
‘’Pa, jangan ke mana-mana ya,’’ lirih putriku yang tengah terbaring lemas di tempat tidur. Tampak bibir mungilnya itu sangat pucat.
‘’Iya, Dik. Papa selalu di sini kok,’’ sahutku yang bergegas mendekatinya yang tengah terbaring. Kuusap kepalanya dengan pelan.
‘’Ya Ampun panas banget lagi.’’ Membuat aku terperanjat merasakan suhu tubuhnya yang begitu panas sekali.
‘’Naisya! Sayang, kamu nggak apa-apa kan, Nak?’’
‘’Naisya!’’
Astaga! Ternyata aku hanya mimpi. Berulang kali kuusap mukaku dengan kasar. Apa arti dari mimpiku ya? Atau memang putriku sedang sakit di sana, apalagi si Nelda tak kunjung pulang ke rumah. Aku menghela napas kasar dan mengacak rambutku. Sudah seminggu lebih aku tak pernah ketemu dengan putri kecilku itu. Aku yang ingin bertemu dengannya selalu dihalang oleh kekasihku dan berbagai cara yang dilakukan oleh Chika agar aku tak ketemu dengan putri semata wayangku itu.
‘’Mas, kamu kenapa?’’ suara khas bangun tidurnya membuyarkan lamunanku. Ya, pintu kamar memang tak kututup, biasanya aku dan kekasihku itu sekamar. Kini entah kenapa dia tak mau, atau karena dia tengah mengandung.
‘’Ah, ya. Kamu kenapa bangun, Sayang?’’ kataku pada wanita yang masih mematung di depan pintu kamar itu.
‘’Aku tiba-tiba laper. Jadi pengen makan mi, Sayang,’’ sahutnya dengan suara manja. Kulirikkan mata ke benda yang melingkar di dinding. Pukul 01.00? Jam segini Chika lapar? Tak biasanya dia makan di tengah malam begini. Apa ini karena dia tengah mengandung anakku? Ah, masa iya.
‘’Nelda aja dulu ngidam nggak kayak gini banget,’’ gumamku dalam hati.
‘’Mas! Kok malah bengong?’’
‘’Ah, iya. Kenapa nggak dipesen aja sih, Sayang?’’
‘’Mana ada jam segini orang jualan, Mas. Ada-ada aja kamu deh,’’ katanya dengan nada kesal.
‘’Mas, bikini aku ya mi rebus. Ini karena anak kamu nih yang minta,’’ katanya dengan nada manja sembari mengelus perutnya yang masih tampak rata.
Membuat aku menghela napas berat. Selama aku jadi pacarnya dia tak pernah menyuruhku untuk memasak, kami selalu makan di luar atau dipesan melalui gofood. Ketika bersama Nelda pun aku tak pernah disuruhnya untuk memasak, bahkan dia yang memasakkan selera untukku. Lain halnya dengan sekarang, Chika yang tengah mengandung anak darah dagingku meminta aku untuk memasak. Ah, aku saja tak pernah memasak.
‘’Kamu nggak mau, Mas? Masa tega kamu membiarkan aku memasak mie. Nanti tangan mulusku ini tergores pisau atau nanti tanganku ini kena minyak panas gimana? Apa kamu nggak sayang sama aku?’’
‘’Iya, Sayang. Aku mau kok memasak mie untuk kamu.’’ Dia tampak tersenyum manis, aku bergegas bangkit dan melangkah menuju dapur milik kekasihku itu, walaupun aku menguap berkali-kali.
Kuraih mi di lemari dan aku sebenarnya bingung, memasak mi itu diberi apa saja bahannya. Ah iya, bawang merah dan tomat kali ya. Aku bergegas mengambilnya, lalu mengiris bawang merah itu dengan pelan, mataku begitu perih rasanya.
‘’Aduuh! Kayak gini amat ya. Mana aku belum pernah masak mie lagi,’’ keluhku sembari mengiris bawang merah. Membuat air mataku menetes, karena saking perihnya mataku. Udah ahh! Saatnya memotong tomat.
‘’Arrgh! Sialan, malah tanganku yang kena,’’ upatku yang meringis kesakitan, bergegas kumenghisap darah tanganku.
Beberapa menit kemudian, mi rebus ala Deno sudah jadi. Entah bagaimana rasanya, aku pun tak tahu. Aku segera menyajikannya dan bergegas membawanya ke ruang makan. Kekasihku pasti sudah menunggu dari tadi.
‘’Hem, dari baunya aja wangi banget. Kayaknya enak deh,’’ gumamku yang menghidu mi rebus yang tengah kubawa.
‘’Tadaa! Ini dia mie rebus ala Deno!’’ aku bergegas menghidangkannya di depan wanita yang berhasil membuat aku mabuk kepayang itu.
__ADS_1
‘’Kok lama sih, Mas,’’ keluhnya kemudian. Membuat aku menghela napas pelan.
‘’Kan kamu tahu Sayang, kalo aku selama ini nggak bisa masak.’’ Aku duduk menghenyak di sebelahnya yang terdapat kursi kosong.
‘’Iya, aku tahu. Anggap aja ini sebagai latihan masak bagimu. Apalagi sebentar lagi kita akan nikah, Mas,’’ katanya tersenyum lebar.
Aku mengerjap,’’Maksud kamu, aku yang masak gitu?’’ ulangku kembali. Dia tampak mengangguk. Membuat aku menghela napas berat. Dapat kekasih sexy dan pintar berdandan. Eh, malah manjanya minta ampun.
‘’Kita cari aja ART. Nggak mungkinlah aku yang masak, Sayang. Aku kan kerja dan apalagi aku nggak bisa masak,’’ kataku pelan yang mencoba meredam rasa kesal yang hadir. Dia tampak terdiam membisu.
‘’Apa pacarku itu ngambek? Kadang orang hamil aneh-aneh aja sikapnya,’’ gerutuku dalam hati. Dia masih menatap mi yang mengepul di depannya.
‘’Kamu makan dulu mi-nya ya. Setelah itu kita tidur lagi, aku juga masih ngantuk banget nih.’’ Aku menguap berkali-kali. Tak biasanya jam segini kami terbangun.
‘’Iya, tapi temenin dulu aku di sini ya,’’ pintanya dengan manja, mi masih belum disentuhnya sama sekali. Aku hanya mengangguk dan tersenyum, tampak dia mulai menyuap mi ke mulutnya. Di saat itu juga aku mulai cemas. Aku tak tahu rasa mi itu, entah hambar, asin atau bagaimana.
‘’Mas, ini mi atau apa sih. Asin banget,’’ upatnya yang bergegas meraih air putih. Membuat aku tertawa, namun aku berusaha menahan tawaku. Bagaimana aku tak tertawa memandangi ekspresi wajahnya itu. Kututup mulut sembari menahan tawa.
‘’Udahlah, Mas! Kamu aja yang makan!’’ Dia menghempaskan sendok dan garpu yang membuat aku terperanjat dibuatnya. Lantas dia bergegas bangkit dan melangkah. Aku berusaha mencegahnya, tampak dari raut wajahnya yang begitu kesal.
‘’Sayang, ma’afkan aku ya. Aku kan udah bilang nggak pandai masak, kamu malah tetap nyuruh aku,’’ lirihku yang bergegas meraih tangannya, namun dia menepis dengan kasar.Tanpa bicara apa pun dia bergegas melangkah dan memasuki kamarnya, aku menuruti langkahnya seketika. Eh, pintu kamarnya malah ditutup dengan kasar.
‘’Sayang! Buka pintunya. Jangan kayak gini sama aku!’’ teriakku disertai mengetuk pintunya berulang kali, namun dia tak menyahuti.
Aku menghela napas gusar dan mengacak rambutku. Aneh-aneh saja sikap Chika selama dia mengandung. Tak biasanya dia suka ngambekan seperti ini. Dulu istriku tak seperti dia walaupun tengah mengandung.
‘’Iya, kalo kamu nggak mau aku berteriak makanya jangan ngambekan begini.’’
‘’Aku nggak ngambek lagi kok. Cuman laper aja, Mas,’’ keluhnya.
‘’Ya syukurlah. Ngemil apa kek, kayaknya ada di kulkas. Aku ambilin ya.’’
‘’Nggak usah, Mas. Aku mau istirahat dulu.’’
‘’Tapi kamu nggak marah lagi sama aku kan, Sayang?’’
‘’Enggak, Mas. Kamu istirahat sana, nanti kamu malah ngantuk di kantor lagi,’’ sahutnya kemudian.
‘’Iya, Sayang. Aku tidur dulu ya. Love you.’’ Tak terdengar olehku balasan darinya.
Aku pun bergegas kembali ke kamar yang belum lama kuhuni. Setibanya di kamar, kuhempaskan tubuh yang terasa lelah. Mataku begitu terasa berat saking mengantuknya. Aku harus istirahat, mudahan saja lebih awal bangunnya. Sebelum ke kantor aku harus menyempatkan diri untuk ke tempat Naisya. Aku harus mencek keadaannya sendiri, agar aku tak selalu kepikiran dengan putriku itu.
Beberapa jam kemudian. Aku kembali terbangun, walaupun masih terasa mengantuk berat. Namun aku berusaha menghilangkan rasa kantuk itu dan membuka mataku dengan paksa. Aku bergegas duduk dan mengumpulkan nyawa terlebih dahulu. Berkali-kali aku menguap. Mataku tertuju pada benda yang melingkar di dinding.
‘’Jam 06.00?’’ Berkali-kali aku mengusap mata. Bergegas aku meraih handuk dan melangkah ke kamar mandi.
__ADS_1
Beberapa menit, aku telah selesai melakukan ritual. Langsung aku mengenakan baju kantor, jas bewarna cokelat susu yang dilengkapi dengan dasi dan celana levis bewarna hitam pekat. Aku mematut diriku ke cermin.
‘’Tampan banget kamu, Deno. Pantes aja Chika sampe lengket sama kamu,’’ gumamku dengan bangga.
Ya, sejak aku dibawa oleh Nelda ke tukang perawatan pria, membuat aku makin tampan dan apalagi pakaianku yang dipilihkan olehnya adalah pakaian anak-anak muda zaman now. Aku tak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh wanita yang masih berstatus sebagai istriku itu. Dia membawaku ke perawatan dan salon hanya untuk mempertemukan aku dengan selingkuhanku, dia malah menyerahkan aku pada Chika. Aneh-aneh saja si Nelda. Hem, tapi bukannya itu yang aku mau selama ini.
‘’Ah, iya. Aku harus pergi ke tempat putriku dulu.’’ Aku bergegas melangkah dan meraih benda pipihku.
Dengan pelan-pelan aku melangkah lewat belakang rumah milik Chika, sebelum itu aku sudah memesan maxim karena tempatnya yang lumayan jauh dari sini. Ah, untung saja di belakang rumahnya Chika ada jalan yang bisa dilewati kendaraan beroda dua atau pun empat. Tampak maxim sudah tiba, aku mengedarkan pandanganku. Ah aman! Sepertinya jam segini tetangga belum pada keluar. Drivernya bergegas membukakan pintu untukku, akubergegas menaiki maxim itu. Driver pun langsung tancap gas.
"Kalo saja mobilku nggak dibawa si sok alim itu. Pasti sekarang aku nggak bakalan kayak gini. Mana dia kecelakaan lagi, entah gimana nasip mobilku sekarang," gerutuku dalam hati.
Kulirik benda yang melingkar di tanganku. Pukul 06.30?
‘’Chika pasti nanti nyariin aku,’’ gumamku yang bergegas mengeluarkan benda pipih. Aku langsung membuka aplikasi bewarna hijau, kuketikkan pesan untuk kekasihku itu.
‘’Sayang, ma’af ya. Aku udah duluan berangkat. Aku ada keperluan.’’
‘’Nanti kamu sarapannya di kantor aja ya. Atau bareng aku nanti sarapannya.’’
Masih centang satu? Itu berarti dia belum online.
Tak lama kemudian, maxim yang kutumpangi sudah berada di depan rumah yang tak asing lagi bagiku. Aku bergegas turun, lantas menyerahkan ongkos pada diriver itu.
‘’Makasih, Mas,’’ kataku. Dia tampak mengangguk lalu tersenyum. Maxim pun hilang dari pandanganku. Mataku tertuju pada rumah mewah yang masih tertutup pagar besinya. Apa kuhubungi bibi Sumi aja kali ya?
Aku bergegas menghubungi kontak yang kuberi nama ‘’Bibi Sumi’’
Berdering..
Tapi tak diangkat. Aku menghela napas berat. Kenapa si bibi malah tak mengangkat telpon dariku? Atau karena si Nelda? Coba kuulangi lagi.
‘’Arrgh!’’ aku mengepalkan tangan. Rasanya amarahku sudah berada di ubun-ubun. Aku tahu si bibi itu tengah online, tetapi kenapa dia enggan untuk mengangkat telpon dariku.
‘’Apa aku memanjat aja kali ya?’’ kataku sambil menatap pagar yang begitu tinggi. Ya, tak ada pilihan lain selain aku memanjat. Aku ingin bertemu dengan putriku, aku ingin memastikan keadaannya. Dengan pelan aku memanjat pagar dan berpegang erat. Walau sebenarnya aku sedikit takut yang namanya ketinggian.
‘’Sayang! Mas, kamu ngapain manjat sih? Turun!’’ suara yang tak asing lagi bagiku. Kenapa dia bisa tahu jika aku sedang berada di sini? Aku melirik ke bawah.
‘’Kamu ngapain ke sini?’’ aku malah bertanya kembali.
‘’Aku nyariin kamu, Mas,’’ keluhnya.
‘’Sekarang juga kamu harus turun. Nanti kamu jatoh gimana? Aku nggak mau ya cuman karena kamu mau ketemu anak kamu, malah kamu yang celaka nanti,’’ kesalnya sembari melipat tangan di dada.
‘’Sayang, tolong ngertiin aku sekali ini aja. Aku mau ketemu sama anak aku,’’ sahutku lirih.
__ADS_1
‘’Ya udah, kamu boleh ketemu sama anak kamu. Jangan harap kamu bisa menikah denganku!’’