
Malam ini mataku enggan untuk terpejam. Teringat isi pesan wanita yang masih berstatus jadi mertuaku itu. Katanya dia akan berkunjung ke rumah karena rindu dengan cucunya. Aku bingung harus bagaimana, tak mungkin aku melarangnya berkunjung ke rumahku. Biar bagaimana pun juga Naisya adalah cucu satu-satunya dan aku masih berstatus sebagai istri dari anak semata wayangnya.
Tapi suamiku sudah lama pergi dari rumah dan sampai saat ini tak kunjung pulang lagi. Nanti mama malah bertanya lelaki itu dan apa yang hendak aku jawab? Apalagi beliau itu asam lambung kronis yang tak boleh banyak pikiran dan beliau dulu juga berharap agar kami hidup selamanya bersama. Mertuaku itu begitu baik sekali padaku, bahkan dia menganggapku sebagai anak kandungnya sendiri bukan menantu.
‘’Ya Allah, aku harus bagaimana ini? Apa ini waktunya aku jujur ke Mama?’’
Aku mengusap muka berkali-kali dan menghempaskan tubuh ke tempat tidur. Kupandangi Naisya sudah terlelap. Ya, karena seharian dia tak tidur siang karena saking asyiknya bermain dengan lelaki asing itu.
‘’Kasihan banget kamu, Sayang,’’ kataku lirih sambil mengusap kepalanya pelan.
Ah, iya. Aku baru sadar, kalau aku tak ada mengucapkan terima kasih pada lelaki itu. Dia sudah menghibur anakku hingga Naisya sebahagia itu. Namun, aku tadi siang sikapku tak memperdulikannya yang meminta izin untuk pulang ke rumahnya. Ya, dia mengirimiku pesan dan aku malah mengacuhkan, tak membalas pesan lelaki itu.
‘’Apa salahnya aku berterima kasih pada dia. Secara kan dia udah membuat anakku bisa tersenyum lagi.’’ Aku bergegas duduk dan meraih benda pipih. Tanpa pikir lagi aku segera menekan nomor kontak lelaki itu.
Berdering..
‘’Assalamua’alaikum, Nel.’’
‘’Wa’alaikumussalam. Ren, aku nganggu kamu nggak?’’
Dia malah tertawa kecil di seberang sana,’’Enggaklah, Nel. Aku belum tidur kok.’’
‘’Alhamdulillah kalo gitu.’’
‘’Aku mau ngucapin terima kasih banyak. Karena kamu udah mau bermain sama anakku, kamu nyempatin waktu padahal kamu sibuk. Ma’af ya, jadi ngerepotin kamu,’’ kataku pelan.
‘’Sama-sama. Aku seneng malahan bisa main sama Naisya. Nggak ngerepotin sama sekali kok, Nel.’’
‘’Apa iya dia adalah lelaki yang baik tanpa ada niat lain di balik ini semua? Ah, tapi aku nggak bisa semudah itu percaya sama lelaki ini,’’ gumamku dalam hati.
‘’Nel?’’
‘’Ah iya, Reno.’’
‘’Kamu kenapa belum tidur? Kamu itu harus banyak istirahat loh sampe kamu bener-bener pulih.’’
‘’I—ini aku mau tidur. Udah dulu ya, Ren. Assalamua’alaikum.’’
Aku bergegas memutuskan sambungan telepon sepihak. Kuletakkan kembali benda pipih itu. Seketika aku menghela napas berat. Tapi kok sepertinya lelaki itu memang lelaki baik-baik ya? Dia begitu perhatian dan peduli padaku.
‘’Enggak, enggak. Kamu nggak boleh segampang itu percaya sama lelaki asing itu, Nel.’’ Aku berusaha mengingatkan diri sendiri.
Pagi harinya selesai melakukan ritual. Aku langsung menuju ruang makan. Tampak sudah tertata indah makanan di meja makan yang tentunya mengundang selera. Ada gulai ikan, rendang, sayur capcay, dan dilengkapi oleh buah-buahan.
‘’Pagi, Bu,’’ sapa bibi Sum seperti biasa dengan senyum khasnya.
__ADS_1
‘’Pagi juga, Bi,’’ balasku kemudian disertai senyuman. Tanpa pikir lagi aku langsung menghenyak di kursi.
‘’Bi, ayok sini,’’ panggilku sambil menepuk kursi yang kosong di sebelahku.
‘’Bibi ntar aja sarapannya, Bu.’’
‘’Lah, Bibi mah,’’ keluhku yang membuat si bibi tersenyum lebar.
‘’Kapan lagi Bibi akan sarapan bareng sama aku cobak.’’ Bibi Sum selama kerja di rumah ini tak pernah mau sarapan bersama. Alasannya dia sepagi ini belum bisa sarapan. Aku yakin beliau segan sama suamiku.
‘’Kan enggak ada si Bapak, Bi. Aku sendirian sekarang loh. Nggak enak sarapan sendirian,’’ keluhku dengan wajah memelas.
‘’Iya deh, Bu. Bibi mau kok sarapan bareng sama Ibu.’’ Wanita separuh baya itu tampak menghenyak di kursi sebelah.
‘’Nah, gitu dong, Bi,’’ kataku sambil tersenyum.
Tak berselang lama, bel berbunyi. Siapa ya? Ah iya, aku baru ingat. Kan mertuaku katanya mau ke sini. Aku dan bibi saling tatapan. Kami yang akan menyuap nasi ke mulut malah tak jadi.
‘’Biar Bibi bukain ya, Bu.’’ Aku menyahut dengan anggukan dan si bibi pun melangkah ke luar.
Mendadak seleraku semakin hilang. Aku bingung harus bagaimana nantinya jika yang datang itu benaran mama mertuaku.
‘’Tenang, Nel. Kamu baru keluar dari rumah sakit, jadi nggak usah panik ya. Santai aja, semuanya akan baik-baik saja.’’
‘’Nel?’’ Membuat mataku melotot memandangi siapa yang datang.
Beliau menghampiriku dan bergegas memeluk,’’Iya, kok kamu malah kayak orang kaget gitu. Kan kemarin udah Mama bilang, kalo Mama akan ke sini,’’ katanya sambil melepaskan pelukan dengan pelan.
‘’Humm, iya, Ma. Mama duduk dulu. Kita makan ya?’’
‘’Wah, kebetulan nih perut Mama juga laper banget. Apalagi melihat makanan yang mengundang selera.’’
Mama mertua memandangi makanan yang terhidang, lalu menghenyak di sebelahku. Bibi mematung berdiri dan kami saling tatapan. Aku segera mengambilkan piring dan menyodorkan ke mama yang langsung diraih oleh beliau. Sedangkan bibi melanjutkan sarapan yang sempat terhenti tadi.
‘’Nasimu kenapa nggak dihabiskan, Nel? Apa kamu masih nggak ada selera makan?’’ Mama beralih menatap piring di depanku yang masih tersisa nasi.
‘’Iya, Ma. Mungkin karena obat aku belum habis.’’
‘’Makanya rajin minum obat dan jangan sampe obat kamu lupa diminum. Pikiran pun harus dijaga, jangan sampe kamu banyak pikiran.’’ Aku hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
‘’Oh iya, Mama sampe lupa. Kok Mama enggak ngelihat suami kamu ya?’’
Jleb! Di dadaku terasa guncangan hebat di sana. Ya Allah, aku harus jawab apa ya? Aku melirik ke arah bibi.
‘’M—Mas Deno—‘’
__ADS_1
‘’Wah, udah duluan aja nih sarapannya.’’
Membuat aku terperanjat kaget mendengar suara yang tak asing lagi bagiku. Lantas aku memandanginya dengan tatapan tak percaya. Lelaki itu kenapa bisa ada di sini? Kenapa dia bisa memasuki rumah? Apa si bibi tak mengunci pagar hingga dia begitu mudah menyelip masuk? Apa yang dia rencanakan? Apa dia tak malu dengan kelakuannya?
‘’Mama? Baru dateng, Ma?’’
Dia bergegas melangkah ke tempat mamanya dan mencium punggung tangan sang mama. Membuat wanita itu terheran memandangi anak semata wayangnya. Begitu pun dengan bibi yang terheran dengan mulut yang menganga memandangi lelaki yang sudah lama tak menginjakkan kaki ke rumah ini.
‘’Iya, Mama baru dateng. Barusan Mama tanyain kamu ke istrimu loh. Eh, kamu langsung muncul. Panjang umurmu.’’
‘’Kamu dari mana?’’ imbuhnya kemudian sambil meneguk segelas air putih.
‘’A—aku….’’
‘’Humm, aku tadi di kamar, Ma.’’
Pembohong besar kamu! Ingin rasanya aku mengeluarkan kata sumpah-serapah. Namun, lidahku begitu terasa kelu.
‘’Ya udah. Sarapanlah dulu, Den.’’
‘’Bi, Bibi udah siap sarapan kan? Biar Deno duduk di sebelah Nelda,’’ kata mama mertua yang membuat aku terkesiap.
‘’Ah, iya, Bu.’’ Bibi bergegas bangkit dan meninggalkan ruang makan.
Kini hanya ada aku, mama mertua dan lelaki pengkhianat itu. Membuat aku makin canggung dan merasa risih. Lelaki itu bergegas duduk di sebelahku tanpa merasa bersalah sedikit pun, seperti dia tak membuat kesalahan padaku dan dia seperti pemain sinetron yang handal. Aku hanya melirik sejenak dan kembali menghabiskan makanan yang sedari tadi kuacuhkan. Nasi ini tak berasa, aku seperti tak merasakan rasa di sambal yang telah kusantap. Hatiku begitu teriris memandangi lelaki pengkhianat ini.
‘’Sayang, kamu mau tambah sambalnya?’’
‘’Uhuukk!’’ Aku bergegas meraih segelas air putih yang masih tersisa dan meneguknya.
‘’Pelan-pelan makannya, Nel.’’
‘’Apa yang sedang direncanakan oleh lelaki pengkhianat ini? Kenapa dia tiba-tiba datang ke sini?’’ monologku dalam hati dan meletakkan gelas yang sudah kosong.
Mama menatapku dan beralih menatap anaknya. Tampak lelaki itu bergegas menambuhkan nasi dan melengkapi dengan sambal. Dia langsung menyantapnya tanpa ada rasa malu sedikit pun. Ah, seperti orang yang sudah seminggu tak makan saja. Ya, dia seperti orang kelaparan. Tak hentinya dia menyuap nasi itu dan makannnya sungguh lahap. Sepertinya dia jarang dikasih makan oleh kekasih gelapnya itu.
‘’Makan tuh cinta,’’ gumamku dalam hati sambil tertatawa.
‘’Deno, kamu makannya pelan-pelan dong. Kayak kelaparan aja. Udah berapa hari kamu nggak makan?’’
‘’Ini enak banget loh, Ma. Kalo istri aku yang masak emang selalu enak, nggak ada tandingannya,’’ katanya yang masih berisi mulutnya dengan nasi. Membuat aku menggeleng.
‘’Mas, Mas! Itu masakan si Bibi bukan masakan aku. Kamu aja sekarang nggak bisa membedakan mana masakan aku dan mana masakan si Bibi. Atau jangan-jangan karena kamu kelaparan lagi, semuanya terasa enak banget.’’ Aku sungguh muak dengan sandiwaranya. Bergegas aku bangkit, namun tangan kekarnya menahan tanganku.
‘’Temani dulu aku sarapan ya, Sayang.’’ Membuat aku menepis tangan lelaki itu dengan kasar.
__ADS_1
Bersambung..
Instagram: n_nikhe