
‘’Kalo Allah berkehendak lain gimana, Ma?’’ aku menyahut ucapan mama secepatnya.
Walaupun aku begitu takut jika sampai ketahuan oleh mama masalah yang menimpa rumah tanggaku. Di sisi lain aku tak tega membohongi kedua mertuaku itu, mereka sudah baik sekali dan menganggapku sebagai anak kandungnya. Sampai kapan aku akan terus membohongi mereka? Sampai kapan aku akan menutupi ini semua?
Mama terperanjat mendengar ucapanku dan langsung meletakkan bubur yang kusangka masih tersisa.
Aku perlahan meraih gelas yang berisi air penuh, belum kuminum sama sekali. Kuteguk dan kembali meletakkannya, namun mama meraih dari tanganku karena beliau tahu aku kesulitan meletakkan dikarenakan tanganku masih terpasang infus serta lukanya yang belum sembuh, mama meletakkannya di meja kecil itu.
‘’Kamu ngomong apa sih, Nel?’’ beliau masih menatapku dengan tatapan heran.
‘’Y-ya, maksudku kan dalam rumah tangga pasti ada masalah—’’ ucapku dengan terbata.
‘’Rumah tangga kamu dan Deno, maksudnya?’’ tanya mertuaku yang belum mengerti arah ke mana ucapanku. Aku hanya mengangguk pelan.
Membuat wanita yang kupanggil ‘’mama’’ itu tampak menghela napas berat.
‘’Kalo mengenai itu, Mama lebih duluan udah pernah mengalami. Tapi itu tergantung kalian berdua cara menghadapi masalah itu gimana.’’
‘’Emang kalian ada masalah apa?’’ Sontak membuat lidahku kelu dibuatnya.
Aku harus jawab apa? Di satu sisi aku ingin sekali berkata jujur. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes di wajahku. Seketika ponsel mama berdering di tasnya. Dia bergegas meraih benda pipih itu, membuat aku merasa lega.
‘’Assalamua’alaikum, Deno!’’
Ya Allah, rupanya dia yang menelpon mama. Ada apa dia menelpon mama? Apa dia tahu kalau aku kecelakaan dan masuk rumah sakit? Tidak, tidak mungkin dia masih perduli padaku. Ahh! Aku kenapa aku masih memikirkan si pengkhianat itu? Perduli atau tidaknya, itu bukan urusanku.
‘’…’’
‘’Iya, Mama di rumah sakit menemani Nelda. Kamu di mana?’’
‘’….’’
‘’Di kantor? Kamu kok milih kerja daripada istrimu sendiri?’’
‘’….’’
‘’Pokoknya Mama nggak mau tahu, besok pagi kamu harus datang ke sini!’’ tampak mama sudah mengakhiri telpon sepihak, itu pertanda mama sudah sangat kesal.
Ya Allah, bagaimana bisa dia menemani aku di sini apalagi kami sudah bertengkar dan perselingkuhannya sudah aku ketahui yang ditutupinya rapat-rapat selama ini. Yang ada aku makin sakit dibuatnya jika dia berada di sini.
‘’Ma!’’ panggilku kemudian dengan hati-hati.
‘’Iya, Nel?’’ tangannya terhenti tatkala memasukkan benda pipih itu ke tasnya.
‘’Mas Deno ya, Ma?’’
‘’Iya, suami kamu. Bikin Mama naik darah bicara sama dia, masa dia bilang kalo dia juga besok lembur,’’ ketus mama dengan nada turun-naik.
Aku hanya menghela napas berat,’’Aku nggak apa-apa di sini sendirian, Ma. Kan ada suster juga yang jagain,’’ sahutku pelan.
‘’Bukan begitu, Nel. Kan udah tanggung jawab suamimu menjaga kamu.’’
__ADS_1
‘’Kalo dia di sini yang ada membuatku makin pusing, Ma.’’ aku membatin.
Aku hanya terdiam dan memikirkan bagaimana caranya agar aku bisa berkata jujur kepada mama, apalagi si lelaki itu berusaha menutupinya dari wanita yang melahirkannya itu. Aku tarik napas dan membuangkannya, kulakukan sebanyak tiga kali. Mama tampak sibuk mengutak-ngatik benda pipih itu. Ya, aku harus jujur dan aku tak mau menutupinya lagi.
‘’Bismillah, aku nggak mau begini terus,’’ kataku membatin.
‘’Ma!’’ panggilku dengan jantung yang mulai berdentam hebat.
‘’Iya, Nel.’’ matanya masih fokus menatap layar benda pipih itu.
‘’Aku ingin bicara sesuatu sama Mama,’’ ucapku.
‘’Eh, Mama harus pulang deh, Nel. Ini tetangga Mama menyuruh pulang, katanya penyakit Papamu kambuh lagi.’’ Allah! Disaat aku mau berkata jujur, ada-ada saja yang menghalanginya. Mama tampak bergegas bangkit.
‘’Ma’af ya, lain kali aja kita bicara. Kamu kalo ada apa-apa hubungi saja Mama, oke?’’
Aku hanya mengangguk pelan,’’Hati-hati, Ma.’’
Mama tampak panik dan bergegas melangkah ke luar dari ruangan rawatku. Saking paniknya mama tak sempat memeluk dan mengecup keningku, itu hal yang biasa dilakukan oleh mama. Seketika aku menghela napas sembari mengelus dada. Semoga papa baik-baik saja di sana, biar bagaimana pun mereka masih mertuaku sekarang. Apalagi mama dan papa begitu baik kepadaku.
Teringat olehku dulu tatkala tengah mengandung Naisya, apapun ngidamku beliau yang membelikan dan mengusahakan agar ada untukku. Lalu ketika Naisya lahir, mama yang repot membantuku mengurus Naisya hingga jahitanku sembuh.
‘’Ya Allah, kenapa di saat aku mau jujur malah ada saja yang menghambat?’’
Atau ini bukan waktu yang tepat untukku berkata dengan sejujurnya? Kepalaku kembali mendadak pusing. Ya Allah! Kenapa denganku? Apa karena aku terlalu banyak pikiran?
‘’Nel, kamu baik-baik saja?’’ suara itu membuat aku terperanjat kaget.
‘’Ka—kamu? Sejak kapan kamu di sini?’’ tanyaku terbata.
‘’Bukannya tadi kamu pulang?’’ selidikku.
‘’Iya, tadi aku pulang. Dan teringat kamu sendirian di sini. Makanya aku kembali lagi.’’
‘’Kamu jangan cemas. Aku hanya sekedar membantu kamu aja kok,’’ imbuhnya kemudian.
‘’Makasih banyak sebelumnya. Ta—tapi—‘’
‘’Kamu pasti belum makan, ya? Aku belikan dulu makan malam untukmu.’’ belum sempat aku bicara dia langsung bergegas ke luar dan menutupi pintu.
Ya Allah, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku sudah punya suami. Agar dia nanti tak berharap lebih kepadaku. Dan takutnya malah jadi fitnah, bagaimana pun juga statusku masih sebagai istrinya mas Deno. Aku mengusap muka berkali-kali. Tadinya aku merasa lega karena lelaki itu sudah pamit untuk pulang, kukira dia tak bakalan ke sini lagi. Ternyata dia malah balik lagi ke sini, untung saja tak bertemu dengan mama di ruangan ini.
Seketika pintu pun berderit.
‘’Udah makan kan, Bu?’’ tanya wanita yang berseragam itu dengan ramah. Aku menyahut dengan anggukan.
‘’Alhamdulillah kalo gitu, Bu.’’ dia tampak melangkah ke arahku, di tangannya ada alat pemeriksaan.
‘’Saya disuruh suami Ibu tadi memeriksa keadaan Ibu.’’ membuatku kaget.
‘’Suami?’’ ulangku kembali.
__ADS_1
‘’Iya, yang barusan keluar dari sini tadi itu suami Ibu kan?’’ Astaghfirullah! Jadi Reno maksud dokter ini.
‘’Dok, dia bukan suami saya,’’ sanggahku pelan.
‘’Eh, bukan ya, Bu? Saya kira suami istri loh,’’ katanya sembari tertawa kecil, tangannya masih sibuk memeriksaku.
‘’Trus suami Ibu di mana? Kenapa enggak dia yang menemani Ibu di sini?’’ aku menghela napas gusar. Aku hanya terdiam saja.
‘’Assalamua’alaikum!’’
‘’Wa’alaikumussalam!’’ wanita berseragam itu yang menjawab.
‘’Eh, ada Pak Deno.’’
Lelaki itu tampak tersenyum hingga tampak lesung pipinya,’’Bagaimana keadaan Nelda, Dok?’’ tanyanya yang melangkah ke arahku dan di tangannya tengah menenteng sesuatu.
‘’Alhamdulillah sudah lumayan membaik, Pak. Hanya saja luka kepala dan tangannya yang belum begitu membaik,’’ jelas wanita berseragam putih itu.
‘’Alhamdulillah.’’
‘’Tapi usahakan agar jangan banyak pikiran dulu ya, Bu?’’ aku hanya mengangguk pelan.
‘’Ya udah. Saya pamit dulu, ada pasien lain yang harus saya tangani!’’ pamitnya yang menggantungkan alat pemeriksaan ke lehernya dan bergegas melangkah ke luar dari ruangan.
‘’Iya, Dok. Makasih ya, Dok,’’ ucap Deno mewakiliku.
‘’Kamu harus dengerin apa kata Dokter,’’ katanya sembari menghenyak di kursi yang berdekatan dengan tempat tidur yang kutempati. Dia kok begitu perduli kepadaku? Padahal kami baru saja kenal, belum cukup sehari.
Aku hanya terdiam saja, sembari memandanginya yang tengah membuka plastik yang ditentengnya sejak tadi. Yang ternyata adalah nasi Padang dan air minum. Tak lupa pula piring, gelas dan sendok entah dari mana didapatkannya
‘’Itu untuk siapa, Ren?’’
‘’Untuk kamulah, untuk siapa lagi?’’ tangannya masih sibuk mempersiapkannya.
‘’Aku udah makan bubur.’’
‘’Nggak, Nel. Bubur saja nggak cukup, apalagi kalo kamu nggak suka bubur.’’
Sebenarnya aku memang tak suka bubur. Tapi harus bagaimana lagi, rata-rata makanan pasien di sini memang hanya bubur saja. Dari mana tahunya kalau aku tak suka bubur? Oh iya, di sosmed instagram aku pernah posting makanan kesukaanku dan makanan kesukaan mas Deno yang berbanding terbalik denganku.
Di sana aku mengatakan, kalau aku tak suka bubur. Sedangkan suamiku suka bubur. Apa dia juga salah satu dari followersku? Berarti dia sudah tahu kalau aku punya suami, tetapi kenapa dia masih memperlakukan aku seperti ini? Apa niatnya di balik ini semua?
‘’Ren, ma’af sebelumnya. Aku ini udah punya suami loh,’’ kataku pelan.
‘’Kamu masih mempertahankan lelaki seperti dia? Kamu berhak bahagia juga loh, Nel.’’
Bersambung..
Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
Oh ya, ada yang nungguin aku update nggak? Aku berharap sih ada yang nungguin lanjutan cerita ini. Heheh.
__ADS_1
See you next time! ❤
Instagram: n_nikhe