Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Mama Deno


__ADS_3

‘’Apa maksud kamu, Juwita?!’’


‘’Saya tahu Ibu sulit untuk menerima kenyataan ini,’’ sahutnya lirih, yang menurutku bertele-tele jawabannya. Apa maksud wanita ini? Dia tampak bergegas meletakkan sapu di dinding dan buru-buru memasuki rumahnya. Mau apa dia?


‘’Juwita! Saya belum selesai bicara sama kamu!’’ teriakku, namun dia tak mempedulikanku.


Hingga membuat aku mematung di terasnya, pikiranku terus bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Apa yang dimaksud oleh wanita yang bernama Juwita itu?


‘’Kamu jangan berbelit-belit! Katakan pada saya. Apa maksud kamu?’’ ulangku karena melihat wanita itu bergegas kembali melangkah ke luar sambil memegang benda canggih di tangannya.


Dia tak menoleh padaku, melainkan tangannya asyik berselancaran di benda itu. Membuat aku kesal saja. Padahal aku ke sini untuk meminta bantuan pada wanita itu. Eh, malah aku dibuatnya kesal. Membuat aku badmood untuk meminta bantuan padanya. Lagian dia seperti enggan untuk membantuku.


‘’Nih, Ibu lihat sendiri aja!’’ Dia menyodorkan benda canggihnya.


Kenapa dia memperlihatkan ponsel ini padaku? Mataku menatap wanita muda itu. Dengan ragu aku meraih benda canggih yang disodorkannya. Alangkah terperanjatnya aku menonton video yang tengah tayang. Aku membungkam mulutku.


‘’Astaghfirullah! Nggak! Ini nggak mungkin! Kamu bercanda kan, Juwita?’’ Dengan kasar aku kembali menyodorkan benda itu.


Dadaku begitu terasa nyeri seperti ditimpa benda berat dan ulu hatiku terasa pedih. Terbayang olehku pengakuan Nelda yang mengatakan kalau suaminya berselingkuh di luar sana dengan wanita lain. Kali ini bukti sudah di depan mata, sudah aku lihat dengan mata kepala sendiri. Aku mengira itu hanya tuduhan semata, tapi ternyata tidak. Tapi kenapa Deno membohongiku? Kenapa dia tak mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya? Ya Allah! Apa aku sedang bermimpi buruk?


‘’Bu, ini yang sebenarnya terjadi. Buat apa saya bercanda sama Ibu?’’ Dia kembali mengambil benda canggih itu.


Aku tak tahu lagi harus bicara apa. Hanya air mata yang kini bicara. Aku masih bertanya-tanya. Apa benar video yang kulihat barusan? Apa aku sedang bermimpi? Karena Deno yang kukenal dulu dia begitu baik dan sangat mencintai istrinya. Kenapa sekarang dia malah seperti ini?


‘’Kamu tega membohongi Mama, Deno!’’


‘’Ibu duduk dulu ya,’’ katanya dengan nada pelan kali ini dan menuntunku menuju kursi santainya yang terletak di teras. Aku menghenyak seketika.

__ADS_1


‘’Bu, saya tahu begitu sulit untuk Ibu mempercayai kejadian yang telah menimpa rumah tangga anak Ibu. Tapi inilah kenyataannya,’’ lirih wanita itu yang menatap ke arah taman mininya dengan tatapan kosong.


‘’Deno yang saya kenal bukan seperti ini dulunya, Juwita!’’ sanggahku dengan deraian air mata yang terus mengalir.


Dia tersenyum sinis, matanya masih menatap ke arah taman mini. Keanehan yang terjadi seminggu nan lalu kembali berputar di otakku. Ya, ketika Nelda melepaskan tangan suaminya dengan kasar, Naisya yang kelihatan seperti anak yang ditinggal lama oleh papanya. Tampak dari wajah polosnya yang begitu merindukan anakku, hingga dia memeluk erat papanya. Dan menantuku yang tak mau untuk punya anak lagi. Kepalaku terasa pusing mengingat semua itu. Kali ini nyeri di dadaku mulai terasa menjalar ke tubuh.


‘’Itu dulu, Bu. Bukankah orang bisa saja berubah?’’


‘’Makanya Ibu punya hanphone itu digunakan untuk bersosial media supaya tahu apa-apa yang terjadi. Masalah Deno dan Mba Nelda ini sudah viral di media sosial, Bu,’’ imbuhnya yang membuat aku membelalakkan mata menatap wanita yang sulit kuterjemahkan ekspresinya itu.


Kusangka rumah tangga anakku selama ini baik-baik saja. Ternyata aku salah. Aku juga sudah berprasangka buruk terhadap Nelda. Aku kira dia mengada-ngada. Aku kira tuduhan itu hanya sebagai penutup aibnya karena berselingkuh di belakang suaminya. Ternyata malah sebaliknya, anakku yang ternyata berselingkuh tanpa sepengetahuanku.


‘’Kenapa masalah rumah tangga anakku bisa viral seperti ini?’’ Siapa yang berani membeberkan semua ini ke media sosial?


‘’Ya Allah!’’ Aku menjerit, memegangi dada yang begitu perih. Ulu hatiku juga begitu sakit. Pemandanganku seketika gelap.


Bau minyak kayu putih begitu menyengat terasa di hidungku. Kupaksa membuka mata. Kepalaku pusing sekali dan sepertinya asam lambungku mulai naik.


‘’Bu? Ibu udah sadar? Alhamdulillah kalo gitu.’’ Suara yang tak asing lagi bagiku. Aku mengedarkan pandangan. Di kamar? Ah iya, tadi aku merasa pusing dan tak ingat apa-apa. Mungkin aku pingsan karena syok dengan apa yang telah diceritakan oleh wanita yang bernama Juwita.


‘’Iya, Juwita. Ma’af saya sudah merepotkan kamu,’’ lirihku menatap wanita berambut sebahu itu. Dia menggeleng secepatnya.


‘’Nggak merepotkan sama sekali kok, Bu. Lagian ini salah saya. Kalo saja saya ceritakan dari awal ke Ibu—‘’


‘’Saya disuruh menutup mulut sama anak Ibu. Makanya saya nggak mau jujur ke Ibu,’’ imbuhnya kemudian yang meneruskan ucapannya yang terjeda.


‘’Ma’afkan saya ya, Bu.’’

__ADS_1


Aku menghela napas pelan,’’Nggak apa-apa, Juwita. Yang penting sekarang saya udah tahu semuanya. Dan saya juga minta ma’af sama kamu. Karena saya selalu nggak percaya dengan apa yang kamu katakan. Ma’af ya,’’ balasku dengan lirih. Wanita yang masih kelihatan muda itu menyahut dengan anggukan.


‘’Tapi kamu jangan bilang dulu ke suami saya. Kamu kan tahu, dia nggak boleh banyak pikiran. Apalagi dia baru saja sembuh. Tolong bantu saya untuk menutupi ini semua dulu ya,’’ pintaku kemudian.


Ya, aku tak mau jika mas Setia mengetahui ini semua. Nanti malah jadi beban pikiran olehnya. Dia baru saja sembuh, keadaannya belum stabil. Aku tak mau suamiku itu terbaring lemah lagi. Biarkan aku sendiri yang memendam ini semua walau aku sendiri juga merasa begitu sulit menanggung beban ini, apalagi aku penderita asam lambung kronis. Tapi, harus bagaimana lagi. Lebih baik dengan cepat aku mengetahui ini semua yang ditutupi oleh anak dan menantuku. Jadi aku tahu, tindakan apa yang harus aku ambil untuk mereka berdua.


‘’Iya, Bu. Saya janji akan menutupi ini semua dari Pak Setia,’’ sahutnya sambil tersenyum. Aku berusaha untuk duduk, namun begitu terasa sulit. Apalagi rasa badanku yang tak enak. Seakan-akan aku sulit bernapas sekarang.


‘’Bu, jangan duduk dulu. Ibu harus istirahat,’’ katanya yang bergegas kembali membantuku untuk berbaring.


Kutatap wanita yang bernama Juwita itu, anaknya ternyata baik sekali. Aku salah, sudah menilainya buruk kemarin. Ya, mungkin karena saking kesalnya pada Deno membuat dia berkata tanpa berpikir dulu. Juwita memang bicaranya selalu ceplas-ceplos, namun hatinya begitu baik ternyata.


‘’Ta—tapi, saya harus pulang. Suami saya di rumah pasti khawatir,’’ ujarku lirih, nyaris tak terdengar olehnya. Seketika aku kembali lagi teringat menantuku, Nelda. Apa aku masih bisa merasakan kasih sayang dari seorang menantu? Tidak! Hubungan mereka pasti bisa diperbaiki kembali. Aku menepis semua prasangka buruk yang menghantuiku.


‘’Bu, nanti akan saya kabari beliau. Kalo Ibu di sini sama saya.’’


‘’Ibu istirahatlah dulu. Biar saya yang telpon Pak Setia,’’ imbuhnya yang bergegas bangkit.


‘’Kamu jangan bilang keadaan saya, ya?’’ Seketika langkahnya terhenti lalu mengangguk.


Perutku terasa mual hebat, ditambah rasa nyeri semakin menjadi di dadaku yang menjalar ke seluruh tubuh , kepala terasa pusing sekali dan kali ini membuat aku sulit untuk bernapas.


Bersambung..


Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2