
‘’Aku mau bicara sama kamu. Kamu ada waktu nggak sekarang?’’ pesan dari Fani? Berkali-kali kupandangi di aplikasi hijau itu.
Tumben dia menchat aku. Apa dia mengajakku untuk ketemuan? Apa yang ingin dibicarakannya padaku? Tak biasanya dia mengirimiku pesan. Ya, sejak bekerja di kantor mas Deno, Fani tak pernah menghubungiku. Hanya aku sesekali yang menghubunginya, itu pun aku menghubunginya karena semata-mata bertanya tentang si pelakor itu.
‘’Aku nggak bisa, Fan. Kamu mau bicara apa? Lewat telpon saja ya,’’ balasku kemudian dan mengirimkan ke kontak wattsappnya itu. Tampak sudah centang dua, namun belum bewarna biru. Aku menghela napas berat.
‘’Mungkin Fani nggak tahu, kalo aku udah seminggu lebih di rumah sakit,’’ gumamku lirih yang tak putusnya memandangi benda pipih yang tengah kugenggam. Masih tertayang pesan Fani di sana.
Eh, ternyata sudah bewarna biru. Itu artinya sudah diread oleh Fani. Tampak dia tengah mengetik balasan.
‘’Ini penting banget. Nggak bisalah lewat telpon saja, Nel.’’
Penting? Apa ini menyangkut soal masalah rumah tanggaku yang viral kemarin-kemarin? Apa Fani sudah tahu semuanya ya?
‘’Tapi, aku masih di rumah sakit, Fan. Udah seminggu lebih aku di rumah sakit,’’ balasku kemudian. Tampak sudah diread olehnya, namun tak kunjung dapat balasan.
Beberapa menit kemudian.
‘’Kamu kenapa? Sakit? Atau kecelakaan?’’
‘’Aku kecelakaan.’’
Fani sahabatku calling. Aku bergegas mengangkatnya.
‘’Assalamua’alaikum, Fan.’’
‘’Wa’alaikumussalam!’’ sahutnya di seberang sana. Tapi agak berbeda bunyi suaranya, terdengar ketus. Atau memang perasaanku saja? Aku berusaha menepis semua prasangka buruk itu, namun tetap saja hatiku tak enak rasanya. Ada apa ini?
‘’Kita bicara lewat telpon saja,’’ katanya. Ya Allah memang tak terniat olehnya menanyakan keadaanku?
‘’Bukannya aku pernah bilang sama kamu jangan su’udzon sama suami sendiri. Ini malah su’udzon dan kamu udah mempermalukan Chika, sekretarisnya Deno. Terlebih lagi suami—‘'
__ADS_1
‘’Fan! Aku nggak su’udzon. Lelaki itu memang benaran selingkuh di belakang aku. Bahkan udah empat tahun lamanya loh,’’ kataku yang bergegas memotong ucapannya, saking kesalnya diriku. Kutarik napas dengan pelan lalu menghembuskannya dengan pelan, guna meredam rasa kesalku dan agar aku sedikit tenang.
‘’Nggak, Nel! Kamu pasti udah salah paham sama mereka. Terlebih Chika, dia nggak akan setega itu merebut suami orang. Aku tahu dan aku kenal banget sama Chika,’’ balasnya yang terdengar lebih ketus di seberang sana, yang berhasil membuat sesak di dadaku makin membuncah.
Ya Allah, seolah dia tak percaya padaku. Dia lebih mempercayai si wanita murahan itu. Kenapa dia berubah total sekarang? Fani, yang kukenal tak seperti ini.
‘’Ya Allah, Fan! Aku nggak mungkin salah. Dan aku udah punya buktinya, asalkan kamu tahu Chika itu juga sedang mengandung anak dari lelaki itu. Kamu perlu bukti? Oke, setelah keluar dari rumah sakit akan aku berikan bukti untukmu,’’ kesalku.
‘’Nel! Cukup ya! Nggak mungkin deh! Jadi kamu nggak usah memfitnah orang lain, mengatakan dia mengandunglah, ini dan itu segala macam. Kamu itu yang terlalu cemburuan sama suamimu. Suami kamu itu bekerja demi kamu dan anakmu. Kalo begini sifat kamu, lama-kelamaan si Deno memang benaran selingkuh. Tolong hilangkan dulu sifat cemburuanmu itu!’’
Allah! Hatiku sungguh teriris mendengar ucapan Fani. Seorang sahabat bisa berkata seperti itu? Dia yang dulunya bersahabat denganku, selalu mempercayaiku dan susah senang kami bersama. Kenapa kini dia bisa melontarkan kalimat yang membuat hatiku teriris? Teganya dia berkata seperti itu pada sahabatnya sendiri.
‘’Astaghfirullah! Fan, ini beneran kamu kan? Aku ini sahabatmu loh. Kok kamu malah nggak percaya apa yang aku katakan!’’ kataku dengan suara bergetar, mengutarakan apa yang tengah mengganjal di pikiranku.
‘’Iya. Ini aku, Fani! Tapi Fani yang sekarang, bukan yang dulu. Sahabat? Itu dulu, sekarang aku nggak respect lagi sama kamu!’’
Membuat aku membungkam mulut dengan telapak tangan, dadaku terasa makin sesak dan aku menggeleng berkali-kali.
‘’Kenapa Fani bisa jadi begini? Ke mana Fani sahabatku yang dulu,’’ aku membatin dengan air mata yang lolos begitu saja. Hingga aku tak mampu berucap lagi.
Astaghfirullah! Dengan tangan gemetaran aku menekan tombol. Membuat sambungan telepon putus sepihak. Sakit rasanya, sungguh sakit. Seperti aku bicara dengan orang lain saja, Fani tak seperti itu. Seperti ada orang lain di dalam dirinya. Ada apa ini? Kenapa dia bisa setega ini padaku mengatakan semuanya.
‘’Aarrgghh!’’
‘’Nel, Nel! Kamu kenapa? Tenang dulu, tenangin diri kamu. Nanti malah memburuk keadaanmu,’’ kata lelaki yang baru saja memasuki ruang rawatku.
‘’Kamu nggak tahu apa-apa. Tolong diem, aku nggak mau nanti ucapanku malah menyakiti kamu,’’ kataku pelan dan mencoba mengatur napasku yang berantakan. Kuseka air mataku dengan kasar.
‘’Iya, aku memang nggak tahu apa-apa,’’ sahutnya lirih.
‘’Tapi kesehatan kamu lebih penting bagi aku. Kamu itu baru membaik, Nel. Apa kamu nggak mikirin Naisya yang udah lama kamu tinggalin di rumahmu. Dia demam loh, badannya panas.’’
__ADS_1
Ucapannya mampu membuat aku terperanjat dan memandanginya.
‘’Apa? Naisya demam? Kamu tahu dari mana, Ren?’’
‘’Kamu tenang dulu ya. Sekarang alhamdulillah udah turun panasnya. Aku tahu dari Bibi Sum, karena dia menghubungiku semalam.’’
‘’Ke—kenapa Bibi bisa telpon kamu? Kenapa nggak aku dikasih tahu sama Bibi? Kan aku Mamanya dan kamu—‘’
‘’Bukan siapa-siapanya,’’ katanya menyambung ucapanku.
Bagaimana aku tak kesal, bisa-bisanya bibi Sum tak memberitahu padaku kalau putriku itu panasnya tinggi. Kenapa coba? Aku berhak tahu, walaupun aku tengah di rumah sakit. Aku ini mama kandungnya. Dan Reno bukan siapa-siapanya Naisya.
‘’Aku paham dan mengerti, Nel. Tapi, Bibi nggak ingin menambah beban pikiranmu dan apalagi kamu sedang dirawat di rumah sakit,’’ jelasnya sembari menatapku.
‘’Dan aku dikasih tahu Bibi, itu semata-mata karena Bibi mau minta tolong buat belikan obat untuk Naisya. Coba kamu pikir, kalo Bibi yang beli lalu siapa yang jagain Naisya di rumah?’’
Dalam hati aku juga membenarkan ucapan lelaki itu. Tapi, aku kesal dan kecewa sekali sama bibi kok bisa-bisanya dia tak memberitahuku kalau Naisya demam. Apalagi sama lelaki di depanku ini, dia juga tak memberitahuku. Baru sekarang dia memberitahu.
‘’Aku tahu kamu pasti marah sama aku. Tapi jika aku kasih tahu pun ke kamu, kamu pasti akan tambah stress dan itu akan membuat keadaanmu semakin memburuk. Membuat kamu akan lama di rumah sakit ini, Naisya pun akan semakin sakit karena kamu nggak ada di sampingnya.’’
Kenapa lelaki ini begitu peduli pada aku dan Naisya? Apa maunya sebenarnya lelaki ini? Atau memang cara dia untuk membuat aku luluh. Tidak! Belum tentu lelaki yang di hadapanku ini baik. Sudah cukup aku dipermainkan oleh lelaki yang masih berstatus sebagai suamiku itu. Sudah cukup dia merobek-robek hatiku. Lelaki itu jarang yang setia. Tak pernah puas dengan wanita dan matanya itu tak puasnya memandang wanita-wanita.
‘’Nggak, Nel! Kamu jangan luluh dengan sikapnya Reno. Ingat, lelaki itu nggak bisa dipercaya. Lain di depan, lain lagi di belakang,’’ batinku yang mencoba mengingatkan diri sendiri.
Ya, aku berjanji pada diriku agar tak mudah mempercayai yang namanya lelaki. Walaupun dia bersikap begitu manis padaku, perhatian, dan bahkan selama aku di rumah sakit dia yang selalu siap sedia menjagaku, dia rela tidur di luar dekat tepi pintu. Juga membelikanku sarapan pagi, sarapan siang, dan makan malam untukku. Di satu sisi aku udah berusaha menolak, tapi tetap saja dia memaksaku. Di sisi lain, aku juga lapar sekali, aku tak suka bubur yang diberikan oleh Suster, dan bibi Sum pun jarang sekali ke sini karena sibuk mengurus Naisya, putri semata wayangku.
Ya, berarti aku sudah banyak berhutang budi sama Reno. Soal uang? Bisa kuganti nanti setelah aku ke luar dari rumah sakit.
‘’Ren, makasih banget. Selama ini kamu udah baik banget sama aku. Tapi, aku nggak enak aja sama kamu,’’ lirihku.
‘’Sekarang Alhamdulillah keadaanku udah membaik banget. Jadi kamu bisa pulang dan biarkan aku sendiri aja di sini, ada Suster yang akan membantuku,’’ imbuhku dengan pelan.
__ADS_1
‘’Nel, aku nggak mau sebelum kamu keluar dari rumah sakit ini. Kenapa kamu nggak membolehkan aku untuk menjaga kamu di sini? Aku nggak ada maksud lain, hanya membantu kamu saja, nggak lebih. Dan aku khawatir sama kamu. Gimana kalo orang suruhan Deno atau selingkuhannya itu menculik kamu lagi.‘’
‘’Nggak! Lelaki jika baik kayak gini, pasti ada maksud lain. Aku nggak akan mudah percaya sama lelaki!’’