Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Reno


__ADS_3

‘’Hei! Sebaiknya pergi dari sini!’’ usirku seketika setelah turun dari mobil.


Membuat dia bergegas meninggalkan pekarangan rumah Nelda dengan wajah masam, sekilas lelaki itu menatap tajam ke arahku. Ya, sebelumnya aku sudah mengira kalau security baru di rumah pribadi Nelda bukanlah orang baik, namun apalah daya. Aku tak bisa dan aku tak berhak melarang dia untuk tak menerima lelaki asing itu sebagai security di rumahnya. Untung sekarang aku datang tepat pada waktunya.


Tampak ART Nelda berbisik, entah apa yang dikatakannya pada majikannya itu.


Seketika wanita berkerudung pashmina beralih menatap ke arahku.


‘’Kamu ada perlu sama aku, Ren?’’ Dia seperti enggan memandangku.


‘’Aku hanya ingin memastikan keadaan kamu dan Naisya aja,’’ sahutku sambil menampakkan seulas senyuman.


Ya, beberapa hari ini aku sibuk membantu pekerjaan papa di kantor. Saking sibuknya sekadar menghubungi bibi Sumi pun tak sempat. Baru tadi aku menghubungi ART Nelda, itu pun tak diangkat olehnya. Padahal sudah berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi, namun nihil. Biasanya wanita separuh baya itu selalu cepat merespon pesan ataupun mengangkat telepon dariku. Lain dengan sekarang, apa dia marah padaku? Ah, tapi aku tak pernah membuatnya marah.


‘’Aku dan Naisya baik-baik saja,’’ katanya dengan wajah datar.


Tanpa basa-basi wanita itu bergegas melangkah memasuki rumahnya. Aku pun tak merasa tersinggung maupun kesal dengan sikap dinginnya Nelda padaku. Karena aku mengerti, dia pasti trauma dengan yang namanya lelaki. Tampak dia menghentikan langkah lalu menoleh.


’’Bi? Bibi jaga Naisya ya. Aku pengen istirahat dulu,’’ katanya yang menatap si bibi masih bergeming.


‘’I—iya, Bu,’’ sahutnya gelagapan.


Aku menatap wanita yang berhasil menghilangkan rasa traumaku itu. Namun, seketika wanita itu membuang pandangan dan bergegas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Bibi Sumi tampak masih termangu. Aku bergegas melangkah, kebetulan pagar tidak dikunci.


‘’Bi! Aku ingin bicara sama Bibi,’’ kataku tatkala sudah berada di sampingnya. Membuat wanita separuh baya itu mengelus dada.


‘’Aduuh! Mas Reno bikin kaget aja deh,’’ keluhnya yang membuat aku tersenyum lebar.


‘’Ta—tapi ma’af, Bibi harus kembali ke dalam rumah. Ada banyak pekerjaan yang harus Bibi kerjakan,’’ katanya yang seperti enggan bicara denganku, seperti dia hendak menghindar dariku.


Ada apa dengan bibi Sumi? Biasanya dia selalu bersikap ramah padaku.


Dia yang hendak melangkah, namun lengannya bergegas kutarik dengan pelan.


‘’Bi, kalo aku punya salah sama Bibi aku minta ma’af.’’ Kutelungkupkan kedua tangan di dada. Dia tampak menggeleng cepat.


‘’Nggak, Mas Reno. Mas nggak punya salah kok.’’

__ADS_1


‘’Tapi kenapa Bibi seperti menghindar dari aku? Kenapa Bibi nggak angkat telponku?’’ Kutelusuri wajahnya, seperti ada yang tengah disembunyikan oleh wanita itu. Tapi apa?


‘’Atau jangan-jangan Nelda menyuruh Bibi untuk menjauhi aku?’’ tebakku seketika. Karena itu tengah mengganjal di pikiranku. Namun, dia hanya terdiam membisu.


‘’Bu Nelda belum bisa membuka hatinya untuk lelaki lain, Mas Reno. Lagian dia masih istrinya Pak Deno. Mas tahu itu kan? Dan Mas Reno pasti tahu kalo mendekati istri orang itu dosa,’’ ungkapnya yang tak menyahut pertanyaanku, dia malah membahas yang lain. Membuat aku menghela napas berat.


"Iya, aku tahu itu, Bi. Ta—tapi..’’ Belum selesai aku bicara wanita separuh baya itu bergegas meninggalkanku.


‘’Lagian salah aku sendiri. Kenapa masih mengharapkan wanita yang masih bersuami?’’ Aku mengusap rambut dengan kasar.


Tapi, bukankah suaminya tak pulang-pulang ke rumah semejak kejadian itu. Kenapa lelaki itu tak menceraikan saja istrinya? Masih teringat olehku tatkala aku mengisi bensin di Pertamina, aku melihat dia bersama wanita yang berpakaian dress selutut. Wanita itu menggandeng tangan Deno kala keluar dari mobilnya. Aku tahu itu adalah selingkuhannya, karena seminggu nan lalu dia viral di media sosial.


Hatiku remuk redam melihat keromantisan kedua pasangan yang berselingkuh itu, ingin sekali menonjok muka lelaki yang bernama Deno. Bagaimana aku tak marah dengan kelakuannya, dia mengkhianati wanita sebaik Nelda. Dia lebih memilih perempuan berpakaian kurang bahan dan menurutku yang jauh dari kata baik, apalagi sholehah.


Lebih baik aku pulang dulu, aku tak bisa memaksakan Nelda untuk dekat denganku. Aku keluar dari pekarangan rumahnya, seketika mataku tertuju pada pagar yang tak ditutup. Bergegas kurogoh saku-saku untuk mengambil ponsel.


‘’Bi, aku pulang dulu ya. Pagar jangan lupa dikunci.’’ Kuketikkan pesan dan langsung mengiriminya pada kontak yang kuberi nama ‘’Bibi Sumi’’. Walaupun nantinya tak ada balasan dari bibi Sumi, tapi setidaknya dia nanti membaca pesanku. Aku kembali memasukkan ponsel, lalu melangkah memasuki mobil.


***


‘’Dari luar sebentar, Pa.’’


‘’Papa ingin bicara sama kamu,’’ kata lelaki yang diusianya yang mendekati senja, namun masih awet muda. Aku menghela napas berat. Apa yang ingin dibicarakan oleh papa? Apa ini soal aku yang belum kunjung nikah? Aku bergegas melangkah ke ruang keluarga.


***


‘’Duduk di sini, Ren.’’ Beliau menepuk sofa di sampingnya. Aku langsung menghenyak di samping papa.


‘’Papa mau bicara apa, Pa?’’


‘’Sampai kapan kamu akan tetap sendiri, Ren? Temen kamu udah pada nikah loh, mereka udah punya anak juga. Papa pengen punya cucu.’’ Ucapan papa mampu membuat aku mengerjap malas.


Ya, di usiaku yang berkepala tiga belum ada keinginan berumah tangga sejak aku ditinggal pergi kekasih hati, dia memilih pergi karena tak direstui kedua orangtuanya. Maklumlah, sewaktu itu kehidupanku belum sebaik yang sekarang. Kedua orangtua Jesica lebih memilih menjodohkan anaknya dengan pedagang kaya raya. Sejak itu aku merasa trauma mengenal perempuan, hingga aku memutuskan untuk fokus bekerja.


Aku paham dengan keinginan papa yang ingin mempunyai cucu, apalagi usianya sudah tak muda lagi. Ditambah aku adalah anak satu-satunya papa. Jika mama masih hidup, pasti beliau berkeinginan seperti papa. Sayangnya, mama sudah dijemput oleh Sang Ilahi lima tahun nan lalu karena beliau mengidap penyakit kanker. Itu yang membuat aku semakin terpuruk dulunya, setelah kehilangan kekasih aku pun kehilangan sosok seorang ibu.


‘’Reno?’’ panggil papa yang mampu menyadarkan lamunanku.

__ADS_1


‘’Ah iya, Pa. Ma’af, aku belum ada niat untuk—‘’


‘’Astaghfirullah, Reno. Kapan hati kamu akan terbuka untuk perempuan lain?’’


‘’Kamu belum ada niat atau memang belum ada kenal dengan perempuan?’’ Papa tampak mengintimidasiku, membuat aku menunduk.


‘’Papa juga ingin loh kamu hidup bahagia,’’ imbuh papa kemudian.


‘’Apa kamu masih trauma? Setelah ditinggal Jesica beberapa tahun yang lalu?’’ Sejak tadi aku hanya terdiam membisu.


Aku tak tahu harus bicara apa ke papa. Memang kuakui rasa trauma itu masih membekas hingga sekarang, namun sekarang aku mulai bisa dekat dengan wanita lain. Dulu semejak Jesica meninggalkanku, aku memilih untuk sendiri dan bahkan aku enggan untuk berkenalan dengan wanita lain. Tapi kini aku mulai bisa untuk berkenalan bahkan untuk dekat sekalipun.


‘’Pa, ma’afkan aku ya. Aku mau istirahat dulu,’’ kataku lirih yang tak menyahut ucapan papa. Aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan kami. Bergegas aku melangkah kembali ke kamar.


Aku memandangi langit-langit kamar, kuhela napas dengan berat. Seketika terbayang wajah Nelda di pelupuk mata tatkala kami bercerita diiringi canda dan tawa.



‘’Sepertinya aku memang cinta banget sama wanita itu. Tapi aku berdosa mencintai istri orang lain.’’


Berawal dari aku yang jadi followernya di akun bewarna ping itu, awal aku tertarik mengikuti wanita berkerudung itu karena di berandaku muncul photo profilnya. Lalu kutelusuri akun wanita yang bernama Nelda, kulihat setiap unggahannya banyak sekali terdapat tulisan inspirasi. Itu membuat aku tertarik untuk mengikuti wanita itu, setiap hari aku selalu meluangkan waktu untuk sekadar melihat postingannya. Ternyata dia juga seorang Penulis yang lumayan cukup dikenal, karyanya begitu banyak.


Aku yang sudah dua kali tak melihat dia live di aplikasi bewarna ping, membuat aku kembali memutuskan untuk bergabung di livenya. Tapi, alangkah kagetnya aku melihat pemandangan. Sepertinya di sebuah café, Nelda memperkenalkan wanita berpakaian kurang bahan, dia mengatakan kalau wanita itu yang berhasil merebut suaminya. Tapi anehnya, Nelda malah menyerahkan suaminya ke pelakor. Banyak sekali komentar para netizen. Namun, banyak yang mendukung Nelda untuk menyerahkan lelaki itu pada selingkuhannya.


Tampak muka lelaki itu merah padam dan sepertinya dia berusaha merebut ponsel agar live itu berakhir. Ya, suaminya seperti lebih berpihak pada selingkuhannya. Ah, lebih tepatnya dia lebih memilih wanita neraka daripada wanita surga seperti istrinya. Aku kira hidup Nelda bahagia bersama suaminya, ternyata aku salah mengira.


Aku yang khawatir dengan seorang Nelda membuat aku menelusuri keberadaannya dan aku berusaha mencari wanita itu, tapi di perjalanan aku menemukan sebuah mobil yang menabrak pohon besar. Aku bergegas mengecek dan membantu, alangkah kagetnya aku ketika melihat korban kecelakaan itu adalah wanita yang kukagumi, Nelda. Aku langsung meminta bantuan orang-orang untuk mengangkat Nelda ke mobilku, segera kularikan dia ke rumah sakit terdekat. Selama di rumah sakit aku selalu menjenguknya bahkan aku memilih tak istirahat demi menjaga wanita itu, aku kasihan sekali dengan nasipnya.


Bersambung..


Ketika aku lihat, ternyata banyak yang menghapus novelku dari daftar bacaannya atau favorit. Mungkin karena aku yang sering nggak update dan aku yang telat update. Itu semua karena aku yang sering sakit bulan kemaren, ditambah paket data aku yang habis. Maklum Penulis Pemula, aku belum dapat penghasilan. Itu makanya aku jarang update. Tapi nggak apa-apa buat Readers yang menghapus novelku dari daftar bacaannya. Aku paham dan mengerti. Dan teruntuk kalian yang masih setia jadi pembaca novelku "Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor", aku ucapkan beribu terima kasih banyak, semoga rezeki kalian selalu mengalir, sehat selalu dan semoga selalu dalam penjagaan Allah.


Salam Sayang❤❤


Nike Ardila Sari


Instagram: n_nikhe

__ADS_1


__ADS_2