Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
POV Si Pelakor


__ADS_3

‘’Sepertinya dia mulai percaya sama aku. Sahabatmu akan terus aku perdaya, Nelda.’’


Aku menyunggingkan bibir menatap wanita itu yang tengah berkaca-kaca kedua netranya. Tanpa berpikir lagi, aku bergegas menarik tangannya menuju tempat pembayaran administrasi.


‘’Sus, atas nama Mas Deno ya,’’ kataku tatkala sudah berada di depan pembayaran itu.


‘’Baik, Mba.’’ Tak berselang lama wanita berkerudung itu memberikan catatan kecil padaku.


Bergegas kukeluarkan kartu dari tas branded milikku. Lalu langsung kusodorkan pada petugas administrasi itu.


‘’Fan, nama Papamu siapa?’’


Aku beralih menatap wanita berambut sebahu itu yang tengah termangu sedari tadi. Entah apa yang ada di pikirannya.


‘’Hem, nama beliau Suhendra.’’


‘’Oke. Sus, cek juga administrasi atas nama Om Suhendra ya. Pake kartu yang tadi aja.’’


***


‘’By the way makasih banyak ya, Chik.’’


‘’Aku janji kalo ada uang. Aku bakalan ganti semua uang kamu,’’ lanjutnya sambil melangkah.


‘’Fani, Fani. Emang kamu bisa mengganti uang aku sebanyak itu? Secara kan kamu pengangguran. Dari mana akan dapat uang cobak,’’ selorohku dalam hati sambil tersenyum sinis.


‘’Fan, kamu santai aja kali. Aku seneng kok kalau aku bisa ngebantu kamu. Jangan pikirkan soal membayar. Yang penting Papa kamu sehat dulu,’’ sahutku.


Memang kalau soal sandiwara tak bisa diragukan lagi bakatku ini. Pernah dulu aku ditawarkan untuk main film di televisi ikan terbang, namun aku menolak mentah-mentah karena aku tak kuat jika shooting harus larut malam hingga subuh tiba.


Ya, mungkin orang lain menganggapku bodoh, karena aku tak mau menerima tawaran yang jarang didapatkan oleh orang lain itu. Kata orang, jarang akan ada kesempatan dua kali. Tapi aku menyia-nyiakannya kesempatan itu.


Ah, tapi harta mami dan papiku begitu banyak. Jadi buat apa lagi aku mencari uang mati-matian? Toh semua fasilitas diberikan oleh kedua orangtuaku tanpa aku minta. Bahkan ketika aku masih bekerja kemarin, mami dan papi tetap saja mentransfer uang untuk biaya hidupku sehari-hari.


‘’Kamu baik banget, Chika. Kok bisa ya Nelda nuduh kamu yang enggak-enggak,’’ katanya lirih yang mampu membuat aku tersenyum sinis.


Tapi, untung saja dia tak melihat senyuman sinis yang terbit di bibirku. Fani! Fani! Zaman sekarang mana ada orang yang baik tanpa meminta balasan. Jika ada, aku akan mengatakannya munafik!


‘’Ya begitulah yang namanya hidup, Fan. Baik kita kadang nggak terlihat sama orang lain.’’


‘’Oh iya, nanti kalo kamu ada waktu kita ngopi sambil ngobrol di sekitaran sini. Gimana?’’


‘’Bisa kok, Chik. Kebetulan aku dan Mamaku bergantian menjaga Papa. Ya udah kalo gitu aku ke ruangan Papa dulu. Nanti aku kabarin kamu ya.’’


‘’Oke, Fan. Biar aku aja yang ngabarin kamu. Nanti aku juga yang traktir kamu,’’ sahutku sambil tertawa kecil, lalu melangkah meninggalkan wanita itu yang katanya hendak menuju ruangan rawat papanya.


‘’Ya, Fani adalah aset berharga bagi aku sekarang,’’ gumamku sambil tertawa kecil.

__ADS_1


Lalu bergegas melangkah ke ruang rawat mas Deno, tampak dia tengah menatap langit-langit ruangan. Entah apa yang tengah dipikirkannya.


‘’Hei, Mas! Kenapa malah bengong?’’ Aku menepuk lengannya dengan keras, membuat dia kaget dan meringis.


‘’Sakit ya, Mas? Ma’af,’’ kataku lembut.


‘’Ya iyalah. Kan ini juga bekas pukulan para warga. Gimana sih kamu,’’ sungutnya yang membuat aku tak tega.


‘’Ma’af deh. Aku nggak tahu, Sayang.’’


Aku bergegas memeluk tubuh kekarnya yang masih terbaring. Spontan tangannya yang terpasang infus dengan pelan memeluk tubuhku.


‘’Kamu ke mana tadi? Kok lama banget sih, Sayang?’’


‘’Aku tadi ngobrol sama Fani dulu, kebetulan ketemu sama dia.’’


‘’Apa? Fani? Kamu ngobrol apaan sama sahabat si sok suci itu?’’ Suaranya naik beberapa oktav dan seketika dia melepaskan pelukan dariku.


‘’Santai dong, Mas. Kok kamu kayak kaget gitu. Aku tuh merencanakan sesuatu. Kamu tinggal menunggu beres aja deh.’’ Aku melipatkan tangan di dada lalu tersenyum sinis.


‘’Apa maksud kamu, Sayang? Apa kamu memperdaya si Fani?’’ selidiknya menatap kedua netra indahku.


‘’Kira-kira begitu, Mas,’’sahutku cepat. Yang membuat lelaki itu tertawa besar.


‘’Oke, selagi itu buruk bagi si sok suci aku akan support kamu.’’ Aku hanya mengangguk-angguk sambil terkekeh.


‘’Oh ya, nanti nggak apa-apa kan kalo Mas aku tinggal dulu?’’ Aku kembali menghenyak di brankar.


‘’Aku mau ketemu sama Fani. Bolehkan? Hitung-hitung juga refreshing. Biar aku nggak cepat tua, nanti kecantikanku hilang dong kalo suntuk terus,’’ sungutku dengan nada manja.


Dia terdengar menghela napas pelan,’’ Boleh deh, apalagi kalo itu membuat kamu seneng. Kamu itu akan terus cantik, Sayang. Ya, walaupun nanti udah tua sih,’’ sahut lelaki yang berhasil membuat hidupku lebih bewarna itu.


‘’Beneran? Ah, kamu bisa aja deh, Sayang.’’


Aku menoel hidungnya, namun tanganku malah digenggam erat olehnya. Seketika benda canggihku berdering. Aku dan mas Deno saling tatap.


‘’Hallo, Fan! Iya, aku mau otewe sekarang. Kamu mau bareng sama aku? Atau gimana?’’


‘’Oh, ya udah deh. Nanti kamu kirimin aja alamat cafenya sama aku, oke?’’


Aku langsung memutuskan sambungan telepon sepihak, lalu beralih menatap lelakiku itu.


‘’Mas, aku pergi dulu ya.’’


‘’Nggak boleh lama. Aku nggak ada temen di sini,’’ sungutnya yang membuat aku terkekeh.


‘’Eh, katanya Mami kamu mau pulang, Sayang? Trus mana bisa kamu pergi dengan si Fani.’’

__ADS_1


‘’Iya aku tahu. Tapi nggak lama kok, Sayang.’’ Aku bergegas bangkit.


‘’Aku pergi dulu, Mas. Bye,’’ kataku sambil melambaikan tangan.


‘’Iya, Sayang. Hati-hati ya.’’ Mas Deno tampak kiss bye dari jarak jauh membuat aku makin klepek-klepek sama dia, lalu aku membalasnya. Kulanjutkan melangkah ke luar dari ruangan.


**


Mobil bewarna merah nan mewahku sudah berada di depan café yang dikatakan oleh Fani tadi lewat pesan singkat itu. Bergegas kuparkirkan dan mematikan mesinnya terlebih dahulu. Aku langsung menyambar tas branded mewah dan melangkah ke luar dari mobil. Lalu kakiku melangkah memasuki café yang menurutku tak indah dipandang mata.


‘’Selera kamu itu rendahan banget, Fan. Ah ya, aku lupa kalo selera kamu itu sesuai isi kantongmu,’’ gumamku dalam hati sambil memandangi café yang menurutku jauh dari seleraku.


Langsung aku memasuki café itu, kuedarkan pandangan di sekelilingnya. Sepertinya ini bukan tempat nongkrong orang kaya raya sepertiku. Lihat saja pakaian para pengunjung café, sangat berbeda dengan pakaianku yang harganya sangat mahal. Dilihat dari bentuknya saja sudah tahu mana yang harganya mahal dan mana yang murahan.


‘’Hei, Chik!’’ Mataku tertuju pada wanita berambut sebahu, dia melambaikan tangannya. Aku langsung menghampirinya.


‘’Hei, Fan! Kamu lama menunggu aku ya?’’ Aku langsung menghenyak di sebelah Fani.


‘’Hum, nggak kok.’’


‘’Ma’af yah, Chik. Aku memilih café ini untuk tempat mengobrol kita. Kamu nggak keberatan kan?’’ bisiknya tepat di telingaku. Mungkin dia takut ketahuan dengan si empunya café.


‘’Hem, nggak apa-apa dong. Ini kan seleranya kamu. Aku nurut aja kok.’’


Seketika aku membuat drama kembali. Air mataku berhasil menetes, membuat wanita itu terkesiap memandangiku.


‘’Loh, Chik? Kamu kenapa menangis?’’ Dia mendekatiku.


‘’A—aku capek aja, Fan.’’


‘’Coba kamu bayangkan. Aku dituduh terus sama si Nelda. Padahal dia yang membuang suaminya karena dia cemburu padaku. Sekarang ketika aku peduli sama Mas Deno malah salah lagi. Aku tuh kasian sama Mas Deno, nggak ada yang mengurusnya. Apalagi dia sekarang juga sakit. Tapi, tahu nggak kamu setiap waktu dia sering cerita istrinya ke aku. Kalo dia sangaaat mencintai istrinya. Jadi, mana mungkin aku selingkuh sama Mas Deno,’’ kataku panjang lebar dengan isakan tangis. Ah, kok aku seperti tengah bermain film ya?


‘’A—aku nggak tahu lagi harus gimana, Fan. Aku capek banget. Apalagi dihina dan dicaci maki orang-orang. Aku dituduh pelakor. Coba kamu di posisi aku,’’ imbuhku sambil menatap matanya yang sudah berembun.


‘’Aku tahu kamu wanita baik-baik, Chik. Kamu yang sabar dulu. Kebenaran akan terungkapkan. Aku akan bantu kamu semampuku. Aku akan mengembalikan nama baikmu,’’ lirihnya sambil mengenggam erat jemariku yang membuat aku tertawa dalam hati.


Seketika benda canggihku berdering, menganggu saja orang sedang akting! Siapa lagi yang menghubungiku di saat keadaan seperti ini? Aku menyeka buliran air mata.


‘’Sebentar ya, Fan.’’


Aku bergegas mengambil tas branded lalu merogoh benda canggih itu. Kulihat nama yang tertera di layar, membuat aku terkesiap. Bergegas kubawa bangkit dan sedikit menjauh dari Fani.


‘’Ha—hallo, Mi.’’


‘’Kamu di mana? Cepat ke rumah sekarang juga! Nggak pake lama!’’ Membuat tenggorokanku tercekat.


Apa mami sudah berada di rumah? Apa mami sudah mengetahui semua masalahku? Lalu kenapa wanitaku itu terdengar berbeda suaranya, seperti tengah menahan amarah yang begitu besar.

__ADS_1


Bersambung.


Ma'af ya Readers, aku libur lagi update beberapa hari kemaren. Dikarenakan aku lagi menstruasi. Biasalah, aku pasti merasakan sakit luarbiasa. Tapi, demi kalian aku paksakan update hari ini. Sesayang itu aku ke kalian kan? Hem. Oh ya, bantu do'anya ya biar aku cepat sembuh. Oke, thanks. See you next time. ❤❤


__ADS_2