
‘’Kita sama-sama punya dendam sama keluarga Setia, lelaki brengsek. Kamu mau kan bekerja sama untuk balas dendam?’’
Membuat mataku membulat. Lidahku seketika kelu dibuatnya. Tante Siska mengajakku untuk bekerja sama balas dendam? Aku mengerti bagaimana rasa pedih dan sakit hati wanita separuh baya itu. Aku tahu beliau tentu sangat terpukul atas kehilangan kembarannya yang meninggal akibat bunuh diri.
Pun juga, aku merasakan hal yang sama. Hatiku begitu sakit dan hancur ketika wanita pelakor itu berselingkuh dengan suamiku selama bertahun-tahun hingga wanita tak beres itu mengandung benih suamiku. Sakit, sungguh sakit yang aku rasakan. Tapi, aku bukan tipe orang yang suka balas dendam. Seberapapun tergores dan hancurnya hatiku, aku tak kan mau untuk balas dendam. Biarkan Allah saja yang akan membalas semua perbuatan mereka. Setiap perbuatan pasti ada balasan dari Sang Maha Kuasa.
‘’Nelda?’’ Membuat aku tersadar dari lamunanku.
Aku menarik napas pelan lalu menghembuskannya dengan perlahan. Kucoba untuk menyusun kata-kata yang tepat untuk menanggapi ucapan Tante Siska, semoga saja alasanku bisa dimengerti oleh wanita separuh baya ini. Aku berharap setelah aku berkata seperti ini beliau mengundurkan niat untuk membalas dendamnya.
‘’Silahkan dinikmati, Mba, Bu.’’ Pelayan café datang membawa pesananku dan menghidangkannya di depan kami. Membuat aku menghela napas lega.
‘’Hem, makasih ya, Mba.’’ Wanita berkerudung itu mengangguk lalu tersenyum ramah. Dia bergegas kembali melanjutkan pekerjaannya.
‘’Diminum dulu, Tan,’’ kataku yang melihat Tante Siska memandangku dengan tatapan yang sulit untuk kuterjemahkan.
Kuteguk minuman yang telah disuguhkan oleh pelayan. Kulirik sejenak Tante Siska tengah menyesap kopi espresso. Namun, dia masih menyelidiki wajahku.
‘’Bagaimana Nelda?’’ ulangnya sambil meletakkan cangkir yang masih tersisa minuman.
Kembali kuatur napas,’’ Tante, aku mengerti apa yang Tante rasakan. Jujur saja, aku merasakan hal yang sama. Sakiit banget hatiku ketika tahu kalo Mas Deno berselingkuh di belakangku selama bertahun-tahun. Hancur banget aku, Tan.’’ Aku kembali mengenggam jemari wanita separuh baya itu.
‘’Ta—tapi, dendam nggak akan menyelesaikan masalah kita, Tan. Apalagi kembaran Tante udah di alam sana. Beliau nggak akan tenang, kalo Tante nggak mengikhlaskan kepergian beliau. Maksudkuu, kalo kita balas dendam. Itu namanya kita nggak mengikhlaskan kepergian Tante Mita. Kasihan kan beliaunya di alam sana. Ya, aku paham rasa sakit dan kehilangan yang Tante rasakan. Tapi, alangkah baiknya kita serahkan semua ini pada Ya Allah ya, Tan,’’ lanjutku sambil menatap sendu kedua netra milik mama sahabatku itu. Terdengar helaan napas gusar dari Tante Siska.
‘’Kamu ada benarnya juga, Nel. Tapi, Tante…’’ Air mata beliau kembali berjatuhan. Aku mengangguk.
‘’Aku paham kok, Tan. Tapi kita harus belajar untuk mengikhlaskannya ya. Aku yakin kita pasti bisa.’’ Aku bergegas memeluk Tante Siska.
‘’Tante nggak mau kan, kalo beliau nanti malah nggak tenang di alam sana.’’ Beliau melepaskan pelukan dengan pelan lalu mengusap buliran air matanya.
‘’Akan Tante coba. Walaupun berat,’’ lirih Tante Siska dengan suara bergetar. Ada rasa lega yang menyelusup di hatiku.
‘’Lalu bagaimana dengan kamu?’’ Aku menghela napas berat.
__ADS_1
‘’Aku serahkan semuanya pada Allah. Biarkan Dia yang membalas semua itu. Aku percaya setiap perbuatan pasti ada balasannya dari Allah,’’ sahutku mantap.
‘’Terbuat dari apa sih hati kamu, Nel?’’
‘’Cuman lelaki brengsek yang menyiakan-nyiakan wanita kayak kamu,’’ imbuhnya yang membuat aku tersenyum lebar.
‘’Terkadang kita harus merelakan sesuatu yang sangat kita cintai, Tan. Ya, mungkin itu yang terbaik untuk kita menurut Allah.’’
‘’Dan lelaki seperti Mas Deno, nggak pantas untuk aku pertahankan. Sampah harus dibuang pada tempatnya.’’ Aku berucap dengan tegas.
‘’Tante setuju dengan semua ucapan kamu. Untuk apa mempertahankan lelaki bajingan yang suka berselingkuh. Daripada hati kita hancur setiap saat. Lebih baik dilepaskan.’’ Wanita separuh baya itu membalas mengenggam jemariku.
‘’Daripada kita membahas lelaki itu. Lebih baik kita makan dulu yuk, Tante,’’ ajakku yang menyudahi topik tentang lelaki bajingan itu.
Ya, aku tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Aku juga ingin merasakan bahagia setiap hari. Mengingat lelaki itu membuat lukaku yang kering seakan kembali basah.
‘’Kita udah lama nggak makan bareng kayak gini di luar ya kan, Tan?’’
Tante Siska mengangguk lalu tersenyum sambil menghapus buliran air matanya. Kami pun langsung menyantap stick yang sedari tadi diacuhkan. Rasanya aku sudah lega dan senang sekali. Akhirnya Tante Siska hatinya bisa melunak untuk balas dendam. Aku berharap beliau benaran sudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi beberapa tahun nan silam dan aku juga berharap hubungan Fani dengan mamanya segera membaik.
***
‘’Oh iya, udah jam 3 lewat nih, Tan. Naisya pasti udah bangun,’’ kataku sambil melirik benda yang melingkar di tanganku.
‘’Iya, Nel. Tante pun mau ke rumah sakit menjenguk Om kamu.’’
‘’Ya udah. Biar aku anter aja ya, Tan. Aku ke kasir dulu.’’
‘’Nggak usah, Nel. Tante pake taxi aja ya.’’
‘’Biar aku aja yang nganterin Tante,’’ sanggahku yang bergegas bangkit lalu melangkah ke kasir.
Aku langsung menyerahkan kartu kredit. Setelah selesai membayar, aku kembali menghampiri Tante Siska.
__ADS_1
‘’Jadi nggak enak Tante sama kamu.’’ Wanita separuh baya itu bangkit dan menatapku sambil tersenyum lebar.
‘’Santai aja, Tan. Kita kan udah lama nggak bertemu. Apalagi makan bareng kayak gini.’’ Aku tersenyum memandangi mama sahabatku itu.
‘’Daripada uangnya kamu habisin untuk traktir Tante lebih baik untuk belanja kebutuhan anakmu, Nel. Kapan-kapan biar Tante ganti uangmu ya,’’ kata wanita separuh baya itu yang berhasil membuat aku terkekeh. Aku langsung menggeleng.
‘’Tan, kalau belanja keperluan cucu Tante itu Alhamdulillah ada aja rezekinya.’’
Tante Siska tak tahu kalau aku seorang Penulis yang punya penghasilan besar, apalagi tabunganku masih ada. Ditambah perusahaan papa yang diperuntukkan untuk suamiku, kini sudah jatuh ke tanganku kembali karena lelaki itu mengingkari janji yang sudah disepakati dengan almarhum papa, sesuai isi surat perjanjian yang sudah ditanda tangani. Ya, sebentar lagi aku akan menginjakkan kaki ke perusahaan itu dan sebentar lagi aku akan punya jabatan di sana.
‘’Alhamdulillah kalo gitu, Nel. Kamu itu sekarang single parents. Harus pandai-pandai berhemat.’’
Beliau berucap demikian mungkin karena melihat dari penampilanku yang sederhana ini. Aku hanya tersenyum lantas mengangguk. Kami pun bergegas melangkah ke luar dari café menuju parkiran kendaraan. Sebelum pulang ke rumah, kuantar dulu Tante Siska ke rumah sakit.
****
Si roda empat melaju membelah jalanan. Aku yang tengah fokus menyetir tiba-tiba benda canggih itu berdering di dalam tasku.
‘’Handphone kamu kan, Nel? Angkatlah, siapa tahu penting. Atau mau Tante bantu ngambilin handphone kamu?’’
‘’Biar aku aja, Tan. Aku bisa kok.’’ Aku tersenyum melirik wanita yang duduk di sebelahku.
Dengan hati-hati tangan sebelah kiriku mengambil benda canggih itu di tas yang tengah kusandang. Sedangkan tangan kanan kugunakan untuk menyetir. Aku lirik sejenak layarnya, sesekali melihat ke depan.
‘’Reno? Mau apa lelaki itu?’’ Keningku mengernyit dan kembali meletakkan benda canggih itu.
‘’Siapa, Nel? Kok nggak jadi diangkat?’’
‘’Nggak penting, Tan,’’ sahutku sambil tertawa kecil lalu fokus kembali menyetir.
Mungkin beliau akan terheran dengan sikapku ini. Ah, itu benda canggih kembali berdering. Sepertinya masih orang yang sama menghubungiku.
‘’Dasar lelaki! Udah diacuhkan, masiih aja menganggu. Kurang kerjaan kali ya,’’ gumamku dalam hati yang merasa kesal.
__ADS_1
Bersambung.