
‘’Tapi bagaimana Bibi bisa berjanji kalo Mas Reno terus saja memaksa. Dia itu paling nggak bisa kalo Ibu sedih atau Ibu dalam bahaya. Karena dia cinta banget sama Ibu.’’
Ucapan bibi mampu membuat aku terkesiap. Jadi selama ini dia menyukaiku? Itu alasannya selama ini membantuku? Ah, tak mungkin! Si bibi pasti cuman bercanda, tapi ekspresinya tampak serius.
‘’Bi, apaan sih. Bibi pasti bercanda,’’ kataku terkekeh dan menggeleng berkali-kali.
‘’Buat apa Bibi bercanda sama Ibu? Tapi, apa nggak bisa Ibu menilai sendiri bagaimana Mas Reno memperlakukan Ibu?’’
Membuat aku kembali terpikir bagaimana lelaki itu yang selalu membantu dan menjagaku selama di rumah sakit. Dia begitu sangat memperhatikanku, mulai dari makanan. Dia tak membolehkanku memakan makanan dari rumah sakit. Hingga membuat dia selalu membelikanku nasi Padang di luar. Satunya lagi, ketika aku dibawa dan disekap oleh orang jahat yang kuyakin adalah suruhan mas Deno atau si pelakor.
Dia juga yang berhasil menyelamatkanku walaupun sesekali dia terkena pukulan oleh orang jahat itu. Jadi semua perlakuannya yang begitu baik padaku, ternyata di balik itu semua dia menaruh hati padaku? Kenapa aku tak merasakan hal itu? Kenapa aku tak menyadari kalau lelaki itu menaruh rasa padaku? Apa dia tak sadar kalau aku masih berstatus sebagai istri orang lain.
Walaupun nantinya aku akan diceraikan oleh suamiku, itu tak kan membuat aku berniat untuk dekat dengan lelaki lain. Aku sudah trauma. Cukup sekali aku seperti ini. Aku tak mau lagi jatuh pada lubang yang sama untuk ke dua kalinya. Aku hanya ingin fokus untuk membesarkan dan mendidik buah hatiku.
‘’Ta—tapi aku nggak menyangka kalo dia akan menyukaiku, Bi,’’ lirihku dengan terbata.
‘’Nggak! Ini belum terlambat, Bi. Aku harus menjauhi lelaki itu,’’ lanjutku yang membuat si bibi terkesiap.
‘’Bu, kenapa? Dia laki-laki baik kok,’’ katanya lirih dan menatapku dengan tatapan ynag sulit untuk kuartikan. Baik? Tidak! Si bibi belum kenal sepenuhnya dengan lelaki itu. Ya, bukan su’udzon atau bagaimana.
Kenyataannya memang seperti itu sekarang. Sulit mencari lelaki yang benar-benar tulus mencintai kita. Contohnya saja sudah banyak sekali berita beredar di televisi bahwa lelaki berselingkuh di belakang istrinya. Aku berjanji pada diriku, tak kan mudah percaya lagi pada yang namanya lelaki.
‘’Ma’af, Bi. Tapi aku sekarang mau fokus dulu untuk membesarkan Naisya.’’ Aku bergegas bangkit dan meninggalkan si bibi yang masih terayun dalam lamunan. Aku melangkah menuju kamar. Seketika kulihat putri semata wayangku itu sudah terbangun dan mengocek matanya.
‘’Duuh! Anak sholehah Mama udah bangun nih ya?’’ Aku mendekatinya dan mengecup kening putriku.
‘’Ma, tadi Adik ketemu Papa,’’ ungkapnya yang membuat aku terkesiap.
‘’Papa?’’ ulangku yang diangguki oleh anakku itu.
‘’Adik mimpi Papa ya, Nak?’’ tanyaku kembali.
‘’Bukan, Ma. Ketemu beneran.’’ Membuat aku semakin terheran. Kapan dia bertemu dengan papanya? Kapan? Kok bisa dia bertemu dengan lelaki itu? Atau ini hanya mimpinya saja?
‘’Tadi ketika Adik pergi sama Om Dodo, trus ketemu deh sama Papa. Tapi Papanya nggak mau pulang,’’ sungutnya yang membuat aku semakin terkesiap. Jadi, maksud anakku tatkala si Dodo mengajaknya untuk membeli es krim? Kenapa bisa? Kenapa si bibi dan si Dodo tak mengatakan padaku?
‘’Apa Dodo itu—‘’
‘’Ah, tapi nggak mungkin.’’ Aku menepis segala pikiran buruk yang hadir.
‘’Baiknya kutanyakan dulu ke Dodo tentang kecurigaanku ini.’’
‘’Ma?’’ panggilnya yang mampu membuat aku tersadar dari lamunan.
‘’Ah, iya Sayang. Adik mau dibuatkan makanan apa sama Bibi?’’ Dia menggeleng seketika.
‘’Kalo gitu kita cuci muka dulu ya. Setelah itu kita main deh,’’ ajakku kemudian yang disahut dengan anggukan olehnya.
Karena hari begitu dingin, jadi Naisya cuci muka saja. Aku bergegas membawa Naisya ke kamar mandi yang berada di kamarku. Beberapa menit telah selesai. Aku langsung menglap muka mungilnya dengan handuk. Kugendong Naisya ke ruang mainannnya.
‘’Adik tunggu dulu di sini ya. Mama buatkan susu untuk Adik dulu,’’ kataku yang menurunkan Naisya dari gendongan.
Dia mengangguk. Aku bergegas melangkah menuju ruang makan. Kubuka lemari es, Alhamdulillah masih ada stock susu untuk anakku. Langsung saja kubuatkan untuknya.
‘’Bu? Biar Bibi yang bantu ya.’’ Wanita separuh baya itu bergegas menghampiri aku yang tengah mengisi susu bubuk ke gelas bewarna putih.
‘’Makasih, Bi. Biar aku aja.’’ Tanganku masih sibuk bekerja.
__ADS_1
‘’Ibu kesal sama Bibi?’’ lirihnya yang mengintimidasi wajahku.
Kasihan juga kalau aku bersikap dingin kembali ke bibi. Ya, dia tak salah apapun. Tapi aku kesal, kenapa harus lelaki itu yang membantu bibi. Kenapa bibi selalu menerima bantuan dari lelaki itu? Emang dia tak bisa menolak dan emang dia tak bisa mencari bantuan dari orang lain?
‘’Kamu nggak boleh kayak gini, Nel. Kesampingkan dulu egomu. Cuman Bibi Sum sekarang yang kamu punya,’’ gumamku dalam hati mencoba untuk mengingatkan diri sendiri.
Aku menghela napas pelan ,’’Ma’afkan aku yah, Bi? Jujur, aku memang—‘’
‘’Ibu nggak salah apa-apa kok. Bibi pun paham kenapa Ibu kesal banget sama Bibi. Ma’afkan Bibi ya,’’ sahutnya dengan cepat hingga aku tak bisa melanjutkan ucapanku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku kenal betul dengan si bibi, dia paling tidak bisa jika didiamkan atau bersikap dingin padanya. Bertahun-tahun dia bersamaku di sini, baru kali ini aku kesal dan bersikap dingin seperti ini pada si bibi.
‘’Kalo gitu Bibi ke belakang dulu. Nanti kalo Ibu mau kerja, biar Naisya sama Bibi aja,’’ lanjutnya kemudian.
‘’Iya, Bi. Nanti aku panggil aja ya,’’ sahutku yang tengah menuang air panas ke gelas.
Wanita separuh baya pun melangkah ke belakang. Seketika aku teringat dengan lelaki pengkhianat itu. Kapan dia akan menceraikanku? Aku seperti digantung tak bertali. Dia sudah lama tak seatap lagi denganku, tapi tak kunjung menceraikanku. Apa maksud lelaki itu? Aku tak habis pikir dengan kelakuannya. Apa dia sengaja menggantungku seperti ini?
‘’Ah, hampir saja susu yang kubikin jadi dingin karena melamun. Astaghfirullah!’’ Sejak tadi tanganku mengaduk susu dan melamun panjang, hingga aku tersadar dari lamunan. Bergegas aku melangkah ke ruang bermain anakku.
‘’Sayang, ini susunya. Adik minum dulu ya.’’ Kubantu Naisya, karena gelas sebesar itu tentu berat tangan mungilnya memegang.
‘’Ma, Adik pengen punya temen,’’ rengeknya yang membuat aku terkesiap. Mulutnya belemotan susu membuat aku gemes sekali melihat anak semata wayangku itu.
‘’Kan ada Mama sama Bibi. Adik punya temen ntar kalo udah sekolah aja ya,’’ kataku lembut sambil meletakkan gelas kosong itu di nakas.
Ya, memang Naisya tak memiliki teman. Dia sejak dulu bermain hanya sama papanya, bibi Sumi dan aku. Bukan apa-apa, aku hanya tak ingin Naisya terpengaruh dari lingkungan pertemanannya. Seperti yang kulihat dari tetangga sebelah kiri rumah, anak mereka selalu diperbolehkan bermain benda canggih itu bahkan dibelikan jika tak ada. Tentu akan membuat mereka kecanduan, apalagi usianya masih terlalu kecil dan banyak sekali hal-hal negative di benda itu.
Aku tak mau anakku nanti ikutan ingin dibelikan benda canggih karena melihat temannya yang pada punya. Jadi, lebih baik anakku di rumah saja. Makanya aku menyediakan ruang bermain untuk anakku, di dalamnya begitu lengkap permainan. Ini adalah caraku agar anakku tak kenal dengan benda canggih. Pun aku tak bermain benda canggih di depannya, tak mengotak-ngatik benda canggih tatkala bersamanya. Kecuali ada pesan penting atau ada telepon.
‘’Tentu banyak, Sayang. Banyak banget,’’ sahutku sambil tersenyum, mengelus pucuk kepalanya. Tangan mungilnya masih asyik menyusun mainan.
‘’Asyiik!’’ teriaknya yang membuat aku mengulum senyuman.
‘’Nah, coba Adik hitung ini.’’ Aku menunjuk mainan bola warna-warni yang ada di depannya. Begitulah caraku, bermain sambil belajar agar si anak tak bosan untuk belajar.
‘’Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan.’’
‘’Sembilan ya, Ma?’’
‘’Bener. Pinter banget anak Mama ini,’’ kataku sambil mengelus kepalanya.
‘’Oh iya, kalo misalnya Adik dikasih sesuatu. Harus bilang apa coba?’’
‘’Bilang makasih.’’
‘’Duuh, pinter anak sayang Mama. Tapi Adik lupa tadi kan? Ayo.’’ Membuat dia terkekeh pelan.
‘’Janji jangan ulangi lagi?’’ Aku memperlihatkan jari telunjuk. Dia mengangguk paham, membuat aku langsung memeluknya dengan erat.
‘’Ma’afkan Mama ya, Nak. Mama nggak bisa mempertahankan Papa kamu,’’ gumamku dalam hati sambil membelai rambutnya.
‘’Adik mainnya sama Bibi lagi ya?’’ Aku melepas pelukan pelan dan dia tampak mengangguk. Eh, ternyata si bibi sudah berdiri di ambang pintu. Entah sejak kapan dia di sana. Karena mataku tertuju pada bibi, membuat dia bergegas memasuki ruangan.
‘’Ya udah kalo gitu aku mau kerja dulu, Bi. Nanti sebentar lagi coba aja kasih Naisya nasi ya.’’
Anakku itu memang jarang sekali makan nasi. Dia selalu minum susu dan menyantap kue cokelat kesukaannya. Jika makan pun, dia tak suka pakai cabe. Tak ada salahnya pagi ini dicoba oleh bibi memberikan nasi untuknya.
__ADS_1
‘’Siap, Bu.’’
Aku bergegas bangkit dan melangkah ke kamar untuk mengambil benda canggih.
‘’Kayaknya aku harus melakukan sesuatu,’’ lirihku yang menekan nomor kontak seseorang.
Berdering..
‘’Hallo, Bu?’’
‘’Iya. Hen, kamu di mana? Kenapa nggak ada kabar?’’
‘’Saya di rumah aja kok, Bu. Ma’af, istri saya habis lahiran dan operasi Caesar. Makanya saya sibuk. Tapi sekarang, Alhamdulillah istri saya sudah sehat.’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu.’’
‘’Oh ya, saya kan udah lama nggak minta bantuan ke kamu. Nah, sekarang kamu bisa kan bantu saya?’’
‘’Tentu bisa, Bu.’’
‘’Begini, kamu pasti tahu berita viral yang beredar itu. Nah, tugas kamu adalah beri peringatan lelaki itu supaya dia mau menceraikan saya. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?’’
‘’Tahu, Bu.’’
‘’Bagus. Nanti saya kirimkan nomor selingkuhannya. Karena nomor lelaki itu udah digantinya ke nomor baru. Saya yakin kamu bisa melacak alamatnya.’’
Setelah selesai bicara aku bergegas memutuskan sepihak. Kuletakkan kembali benda canggih itu. Ah iya, aku harus menemui Dodo sekarang juga. Aku harus menanyakan, kenapa anakku bisa bertemu dengan papanya. Bergegas aku melangkah ke luar dari kamar menuju pos security. Tampak lelaki itu tengah termenung, entah apa yang dia pikirkan.
‘’Dodo?’’ Membuat dia terhenyak seketika.
‘’I—Ibu?’’ Dia menatapku seperti melihat hantu saja.
‘’Makanya jangan ngelamun gitu dong, Do. Apa sih yang kamu lamunin?’’ ujarku sambil tertawa pelan.
‘’Saya ke sini cuman mau bertanya. Apa benar Naisya ketemu Papanya pas pergi beli es krim sama kamu?’’ Yang ditanya malah diam membisu.
‘’Dodo!’’ panggilku dengan suara naik beberapa oktav.
‘’I—iya, Bu.’’
‘’Kok bisa Papanya ketemu sama Naisya? Gimana ceritanya Do? Kamu kenapa nggak bilang ke saya?’’ kesalku. Membuat pertanyaan banyak muncul dari pikiranku.
‘’Kebetulan saja, Bu. Aku lagi duduk sama Naisya. Eh, Papanya datang menghampiri kami,’’ ungkapnya. Namun, entah kenapa aku merasa dia seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku.
‘’Kamu beneran kan, Do? Kamu nggak kenal kan sama Papanya anak saya?’’
Dia malah tertawa,’’Ibu ada-ada aja deh. Dari mana coba aku bisa kenal sama Papanya Naisya.’’
Aku menghela napas berat,’’ Syukurlah kalo begitu, Do. Lain kali kamu nggak boleh lagi bawa Naisya jauh-jauh dan kalo ketemu sama Papanya tolong lapor dulu ke saya,’’ tegasku kemudian.
Bersambung..
Ma’af Readers, kalo aku sering ngegantung kalian, aku sering nggak update. Itu karena aku kehabisan paket. Maklumlah aku Penulis Pemula. Juga nggak mungkin aku minta ke orangtua. Dan mau minta ke suami pun, eh belum punya suami. heheh. Jadi makanya kalian support terus aku ya, biar aku bisa beli paket dari penghasilan menulis. Terima kasih banyak untuk kalian yang sampe sekarang masih membaca novelku ini, semoga sehat selalu, murah rezeki, dan selalu dalam penjagaan-Nya. Aaamiin Ya Robbal ‘aalamiin.
See you next time❤❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1