
Azan zuhur berkumandang membuat aku tersadar dari lamunanku. Seketika membuat rindu hadir, aku rindu bermunajat pada Sang Maha Kuasa, rindu mengadu pada-Nya di sepertiga malam. Ya, kini aku tengah kedatangan tamu, makanya aku tak bisa melaksanakan kewajiban empat raka’at itu.
‘’Alhamdulillah Ya Allah. Aku masih hidup sampe sekarang,’’ lirihku sambil mengusap muka.
Ya, aku bersyukur sekali karena masih bisa menghirup udara hari ini, masih bisa membuka mata. Padahal aku kemarin kecelakaan dan pernah juga disekap oleh penjahat dalam keadaan lemah tak berdaya, tapi Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan hidup untukku, Dia masih memberikan aku kesempatan untuk memperbanyak ibadah dan amal baik. Apalagi aku masih punya Naisya yang masih kecil, tentu butuh bimbingan dan didikan dariku.
Aku melangkah ke luar dari kamar menuju teras. Sesekali bolehlah aku duduk di teras sambil menanti angin segar dari pepohonan di depan rumah. Aku suntuk sekali karena akhir-akhir ini aku lebih memilih tak memainkan sosial media dulu, karena aku jenuh dengan pertanyaan netizen.
‘’Bu, kayaknya Ibu tuh harus refreshing dulu deh.’’ Membuat aku mengerjap pelan lantas tertawa kecil menatap lelaki berseragam yang sudah ada di sampingku.
‘’Kenapa Ibu malah ketawa? Aku serius loh. Apalagi akhir-akhir ini Ibu nggak pernah pergi refreshing.’’
‘’Umm, maksud aku lebih sering di rumah aku perhatikan. Jadi Ibu harus refreshing dulu,’’ lanjutnya yang membuat aku sedikit terheran dengan sikap lelaki ini.
Tapi dalam hati aku juga membenarkan ucapan dan saran dari lelaki yang sudah berstatus sebagai security-ku ini. Ya, sepertinya aku memang butuh refreshing. Apalagi sudah lama terkurung di rumah sakit, yang membuat aku semakin suntuk. Ditambah beberapa konflik yang tengah menimpa rumah tanggaku belakangan ini.
‘’Hem, kamu benar juga sih, Do.’’
‘’Emangnya kamu mau menemanin saya?’’
‘’Mau bangetlah, Bu. Malahan aku sudah berniat ingin menemani Ibu dan tempatnya aku udah tahu, Ibu pasti suka banget.’’ Padahal tadi aku hanya sekadar bercanda. Eh, dia malah serius ternyata. Fine, tak apa-apa.
‘’Mungkin aku lebih baik refreshing dulu sebentar,’’ gumamku dalam hati.
‘’Oh, ya? Di mana tempatnya, Do?’’
‘’Aku nggak bisa kasih tahu sekarang, Bu. Kan aku mau ngasih surprise buat Ibu. Kalo dikasih tahu nggak surprise lagi namanya dong.’’
Membuat tawaku pecah seketika. Aku menggelengkan kepala. Si Dodo bisa aja dan dia itu ternyata bisa melawak juga, banyak sekali bakatnya ini orang.
‘’Dodo kamu ada-ada aja.’’
‘’Ya udah, saya mau siap-siap dulu. Kamu yakin pake baju security ini?’’
__ADS_1
Aku memandangi seragam yang dikenakan oleh lelaki itu. Dia malah tertawa.
‘’Ya enggaklah, Bu. Aku ganti aja. Kebetulan aku bawa baju ganti hari ini. Nggak apa-apa kan Bu kalo aku mengganti baju ini?’’
‘’Ya enggak apa-apalah, Do. Kan kamu mau ke luar sama saya. Masa pake baju tugas.’’ Dia malah kembali tertawa. Aku bergegas melangkah memasuki rumah.
‘’Bi, aku mau ke luar dulu. Naisya lagi di ruang mainnya. Nanti Bibi temanin Naisya yah,’’ kataku yang bergegas menghampiri si bibi yang tengah beberes.
‘’Eh, Ibu? Ke mana, Bu? Hem, ma’af Bibi kepo.’’ Wanita itu memberhentikan tangannya yang tadi sibuk beberes dapur.
‘’Aku mau pergi refreshing sebentar, Bi. Aku butuh refreshing kayaknya,’’ kataku seadanya.
‘’Bibi setuju tuh, Bu. Ibu memang butuh refreshing. Soal Naisya tenang aja dan serahkan semuanya ke Bibi,’’ ujarnya sambil tersenyum.
‘’Eh, tapi sebentar, Bu. Ibu sama siapa perginya?’’
‘’Aku sama Dodo.’’
Tampak ekspresinya berubah. Aku yakin si bibi pasti tak suka, seperti biasanya dia kurang suka dengan lelaki itu. Katanya ada yang tengah disembunyikan oleh lelaki yang bernama Dodo.
Aku bergegas saja melangkah ke kamar tidur. Kuganti pakaian seketika. Baju kaos lengan panjang kekinian, celana kulot dan dilengkapi jilbab pashmina. Tampak lebih muda daripada Nelda yang sebelumnya. Ya, karena Nelda yang dulu sudah tak ada lagi.
Aku bergegas melangkah keluar dari rumah. Tampak lelaki itu sudah rapi dengan baju bebasnya. Aku mengulurkan kunci mobil yang langsung diambil oleh lelaki itu.
‘’Kita jalan sekarang, Bu? Ada yang ketinggalan nggak?’’
Aku mengangguk,’’Jejak kaki yang tinggal, Do,’’ sahutku yang membuat dia tertawa lepas.
‘’Ya udah kita jalan sekarang aja.’’ Aku bergegas menaiki si roda empat.
***
‘’Do, saya penasaran deh. Kamu bisa nggak ngebocorin sedikit ciri-ciri tempatnya?’’ Aku memecah keheningan di antara aku dan Dodo. Membuat dia menoleh sejenak, senyuman lebar terbit di bibirnya.
__ADS_1
‘’Nggak bisa gitu dong, Bu. Sabar dulu napa sih,’’ katanya sambil terkekeh pelan.
‘’Ya udah deh kalo gitu kata kamu,’’ sungutku. Akhirnya aku menyerah. Yang penting lelaki ini sudah mau menemaniku refreshing.
‘’Tapi tunggu, kenapa aku kayak nggak asing lagi dengan jalan ini? Apa aku pernah ke sini? Tapi kapan? Ke mana aku dibawa sama Dodo ini sebenarnya?’’ gumamku dalam hati.
***
Lelaki itu sudah membukakan pintu mobil untukku, namun aku masih bergeming.
‘’Bu, ayo turun! Kita udah sampe,’’ katanya karena aku tak kunjung turun sejak tadi. Kedua netraku masih sibuk memandangi tempat parkiran ini, yang tak asing lagi bagiku.
‘’Ah, iya, Do. Makasih.’’ Aku bergegas turun seketika.
‘’Kita jalan sedikit untuk memasuki tempatnya ya, Bu. Nggak apa-apa kan?’’
Aku menghela napas pelan,’’ Ya nggak apa-apalah, Do. Saya ini dulu terbiasa jalan kaki semasa kecil,’’ ungkapku.
‘’Itu mah waktu kecil, Bu. Sekarang kan lain lagi. Ibu mah udah bahagia sekarang,’’ katanya sambil terkekeh.
Aku hanya tersenyum hambar,’’ Bahagia apanya, Do? Kamu kira aku bahagia karena punya banyak uang? Banyak uang tapi punya konflik rumah tangga, akan percuma saja rasanya, Do. Lebih baik nggak punya apa-apa, tapi nggak ada konflik apapun,’’ gumamku dalam hati yang mengikuti langkahnya.
Mataku sibuk menatap pemandangan di sekitarnya, pepohonan hijau di sekitarku membuat aku menghirup udara segar dan lambaian angin membuat tubuh terasa nyaman. Tapi aku tetap saja merasa gundah gulana.
Beberapa langkah kemudian.
Seketika laki-laki itu berhenti dan menghampiriku.
‘’Tadaaa! Nah ini surprise dari aku untuk Ibu. Gimana? Ibu suka nggak?’’
Aku terdiam membisu memandangi pemandangan di sekitarnya. Tampak beberapa perahu kayu bertengger di tepi danau. Ya, tempat ini banyak menyimpan kenangan indah.
‘’Ayo naik, Bu!’’ Dia bergegas naik ke perahu dan meraih dayung untuk mengayuh. Aku masih termenung, diam membisu. Seketika pikiranku melayang jauh.
__ADS_1
Tempat ini jadi saksi bisu bahwa aku dan mas Deno pernah melukiskan kenangan romantis kami di sini beberapa tahun nan lalu. Aku dan lelaki itu menghabiskan waktu bersama. Kami menaiki perahu dan dia duduk sambil menatap mataku, begitupun dengan aku yang menatap mata indahnya.
Bersambung.