
Ucapan mama membuat aku ingin segera mengakhiri kebohongan ini. Tampak mama sudah melangkah keluar dari rumah dan menuju pagar. Aku menghela napas gusar.
‘’Sabar, Nel. Ini bukan waktu yang tepat untuk kamu bicara dengan Mama,’’ lirihku mengingatkan diri sendiri.
Aku melangkah ke luar. Mataku tertuju kembali pada mama mertua yang tengah menaiki taksi dan hilang seketika dari pandanganku. Bergegas aku melangkah dan mengunci pagar kembali. Aku tak mau jika nanti lelaki pengkhianat itu menginjakkan kaki ke sini lagi.
‘’Eh, Mamanya Naisya? Udah sehat?’’
Aku mencari sumber suaranya. Eh, ternyata bu Aira di sebelah rumahku. Tampak dia tengah menyapu halaman. Mungkin dia tahu dari beberapa postingan para fans-ku yang mendo’akan aku sewaktu kecelakaan itu. Ya, walaupun usianya tak muda lagi, namun wanita itu pandai bermain sosial media. Aku sudah kenal siapa bu Aira. Dia begitu baik, ramah, dan suka bermain sosial media guna menghibur diri katanya.
‘’Alhamdulillah, lumayan membaik, Bu. Ibu kapan pulang dari Bandung nih?’’
Bu Aira memang jarang sekali pulang. Dia selalu di Bandung tempat rumah anak-anaknya. Palingan pulang hanya sekali dalam tiga tahun. Sesekali pulang dia langsung membersihkan pekarangan rumahnya. Mungkin karena dia yang hanya tinggal seorang diri di sini, jadi anak-anaknya ragu jika meninggalkannya seorang diri di kampung. Suaminya sudah meninggal sepuluh tahun nan lalu. Dia begitu baik dan setia pada bu Aira, tapi sayangnya yang baik itu cepat pula dijemput oleh Allah.
‘’Baru tadi shubuh, Mama Naisya. Saya di sini palingan cuman dua hari saja.’’
‘’Dua hari? Kenapa, Bu?’’
‘’Nggak dibolehkan lama di kampung sama anak-anak. Lagian saya ke sini cuman membersihkan rumah saja,’’ sahutnya sambil tersenyum.
‘’Iya, Bu. Kalo Ibu ada di dekat mereka, kan mereka nggak cemas lagi.’’ Wanita separuh baya itu tampak mengangguk dan tangannya masih sibuk menyapu halaman rumahnya.
‘’Aku ke dalam dulu ya, Bu.’’
Wanita itu menyahut dengan anggukan lalu tersenyum ramah. Aku bergegas memasuki rumah kembali. Ah iya, berkas-berkas ini sejak tadi masih kupegang. Bergegas aku memasuki ruang kerja. Ketika aku membuka pintunya, membuat aku terperanjat kaget.
‘’Astaghfirullah? Kenapa ruang kerjaku berantakan banget?’’ Semua buku-buku, lembaran kertas penting, dan isi ruangan ini berantakan seperti kapal pecah. Apa Naisya melakukan semua ini?
‘’Bi, Bibi!’’
__ADS_1
‘’Ah, iya—Astaghfirullah, kenapa berantakan begini, Bu?’’
‘’Itu yang mau aku tanyakan, Bi. Apa Naisya yang memberantakin semua ini?’’ Aku menatap bibi Sum yang tengah berdiri di ambang pintu.
‘’Nggak mungkin deh, Bu. Kan dia bermain tadi di ruang bermainnya.’’
‘’Ah iya, Bibi baru ingat. Si Bapak tadi yang masuk ke sini, Bu.’’ Membuat aku membulatkan mata.
‘’Apa? Jadi ini semua karena lelaki itu!’’
‘’Kenapa Bibi enggak menghalanginya?’’ kesalku kemudian.
‘’Aduh, kalo soal itu Bibi nggak berani, Bu. Ibu tahu sendirilah gimana si Bapak,’’ katanya yang menggaruk kepalanya. Aku menghela napas dengan kasar. Apa yang sedang dicarinya ke ruang kerjaku? Apa lagi yang akan direncanakan olehnya?
‘’Ya udah, Bi. Bantu aku membereskan ini semua ya. Aku pengen istirahat dulu di kamar,’’ pintaku seketika. Bibi mengangguk dan bergegas memasuki ruang kerjaku.
‘’Udah, Bu. Tapi tadi dia sempat rewel dan menanyakan Papanya,’’ katanya yang menoleh sejenak lalu fokus kembali menyusun buku-buku yang berantakan.
Membuat hatiku teriris mendengar ucapan bibi Sum. Kalau saja lelaki itu tak ke sini, mungkin anakku tak kan begitu.
‘’Lalu Bibi jawab apa?’’
‘’Bibi katakan kalo Bapak pergi ke kantor lagi karena banyak pekerjaan kantor yang harus dikerjakan,’’ katanya kemudian.
‘’Bagaimana kalo seandainya aku bercerai dengan Papanya? Aku nggak tahu gimana dengan anakku yang biasanya begitu dekat sekali dengan Papanya. Ya Allah.’’
Malam harinya, seperti janjiku. Setelah Naisya terlelap, dengan pelan aku melangkah menuju ruang kerjaku untuk mengecek berkas dan memilih siapa yang akan jadi security di rumahku ini. Aku langsung menghenyak di kursi dan meraih beberapa berkas. Dengan teliti aku membaca dan mengeceknya. Aku pandangi juga foto-fotonya, terkadang dari foto kita bisa menilai seseorang dari raut mukanya.
‘’Nah, ini kayaknya orang baik deh. Dia juga punya pengalaman kerja jadi security dan belum menikah. Biar dia bisa lebih fokus bekerja,’’ gumamku memandangi berkas atas nama ‘’Andika’’ itu. Namun, seketika benda pipihku berdering. Bergegas aku mengeceknya di aplikasi hijau itu. Ada beberapa pesan dari nomor baru? Siapa? Aku langsung membaca pesannya satu-persatu.
__ADS_1
‘’Assalamua’alaikum, Bu Nelda. Saya Andika. Ma’af sebelumnya menganggu waktu Ibu. Saya mau mengabarkan, kalo saya nggak jadi melamar jadi security di rumah Ibu. Saya nggak bisa, ma’af banget ya, Bu.’’
Andika? Kenapa? Padahal baru saja aku memilih dia untuk jadi security di rumahku dan aku baru saja hendak menghubungi nomornya yang tertera di berkas, mengabarkan kalau dia bisa bekerja di tempat aku. Tapi kenapaa dia mengundurkan diri seperti ini? Ada apa ini? Selanjutnya aku membuka pesan yang lain.
‘’Selamat malam, Mba. Ma’af ini saya Yono yang mengantarkan berkas tadi pagi. Sebelumnya, ma’af banget, Mba. Saya nggak jadi melamar di tempat, Mba.’’
‘’Malam, Bu. Aku Danang yang melamar kerja tadi pagi. Ma’af sebelumnya, aku kayaknya nggak jadi melamar security di rumah Ibu.’’
Astaghfirullah! Kenapa semuanya pada mengundurkan diri? Ada apa ini? Kenapa mereka seperti kompak begini? Aku memijit pelan kening yang mulai terasa nyeri. Tapi tunggu, apa semua mereka mengundurkan diri? Aku bergegas menyamakan nama yang ada di berkas dengan nama orang-orang yang mengirimiku pesan. Hah, hanya lelaki yang bernama Dodo saja yang tak mengundurkan diri? Aku menghela napas berat dan bergegas mengecek berkas atas nama ‘’Dodo’’ itu.
Kembali aku buka chat dengannya.
‘’Assalamua’alaikum, Bu. Perkenalkan saya Dodo, saya dapat nomor Ibu dari teman saya. Katanya Ibu ada lowongan pekerjaan ya? Saya butuh banget pekerjaan apa pun itu asalkan halal. Apalagi security, saya sudah berpengalaman dan pernah jadi security di rumah pribadi artist. Ma’af bukan saya sombong atau gimana, saya hanya berkata yang sejujurnya, Bu. Oh ya, jadi kapan saya bisa mengantarkan berkasnya, Bu? Saya berharap nantinya bisa terpilih jadi security di rumah Ibu.’’
Ah iya, bagaimana kalo Dodo saja jadi security rumah pribadiku? Apalagi dia juga butuh pekerjaan dan juga katanya sudah pernah jadi security di rumah artist. Pasti dia berpengalaman sekali. Tanpa berpikir lagi, aku bergegas mengetikkan pesan di aplikasi hijau itu.
‘’Assalamua’alaikum, Dodo. Ma’af sebelumnya aku nganggu waktu istirahat kamu. Aku mau ngasih kabar, kalo kamu diterima kerja di rumahku. Besok kalo bisa, kamu boleh langsung bekerja ya.’’
Bergegas kukirimkan pada nomor baru yang mengaku bernama Dodo itu. Tampak centang dua bewarna hitam, pertanda belum diread olehnya. Mungkin dia lagi sibuk atau tidur. Kembali kuletakkan benda pipih di meja.
‘’Tunggu, tapi kenapa ya? Aku merasa aneh aja. Awalanya mereka bilang butuh lowongan kerja, kok malah mengundurkan diri. Kenapa begini ya? Mereka kok bisa kompak?’’
Bersambung.
Terima kasih banyak teruntuk Readers yang masih setia membaca novel, "Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor". Jika kalian suka dengan novel ini, mohon supportnya ya dengan cara like, vote, koment, dan share. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
See you next time❤
Instagram: n_nike
__ADS_1