Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Deno


__ADS_3

Semejak karyawanku pada mengundurkan diri dari perusahaan, membuat perusahaan itu aku tutup untuk sementara. Aku bahkan sudah berusaha untuk mencari karyawan, ingin aku ajak bekerja di perusahaanku. Namun, nihil. Semua orang sudah tahu rahasiaku selama ini.


‘’Kami nggak sudi bekerja sama dengan Direktur kayak Bapak.’’


Begitu ucapan mereka tiga hari nan lalu. Saat aku mengajak beberapa wanita dan pria yang kuhubungi lewat benda canggihku itu. Ah, ini semua gara-gara perempuan sok suci itu! Semua orang jadi tahu yang kututupi selama ini. Berita itu viral karena dia live di instagram, kuyakin orang lain juga ikut menshare video live itu. Lihat saja apa yang akan kulakukan pada wanita sok suci itu. Semoga saja semua rencanaku kali ini berhasil.


‘’Kamu kira aku ini lelaki bodoh, Nel! Kamu belum tahu siapa Deno yang sebenarnya.’’ Aku menyunggingkan bibir.


Aku mengusap mukaku berkali-kali dengan kasar. Seketika panggilan Chika mampu membuyarkan lamunanku.


‘’Mas? Gimana udah dapat solusi nggak kamu?’’ Dia menghenyak di sebelahku. Aku menggeleng lemah dan mengacak rambut.


‘’Belum ada, Chik.’’


‘’Kamu harus usaha juga dong, Mas. Kamu tahu kan aku ini sedang hamil anak kamu, butuh biaya yang banyak dan apalagi kita akan menikah sebentar lagi,’’ ketusnya kemudian yang membuat aku terkesiap. Tampak dia mengelus perutnya yang masih tampak rata. Aku menghela napas gusar.


‘’Kok kamu bicara kayak gitu sama aku? Seharusnya kamu support aku dong, bukan malah kayak gini.’’ Nada suaraku sungguh naik kali ini saking kesalnya aku.


‘’Mas kamu bentak aku? Aku bicara yang sebenarnya loh,’’ sahutnya dengan nada tak kalah ketus. Membuat darahku semakin mendidih dibuatnya.


‘’Tenang, Deno. Kalo kamu bertengkar dengan kekasihmu itu. Pasti dia akan ngusir kamu. Emang kamu mau jadi gelandangan di jalan?’’ gumamku dalam hati mencoba menenangkan diri sendiri.


Aku menggeleng, membayangkan jika aku diusir oleh kekasihku dan aku malah jadi gelandangan di jalan. Ihh! Amit-amit. Aku bergedik ngeri membayangkan itu semua.


‘’I—iya, ma’af. Kan kamu tahu sendiri aku juga lagi usahain biar perusahaan aku bisa dibuka lagi, Sayang,’’ kataku yang mulai sedikit tenang dan menatap mukanya yang tampak kesal sekali padaku. Namun, karena mendengar ucapanku barusan membuat wajahnya kembali berubah.


‘’Ma’afkan aku ya. Aku nggak berniat membentak kamu, Sayang,’’ imbuhku yang langsung memegangi jemarinya lantas mengecup jemari mulus itu. Senjataku paling ampuh ya begini.


‘’Aku mengerti kok. Kamu mungkin pusing memikirkan masalah perusahaan dan saking pusingnya membuat kamu membentak aku.’’


Bunyi ponselnya membuat aku dan dia saling tatap. Aku melepaskan tangannya yang sedari tadi kugenggam erat. Dia langsung mengecek benda canggih miliknya itu. Sepertinya cuman pesan, tapi pesan dari siapa ya?


‘’Apa dia punya lelaki lain selain aku?’’ Aku menggeleng dan berusaha menepis pikiran itu. Mana mungkin dia bermain di belakangku dengan lelaki lain, apalagi dia kini tengah mengandung benih dariku. Dia juga begitu sangat mencintaiku. Buktinya, sekarang dia mau menampungku di rumahnya dan dia juga tak segan mengeluarkan biaya untuk sehari-hari yang begitu banyak.


‘’Humm, Mas! Aku ke kamar dulu ya.’’


Tanpa menunggu jawaban dariku dia bergegas bangkit dengan tergesa melangkah menuju kamarnya. Ada yang aneh menurutku. Setelah dia mendapat pesan, membuat dia bergegas memasuki kamarnya.


‘’Seperti ada yang sedang disembunyikannya dari aku. Tapi apa ya?’’ gumamku yang memandangi wanita itu sudah hilang dari pandanganku..


Dari siapa pesan itu? Ah, aku harus menyelidikinya. Tanpa pikir lagi, aku langsung melangkah menuju kamarnya dengan mengendap-endap. Tampak pintu kamarnya sedikit terbuka. Aku berdiri di belakang pintu kamar dan melihat gerak-geriknya, dia tampak mondar-mandir seperti orang yang cemas dan memikirkan sesuatu. Seketika ponselnya terdengar berdering.


‘’Iya, Mi. Aku lagi di rumah kok.’’


‘’….’’

__ADS_1


‘’Humm, enggak. Aku udah berhenti kerja di perusahaan itu.’’


‘’…’’


‘’Ada masalah besar yang menimpa perusahaan itu, Mi. Oh ya, Mami sama Papi gimana kabarnya?’’


‘’…’’


‘’Syukurlah, Mi. Aku baik-baik saja di sini kok.’’


‘’…’’


‘’Apa? Mami akan jemput aku? A—aku kan udah betah di sini.’’


Membuat aku terkesiap mendengarnya. Ini tak bisa dibiarkan.


‘’Apa? Mami mau jodohin aku? Aku udah punya—‘’ Membuat aku terperanjat kaget mendengar ucapan Chika.


‘’Mi? Hallo, Mi!’’


‘’Astaga! Dimatikan langsung sama Mami.’’


Aku langsung melangkah ke kamarku dan menutup pintu seketika. Pembicaraan Chika dengan maminya terngiang-ngiang di telingaku. Walaupun ucapan maminya tak terdengar olehku, tapi dari ucapan Chika aku bisa menyimpulkan kalau maminya sudah menyiapkan jodoh untuk kekasihku itu dan akan menjemputnya ke sini. Aku khawatir kalau kekasihku itu luluh dengan bujukan orang tuanya dan akhirnya dia mau menurut.


‘’Bagaimana ini?’’ Aku mondar-mandir dan memijit kepala yang terasa pusing. Banyak sekali beban pikiranku. Belum selesai satu masalah, masalah baru datang lagi.


‘’Mas!’’ Suara yang taka sing lagi bagiku. Mampu membuyarkan lamunanku seketika.


‘’Ah, ya, Sayang. Masuk aja,’’ kataku lirih yang menghenyak di tempat tidur yang kutempati selama kabur dari rumah wanita yang masih berstaus sebagai istriku itu.


Seketika pintu berderit. Tampaklah wanita berambut panjang yang membiarkan rambutnya terurai rapi, tak lupa dress selutut dikenakannya. Itu membuat penampilannya memukau dan memesona di mataku. Namun, wajahnya tampak murung.


‘’Kamu kenapa, Chik? Kok murung kayak gitu?’’ Aku sengaja berpura-pura tak mengetahui pembicarannya dengan maminya barusan.


‘’Duduk di sini,’’ pintaku menepuk kasur. Dia tampak menghela napas gusar lantas menghenyakkan bokong seksinya di sebelahku.


‘’Aku bingung banget, Mas,’’ katanya lirih yang memandang entah ke mana.


‘’Bingung kenapa? Cerita ya, Sayang.’’ Aku mendekatinya dan dengan spontan memegang jemari mulus milik Chika.


‘’Ma—Mami mau jemput aku ke sini,’’ sahutnya terbata.


‘’Ma—maksud kamu, kamu mau dibawa ke sana gitu? Kamu netap di sana?’’ Nada suaraku seperti orang yang terperanjat kaget mendengarnya. Aku berusaha mengekspresikan mukaku. Dia tampak mengangguk lemah.


‘’Trus kamu mau?’’

__ADS_1


‘’Itu yang aku bingungkan, Mas. Aku nggak mau ninggalin kamu dan di satu sisi aku juga nggak bisa membantah kemauan Mami.’’


‘’Aku harus gimana dong?’’


‘’Sayang, kamu tenang dulu—‘’


‘’Gimana aku mau tenang, Mas. Apalagi aku mau dijodohin sama Mami!’’


‘’Astaga! Kamu serius, Sayang?’’


Dia hanya menyahut dengan anggukan, seketika aku memeluknya dengan erat.


‘’Sayang, kamu jangan khawatir. Aku akan bantu kamu supaya Mami kamu nggak jemput kamu ke sini dan juga membatalkan niatnya untuk menjodohkan kamu,’’ kataku lembut yang berusaha menenangkan kekasihku itu sambil membelai lembut pucuk kepalanya.


‘’Kamu belum tahu bagaimana Mamiku, Mas. Apa yang dia mau nggak bisa dibantah,’’ sungutnya yang bergegas melepaskan pelukan dariku.


Dalam hati aku juga membenarkan ucapan kekasihku itu. Ya, dia sering bercerita tentang maminya padaku. Walaupun aku belum pernah sekali pun bertemu dengan maminya Chika, tetapi aku sudah tahu bagaimana karakter dari wanita separuh baya yang masih kelihatan muda dan gayanya seperti anak gadis zaman now. Aku mengatakan demikian, karena sudah melihat fotonya di ponsel Chika. Dia dan anaknya seperti orang kakak-beradik. Malah lebih cantikan maminya daripada anaknya.


‘’Kamu tenang aja ya. Biar aku yang bicara sama Mami kamu.’’


Bunyi ketukan pintu di luar sana diiringi dengan ucapan salam membuat Chika meletakkan jari telunjuknya di bibirku, pertanda dia menyuruhku untuk diam. Kami saling tatapan.


‘’Kamu tunggu di sini dulu, Mas. Jangan keluar!’’ titahnya yang bergegas bangkit dan melangkah ke luar dari kamar yang kutempati. Siapa lagi yang datang? Sepertinya tamu tak diundang.


‘’Aku penasaran banget. Siapa sih yang bertamu malam begini?’’ Karena rasa penasaran terus menghampiri pikiranku, membuat aku bergegas bangkit dan melangkah dengan mengendap-endap ke depan. Aku tak mempedulikan perintahnya Chika.


‘’Assalamua’alaikum, Mba Chika! Eh, jam segini Mba belum tidur juga ya?’’ Terdengar olehku suara lelaki. Siapa dia? Apa dia warga di sini?


‘’Kalian mau ngapain ke sini? Ganggu orang istirahat aja!’’ sahut Chika dengan nada ketus. Aku masih betah bersembunyi di balik pintu sambil menguping pembicaraan mereka.


‘’Ma’af, Mba. Kami sedang mengadakan pemeriksaan setiap rumah warga, Mba. Karena ada Ibu Nirma yang melihat wanita membawa lelaki ke dalam rumahnya. Makanya kami ditugaskan untuk memeriksa setiap rumah.’’


‘’Ya ampun! Bagaimana ini?’’ Aku membatin dan masih memasang pendengaran dengan baik.


‘’Lah, jadi kalian menuduh aku?’’ Terdengar suara kekasihku meningkat beberapa oktav.


‘’Bu—bukan, Mba. Bukan kami menuduh, kami hanya menjalankan perintah dari Pak RT saja.’’


‘’Nggak! Pokoknya kalian nggak boleh masuk. Nanti malah aku kehilangan barang mahalku lagi. Orang miskin kayak kalian emang bisa mengganti barang mahalku? Hah?’’


Bersambung.


Ma'af Guys, teruntuk kalian yang lama menunggu lanjutan cerita ini. Aku sakit setiap bulan, kalo lagi PMS itu selalu saja sakit. Nah, makanya aku ngga update selama ini. Do'akan ya aku sehat selalu, biar bisa menulis lagi. Terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia ngikutin cerita novel ini.


See you next time! ❤

__ADS_1


Instagram: n_nikhe


__ADS_2