
Taxi sudah berada di depan rumah sakit yang berukuran besar itu. Aku bergegas merogoh tas dan menyerahkan ongkosnya pada si sopir.
‘’Makasih, Mba.’’ Aku menyahut dengan anggukan dan senyuman ramah. Langsung aku turun, lalu melangkah untuk memasuki rumah sakit. Namun, langkahku terhenti seketika.
‘’Masih mau kamu menampakkan muka setelah apa yang kamu lakukan pada Mamaku? Iya?!’’
Ya Allah! Jadi mama masuk rumah sakit karena penyakitnya kambuh setelah aku menceritakan semuanya pada mama? Tapi, bukankah ini semua salah lelaki itu. Dia yang menjadi sumber masalah. Dia yang mendatangkan masalah. Kenapa malah menuduh aku?
‘’Hei, Deno! Ini semua salah kamu. Kenapa kamu malah nyalahin aku? Mama kamu sakit, itu semua gara-gara sikap busukmu itu!’’
Membuat amarahku menjadi dibuatnya. Mamanya masuk rumah sakit gegara aku sendiri? Padahal itu atas kesalahannya. Kalau saja dia tak selingkuh, ini semua tak kan terjadi. Penyakit mama tak kan kambuh. Kenapa dia tak sadar dengan kesalahannya sendiri? Seolah aku saja yang disalahkannya.
‘’Tunggu! Kemaren pas aku ceritain ke Mama, beliau malah nggak percaya. Dan beliau baik-baik aja keadaannya. Kenapa baru sekarang kambuh penyakit Mama?’’
‘’Jangan mengelak lagi. Kalo kamu nggak menceritakan semuanya ke Mamaku. Dia nggak akan kambuh penyakitnya. Masih aja kamu nggak mau ngaku kalo itu semua gara-gara kamu?’’ Ya, aku akui aku yang cerita semuanya.
Tapi, bukankah semua masalahnya bersumber dari dia? Tapi, pada saat itu mama baik-baik saja. Kenapa baru sekarang kambuh penyakitnya? Trus kenapa Juwita bisa tahu kalau mama masuk rumah sakit? Apa dia yang membawa mama ke rumah sakit? Apa sangkut pautnya dengan wanita itu?
‘’Oke. Aku akan balas semua perlakuan kamu pada Mamaku!’’ ancamnya. Tapi tak membuat aku takut. Karena aku tak salah apa-apa. Allah Maha adil dan Dia tahu siapa yang salah.
‘’Humm, ternyata kamu nggak pernah berubah ya. Siapa lelaki yang akan mau sama kamu bergaya norak kayak gini!’’ Dia mendekat ke arahku, membuat aku mundur selangkah.
Lelaki itu menatapku dari ujung kaki hingga kepala yang tengah dibalut kerudung. Membuat aku terkesiap, hatiku teriris dibuatnya. Dia bukan Deno yang aku kenal.
‘’Siapa bilang nggak ada yang mau sama Nelda? Kenalkan, aku adalah Reno. Calon suaminya Nelda.’’ Membuat aku terkesiap.
Lelaki itu menyodorkan tangannya pada mas Deno, namun tak ditanggapi sama sekali. Sehingga tangannya menggantung di udara. Lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu ternganga mulutnya memandangi Reno. Bagaimana tidak, tampan lelaki itu melebihi dari tampan mas Deno. Tapi, sebentar! Kenapa lelaki itu berani berkata seperti itu di depanku? Apa tujuannya? Apa dia hanya sekadar membantuku saja? Atau ada maksud lain?
__ADS_1
‘’Calon suami Nelda? Nggak! Nggak mungkin. Kamu pasti dibayar sama dia. Berapa sih kamu dibayar sama dia sampe ngaku-ngaku sebagai calonnya segala?’’ Dia yang tadi ekspresinya terperanjat kaget, seketika dia menyunggingkan bibirnya tersenyum sinis.
‘’Aku bukan mata duitan kayak kamu. Asalkan kamu tahu, cinta aku itu tulus pada Nelda. Nggak kayak kamu, yang tega meninggalkan wanita sesholehah Nelda demi mendapatkan wanita calon penduduk neraka kayak selingkuhanmu itu!’’
‘’Jaga mulut kamu! Jangan coba-coba menghina pacarku!’’ Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, dan mendekati Reno.
‘’Aku bicara sesuai fakta. Sayang, kita pulang saja ya. Ini tempat nggak baik untuk kamu,’’ ajaknya memanggil aku dengan ‘’sayang’’, tentu membuat aku semakin terheran.
Apa ini hanya sandiwaranya saja di depan mas Deno? Apa maksud dia melakukan semua ini? Tak pantas rasanya aku dipanggil sayang oleh lelaki lain di depan lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu. Apalagi dia mengaku-ngaku sebagai calon suamiku. Tapi, tak ada rasa kecemburuan yang tampak di wajahnya itu. Apa secepat itukah hilang rasa itu? Apa aku tak ada lagi di hatinya? Apa wanita itu sudah mampu menggantikan posisiku?
‘’Ta—tapi aku ingin melihat keadaan Mama Minah dulu,’’ lirihku.
‘’Pak! Ini ada orang yang bikin onar di sini. Tolong Bapak usir mereka berdua. Nanti malah terganggu pasien di sini.’’
Seakan aku tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu. Seperti bukan dia yang berbicara dan bertindak, seperti orang lain yang ada pada dirinya. Perbuatan dan ucapannya tak seperti Deno yang kukenal dulu. Ya Allah! Kenapa kamu berubah drastis seperti ini? Hatiku semakin terasa koyak dibuatnya dan dada terasa dihimpit batu besar.
Lelaki berseragam itu bergegas mendekat,’’Kalian jangan bikin onar di sini. Silahkan pergi, sebelum saya bertindak!’’ tegasnya yang menatapku dan juga Reno. Aku menggeleng berkali-kali.
‘’Pak, saya ke sini mau membezuk orang sakit. Bukan bikin onar seperti yang dikatakan lelaki ini! Dia yang bikin onar. Bukan saya!’’
‘’Sudah! Sudah! Kalian lebih baik pergi dari sini!’’ usir lelaki itu.
Ternyata kamu lelaki licik! Aku berniat baik ke sini, dia malah menuduhku yang tidak-tidak. Ya, lebih baik aku pulang saja. Aku berbalik dan melangkah tanpa sepatah kata pun. Seketika air mata yang kutahan mati-matian luruh begitu saja. Aku berlari menuju kursi yang terletak di pinggir jalan. Teringat dengan semua perbuatan dan ucapan lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu.
‘’Ma’afkan aku, Ma. Aku nggak diizinkan sama anak Mama,’’ lirihku dengan suara bergetar dan menghenyak di kursi itu.
Orang berlalu lalang di depanku, begitu pun dengan kendaraan yang saling sapa. Kuseka air mata dengan kasar. Namun, tetap saja ia luruh. Saking perihnya hati ini. Hingga air mata yang kini mampu bicara.
__ADS_1
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan padaku. Langsung kupandangi wajahnya.
‘’Ka—kamu?’’ Seketika aku mengalihkan pandangan dengan kasar.
‘’Ma’afkan aku, Nel,’’ lirihnya. Aku memilih untuk diam seribu bahasa. Kuseka air mata dengan kasar. Sudah kesekian menitnya aku memilih diam dan hanya air mataku yang bicara. Kutarik napas pelan lalu menghembuskannya, biar rasa sesak di dada ini berkurang.
‘’Sekali lagi aku minta ma’af sama kamu. Aku hanya—‘’ Ternyata lelaki itu masih ada di sini.
‘’Makasih kamu udah membantuku. Tapi nggak seharusnya kamu bicara kayak gitu di depan suami aku!’’ Aku meliriknya sejenak dan kembali membuang pandangan.
‘’Suami? Kamu ada nggak dianggep sebagai istrinya?’’ Dia tersenyum sinis dan menggeleng. Pertanyaan lelaki itu mampu menusuk relung hatiku.
‘’Dia memang sekarang nggak menganggep aku. Tapi bukankah aku dan dia belum bercerai. Bagaimana pun juga, dia masih suamiku.’'
‘’Aku dianggep ataupun enggak sama dia. Aku akan tetap menganggep dia sebagai suamiku!’’
Ucapanku mampu membuat dia terdiam lama. Netraku memandangi jalanan yang dikerumuni oleh kendaraan yang berlalu lalang. Namun, pikiranku terbang entah ke mana.
‘’Nel, jangan bohongi diri kamu. Aku tahu luka di hatimu begitu dalam. Walaupun aku nggak pernah merasakannya. Jangan siksa diri kamu kayak gini.’’
Bersambung.
Kalo kalian suka novelku bantu like, koment, vote dan share ya. Supaya aku lebih semangat lagi nulisnya.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
__ADS_1
Instagram: n_nikhe