Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Deno


__ADS_3

Entah kenapa aku sekarang sangat mencemaskan Nelda.


‘’Mas, ada apa sih? Kok kamu kelihatan murung begitu?’’ Chika, selingkuhanku. Bergegas menghampiri dan dia menghenyakkan bokongnya di sampingku.


‘’Kamu kepikiran Nelda yang udah mempermalukan kita itu? Mikir dong, Mas! Seharusnya kamu lebih bisa melupakannya!’’ kesalnya seketika.


Ya, beberapa hari nan lalu aku diviralkan oleh istriku sendiri di sosmednya, dia yang kukira tak tahu apa-apa ternyata begitu licik juga. Entah dari mana dapat ide semenarik dan selicik itu untuk mempermalukan aku di depan camera. Aku tak menyangka seorang Nelda akan melakukan hal yang di luar perkiraanku.


‘’Atau kamu mau nggak kita bales aja tuh semua perlakuan si sok alim, gimana?’’ usulnya dengan tersenyum sinis. Dalam hati aku membenarkan ucapan Chika. Tetapi hati kecilku memberontak.


‘’Ah, enggak kok, Sayang. Sekarang lebih baik kita fokus ke hubungan kita, ya?’’ kilahku cepat dan bergegas mengatur posisi dudukku, aku berusaha bersikap baik-baik saja. Chika malah semakin mendekatkan tubuhnya hingga berdempetan denganku. Hingga bau parfumenya menusuk hidungku. Aku sebagai pria normal tentu membuatku menginginkannya.


‘’Jangan bohongi aku, Mas,’’


‘’Aku bukan Nelda, yang bisa dibohongi. Aku nih Chika!’’ ucapnya tegas sembari menepuk dadanya sendiri.


Chika ada benarnya juga. Dia dan Nelda adalah wanita yang masing-masing punya kelebihan serta kekurangan yang berbeda. Kalau Chika tak bisa dibohongi, udah berapa kali aku mencoba untuk membohonginya, namun tetap saja dari wajahku dia sudah bisa menilai kalau aku tengah berbohong kepadanya.


Jadi, sulit bagiku untuk membohonginya, sedangkan Nelda begitu gampang dibohongi bahkan aku selingkuh selama 4 tahun saja baru tadi siang terungkap semuanya. Dan mengenai penampilan pun, lebih kekinian penampilan dan gayanya Chika dibandingkan wanita yang masih berstatus sebagai istriku itu, penampilannya norak. Aku bosan memandanginya yang selalu memakai pakaian sok alim menurutku serta dengan kerudung lebarnya.


Ahh! Memikirkan itu saja membuat aku muak dan sakit kepala. Aku lebih suka gaya dan penampilan Chika, pakaiannya yang menampakkan lekuk tubuhnya, rok selutut dan rambutnya yang terurai panjang, membuat mata ini tak bosan memandanginya. Lelaki normal mana saja akan meneguk saliva jika memandangi Chika, termasuk aku. Ya, walaupun wajahnya tak secantik Nelda.


Ya, kuakui Nelda memang cantik tetapi jika berpakaian seperti emak-emak membuat aku muak dan bosan memandanginya. Kecuali jika dia membuka kerudungnya serta bergaya seperti Chika, akan jauh lebih cantik menurutku. Dan bahkan aku tak akan berniat lagi mencari wanita lain di luar sana.


Aku menggeleng secepatnya dan memijit kening perlahan.


Chika menatapku lekat,’’Mas, kamu kenapa sih? Apa yang sedang kamu pikirin lagi?’’


‘’Ah, enggak. Aku nggak mikirin apa-apa kok.’’ Aku tersenyum lebar menatapnya.


‘’Tuh kan, bohong lagi! Mas, udah deh! Aku tahu siapa kamu!’’ ucapnya kesal.


Aku menghembuskan napas gusar. Dan tak menjawab ucapannya.


‘’Apa Mas kepikiran si Nelda? Jujur dong sama aku! Kata kamu cinta sama aku, kok masih mikirin si sok alim itu, hah? Apalagi dia sudah mempermalukan kita. Kenapa kamu masih mikirin dia, Mas?!’’ kali ini dia terlihat begitu marah tampak dari raut wajahnya. Aku pun tak tega.


‘’Sayang, jangan gitu dong. Mana mungkin aku kepikiran sama wanita Emak-Emak kayak dia, lebih baik aku mikirin kamu setiap waktu membuat gairahku bangkit,’’ ucapku lembut dan membelai rambutnya yang tengah terurai.


Ya, itulah jurusku. Jika Chika kesal atau marah kepadaku, maka aku akan mengeluarkan gombalan buaya. Membuat dia terpana dan terlena. Haha, memang kalau wanita jika sudah digombalin tak akan sadar sedikit pun kalau gombalan itu hanya sesaat saja.


‘’Ah, Mas. Bisa aja, ya iyalah. Aku kan lebih cantik dan suka berdandan, nggak kayak istri kamu,’’ ucapnya.


‘’Eh, calon mantan istri kamu. Ya kan, Sayang?’’ tambahnya dengan gaya genit seperti biasa.


Aku hanya tersenyum tipis. Biar bagaimana pun Nelda masih status sebagai istriku. Walaupun dia sudah berani mempermalukan aku sebagai suaminya di depan umum dan di sosmednya. Entah kenapa hatiku begitu berat untuk menceraikan Nelda, walaupun aku sudah berjanji kepada Chika untuk menceraikan istriku. Tetapi aku juga tak bisa melepaskan Chika, jangankan untuk melepaskan, jauh darinya saja membuat aku gila dan selalu merindukannya. Duhh!

__ADS_1


Aku menghela napas gusar dan mengacak-ngacak rambutku.


‘’Mas, kenapa?’’


‘’Kok kamu kayak gelisah gitu? Jangan sampe kamu memikirkan dia lagi, kalo sampe aku tahu, awas aja ya!’’ ancamnya yang membuat aku terperanjat kaget.


Aku malah terdiam dan bergegas bangkit melangkah ke dalam rumahnya.


‘’Eh, orang bicara malah nggak didengerin. Kamu pernah diajar sopan nggak sama orang tuamu dulu? Heran deh!’’ ketusnya sembari mengejarku, namun aku tak perduli dan bergegas memasuki kamarnya.


Tubuh dan juga pikiranku butuh istirahat. Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang milik Chika. Ya, sudah menjadi rutinitas olehku istirahat di ranjangnya sepulang dari kantor, bahkan tak kerja pun aku selalu berulang ke sini dan Nelda tak pernah tahu kelakuanku ini, saking pandainya aku menutup rapat-rapat, apalagi dia seorang wanita yang mudah untuk dibohongi.


Langkah kaki Chika semakin mendekat, aku tak perduli. Kucoba memejamkan mata yang begitu terasa lelah hari ini. Kurasakan ranjang ini berderit, itu tandanya dia menghenyakkan bokongnya di ranjang.


‘’Mas, kamu kenapa sih?’’ lirihnya sembari memegang jemariku.


‘’Hemm!’’ Aku hanya berdehem.


Dan kembali memejamkan mata yang terasa mengantuk, tetapi sulit untuk terlelap. Mungkin karena pikiranku yang melayang entah ke mana-mana. Bergegas aku memutar posisi tidur hingga aku membelakangi Chika yang tengah duduk.


Terdenger olehku helaan napasnya.


‘’Mas, katamu janji sama aku bakalan menikah denganku. Tapi kenapa kamu masih mikirin calon mantan istrimu juga?’’ Chika selalu saja mengatakan jika aku masih teringat dengan istriku. Apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Chika memang pandai sekali membaca pikiranku. Dan setiap kali aku membohonginya pasti dia tahu.


‘’Apalagi dia sudah berani-beraninya mempermalukan kita. Heran deh!’’


‘’Bisa nggak kamu bicara yang lain aja? Bikin kepalaku tambah pusing tau!’’ kali ini amarahku sudah berada di ubun-ubun. Tak biasanya aku berani membentak Chika, jangankan untuk membentak, berkata dengan nada sedikit meninggi saja aku tak pernah. Ya, baru kali ini.


Kukira dia akan memarahiku, malah tangannya bergelayut manja di pinggangku.


‘’Mas, aku kan lagi hamil. Masa kamu tega membentakku, kalo—’’


‘’Apa? Kamu beneran hamil?’’ aku kaget bukan kepalang dan bergegas bangkit.


‘’Kok bisa?’’


‘’Ya, bisalah, Mas. Kan aku udah bilang juga kemaren ke calon mantan istrimu itu, apa kamu nggak denger ketika kita di café itu?’’


Apa? Astaga! Kenapa aku tak tahu-menahu dia berkata seperti itu, padahal aku pun tengah berada di sana. Mungkin hanya tubuhku yang di café, sedang pikiranku jauh melayang entah kemana. Ya, karena saking pusingnya kepala ini, dikarenakan perselingkuhanku sudah diketahui oleh istriku.


Entah dari mana asalnya dia tahu ini semua. Dari ponsel? Tak mungkin, aku sudah menyediakan ponsel khusus untuk menghubungi kekasihku itu dan kusimpan jauh-jauh yang tak diketahui oleh Nelda. Jadi mana mungkin dia tahu dari ponsel. Atau? Dari ponsel yang biasa aku pakai, jangan-jangan Chika sengaja mengirim pesan ke sana ketika aku sedang berada di rumah dan tanpa kuketahui Nelda mengecek ponselku?


Tak mungkin, sebelumnya kan sudah kuberitahu dan kuingat ke Chika, kalau dia hanya boleh menghubungi nomor ini saja. Dan dia pun sudah berjanji, tak kan menelpon atau mengirim pesan ke nomor yang biasa aku pakai di rumah. Ahh! Tapi dari mana istriku itu tahu semua ini. Aku tak habis pikir. Istri yang selama ini kukira bodoh, tak tahu apa-apa. Ternyata aku salah mengiranya, bahkan dia yang membawa dan mengajakku untuk ke salon. Ternyata hanya untuk bertemu dengan Chika dan memviralkan kami.


Sungguh aneh bukan? Kenapa tak aneh coba, dia mengajakku jalan-jalan, berdandan, shopping dan ke salon, yang tak biasanya seperti itu dan ujung-ujungnya dia mempertemukan aku dengan Chika. Apa tak aneh? Apa dia tak mencintaiku lagi? Apa cintanya sudah pudar karena kelakuanku ini? Ah, bukankah itu keberuntungan bagiku? Jika dia tak mencintaiku, maka akan semakin mudah untukku melepaskannya.

__ADS_1


Tapi, di satu sisi aku masih mencintainya dan apalagi aku sudah memiliki buah hati bersama Nelda. Astaga! Pusing sekali kepalaku. Tak menyangka jika perselingkuhanku akan terungkap secepat ini. Berkali-kali aku mengusap muka dengan kasar.


‘’Mas?’’ panggil Chika, yang mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Ah, iya?’’


‘’Kamu kenapa? Kamu nggak senang aku hamil?’’ sungutnya seketika.


‘’Bu—bukan gitu, Sayang. Kan kita belum menikah masa udah mau punya anak aja,’’ ucapku terkekeh.


‘’Lah, kamu gimana sih, Mas? Ini tuh semua perbuatan kamu, makanya aku hamil.


Sekarang kamu malah bicara kayak gitu. Maunya hanya enaknya saja!’’ ketusnya dengan nada terdengar membentak. Aku bergegas bangkit dari berbaring. Dan memeluknya, namun dia menghindar.


‘’Sayang, bukan maksudku kayak gitu. Kok kamu salah paham sih?’’


‘’Udah deh, Mas! Udah jelas kamu yang bicara kayak gitu. Sekarang lain lagi katamu? Heran deh!’’ kupandangi wajah cantiknya, tampak kemarahan dan kekecewaan di sana. Dia bergegas beranjak dari duduknya dan meninggalkan aku sendirian.


‘’Aduuh! Kok jadi kayak gini sih?’’ aku mengacak rambut. Dan bergegas berlari keluar mengikuti pacarku. Ternyata dia duduk termenung di bawah pohon mangga.


‘’Sayang!’’ panggilku lembut dan berhati-hati. Dia hanya terdiam, terdengar olehku isakan. Dia menangis?


‘’Kok kamu menangis?’’ kaget saja melihat dia menangis.


Biasanya separah apapun kami berkelahi dia tak pernah menangis, jangankan menangis untuk sedih saja tidak. Dia wanita kuat yang pernah kukenal. Atau mungkin karena janin yang di rahimnya membuat dia lebih agresive?


‘’Masih bertanya kamu?’’ ketusnya di sela isakan tangisnya. Membuat aku tak tega jadinya.


‘’Ma’afkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud menyakiti hatimu. Kuakui aku yang salah,’’ ucapku lirih dan berusaha mengalah kali ini. Aku tak mau kehilangan Chika. Dia masih diam membisu, namun hanya air matanya yang bicara.


‘’Aku minta ma’af ya. Aku janji akan segera menikahimu,’’


Membuat senyuman terbit di bibir manisnya dan menyeka air mata,’’Mas serius?’’ tanya Chika menatapku.


Aku mengangguk,’’Iya, Sayang,’’


‘’Makasih, Sayang!’’ dia memelukku erat. Aku mengangguk lantas mengelus rambutnya yang terurai.


‘’Tapi secepatnya ya, Mas?’’ pinta Chika manja sembari melepaskan pelukan pelan.


Membuat aku terdiam membisu. Bagaimana bisa aku menikahinya secapat itu? Rasanya aku belum sanggup kehilangan istriku secepat ini walaupun kemarin Nelda usai mempermalukan aku dan jika aku menceraikan Nelda, tentu tak kan dapat izin lagi untuk bertemu dengan putri semata wayangku itu. Apalagi aku belum punya anak lelaki dari Nelda, sedari dulu aku menginginkan seorang anak lelaki. Bagaimana ini?


Bersambung.


Bagaimanakah kisah selanjutnya? Penasaran? Yuk, ikutin dan baca terus ya. Jika suka dengan novelku mohon supportnya dengan cara meninggalkan jejak vote, komen dan share ya Readers biar aku lebih semangat melanjutkan ceritanya. Terima kasih. Sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.

__ADS_1


See you next time! ❤


Instagram: n_nikhe


__ADS_2