Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Jurang?


__ADS_3

POV Deno (Suaminya Nelda)


‘’Untuk apa kalian memberiku makan? Lebih baik bunuh saja akuu!’’ teriakku lantang.


Sudah seminggu aku disekap di sini. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi kuhadapi, hingga membuat wajahku babak belur seperti ini. Mukaku begitu terasa sakit. Kukira mertuaku itu akan membawaku pergi ke luar kota, namun tak sesuai ekspektasi. Sungguh dia pandai sekali bersandiwara membuat aku percaya.


Ternyata aku dibawa ke rumah kosong yang sudah tua. Masih teringat olehku ketika aku berada di mobil, asistennya membekap mulutku hingga membuat aku pingsan. Aku yakin ada resep yang ditaburkannya pada sapu tangan itu. Tak berselang lama tiba-tiba aku sudah sadar dengan keadaan air yang membasahi muka dan seluruh tubuhku. Aku yakin wanita licik itu yang menyiramkannya. Kenapa aku jadi bodoh seperti ini. Sialan!


‘’Awas aja kalo aku bisa keluar dari sini. Aku akan balas semuanya,’’ geramku dalam hati yang memandangi kedua lelaki bertubuh kekar itu.


‘’Ngapain loh melototin kita kayak gitu? Mau kabur, hah?’’ Spontan aku memalingkan muka.


‘’E—enggak.’’


Ya, kini aku tak bisa melawan mereka dengan kondisi tubuhku yang lemah. Yang ada aku mati sia-sia dibuatnya. Terpaksa aku harus menuruti semua kemauan dua lelaki biadab ini.


Mataku terus menatap sepiring nasi yang diletakkannya di dekatku. Perut terasa lapar. Namun, apalah daya tangan tengah terikat. Ah, aku seperti hidup di neraka. Tubuh sakit-sakit yang terus saja mendapat hantaman dan pukulan dari anak buah wanita itu setiap hari.


‘’Adik,’’ gumamku dalam hati yang teringat anak semata wayangku.


Entah kenapa hatiku begitu sendu sekarang. Wajah buah hatiku membayang di pelupuk mata. Kenapa baru sekarang aku merasakan rindu yang amat dalam pada anakku.


‘’Nak, ma’afkan Papa.’’


‘’Hei! Malah bengong. Loh mau makan apa nggak? Dasar, udah dikasih makan malah nggak mau makan,’’ bentaknya yang membuat aku terperanjat.


Lelaki itu bergegas mendekatiku lalu menyuapiku dengan kasar hingga mulutku dipenuhi banyak nasi, bahkan tertumpah ke luar.


‘’Makan tuh!’’ Lelaki itu terus saja menyumpel mulutku pakai nasi hingga membuat aku memuntahkan kembali nasi itu.


‘’Puahhh!’’


‘’Kurang ajar! Apa yang loh lakuin?’’ Dia bangkit dan menatapku dengan sangat tajam, seperti singa yang akan menerkam mangsanya.


Aku mengepalkan tangan. Andaikan saja aku punya kekuatan untuk berdiri dan menghabiskan dua lelaki itu, akan kulakukan. Tapi, apalah daya. Tanganku terikat dan tubuhku lemah karena mendapat hantaman serta pukulan setiap hari. Apa aku akan mati secara sia-sia di sini? Ah, aku tak mau.


‘’Chika, kamu di mana, Sayang? Kenapa kamu nggak selamatin Mas? Apa kamu bekerja sama juga sama wanita itu?’’


Aku seketika teringat oleh istri keduaku, Chika. Wanita yang baru seminggu kunikahi secara paksa di balai adat karena digrebek warga. Kenapa sejak pertemuan terakhir di rumah sakit dengannya dia tak lagi menghubungiku. Apa dia sengaja melakukan itu semua? Apa aku tak berarti lagi di matanya?


Ah, tapi bukankah dia tengah mengandung anak darah dagingku? Lalu kenapa dia menjauhiku seperti ini, bahkan dalam keadaan aku tengah tersiksa dan tak berdaya, aku membutuhkan pertolongannya. Atau wanita itu sudah menghasut anaknya agar tak mempedulikanku, agar menjauhiku? Beribu pertanyaan yang muncul dibenakku.

__ADS_1


***


‘’Mi, tolong lepaskan aku! Kenapa Mami tega memperlakukan aku kayak gini,’’ kataku dengan memelas menatap wanita itu yang tengah berdiri sambil menatap tajam ke arahku. Entah kapan dia datang ke sini.


‘’Kamu mau lepas menantuku?’’ Dia bergegas menghampiriku lalu tertawa keras.


‘’Kalo saja aku punya kekuatan akan aku hancurkan wanita terkutuk ini,’’ kataku dalam hati.


‘’Bawa dia!’’ katanya pada dua lelaki itu dan menunjuk ke arahku. Aku mau dibawa ke mana oleh mereka?


‘’Ma—Mami? Aku mau dibawa ke mana?’’


‘’Kita mau jalan-jalan,’’ kata wanita licik itu sambil terkekeh menatapku.


Aku tak percaya kalau dari mulut wanita ini, karena aku sudah mengalami kemarin. Dia mengatakan kalau dia ingin membawaku ke luar kota dan tinggal di sana bersama Chika, tapi apa kenyataannya? Aku malah disekap dan disiksa di rumah kosong yang terkutuk ini. Apa yang harus aku lakukan supaya aku bisa lari dari sini?


‘’Handphone? Di mana handphoneku?’’


Aku baru ingat, terakhir memegang ponsel ketika aku berada di mobil milik wanita terkutuk itu, sebelum mereka menjalankan misi. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya aku kabur dari mereka. Tanpa berucap dua lelaki itu membawaku dalam keadaan tangan terikat.


‘’Lepaskan!’’ teriakku dengan sepenuh hati.


‘’Diem!’’ bentaknya yang membuat aku terdiam.


Entah kenapa aku jadi berpikiran yang aneh-aneh. Aku takut kalau wanita licik dan dua anak buahnya itu memperlakukanku lebih sadis daripada sebelumnya. Tidak! Aku yakin kalau aku masih ada kesempatan untuk kabur dari mereka. Mobil melaju sangat kencang. Bagaimana cara aku berteriak agar didengar oleh orang-orang di luar sana?


‘’To—tolooong!’’ teriakku yang membuat mereka terkesiap.


‘’Hei, loh bisa diem nggak?’’ Tangan lelaki itu menamparku dengan spontan.


‘’Jangan dihabisin tenaga kalian. Tutup saja mulutnya,’’ titah wanita licik itu yang membuat mataku melotot.


‘’Baik, Bu.’’ Dia bergegas melakban mulutku membuat aku sulit untuk bicara.


‘’Dasar brengsek! Awas aja kalian semua. Aku bakal balas lebih kejam dari ini,’’ ancamku dalam hati.


Lelaki yang tengah menyetir itu tersenyum puas menatapku, begitupun dengan lelaki yang duduk di sebelahku. Awas saja kalian! Akan kubalas semua perlakuan kejam ini.


‘’Aku mau dibawa ke mana sebenarnya?’’


Tiada putusnya mataku memandangi di sekeliling jalan ini lewat kaca jendela. Begitu sepi, hanya satu atau dua saja kendaraan yang lewat. Aku semakin cemas dibuatnya. Mau apa mereka? Apa mereka punya rencana lebih jahat lagi padaku?

__ADS_1


‘’Bawa dia turun!’’


‘’Baik, Bu.’’


Aku mencoba untuk berteriak, namun tak bisa karena mulutku dilakban. Lelaki itu membawaku keluar. Aku memandangi tempat yang membuatku ngeri. Ya, jurang. Tepat di depanku ada jurang dibawahnya. Sungguh pikiranku melayang jauh dan rasa cemas datang begitu saja.


‘’Apa, aku…’’ Aku menggeleng cepat.


Tuhan, bagaimana caraku untuk kabur dari mereka dengan keadaan lemas tak berdaya seperti ini. Mana sanggup aku untuk berlari.


‘’Wah, tempatnya bagus banget, ya?’’ Wanita licik itu menatapku sambil bertepuk tangan.


Dia memberi kode pada kedua anak buahnya, entah apa yang akan mereka lakukan padaku. Ternyata lelaki itu membuka lakban mulutku dengan kasar. Satu orang lagi masih memegangi tubuhku.


‘’Sebelum loh terjun ke jurang sana. Apa kata-kata yang ingin loh sampaikan?’’


Membuat mataku membulat sempurna, dada terasa berdegup kencang.


‘’A—apa maksud kamu? Jangan macam-macam sama aku,’’ ketusku dengan terbata lalu melangkah mundur.


‘’Loh lebih sayang sama nyawa anak loh atau nyawa loh sendiri?’’


Aku sungguh terperanjat dibuatnya. Apa maksud lelaki brengsek ini? Apa dia berniat akan mencelakai anakku? Dari mana dia tahu kalau aku punya anak? Sangat lama aku terdiam, tak tahu harus bagaimana.


‘’Hei, bajingan! Jawab!’’ Lelaki itu menarik kerah bajuku.


‘’Kita nggak punya banyak waktu. Lakukan saja apa yang sudah saya perintahkan ke kalian!’’


Dia menghantam perutku sehingga membuat aku terhuyung dan mengerang kesakitan.


‘’Apa kata-kata terakhir loh?!’’


‘’Atau…Loh mau anak loh itu yang kita habiskan?’’


‘’Ja—jangan,’’ sahutku cepat sambil menahan kesakitan yang luarbiasa. Aku mengangguk. Kamera pun menghadap padaku.


‘’Dik, ma’afkan Papa ya. Papa sayaang banget sama Adik. Yang nurut sama Mama ya. Jangan nakal.’’


‘’Untuk kamu Nelda. Aku sangaat menyesal atas semua perbuatanku yang aku lakukan pada kamu dan anak kita. Ma’afkan aku. Jaga anak kita baik-baik ya. Selamat tinggal,’’ kataku dengan air mata berderaian.


‘’Bagus,’’ katanya sambil menyunggingkan bibir. Tak lama kemudian, tangan lelaki itu spontan mendorong tubuhku.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2