Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Bibi Sumi


__ADS_3

‘’Ma’afkan Bibi ya. Bibi nggak mau menambah beban pikiran Ibu lagi.’’


‘’Ya Allah! Kenapa wanita sebaik Ibu banyak sekali ujian yang datang dari Allah.’’ Ya, bu Nelda adalah wanita baik dan berhati malaikat yang pernah aku kenal. Dia begitu baik padaku. Memberiku pekerjaan di rumahnya, apapun dia berikan padaku, dan gaji pun berlebih diberikannya. Dia memperlakukanku bukan seperti ART, melainkan seperti keluarganya sendiri. Hanya aku saja yang selalu segan padanya. Dia orangnya tak perhitungan, apa pun yang ada padanya dia mau berbagi.


‘’Bi?’’ panggilan wanita seberang sana mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Ah, iya, Bu. Nanti akan Bibi bilang ke Mas itu, supaya membawa Naisya secepatnya ke rumah. Ibu jangan khawatir ya.’’


‘’Udah dulu ya, Bu. Assalamua’alaikum,’’ kataku yang bergegas menyudahi pembicaraan dengan majikanku itu. Takutnya nanti mulutku malah ceplos bicara sama majikan. Aku kembali melangkah ke tempat mereka, namun langkahku terhenti seketika.


‘’Makasih banyak ya, Do. Kamu udah bawa Naisya untuk aku ke sini.’’ Apa maksud ucapan lelaki itu?


‘’Maksudnya, Pak? Ini semua rencana Bapak?’’ ketusku dengan amarah yang sudah berada di ubun-ubun, seketika membuat dia terkesiap dengan keberadaanku.


‘’Bi, tenang dulu deh. Jangan ngegas gitu. Bibi udah berani sama aku sekarang lantaran aku—‘’


‘’Gimana saya nggak ngegas, Pak? Kalo tahu Ibu semua ini, beliau pasti marah besar!’’ Aku sengaja memotong pembicarannya.


Habisnya dia asal bicara dan ceplos saja di depan anaknya yang tak tahu apa-apa. Eh, si Dodo malah mematung dan matanya melirik padaku. Ya, sekarang tak ada lagi rasa segan dan hormatku pada si lelaki pengkhianat itu.


‘’Dan kamu, Mas Dodol! Jangan coba macam-macam ya di belakang Bu Nelda, karena saya punya mata-mata untuk mengawasi gerak-gerik kamu!’’ ancamku yang tak mampu lagi untuk menahan rasa kesal yang dilengkapi rasa amarah yang berdatangan. Orang yang diancam malah terkekeh. Membuat aku makin kesal saja.


‘’Bibi, Bibi! Namaku Dodo. Bukan dodol. Aku ini di sini bekerja untuk menghidupi keluargaku. Bukan untuk mecam-macam seperti prasangka Bibi.’’


‘’Udah ah. Males berdebat sama kamu!’’ Aku beralih menatap Naisya yang masih memegang erat tangan papanya.


‘’Kasihan banget kamu, Dik.’’


‘’Dik, Papa itu kerja di kantor. Sibuk banget. Kalo Papa pulang ke rumah, bagaimana dengan kerjaannya? Izinin Papa bekerja ya?’’


Aku mensejajarkan tinggiku dengan gadis mungil itu dan mengelus pucuk kepalanya. Semoga kali ini dia luluh dan mau pulang ke rumah tanpa papanya. Namun, ternyata bujukanku tak mempan. Dia tampak cemberut sekali.


‘’Kita nanti Video Call Om Reno. Mau nggak, Dik?’’ bisikku ke telinga Naisya. Membuat pak Deno menatapku dengan tatapan tajam, sedangkan lelaki yang bernama Dodo itu kebingungan.


‘’Adik mau, mau. Bibi beneran kan?’’ Seketika wajahnya berubah dan menatapku. Kubalas dengan anggukan.


‘’Makanya kita pulang dulu ya,’’ ajakku kemudian. Dia mengangguk. Aku langsung menarik tangan Naisya dengan pelan. Namun, seketika lelaki berseragam itu menghalangiku.


‘’Eh, Bi. Tunggu! Biar aku aja yang bawa Naisya pulang ke rumah, ya? Kan tadi dia ke sini sama aku. Berarti pulangnya sama aku juga,’’ katanya yang membuat aku melotot ke arahnya.


‘’Biarkan Naisya pulang sama saya! Kamu nggak akan bisa mengurusnya!’’


Seketika mataku tertuju pada wanita yang berpakaian selutut itu. Dia turun dari mobil mewah lalu melangkah ke arah kami. Siapa dia? Apa dia selingkuhannya pak Deno?

__ADS_1


‘’Sayang, ternyata kamu di sini. Aku udah nyariin kamu ke mana-mana loh,’’ katanya yang bergegas menggandeng tangan lelaki pengkhinat itu, membuat aku terperanjat.


Namun, lelaki itu berusaha melepaskan gandengan si pelakor. Naisya tidak boleh melihat pemandangan yang menjijikan ini. Tak pantas dia melihatnya. Aku bergegas menggendong Naisya.


‘’Dik, Mama udah nungguin di rumah tuh. Beliau nangis nyariin Adik. Kasihan banget kan?’’ bisikku yang menggendong gadis kecil itu. Namun, pandangannnya masih tertuju pada sang papa.


‘’Bi, itu siapa sih yang di samping Papa?’’


Aku menghela napas pelan,’’ Itu temen kerjanya Papa. Kita harus pulang sekarang ya. Kasihan Mama, Dik,’’ bujukku pelan. Dia mengangguk, aku bergegas melangkah tanpa mempedulikan mereka.


‘’Eh, itu calon anak tiriku kan? Kalian mau ke mana? A—apa nggak mau kenalan dulu sama calon Mama tirimu ini?’’ Terdengar samar olehku. Membuat aku geleng kepala.


Aku tak menghiraukan ucapan si pelakor itu. Lebih baik aku bawa anak bu Nelda ini pulang ke rumah. Jika berlama-lama berada di sana membuat aku darah tinggi dibuatnya. Apalagi Naisya yang tak tahu apa-apa dihidangkan dengan pemandangan seperti itu.


‘’Kasihan banget kamu, Dik,’’ gumamku dalam hati yang memandangi dia yang kugendong. Napasku terasa sesak karena menggendong Naisya. Aku tak biasa berjalan sejauh ini, apalagi menggendong anak kecil. Ah ya, aku naik ojek aja kali ya.


‘’Tapi, aku nggak ada uang lagi.’’


‘’Atau di rumah aja bayarnya?’’


‘’Mas, Mas! Tunggu!’’ Aku berteriak karena tukang ojek itu sudah lumayan jauh. Dia menoleh dan motornya melaju ke arahku.


‘’Anterin saya ke rumah Bu Nelda,’’ pintaku kemudian setelah lelaki itu tiba di sampingku.


Aku langsung membantu Naisya menaiki motor itu, kemudian aku duduk di belakangnya sambil memegangi Naisya. Motor pun melaju.


‘’Ma’af nih, Bu. Dengar-dengar Pak Deno selingkuh di belakang istrinya ya.’’


Karena deru motor dan angin jadi satu, membuat aku tak mendengar semuanya apa yang diucapkan oleh si tukang ojek. Tapi yang jelas dia menyebut nama lelaki pengkhianat itu. Apa maksudnya?


‘’Nggak kedengaran. Mas bilang apa tadi?’’ ulangku dengan nada kencang.


‘’Saya dapat kabar, kalo Pak Deno selingkuh di belakang istrinya. Apa bener? Atau cuman hoaks? Ma’af sebelumnya ya, Bu.’’


Membuat aku terkesiap. Dari mana tahu lelaki ini? Ya Allah, aku baru sadar. Kalau aku tengah bersama Naisya juga. Dia belum pantas mengetahui semua ini. Ah iya, aku baru ingat kalau bu Nelda itu adalah penulis dan dia sangat aktif di media sosial hingga banyak sekali penggemar beratnya.


‘’Ahh, si Mas ini bicara nggak tahu tempat dan waktu sih,’’ upatku dalam hati. Tapi, sejak tadi tak kudengar suara Naisya. Apa dia kesal atau marah padaku? Bergegas kuusap pipinya, namun tak ada respon. Apa dia ketiduran kali ya?


‘’Dik, Adik tidur ya?’’ Tetap saja tak ada respon dari gadis kecil itu. Ya, aku yakin dia pasti terlela. Langsung kusandarkan ke pangkuanku.


‘’Ibu?’’ panggilan lelaki itu membuat aku terkesiap. Mungkin karena aku tak menyahut ucapannya tadi.


‘’Saya nggak tahu, Mas. Karena tugas saya di sana adalah bekerja. Jadi mana tahu saya hal begituan, itu bukan ranah saya untuk mengetahui.’’

__ADS_1


***


Akhirnya aku tiba juga di depan rumah yang minimalis itu. Dengan pelan aku turun. Dan memopong tubuh si gadis kecil dengan hati-hati.


‘’Mas, tunggu sebentar di sini ya. Kebetulan saya kehabisan uang. Biar saya ambil dulu ke dalam sambil mengantarkan anak majikan, karena dia tertidur,’’ kataku kemudian yang disahutnya dengan anggukan. Aku bergegas melangkah, namun mataku tertuju pada teras. Majikanku menatap ke arahku.


‘’Bibi! Naisya kenapa?!’’ teriaknya.


‘’Bu, Ibu jangan khawatir ya. Naisya cuman ketiduran kok.’’


‘’Ta—tapi kok Bibi pake ojek ke sini? Bukannya Naisya sama Dodo tadi?’’ selidiknya yang tengah dilanda kebingungan. Aku memberi isyarat agar majikanku diam, karena Naisya bergerak di pangkuanku. Bergegas langsung kubawa memasuki rumah dan melangkah ke kamarnya.


‘’Untung aja kebuka nih kamar. Mana si Adik berat banget lagi. Tapi aku seneng deh, anak selucu ini bisa dekat sama aku,’’ gumamku sambil membawanya memasuki kamar dan membaringkan Naisya dengan pelan.


Ah iya, aku lupa bahwa si mas tukang ojek tengah menungguku di luar sana. Bergegas aku melangkah ke luar menuju kamar yang kuhuni selama ini. Di kamar mataku tertuju pada dompet yang terletak di meja. Bergegas kuraih dan mengeceknya. Langsung kuraih uang kertas itu dan melangkah kembali ke luar rumah.


‘’Aduhh! Ma’af menunggu terlalu lama ya, Mas,’’ ujarku sambil menyodorkan uang kertas itu.


‘’Nggak apa-apa kok, Bu,’’ sahutnya sambil tersenyum ramah.


‘’Makasih banyak, Mas.’’ Dia menyahut dengan anggukan dan seketika membunyikan klaksonnya. Lelaki itu pun hilang dari pandanganku.


‘’Bi!’’ panggilan bu Nelda membuat aku menoleh. Eh, aku tak sadar jika dia masih berada di teras. Aku bergegas menghampirinya.


‘’Naisya nggak kenapa-napa kan?’’ Aku menggeleng dengan cepat lalu tersenyum.


‘’Dia baik-baik saja, Bu. Naisya cuman ngantuk aja, makanya dia ketiduran di motor.’’


‘’Syukurlah, Bi. Tapi, Dodo mana?’’ Matanya sibuk mencari keberadaan lelaki tak jelas itu.


Ya, dia lelaki tak jelas menurutku. Entah kenapa aku tak menyukainya. Apalagi tatkala tadi dia memabawa Naisya jauh dari rumah yang pada akhirnya bertemu dengan pak Deno. Tapi aku jadi curiga apa maksud dari kata pak Deno yang berterima kasih pada lelaki itu tadi? Apa ini hanya kebetulan atau memang ini rencana mereka berdua? Dan katanya mau beli es krim. Tapi kenapa aku tak nampak lelaki itu membelikan es krim yang dijanjikannya. Apa sebelum aku datang ke sana mereka sudah selesai menyantap es krim?


‘’Kalo aku bilang kelakuan lelaki itu makin aneh dan mencurigakan, si Ibu pasti nggak akan percaya juga.’’


‘’Dia masih di belakang, Bu. Tadi Bibi duluan pulang membawa Naisya, karena Bibi takut Ibu khawatir.’’


‘’Makasih banyak ya, Bi. Tapi mereka jadi beli es krim tadi?’’


Bersambung.


Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya. Jangan lupa koment, like, dan share jugak ya.


See you next time!❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2