih berdiri di depan pagar. Mau apa lagi lelaki itu ke sini?
‘’Bu, ini bukan Bibi yang nyuruh Mas Reno ke sini,’’ bisiknya seketika.
Aku menghela napas berat. Tak menyahut ucapan wanita separuh baya itu, lalu beralih menatap lelaki berpakaian kaos bewarna hitam pekat, yang tentunya sesuai dengan warna kulitnya.
‘’Kamu ada perlu sama aku, Ren?’’ Aku langsung to the point saja, tak ingin lama bicara dengan lelaki yang bernama Reno itu.
‘’Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu dan Naisya aja,’’ sahutnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Aku menatapnya dengan tatapan malas. Teringat olehku ucapan bibi yang katanya lelaki itu menyukaiku. Aku harus bersikap dingin pada lelaki itu agar dia menjauhiku. Aku tak mau nanti malah luluh dengan sikapnya, aku tak mau jatuh ke lobang yang sama. Entah kenapa, lelaki ini gigih sekali untuk mendekatiku. Padahal sudah sering sekali aku bersikap dingin padanya.
‘’Aku dan Naisya baik-baik saja.’’ Tanpa basa-basi pada lelaki itu aku bergegas melangkah untuk memasuki rumah.
Hari ini sungguh banyak sekali hal yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Mulai dari si Dodo yang ternyata dia bekerja sama dengan lelaki pengkhianat itu. Ah, aku teringat ketika dia mengajak Naisya pergi belanja es krim. Aku sekarang yakin kalau itu atas suruhan dari si Deno agar dia bisa ketemu dengan anakku.
‘’Tapi aku bersyukur. Semuanya terungkap dengan cepat. Tentu ini atas usaha Bibi Sum. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi, jika lelaki itu masih kupertahankan bekerja di sini.’’
‘’Ya Allah, Nel! Kenapa kamu jadi bodoh begini sih!’’
Seketika aku menoleh,’’Bi? Bibi jaga Naisya ya. Aku pengen istirahat dulu,’’ kataku yang menatap si bibi masih bergeming. Aku tak mau jika nanti lelaki itu malah merencanakan sesuatu dengan bibi agar aku bisa dekat dengannya.
‘’I—iya, Bu,’’ sahutnya gelagapan. Netra lelaki itu menatapku, dengan tatapan yang sulit untuk kuterjemahkan.
‘’Ma’af, Ren. Walaupun aku sudah berhutang nyawa sama kamu. Tapi aku nggak bisa dekat sama kamu. Cukup sekali aku dikhianati.’’
Aku membuang pandangan dan bergegas melanjutkan langkah.
Lebih baik aku ke kamar dulu untuk beristirahat. Biar Naisya diurus sama bibi. Tubuh dan pikiranku butuh istirahat sejenak. Kujauhkan benda canggih itu dariku agar tak menganggu waktu istirahat, kuletakkan di dalam lemari.
‘’Kamu pasti bisa melewati semua ini, Nel,’’ gumamku menyemangati diri sendiri.
Kurebahkan tubuh ke tempat tidur. Teringat olehku si Dodo yang membawaku pergi refreshing, ternyata dia membawa ke tempat yang pernah kukunjungi. Tempat yang tersimpan di sana kenangan indah bersama lelaki yang kini menyayat sembilu di hatiku.
Ternyata itu semua atas suruhan Deno, kini aku yakin mungkin dia ingin aku mengingat kisah romantis bersamanya, mungkin dia ingin aku semakin terpuruk dan meminta dia untuk bersamaku kembali. Itu tak kan terjadi! Ya, walaupun aku merasa sedih mengingat kembali kenanganku beberapa tahun nan lalu. Tapi, bukan berarti aku semakin terpuruk. Bukan berarti aku akan bertukar pikiran. Tekatku sudah bulat, apalagi dia sudah mengoyak hatiku.
‘’Aku sekarang bukan Nelda yang kamu kenal dulu, Mas!’’ Aku menatap langit-langit kamar sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Bersambung.