Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Digerebek Warga


__ADS_3

POV Deno


‘’Aku tuh kesal banget sama si Dodo. Disuruh kerja aja ngga becus. Padahal aku udah membayar dia mahal.’’ Bagaimana aku tak kesal pada lelaki itu, berapa pun uang yang dia mau selalu kukirimkan hingga uangku habis dibuatnya.


Apalagi aku dapat uang itu dari kekasihku. Kalau tahu Chika, dia pasti akan marah padaku. Karena uang pemberiannya bukan untuk kebutuhan sehari-hari kupergunakan. Ditambah surat perjanjian itu tak kunjung berada di tanganku. Dasar! Kerja itu saja tak becus! Aku tak punya banyak waktu dan tak bisa bermain-main lagi. Aku harus memaksa Dodo supaya dia bisa mengambil surat itu, bagaimana pun caranya.


Aku bergegas merogoh saku-saku dan menekan nomor baru yang tadi kusimpan. Tadi katanya dia mengganti nomor baru, dia mengatakan lewat pesan singkat yang dikirimnya. Belum sempat aku menghubungi nomor yang tadi kusimpan. Ponsel seketika berdering.


‘’Lah, katanya tadi Dodo ganti nomor.’’


‘’Do? Bukannya kamu ganti nomor? Trus kenapa pakek nomor ini lagi?’’


‘’Maksud Bapak gimana? Orang aku makek nomor ini doang kok.’’ Membuat aku terkesiap mendengar ucapan lelaki ini. Lalu yang mengirimiku pesan tadi, siapa?


‘’Pak, aku udah dipecat.’’


‘’Hah? Maksud kamu dipecat si Nelda? Kenapa bisa?’’


‘’Dia tahu kalo aku bekerja sama sama Bapak.’’


Apa orang suruhan si Nelda yang mengirimiku pesan, dia berpura-pura jadi si Dodo. Aduh, kenapa aku mudah percaya! Kenapa semua ini berantakan!


‘’Ya ampun! Teledor banget nih orang.’’ Aku bergegas menekan tombol.


Kulemparkan benda canggih itu ke tempat tidur. Aku mengusap rambut dengan kasar. Kenapa semua ini bisa terbongkar? Padahal aku sudah membayar mahal ke lelaki yang bernama Dodo itu, dia mengaku sudah mahir. Tapi ternyata seperti ini kenyataannya. Surat perjanjian belum dapat diambil oleh lelaki itu, dia sudah dipecat lebih duluan dan aku sudah mengiriminya banyak uang. Namun, tak ada hasil.


‘’Apa aku aja yang turun tangan kali ya?’’ Seketika terasa olehku tangan mulus sang kekasih yang entah sejak kapan dia memasuki kamar yang kutiduri. Aku menoleh.


‘’Sayang, kamu kenapa?’’


Jika aku menceritakan pada Chika, dia pasti akan memarahiku. Karena aku yang tak berhasil merebut surat perjanjian itu. Aku menggeleng cepat, dia bergelayut manja di lenganku.


‘’Kamu takut ya kalo Mami memaksa aku untuk ikut sama dia?’’ tebaknya.

__ADS_1


Ah iya, aku malah lupa. Kalau maminya akan tiba nanti sore, padahal sudah berulangkali diundur-undur kedatangannya ke sini. Karena dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Ah, banyak sekali beban pikiranku sekarang. Kepala terasa pecah dibuatnya.


‘’Kamu tenang dulu dong, Deno.’’


‘’Ya iyalah aku takut, Sayang. Nanti kalo beneran kamu mau pergi sama Mami. Aku gimana dong? Aku nggak bisa hidup tanpa kamu soalnya,’’ rengekku sambil menatap kedua bola mata indahnya.


Ya, hanya Chika harapan satu-satuku. Hanya dia tempat aku menopang hidup sekarang, dia yang membiayai kebutuhan sehari-hari sejak semua karyawanku mengundurkan diri. Sebegitu cintanya dia padaku hingga mau memberikan segelanya, mulai dari biaya hidup sehari-hari dan kini pun dia tengah mengandung anak darah dagingku.


Dia memang berbeda dari Nelda, wanita sok suci yang pernah kukenal. Betapa bodohnya aku, andaikan saja aku memilih untuk menceraikan Nelda dan menikahi Chika lebih dulu pasti aku akan bahagia hidup bersamanya.


Entah kenapa, ketika memandangi kekasihku ini seketika beban hidupku terasa hilang.


‘’Kalo gitu aku memilih pergi sama Mami. Biar kamu ngerasain hidup tanpa aku,’’ sungutnya manja.


Entah kenapa, hari ini dia begitu terlihat manja. Tak seperti hari-hari sebelumnya. Apa ini bawaan dari bayi yang dia kandung?


‘’Ya, jangan gitu dong. Kamu harus di sini sama aku. Apalagi sebentar lagi bayi ini akan lahir,’’ kataku sambil mengelus perutnya. Dia masih nyaman bergelayut di lenganku.


‘’Tapi kamu harus ceraikan si Nelda secepatnya. Kenapa sih masih ditunda? Atau jangan-jangan kamu masih cinta sama si sok suci itu?’’ Dia bergegas berlari ke luar dari kamar, sepertinya dia merajuk.


‘’Widih, bagi dong pizzanya, Sayang,’’ kataku sambil mendekati wanitaku itu. Dia tak menyahut, malah memasukkan makanan itu ke mulut. Dia seperti menikmati pizza yang disantapnya.


‘’Aku laper, Mas. Kamu makan buah yang ada di kulkas aja ya,’’ sahut Chika tanpa memandang ke arahku, dia sibuk menikmati pizza lalu dibawanya menghenyak di kursi.


Seketika aku menelan saliva. Bisa-bisanya kekasihku seperti ini perlakuannya padaku. Semakin ke sini, semakin aneh. Apa karena dia yang sedang mengandung.


‘’Ah, tapi si Nelda nggak begini amat ketika dia hamil Naisya.’’


‘’Buah? Mana cukup, Sayang. Emang kamu mau aku kelaperan?’’ Aku ikut menghenyak di samping kekasihku itu.


Wanita yang sudah empat tahun jadi kekasihku itu tampak lahap sekali menyantap pizza. Dia seringkali merasa lapar, tak seperti biasanya. Apa ini karena dia tengah mengandung? Wanita ini banyak sekali perubahannya selama mengandung. Cukup menguji kesabaranku. Kalau saja dia tak seksi dan tak cantik, mungkin aku akan kehilangan kesabaran. Mungkin aku akan memarahinya karena sikap wanita itu yang banyak berbeda.


Aku harus menuruti kemauannya dan aku harus menuruti apa katanya. Contohnya saja bertemu dengan anakku yang tak diperbolehkan, hingga membuat aku diam-diam saja ketemuan dengan Naisya. Habisnya aku rindu sekali dengan anakku itu, tapi tak diizinkan oleh kekasih. Satu-satu jalannya adalah secara diam-diam ketemu dengan buah hatiku. Tentu ini atas rencanaku dengan si Dodo itu.

__ADS_1


Seketika terdengar suara hiruk-pikuk di luar sana. Membuat aku dan Chika saling bertatapan, dia menghentikan suapnya lalu meletakkan kembali pizza di meja.


‘’Keluar kalian! Dasar mesum! Jangan membuat maksiat di sini!’’ Orang-orang berteriak di luar sana.


Gawat! Kenapa warga bisa tahu kalau di rumah Chika ada lelaki. Padahal aku selalu lewat pintu belakang untuk memasuki rumahnya selingkuhanku. Bagaimana ini?


‘’Sa—sayang, gimana nih? Aku nggak mau digebukin sama warga,’’ lirihku sambil mengusap rambut frustasi.


‘’Mas, kamu tenang dulu.’’ Chika bergegas bangkit dan melangkah. Mau ke mana dia? Ternyata kekasihku itu mengintip warga di balik gorden.


‘’Kita harus kabur dari sini.’’ Wanita itu bergegas menarik tanganku. Sementara di luar sana sudah heboh suara warga.


‘’Ta—tapi, bagaimana caranya, Sayang?’’


‘’Husshh, ikutin aja aku. Satu-satunya jalan kita harus kabur. Kamu nggak mau kan digebukin warga?’’ Aku dan dia melangkah ke dalam kamar. Selingkuhanku itu bergegas membuka jendela dengan lebar.


‘’Kita keluar lewat jendela?’’ tanyaku penasaran.


Dia langsung mengangguk dan memberi kode agar aku mengikutinya. Chika melangkah melewati jendela, membuat bajunya makin terangkat ke atas hingga menampakkan kulit putih nan mulus. Tentu membuat aku makin cinta. Tanpa pikir, aku pun mengikuti selingkuhanku.


‘’Mau ke mana kalian, hah?’’ Membuat aku dan Chika terkesiap memandangi tiga orang lelaki, pasti warga di sini.


‘’Ka—kalian mau apa?’’ kata selingkuhanku dengan terbata. Tiga orang lelaki itu makin mendekat. Membuat kami tak bisa berlari, karena sudah dikepung oleh mereka.


‘’Jangan banyak bacot. Kita tangkap saja mereka!’’


Aku berusaha menghindar dengan cara melayangkan tinju dan pukulan pada lelaki itu. Dua orangnya terhuyung ke tanah karena terkena tendanganku. Namun, kekasihku berteriak.


‘’Mas, tolong aku!’’ teriak wanitaku yang sudah dicekal tangannya oleh lelaki yang bertubuh tegap.


Belum sempat aku melayangkan tendangan, tubuhku seketika terhuyung ke tanah. Aku berusaha untuk bangkit, hendak membalas serangannya. Belum sempat aku bangkit, tendangan dan pukulan kembali dilayangkan pada tubuhku. Membuat aku meringis kesakitan dan mengupat. Seketika Chika berteriak sambil menangis.


‘’Mas Deno!’’

__ADS_1


‘’Hentikan!’’ Tubuhku terasa tak berdaya. Kalau begini bagaimana caranya aku bisa lolos dari mereka.


Bersambung.


__ADS_2