
‘’Nggak! Pokoknya kalian nggak boleh masuk. Nanti malah aku kehilangan barang mahalku lagi. Orang miskin kayak kalian emang bisa mengganti barang mahalku? Hah?’’
Aku berkacak pinggang berdiri di ambang pintu menghadap bapak-bapak rempong yang kepo sekali dengan urusanku. Ingin rasanya aku menelan hidup semua orang ini, saking marahnya aku sekarang. Bisa-bisanya mereka kepo dengan urusanku.
Ibu Nirma? Siapa dia? Di mana orang itu melihat aku membawa Deno ke sini? Selama aku mengajaknya menginap di sini tak pernah kecolongan sedikit pun. Karena seribu macam cara aku lakukan agar warga tak mengetahui, kalau aku membawa lelaki menginap di rumahku. Aku akan mencari tahu ini semua, siapa itu Nirma?
‘’Mba, kami cuman sekedar ngecek aja. Nggak lebih.’’
‘’Kita masuk aja. Mana tahu dia yang membawa lelaki ke rumahnya!’’
Semuanya menerobos memasuki rumahku, aku sudah berusaha menghalangi sekuat tenaga, namun tak bisa. Kekuatan mereka mengalahkan kekuatanku yang cuman sendirian, apalagi aku juga perempuan yang tengah berbadan dua. Takutnya nanti malah aku jatuh dan bagaimana kalau aku keguguran. Aku tak mau hal itu terjadi, jika aku keguguran maka akan susah untukku mempertahankan Deno untuk tetap hidup bersamaku.
‘’Mas Deno? Dia di mana sekarang? Apa dia masih di kamar? Gawat!’’ Aku langsung berlari mengikuti beberapa orang warga yang menggeledah rumahku. Mereka tampak melangkah ke kamar kamarku.
‘’Aku sudah bilang sama kalian! Aku di sini hanya sendirian!’’ ketusku. Namun, mereka tak menghiraukan dan langsung memasuki kamarku.
‘’Hei! Kalian udah lihat kan kalo di kamarku ini nggak ada siapa-siapa. Udah deh ya, jangan sampai nanti aku laporin kalian!’’
‘’Mba, kami hanya menjalankan tugas dari Pak RT. Dan ini demi kenyamanan kita bersama, kalo ada yang berbuat maksiat kita juga akan terkena imbasnya.’’
‘’Kalian ke sini mau ceramahin aku? Iya? Jangan sok suci deh, periksa dulu di rumah kalian. Mana tahu istri kalian yang membawa lelaki lain ke rumah!’’
Membuat aku naik darah saja. Sudah kepo dengan urusan orang lain, ditambah pula menceramahi aku. Siapa coba yang tak kan marah. Aku tak butuh ceramah dari orang-orang yang sok suci seperti mereka. Yang cuman berlagak sok dan seperti tak pernah berbuat dosa saja. Membuat aku benci dengan mereka!
‘’Astaghfirullah, Mba. Jangan sembarang menuduh.’’
‘’Sudah! Jangan dengerin dia. Ada satu kamar lagi yang belum kita periksa.’’
Mereka pada melangkah menuju kamar yang dihuni oleh kekasihku selama ini. Gawat! Bagaimana kalau mereka mendapati keberadaan Deno di kamar itu. Aku tak mau nanti malah digebukin, dan warga tentu memaksanya untuk menikahiku. Bukankah itu yang kuinginkan? Bukankah itu yang selama ini kunanti? Apalagi aku tengah berbadan dua, di rahimku sudah tumbuh benih lelaki itu.
‘’Ini kesempatan besar untukku, biar aku bisa nikah secepatnya dengan Mas Deno.’’
‘’Ah, tunggu! Jangan gegabah dulu, Chik. Bagaimana kalo Mami dan Papi mengetahui ini semua dan mereka nggak mau ngasih fasilitas lagi buat kamu. Apalagi kamu belum dapat kerjaan baru.’’ Aku mengingatkan diri sendiri agar tetap tenang dan jangan gegabah dalam mengambil tindakan. Kuhela napas pelan.
__ADS_1
‘’Kamu di mana sih, Mas.’’
Aku melangkah dengan tergopoh-gopoh, tampak warga itu sudah berdiri di depan pintu kamar.
‘’Tertutup! Buka saja, Pak!’’
‘’Duhh! Bagaimana ini? Bagaimana kalo Mas Deno beneran ada di dalam sana. Kebongkar semuanya nih,’’ gumamku dalam hati yang merasa begitu cemas.
‘’Ja—jangan. Di dalam ini ada barang berharga aku. Nggak ada satu pun orang yang boleh memasuki kamar ini, selain keluarga aku! Kalian paham?’’ Aku bergegas menghadang beberapa orang warga itu, dengan tegak di depan pintu sambil membentangkan tangan.
‘’Kami ke sini bukan mau mengambil barang berharganya, Mba. Kami ke sini mau memeriksa rumah dan memastikan apakah rumah ini aman!’’
‘’Benar sekali, Pak.’’
‘’Ah, sudahlah! Kita nggak ada waktu lagi, buruan periksa. Biar aku yang menghalangi Mbak ini.’’ Lelaki hitam manis itu bergegas mencekal tanganku dengan erat, hingga membuat aku tak bisa bergerak.
‘’Lepaskan! Aku akan teriak biar warga ngebukin kalian semua!’’
‘’Bagaimana ini?’’
‘’Pak, ada orang nggak di dalam?’’ Tangannya masih sibuk mencekal tanganku.
‘’Nggak ada, kami sudah memeriksa seluruh ruangan ini. Memang nggak ada orang di dalam.’’
‘’Kok bisa? Ke mana Mas Deno?’’ monologku dalam hati.
‘’Syukurlah. Kalo gitu rahasiaku masih aman. Tapi lain kali aku harus berhati-hati.’’
Aku tersenyum sinis dan lelaki itu melepaskan cekalan tanganku dengan kasar. Aku mengelus tangan mulusku seketika. Untung saja tangan mulusku ini tak lecet. Jika lecet aku akan minta pertanggung jawaban dari lelaki itu.
‘’Tuh, kalian nggak percaya sama aku. Itu namanya fitnah, aku bisa saja melaporkan kalian.’’ Cameraku seketika langsung memotret beberapa orang lelaki yang ekspresinya tengah kebingungan, dengan sengaja kulakukan.
‘’Sekarang pergi! Atau kalian beneran akan aku laporkan, buktinya udah ada di hp ini!’’ Aku memperlihatkan gambar yang berhasil kupotret. Wajah mereka seperti tengah ketakutan.
__ADS_1
‘’I—iya, Mba. Ma’af sekali lagi ya, kami pamit dulu!’’ Semuanya bergegas melangkah ke luar dari rumahku. Aku tersenyum sinis sambil melipat tangan di dada. Dasar warga kepo dengan urusan pribadi orang lain. Kenapa coba mereka mengurus hidupku? Hidup sendiri saja belum tentu terurus.
‘’Kok bisa-bisanya mereka mengurus hidup orang lain? Beras saja belum tentu mereka mampu untuk membeli!’’
Aku tak habis pikir dengan kelakuan warga di sini. Suka-suka akulah mau bawa lelaki menginap di sini atau bagaimana. Kecuali aku membawa lelaki ke rumah mereka, nah baru sepantasnya mereka kepo. Aku paling tak suka orang lain mengurus urusanku, apalagi sampai menggeledah rumahku segala. Lebih baik aku masuk kembali ke dalam rumah. Aku butuh istirahat malam ini.
Tangan seseorang yang memegangi pundakku membuat aku terperanjat kaget, seketika aku langsung menoleh dan tanganku terhenti tatkala hendak menutup pintu.
‘’Ya ampun! Kamu bikin kaget aja deh,’’ ketusku setelah melihat sosok yang berdiri di belakangku. Aku kesal, dia malah tersenyum lebar.
‘’Mana Bapak-Bapak kepo tadi? Udah pergi?’’ Kedua netranya sibuk mencari keberadaan warga yang menggeledah rumahku tadi.
‘’Udah, untung aja kamu pinter sembunyi, Mas. Kalo nggak, semuanya akan terbongkar!’’ Aku menepuk lengan kekarnya dengan pelan, dia tersenyum bangga memandangiku.
‘’Ya iyalah, Sayang. Kamu kan udah tahu bagaimana aku. Pacarmu ini nggak diragukan lagi kepinterannya,’’ sahut kekasihku itu dengan bangga lalu menyunggingkan bibirnya.
Ya, dalam hati aku ikut membenarkan ucapan sang kekasih idamanku itu. Dia memang paling pintar bersembunyi, apalagi menyembunyikan aku dari istrinya. Bertahun-tahun dia berpacaran denganku, baru kini diketahui oleh sang istrinya si sok suci. Sungguh pintar dia bersembunyi, bukan? Itu yang membuat aku tergila-gila padanya.
‘’Lah, kok kamu malah bengong begitu, Sayang?’’ Dia berhasil membuyarkan lamunanku.
‘’Humm, enggak, Mas.’’
‘’Bagaimana dengan rencana yang sedang kita jalankan itu, Mas? Apa berhasil?’’ selidikku seketika teringat dengan rencana yang kami jalankan.
‘’Berhasil-lah, Sayang. Masa enggak.’’
Bersambung..
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1