
‘’Mas! Kamu nggak ke kantor hari ini?’’ kataku sembari menggunjangkan tubuh atletisnya itu.
Sudah jam 07.00, namun dia tak kunjung bangun. Tak biasanya dia susah untuk dibanguni. Setelah keselingkuhannya terungkap, dia pun menginap di rumahku karena tak ada lagi tempat untuk menginap. Jika ke rumah orang tuanya tak mungkin, yang ada dia dicurigai dan dimarahi sama mereka. Apalagi mama dan papanya itu begitu sangat menyayangi si sok alim.
Aku heran kok bisa-bisanya itu orang disayang sama mertuanya, padahal pandai berhias pun tidak. Sedangkan mas Deno sudah mengatakan padaku kalau dia sudah bosan dengan calon mantan istrinya itu.
‘’Nanti aku susul aja deh ya. Aku masih ngantuk,’’ katanya yang menggeliat dan kembali menarik selimutnya.
‘’Lah, Mas hari ini kan kita ada meeting dengan clien perusahaannya Pak Dayat. Kamu atasan loh,’’ ketusku yang bergegas menarik kembali selimutnya. Namun, dia tetap berusaha menarik kembali selimut tebal itu.
‘’Apaan sih, Chik. Aku masih ngantuk loh, apalagi semalam aku kurang tidur,’’ keluhnya yang membuat aku menggeleng. Ya, memang semalaman matanya enggan untuk terpejam. Kuyakin karena sepulang dari rumah sakit itu.
‘’Apa sih yang dikatakan sama si sok alim itu sampe Mas Deno nggak bisa tidur semalaman?’’ batinku yang menggerutu.
‘’Nggak, Mas. Pagi ini kamu harus ke kantor dulu. Yang memimping meeting itu kamu loh dan cobalah untuk profesional,’’ kataku dengan pelan.
Dan masih menghenyak di ranjang yang beberapa hari ini dipakai oleh mas Deno, aku sudah rapi sedari tadi. Kukira pacarku itu sudah bangun dan bersiap-siap. Eh, ternyata kudapati dia masih bergelayut manja di selimutnya itu. Aku tak kan bisa menghadiri meeting jika pacarku itu tak hadir, karena dia Direktur di perusahaan dan dia yang memimpin meeting hari ini.
Tak biasanya dia seperti ini, semengantuk apa pun dia biasanya dia tetap berusaha untuk hadir ke kantor dan dia bisa bersikap seprofesional mungkin. Lain halnya dengan sekarang, atau si Nelda itu yang membuat dia jadi begini?
‘’Aduhh! Iya, iya deh.’’ dia tampak bergegas bangkit.
Tampak dia meraih handuk dan bergegas melangkah kembali ke ruang bathroom itu. Aku menghela napas pelan, lantas bergegas melangkah ke ruang makan. Aku mau mempersiapkan sarapan dulu untuk pacar tampanku itu. Bergegas kubuatkan roti selai cokelat, tak lupa dilengkapi dengan susu cokelat. Dan kubuatkan juga segelas susu putih untuknya, karena dia tak menyukai susu cokelat.
Beberapa menit kemudian, sudah tertata indah di meja roti selai rasa cokelat, rasa nanas, dan dua gelas susu. Aku menghenyak di kursi. Teringat olehku kejadian beberapa hari nan lalu, di mana istrinya sudah mengetahui hubungan gelap kami. Waktu itu dia menyamar jadi sepupu mas Deno dan mengajak ketemuan denganku.
Alangkah kagetnya diriku, ternyata si Nelda sok alim itu yang menggandeng pacarku. Eh, ternyata dia malah menyerahkan suaminya padaku. Aneh sekali, baru kali ini aku mendapati wanita yang menyerahkan suaminya sendiri kepada selingkuhan suaminya. Tapi itu malah suatu keberuntungan bagiku. Jadi aku tak harus habis tenaga untuk memisahkan mereka. Tapi, aku tak habis pikir, kenapa suaminya sekaya ini dilepas begitu saja.
‘’Ah, betapa bodohnya si sok alim itu,’’ gumamku sembari tersenyum sinis.
‘’Tapi, nggak apa-apa. Kesempatan emas bagiku.’’
Mataku seketika tertuju pada lelaki tampan yang turun dari jenjang. Dia tampak rapi, berpakaian jas abu-abu, celana hitam dan tak lupa dasi bergelayut di lehernya. Dia tampak tersenyum manis dari jauh padaku. Aneh sekali, tadi mukanya masam. Kini tampak bahagia dan tersenyum.
‘’Pasti ada maunya deh,’’ gumamku. Untung saja tak didengar olehnya.
‘’Pagi, Sayang,’’ sapaku.
‘’Pagi juga, Sayangku,’’ sapanya kembali. Dan menghenyak di kursi sebelahku.
__ADS_1
‘’Nggak ada nasi goreng ya, Chik?’’ tanya lelaki yang sudah empat tahun lebih menjadi kekasihku it, dia memandangi sarapan yang tertata indah di meja. Aku menghela napas berat.
‘’Apaan sih, Mas. Kan kamu tahu aku nggak bisa masak selama ini,’’ ketusku.
‘’Kan bisa belajar masak, Sayang,’’ katanya pelan. Yang membuat aku makin kesal dibuatnya.
‘’Lah, kamu berjanji sama aku kalo aku nggak perlu memasak untuk kamu dan kita makan di luar aja. Gimana sih, Mas?’’ sungutku kemudian.
Ya, aku memang wanita yang tak pandai memasak dan aku sangat tak suka melihat yang namanya dapur, apalagi bahan masak mentah itu. Yang ada tangan mulusku ini jadi rusak dan jelek nantinya. Memang sedari kecil aku dimanjakan oleh mami dan papiku, tak pernah aku memasak sekali pun seumur hidupku. Bagiku, jika hendak makan bisa dipesan di luar pakai Gofood atau bisa makan di luar, apalagi kedua orang tuaku orang terkaya di kota ini.
Selama aku berhubungan dengan mas Deno, aku selalu mengajaknya makan di warung nasi Padang. Pertama kali aku mengajaknya makan di luar, dia mengatakan kalau makanan di luar tak sesuai selera perutnya. Tapi aku bodoh amat, aku katakan padanya itu karena dia belum terbiasa dan aku paksa setiap hari makan ke sana. Dan akhirnya dia malah terbiasa, bahkan sudah jadi makanan favoritnya. Aku tak perlu lagi susah payah memasak untuknya dan kini dia bertanya nasi goreng padaku? Bikin aku kesal saja.
‘’Iya deh. Ma’afkan aku,’’ katanya kemudian.
Dia tak kan bisa lama-lama kesal ataupun marah padaku, karena dia takut tak kan dapat jatah dariku. Apalagi aku wanita seksi dan wanita idaman para lelaki, dia pasti takut kehilanganku.
‘’Kamu nggak boleh lagi kayak gitu. Emangnya kamu mau tangan mulusku ini nanti gores kena pisau karena memasak untukmu, Mas,’’ keluhku dengan manja dan memperlihatkan tangan mulusku padanya.
‘’Enggaklah, Sayang. Mana mau Mas,’’ katanya kemudian yang memegang jemariku lalu mengecupnya pelan. Dia paling bisa membuat kesalku lenyap seketika. Membuat hatiku berbunga-bunga saja.
‘’Ya udah. Kita sarapan roti dan susu aja dulu ya,’’ ucapku.
Dia hanya mengangguk sembari tersenyum. Kami pun bergegas menyantap sarapan, tak lupa seperti biasa kami saling suapi.
‘’Ahh, nggak mungkinlah. Secara kan si sok alim itu nggak bisa dandan kayak aku dan bikin Mas Deno mudah bosen.’’
Aku menggeleng berkali-kali dan entah kenapa aku begitu cemburu, sejak dulu malahan. Kalau pacarku pulang ke rumah istrinya, aku selalu mengingatkan agar dia jangan terlalu romantis sama istrinya itu.
‘’Mas, kamu kalo di rumah istrimu jangan terlalu romantis sama dia. Kan aku jadi cemburu,’’ sungutku waktu itu.
‘’Lah, kok gitu? Kan aku harus bersikap seperti layaknya suami istri di depannya, supaya dia nggak curiga sama aku,’’ jawabnya.
‘’Tapi, tetap cintaku lebih besar ke kamu dibandingkan ke dia. Dia membuat aku bosen dan apalagi dia nggak bisa dandan kayak kamu,’’ imbuhnya kemudian.
Entah kenapa aku jadi teringat ketika aku masih awal pacaran dengan mas Deno, waktunya tak begitu banyak untuk bersamaku. Hanya sesekali saja. Dan itu terkadang membuat aku kesal dan berantam dengannya. Siapa yang tak kesal coba, dia lebih memilih bersama wanita si sok alim itu dan selalu menghabiskan waktu dengannya.
Padahal denganku pula setiap waktu dia mengatakan cinta padaku dan aku pun selalu memberikan segalanya untuk lelaki yang kucintai itu. Apa yang diharapkannya pada wanita itu coba? Anak? Aku pun bisa memberikannya, bahkan lebih banyak. Buktinya aku tengah mengandung benihnya sekarang.
Aku menghela napas berat,’’Duh, ngapain sih mikirin itu. Sekarang kan yang penting aku udah mendapatkan lelaki ini sepenuhnya. Nggak ada yang dapat lagi menghalangiku.’’
__ADS_1
‘’Eh, tapi kan dia belum cerai dari istrinya. Bagaimana kalo si sok alim itu bertukar pikiran untuk kembali lagi bersama Mas Deno demi anaknya?’’
Aku berusaha untuk menepis semua pikiran buruk yang menjalar pikiranku.
‘’Kenapa kamu diem aja sejak tadi, Sayang?’’ tanya lelaki tampan itu yang tengah meletakkan gelas yang masih tersisa seperempat susu di sana. Membuat aku terbuyar dari lamunanku.
‘’Ah, enggak. Pengen diem aja,’’ sahutku dingin.
‘’Ini udah jam setengah Sembilan loh, Mas. Yuk berangkat!’’ ajakku kemudian, guna mengalihkan pembicaraan juga. Jangan sampai dia tahu kalau aku cemas jika dia baikan lagi dengan wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu.
Dia tampak mengerjap pelan dan menatapku lama. Aku bergegas melangkah kembali ke kamarku. Kuraih tas bewarna hitam itu, lantas kusandang dan bergegas meraih kunci mobilku di nakas. Ah, iya. Berkas-berkasnya mas Deno belum kuambilkan. Aku kembali melangkah ke kamar dan mencari berkas pentingnya di lemari kecil itu. Ya, tas yang biasa dipakainya ke kantor itu di tempat si sok alim. Untung berkas pentingnya selalu dititipkannya di rumahku.
‘’Nah, ini dia.’’ aku bergegas membawanya dan menutup kembali pintu kamar, lalu melangkah kembali ke ruang makan. Tampak lelaki itu tengah termangu, entah apa yang ada di pikirannya pada saat ini. Atau dia tengah memikirkan si sok alim itu? Ahh, mana mungkin.
‘’Mas!’’ panggilku kemudian dan mendekatinya.
‘’Ah, iya.’’
‘’Ini berkas-berkas kamu aku bawain,’’ kataku sembari menyodorkan berkas-berkas penting yang kutenteng sejak tadi. Dia meraihnya dan menatap berkas itu.
‘’Bener kan, Mas?’’ tanyaku kembali. Dia hanya mengangguk lantas menunjukkan seulas senyuman.
‘’Ayuk kita berangkat!’’ dia mengangguk dan bangkit. Kami bergegas melangkah.
‘’Eh, tunggu, Mas!’’ lirihku. Dia seketika menoleh.
‘’Kamu kan biasanya lewat pintu belakang. Nanti ketahuan sama warga, dan dilaporkan ke Pak RT gimana?’’ ucapku lirih.
Ya, selama beberapa hari ini, tak ada warga di sini yang tahu kalau aku membawa lelaki menginap di rumahku. Jika mereka tahu nanti malah yang ada digebukin warga dan dinikahkan dengan paksa. Jika masalah dinikahkan tak apa-apa bagiku, malah itu yang kuinginkan selama ini. Tetapi ini tentu akan dilaporkan juga pada mami dan papiku yang tengah sibuk di luar kota. Takutnya aku malah dihukum sama mereka dan tak bisa lagi memakai fasilitas yang selama ini diberikan oleh mami dan papiku. Aku tak mau hidup miskin dan malah jadi gelandangan di jalan nantinya.
‘’Ilfeel,’’ gumamku. Bergedik ngeri.
‘’Kamu ilfeel sama aku?’’ dia terperanjat kaget mendengar ucapanku barusan.
‘’Enggak itu maksudku,’’ kesalku.
‘’Sana lewat pintu belakang. Nanti malah ketahuan lagi,’’ ketusku yang mendorong tubuh kekarnya yang masih termangu. Tampak olehku dari balik gorden, ada tetangga. Ngapain tetangga kepo itu di sana?
‘’Mas, sana! Ayuk cepetan!’’ lirihku sembari mengibaskan tanganku ke arah mas Deno yang tak kunjung melangkah. Dia pun bergegas melangkah ke pintu lewat belakang.
__ADS_1
Aku bergegas menutup pintu depan dan menguncinya, yang bagian belakang biarkan pacarku itu yang menguncinya.
‘’Eh, Chika? Kamu kok nggak mengadakan acara nikahmu di sini sih?’’