Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Aku Bukan Orang Gila


__ADS_3

POV Si Pelakor


‘’To—tolooong!’’


Aku berteriak, namun tak ada yang berani menolongku. Kendaraan lewat tak banyak, tapi masih ada dua atau tiga motor. Tak ada yang menghiraukan teriakkanku. Kenapa? Apa mereka takut pada dua lelaki pereman bertubuh besar ini? Tidak! Aku yakin, mereka hanya tak mau membantuku.


Sejak tadi aku berusaha melepaskan diri, namun nihil. Kekuatan pereman itu mengalahkan kekuatanku. Satu-satunya cara adalah menendang alat tempur lelaki ini. Tanpa berpikir kulayangkan tendangan, tepat pada alat tempur miliknya. Seketika dia meringis kesakitan dan aku pun terlepas dari tangannya. Namun, lelaki yang tengah menenteng barang-barangku itu seketika melempariku dengan batu hingga tiba tepat di keningku.


‘’Arggh.’’ Kucoba memegang kening, ternyata darah segar hinggap di tanganku.


‘’Ayo, Bos. Kita lari dari sini. Setidaknya barang-barang ini sudah kita dapatkan.’’ Kedua lelaki itu berlari sambil membawa barang-barang mahalku.


‘’Jangan lari kalian!’’


Aku yang akan mengejar dua lelaki itu, namun tak bisa karena keningku yang sangat terasa sakit. Apalagi perut bagian bawahku yang mulai terasa nyeri. Aku terduduk lemas di jalanan.


‘’Kenapa aku begini? Malang banget nasipku,’’ lirihku dengan suara bergetar.


Air mata luruh begitu saja. Aku lelah begini. Seharian banyak sekali kesialan menimpa diriku. Mulai dari aku yang diusir mami dari rumah, aku yang diperlakukan seperti pembantu di rumah Fani, dan kini dua pereman itu membawa kabur barang-barang mahalku.


‘’Aku diusir sama Mami dan aku yakin pasti ini semua karena warga meresahkan itu. Kalo bukan karena mereka, aku nggak akan hidup kayak gini.’’


‘’Awas aja kalian ya! Tunggu balasan dariku!’’ geramku dengan tangan mengepal kuat.


Aku tak punya apa-apa lagi. Koper dan tas brandedku sudah dibawa kabur oleh kedua lelaki itu. Bagaimana aku akan menjalani kehidupan? Sementara tak punya apa-apa. Kuseka keringat dengan tanganku. Aku berteriak dengan lantang.


‘’Mas Deno? Tapi, bagaimana cara aku menghubungi suamiku itu?’’ Aku mengacak rambut.


Ya, hanya dia yang kupunya saat ini. Aku yakin dia bisa membantuku. Tapi, bagaimana caranya agar aku sampai ke rumah sakit? Perut pun terasa sangat lapar. Apalagi nyeri di perut masih terasa.

__ADS_1


‘’Sabar ya, Sayang. Ma’afkan Mama.’’


Aku berjalan terus menelusuri jalan dengan langkah pelan. Mataku tertuju pada warung es cendol yang ramai sekali pembelinya. Pasti enak dan segar. Kuusap tenggorokan yang terasa sangat kering.


‘’Haus banget,’’ keluhku. Bagaimana caranya agar aku mendapatkan es cendol itu, sedangkan aku tak punya uang sepersen pun. Mataku tak hentinya menetap warung es cendol.


***


‘’Bu, aku boleh minta air minum nggak?’’ Terpaksa aku meminta air minum, setidaknya untuk menghilangkan rasa haus dan menghilangkan rasa kering di tenggorokanku.


‘’Apa? Minta?’’ bentaknya sambil memperhatikan aku dari bawah ke atas. Membuat aku terkesiap. Kuanggukkan kepala dengan lemah.


‘’Beli dong. Jangan minta-minta begini. Cantik-cantik kok jadi pengemis.’’


Hatiku begitu perih mendengar ucapan yang dilontarkan oleh wanita separuh baya itu. Tak kuat rasanya. Belum apa-apa, dia sudah sombong. Padahal warungnya begitu kecil.


‘’Hei, Bu! Kalo nggak mau ngasih. Nggak usah menghina ya. Jaga mulutnya,’’ kataku dengan lantang.


Bagaimana kalau aku curi saja satu buah air aqua, kan lumayan untuk mereda rasa haus. Aku melangkah dengan mengendap-endap. Akhirnya aku tiba di depan kulkas, kubuka dengan sangat pelan dan mengedarkan pandangan di sekitarnya. Orang-orang yang lewat pun sepertinya tak ada, hanya kendaraan yang berlalu lalang.


Itu pun tak begitu banyak. Ah, akhirnya ini air minum sudah berada di tanganku. Kututup kembali kulkas dengan pelan. Lalu aku kembali melangkah dengan hati-hati, agar langkah kaki ini tak didengar oleh pemilik warung.


‘’Dasar maling! Kembalikan air minum saya!’’


Membuat aku terperanjat, namun aku tak menoleh. Aku langsung berlari meninggalkan warung itu. Sepertinya aku sudah jauh dari warung tadi. Napasku turun naik dan keringat pun bercucuran. Tubuhku pun terasa lemas, aku terduduk di jalanan.


‘’Orang gila, orang gila!’’ Anak-anak kecil bernyanyi dengan lantang. Membuat aku menatap tajam ke arah mereka.


‘’Hei, bocah kecil! Aku ini bukan orang gila,’’ sanggahku dengan ketus.

__ADS_1


Mereka malah tertawa sambil saling tatap satu sama lain. Aku bergegas bangkit, namun kembali terduduk. Karena tubuh yang terasa tak berdaya. Kalau saja aku kuat, aku pasti akan melempari para bocah itu dengan batu. Enak saja mengatakan aku orang gila. Padahal aku mengenakan baju mahal.


Membuat mereka kembali mentertawakan aku sambil menunjuk ke arahku. Dasar bedebah!


‘’Apes banget hidupku hari ini,’’ rutukku dalam hati.


‘’Pergi, kalian!’’ usirku dengan kasar.


‘’Anak-anak, kalian ngapain di sini? Jangan ganggu orang itu. Apa kalian nggak takut? Kayaknya wanita ini kurang waras,’’ bisik wanita berambut sebahu itu.


Membuat darahku mendidih. Apa aku kelihatan seperti orang gila? Kupandangi pakaian yang kukenakan. Sudah kumuh dan berdebu. Astaga, lalu bagaimana dengan rambutku? Apa acak-acakkan?


‘’Bughh!’’ Kulemparkan langsung air yang tadi kucuri. Baju wanita itu basah dan dia menatap tajam ke arahku. Darahku sungguh mendidih dibuatnya.


‘’Tuh lihat, Tante aja dilemparnya pake air. Ayo kita lari dari sini anak-anak. Jangan sampai dia menganggu kalian.’’


‘’Hei! Aku bukan orang gila,’’ teriakku dengan lantang. Membuat mereka berlari dan hilang dari pandanganku.


‘’Aku secantik ini kok dibilang orang gila. Dasar!’’ rutukku.


Aduh, air tadi sudah kulemparkan pada wanita itu. Dengan apa akan kureda rasa kering di tenggorokan. Aku menghela napas panjang. Sementara perut terus saja bernyanyi riang. Mataku tertuju pada sesebapak yang lewat di dekatku. Semoga saja bapak itu mau membantuku.


‘’Pak, tolong aku,’’ kataku dengan wajah memelas.


Dia hanya menoleh sejenak padaku lalu terbirit-birit lari. Ah, semuanya sama saja. Aku ini masih waras dan cantik. Lalu bagaimana cara aku agar orang-orang mau membantuku. Jangankan untuk melangkah, untuk berdiri saja aku tak kuat. Terbayang olehku mas Deno. Dia sedang apa di sana?


Apa dia mengalami hal yang sama sepertiku? Atau dia masih di rumah sakit? Andaikan saja ada dia di sini, aku tak kan merasa lelah menghadapi semua ini. Aku pasti kuat jika berada di samping lelaki yang kucintai itu.


‘’Mas, lihatlah. Bagaimana keadaanku sekarang. Aku membutuhkan pertolonganmu. Kamu pasti nggak menginginkan kalo aku mati secara secara cuma-cuma. Apalagi aku tengah mengandung anak darah dagingmu.’’

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2