
‘’Nel, kamu baik-baik saja?’’ lelaki yang sedari tadi kutunggu akhirnya dia datang juga. Aku menyahut dengan gelengan kepala dan ada rasa lega di hatiku.
‘’Ta—tapi dia selalu saja mengintipku. Aku takut kalo dia nanti macam-macam,’’ ucapku lirih.
‘’Kamu tenang saja, aku akan tetap di sini untuk menjaga kamu. Oke?’’ dia berusaha meyakinkan dan menenangkan aku.
‘’Ma—maksud kamu, kamu tidur di sofa itu?’’ tanyaku terbata sembari menunjuk ke arah sofa yang berjarak dari tempat istirahatku.
Spontan dia langsung mengangguk. Membuat aku terdiam. Bagaimana bisa aku beristirahat, sedangkan di ruangan ini ada lelaki lain yang bukan mahramku.
‘’Bagaimana kalo aku diapa-apain sama lelaki itu? Kan kita nggak tahu siapa dia sebenarnya,’’ bisik hatiku.
Aku tak bisa percaya sepenuhnya kepada lelaki itu. Kita kan tak tahu bagaimana isi pikiran orang lain, bagaimana niatnya. Makanya aku harus tetap hati-hati.
‘’Ya udah, kalo gitu aku tidur di luar aja dekat pintu.’’ membuatku mengerjap pelan.
Dia bergegas melangkah ke luar. Aku tak bisa melarangnya. Karena tak mungkin jika dia beristirahat satu ruangan denganku, sedangkan kami tak terikat ikatan halal dan aku masih berstatus sebagai istrinya mas Deno. Ya, di dekat pintu menjelang masuk ke ruang rawatku ini memang ada kursi tunggu, untuk menunggu pasien.
Tapi apakah dia bisa beristirahat dengan tenang di kursi itu? Sedangkan orang-orang masih berlalu lalang dan duduk juga di kursi tunggu itu. Ya Allah! Tapi aku tak tahu lagi siapa yang akan menjagaku di sini, bagaimana kalau orang suruhan mas Deno atau si pelakor itu menyusup ke ruang rawatku ini dan mereka macam-macam, sedangkan aku dalam keadaan terlelap atau di saat terbangun pun aku tak kan mampu melawannya karena tubuhku yang lemas tak berdaya.
Aku tak ada pilihan lain, selain membiarkan Reno tetap menjagaku dengan cara tidur di luar. Walaupun aku tak sampai hati rasanya. Kuyakin dia tak kan bisa beristirahat dengan nyenyak.
Benda pipih seketika berdering, aku menatap benda yang tergeletak di sampingku itu. Tampak notifikasinya pesan di aplikasi hijau itu. Reno? Bukannya dia masih di sini?
‘’Nel, istirahatlah. Kenapa kamu kayak orang gelisah seperti itu? Aku masih di sini kok. Jagain kamu.’’ seketika membuat aku mengalihkan pandanganku ke arah jendela.
Ternyata Reno sedari tadi memperhatikanku di sana. Ya Allah, apa mungkin lelaki yang baru sehari kukenal sebaik ini? Apa sebenarnya niat lelaki itu?
‘’Aku belum bisa istirahat, Ren,’’ balasku kemudian, yang sedari tadi hanya meread pesannya saja tanpa dibalas.
‘’Kenapa, Nel? Apa yang kamu pikirkan? Bukannya kamu ingin cepat keluar dari sini.’’ mataku kembali tertuju ke gorden yang tembus pandang itu, sepertinya Reno tengah bersandar di sana, hanya punggungnya yang menghadap ke sini.
‘’Aku minta ma’af ya, Ren. Karena aku, kamu malah nggak bisa tidur malam ini.’’ aku mencoba mengatakan salah satu yang menganggu pikiranku. Aku menghela napas pelan. Tiba-tiba rasa mengantuk hadir, namun mataku enggan untuk terpejam.
‘’Jangan bilang kayak gitu, Nel. Aku senang kok bisa bantu kamu.’’
‘’Kamu istirahatlah, hari udah larut malam. Nggak baik begadang.’’
‘’Iya, Ren. Ya udah aku tidur dulu ya.’’ aku kembali membalas pesannya.
Kali mataku sudah terasa berat. Kubawa istirahat saja kali ya. Seketika mataku tertuju kepada benda yang melingkar di dinding itu. Pukul 00.05? Apa aku salah lihat? Berulang kali aku mengusap bola mata, namun angka itu saja yang muncul. Ya, mungkin benaran sudah larut malam. Dengan pelan aku membaringkan tubuh yang begitu sangat lelah dan kutarik selimut.
Aku kembali terbangun. Entah kenapa dingin begitu menusuk tulang sum-sumku. Teringat olehku lelaki yang menjagaku. Apa aku bisa melangkah ke luar dengan infus yang masih terpasang? Oh iya, aku ada cara. Dengan pelan aku duduk lantas bangkit dengan langkah gontai, kubawa tabung cairan yang bergantung itu dengan pelan. Mataku tertuju kepada selimut yang tergeletak di sofa sebelah kiriku. Aku meraihnya, lantas melangkah dengan menahan rasa sakit kepala dan tangan yang masih diperban.
Pintu terbuka, aku langsung melihat lelaki asing itu terlelap di kursi tanpa bantal dan selimut.
__ADS_1
‘’Ya Allah, apa aku boleh menyelimuti lelaki ini? Kasihan sekali, dia kayak kedinginan,’’ gumamku masih menatapnya yang tengah terlelap. Tangan kananku masih memegang selimut, sedangkan tangan kiri masih memegang tabung infus.
Aku menghela napas pelan,’’Ma’af ya, aku menyelimutimu.’’ dengan pelan aku menyelimutinya. Dan aku kembali melangkah memasuki ruang rawatku.
‘’Nel?’’ suaranya membuat aku menoleh dan memberhentikan langkah. Ya Allah! Reno? Ternyata dia hanya seperti tidur ayam saja.
‘’Bu—bukannya kamu tadi tidur?’’ tanyaku terbata.
Lah dia malah tersenyum,’’Iya, tadi aku tidur. Terbangun lagi, kan aku mau jagain kamu.’’p
‘’Eh, kamu nyelimutin aku?’’ mata elangnya menatap tubuhnya yang berbalut selimut.
‘’Iya, hari sedingin ini kamu malah nggak pake selimut. Nanti sakit aku yang disalahkan!’’ ketusku.
‘’Siapa yang nyalahin kamu, Nel? Kamu kok bête kayak gitu mukanya.’’ dia malah terkekeh kecil.
Sedangkan aku tertuju kepada orang-orang yang masih berlalu lalang. Mungkin mereka ada keperluan hingga jam segini masih berlalu lalang.
‘’Eh, by the way makasih ya selimutnya,’’ katanya sembari tersenyum lebar. Aku mengalihkan pandanganku.
‘’Iya. Tapi ingat, aku nggak bermaksud apa-apa untuk menyelimuti kamu!’’ dengan pelan aku kembali melanjutkan langkahku yang terhenti menuju ruang rawat.
Kututup pintu dengan keras dan melangkah ke tempat tidur sembari meletakkan tabung yang sedari tadi menemaniku. Kalau tahu aku begini, aku tak akan mau menyelimuti lelaki itu. Aku kesal dibuatnya, dia tersenyum kepadaku seolah dengan menyelimutinya aku akan memberikan secercah harapan kepadanya?
Duuh! Tak ada maksud niatku yang lain, selain hanya menyelimutinya saja karena dia kedinginan. Dan itu kulakukan karena dia sudah membantuku, dia sudah baik sekali kepadaku. Walaupun aku belum tahu apakah kebaikannya itu ada sesuatu di baliknya. Jujur saja, dari hati yang paling dalam aku benci yang namanya lelaki. Lelaki rata-rata pengkhianat dan pembohong. Dan aku tak kan pernah mudah percaya sama yang namanya lelaki.
‘’Nel, kamu kenapa?’’ lelaki itu bergegas masuk tanpa mengetuk pintu ataupun mengucap salam.
‘’Kamu pulanglah! Aku nggak mau menyakiti kamu dengan kata-kataku,’’ kataku dengan lirih.
Ya, aku takut nanti dia tersakiti dengan ucapanku apalagi jika aku sedang marah dan tak sadar apa yang tengah aku ucapkan. Bagaimana pun juga, aku telah berhutang nyawa kepadanya.
‘’Ta—tapi, kamu siapa yang jagain?’’
‘’In syaa Allah, aku akan baik-baik saja di sini.’’ aku menyahut tanpa menatapnya.
‘’Baiklah, tapi kalo kamu butuh aku, telpon saja.’’
Aku hanya mengangguk lemah. Aku tahu dia tengah menatapku, tapi aku tak mau menatapnya.
‘’Kamu hati-hati dan istirahatlah!’’ imbuhnya kemudian.
‘’Ya,’’ sahutku dingin.
Seketika terdengar bunyi langkahnya. Yang kukira dia melangkah menuju pintu. Dan seketika pintu berderit. Aku menghela napas lega. Seketika terdengar lagi pintu berderit. Membuat dadaku terasa sesak.
__ADS_1
‘’Ibu belum tidur?’’ aku lega menatap siapa yang tengah mengunjungiku. Wanita berseragam, Suster Andini.
Aku menggeleng,’’Saya belum bisa tidur, Sus.’’
‘’Kenapa, Bu? Apa yang dipikirkan? Kan saya udah bilang kalo Ibu itu butuh istirahat dan jangan memikirkan sesuatu yang membuat penyakit Ibu bertambah,’’ tegasnya sembari melangkah ke arahku.
‘’Apalagi kepala Ibu yang habis terbentur. Jika Ibu banyak pikiran, maka kepala Ibu akan terasa pusing dan tak akan kunjung sembuh,’’ imbuhnya kemudian.
Aku menghela napas berat,’’Ta—tadi ada orang yang ngintipin saya, Sus. Saya takut,’’ ucapku lirih seadanya.
‘’Orang yang ngintipin Ibu? Siapa?’’ dia tampak terheran.
‘’Nggak mungkin, Bu. Di depan ada Satpam yang menjaga. Nggak mungkin orang jahat bisa menyusup ke sini.’’
‘’Itu hanya perasaan Ibu aja kali,’’ imbuhnya kemudian lantas tersenyum.
Dan beralih memeriksa keadaanku. Aku hanya terdiam saja. Tapi beneran aku melihat ada orang yang mengintipku di balik gorden tembus pandang itu. Tak mungkin aku salah lihat. Mataku masih bersih, belum rabun.
‘’Alhamdulillah, lumayan membaik keadaan Ibu. Saran saya tetap yang kemarin, tolong jangan banyak pikiran dulu.’’ mataku tertuju ke gorden. Seketika ada bayangan seseorang. Apa orang yang tadi mengintipku? Ya Allah.
‘’Bu?’’ panggilannya mampu membuyarkan lamunanku.
‘’Ah, iya.’’ aku menoleh.
‘’Kenapa, Bu? Ada apa?’’
‘’E—enggak, nggak apa-apa kok, Sus.’’
‘’Ya udah kalo gitu saya tinggal dulu. Nanti saya ke sini lagi buat jagain Ibu.’’ wanita berseragam itu bergegas meraih alat pemeriksanya dan beranjak dari duduknya. Ada rasa lega sebenarnya di saat suster itu mengatakan kalau dia mau menjagaku. Tapi, ada rasa cemas dan takut juga tatkala dia mengatakan hendak meninggalkanku dulu walau itu hanya sebentar.
‘’Ya Allah.’’ aku membatin dan menggeleng pelan.
Suster itu bergegas melangkah ke luar dari ruang rawatku. Aku menghela napas pelan. Aku tak seperti pasien lain yang dijaga oleh keluarga mereka. Sedangkan aku? Aku hanya seorang diri di sini. Orang tua kandung sudah di alam sana, suami pun seorang pengkhianat, mertua pun sakit, dan sedangkan bibi menjaga Naisya di rumah.
‘’Ma, Pa! Andaikan saja Mama dan Papa masih hidup, pasti akan menemani aku di sini,’’ gumamku dengan suara bergetar. Seketika pintu terhempas keras.
‘’Ka—kamu siapa? Jangan sakiti aku!’’
Bersambung.
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh ya, ada yang nungguin aku update nggak? Aku berharap sih ada yang nungguin lanjutan cerita ini. Jika ada yang nungguin koment ya.
See you next time! ❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe