
‘’Ma, kok Deno jarang banget ke sini? Kenapa ya?’’ tanya lelaki yang masih setia membersamaiku itu di waktu mendekati senja ini.
Dia tampak menyesap teh hangat yang tadi kusuguhkan lalu kembali beralih menatapku.
‘’Deno itu sekarang sibuk banget, Pa. Apalagi dia itu Direktur Utama di perusahaan itu. Jadi kita harus maklumin,’’ sahutku sambil tersenyum.
‘’Iya, kalo itu Papa paham sih. Tapi apa nggak ada waktu liburnya? Kan hari Minggu libur. Papa merasa aneh deh sama Deno.’’
Dalam hati aku membenarkan ucapan suamiku. Apa sesibuk itu anakku? Apa hari Minggu dia tak punya waktu untuk sekadar mengunjungi kedua orang tuanya? Bahkan sekadar menelpon saja tak ada. Dan kemarin aku mengunjungi rumah Deno dan Nelda, sebelumnya aku sudah memberitahu menantuku itu. Hanya saja Deno tak tahu jika aku akan berkunjung ke rumahnya.
Setibanya di sana, seperti biasa aku disambut hangat oleh menantuku itu dan tak ada yang berubah dari sikap seorang Nelda padaku, namun aku sedikit curiga dengan sikapnya tatkala menepis tangan suaminya dengan kasar di hadapanku ketika suaminya meminta untuk ditemani sarapan.
‘’Nggak, aku kenal banget sama Nelda. Dia itu perempuan baik dan selalu memperlakukan suaminya dengan baik.’’
‘’Tapi kenapa, dia menepis tangan suaminya dengan kasar? Baru sekali itu aku melihat Nelda memperlakukan suaminya nggak sopan begitu.’’
‘’Atau karena dia yang sedang pusing, tapi Deno malah menarik tangannya meminta untuk menemani Deno sarapan. Makanya Nelda kayak gitu. Ya, aku nggak boleh berprasangka buruk pada menantuku itu.’’
Aku berusaha mengusir prasangka buruk yang hadir di pikiranku. Tapi, tunggu! Aku jadi teringat juga dengan sikap Deno yang menurutku aneh ketika ponselnya berdering tatkala dia tengah sarapan, dia malah membiarkan benda itu berbunyi di saku-sakunya tanpa menjawab panggilan itu. Dan dia mengatakan kalau itu teman kantornya, tidak penting juga, begitu ucapannya padaku.
Namun, aku tetap bersikekeh menyuruh untuk mengangkat telepon itu, siapa tahu ada hal yang penting dari seseorang yang menghubunginya itu. Eh, Deno malah membawa ke luar dari ruang makan membawa ponselnya itu. Kenapa dia menjauh hanya karena untuk sekadar bicara dengan teman kantornya?
Aneh sekali, apa sebenarnya yang tengah disembunyikan oleh anakku itu? Dan yang lebih anehnya lagi, cucuku tiba-tiba memeluk erat papanya seperti anak yang sudah lama merindukan kehadiran seorang papanya. Ada apa ini?
‘’Aduh, aku nggak boleh kayak gini. Nanti malah asam lambungku jadi kumat. Lebih baik aku do’akan saja Deno dan Nelda baik-baik saja rumah tangga mereka.’’
‘’Lebih baik aku membersihkan halaman. Biar badanku terasa hangat pagi ini. Atau aku membeli ikan dulu ke luar.’’
‘’Ma? Mama kenapa?’’ Panggilan suamiku mampu membuyarkan lamunanku.
‘’Ah, ya, Pa?’’
‘’Mama kenapa? Kok malah melamun kayak gitu?’’ Dia seperti menelusuri wajahku. Aku memalingkan muka.
‘’E—enggak. Nggak apa-apa kok, Pa.’’
‘’Papa tahu, Ma. Mama memikirkan Deno kan? Jangan terlalu dipikirin ya, apalagi Mama asam lambung. Nanti malah kambuh lagi penyakit Mama,’’ katanya mengingatkanku.
‘’Ya, Papa memikirkan hal yang sama dengan Mama. Juga sepertinya Deno itu udah terpengaruh sama istrinya deh, Ma.’’
__ADS_1
Membuat aku terkesiap,’’Ma—maksud, Papa? Papa menuduh Nelda yang membuat Deno menjauhi kita?’’ Suaraku kali ini naik.
‘’Begini, Ma. Kan kamu tahu sendiri gimana anak kita Deno itu. Dia penurut sama kita dan nggak mau membuat kita sedih. Nah, sekarang dia mulai berubah? Kenapa coba? Bisa jadi kan itu karena istrinya?’’
‘’Mama ingat nggak? Ketika dulu Papa menjauhi Mami dan Papi, Papa lebih memilih bersama Mama ketimbang—‘’
‘’Iya, Pa. Mama ingat,’’ sahutku cepat memotong ucapannya, karena aku tak mau suamiku itu mengingat yang telah berlalu.
Yang ada membuat hatiku perih. Ya, dulu hubunganku dengan mas Bian, tak direstui oleh kedua orang tuanya. Tapi dia tetap bersikekeh mempertahankan aku dan memilih untuk tetap bersamaku.
‘’Tapi ini beda dengan Nelda dan Deno. Kami merestui banget hubungan mereka? Nggak mungkin Nelda jadi penyebab anakku menjauhi aku dan Papanya. Aku kenal banget dengan Nelda, dia adalah perempuan yang sangat baik,’’ monologku dalam hati dan menggeleng berkali-kali.
‘’Papa tahu kamu sangat menyayangi Nelda. Tapi kamu harus ingat, Ma. Jangan terlalu berlebihan ke menantu,’’ tegasnya yang membuat aku terkesiap.
Tak biasanya dia bersikap seperti itu pada menantu semata wayangnya itu. Aku tahu suamiku itu, dia bahkan sangat menyayangi Nelda. Tapi kini kenapa dia seperti ini?
‘’Pa, Mama mau ke sebelah dulu. Mau beli ikan takut kehabisan ikannya. Sekalian Mama beliin sarapan nanti ya,’’ kataku yang mengalihkan pembicaraan.
Aku tak mau lagi membahas sesuatu yang membuat aku kepikiran dan aku tak mau berdebat dengan suamiku. Apalagi dia baru saja sembuh dari penyakitnya. Aku tak ingin jika penyakitnya kambuh kembali. Tanpa berpikir lagi aku bergegas melangkah menuju kamar. Kuraih dompet yang bertengger di lemari dan membawanya. Aku kembali melangkah ke luar dari kamar dan langsung ke luar dari rumah.
Aku tak jadi menyapu halaman, lebih baik aku pergi membeli ikan dulu. Karena sepagi ini ikannya masih segar-segar dan belum dipilih orang banyak. Karena tempatnya sangat dekat, jadi aku jalan kaki saja ke sana. Hitung-hitung juga maraton pagi.
‘’Iya, nih. Seperti biasa, Juwita,’’ sahutku yang bergegas memilih ikan-ikan yang segar dan besar.
‘’Kamu mah Juwita, masih aja nanya. Kan setiap hari juga beliau berlangganan di sini. Iya nggak, Bu?’’
‘’Nah, bener banget apa kata Mba Nila.’’
Aku tertawa kecil dan membenarkan ucapan mba Nila, penjual ikan dan sekaligus tetangga di sebelah rumahku. Namun, dia berjualan di tepi jalan yang tak begitu jauh dari rumahnya. Membuat wanita bernama Juwita itu ikut tertawa kecil. Ya, wanita berambut sebahu itu tak begitu jauh rumahnya dari rumahku.
‘’Eh, ngomong-ngomong kok saya nggak pernah ngelihat Mas Deno lagi ya, Bu? Apa dia nggak pernah ke sini lagi?’’
‘’Dia sibuk banget, Juwita. Kamu kan tahu sendiri dia kerja di perusahaan yang diberikan oleh almarhum mertuanya. Saya pun memakluminya,’’ sahutku yang bergegas kembali mencuci tangan selepas memilih ikan dan menyodorkannya ke mba Nila.
‘’Iya sih, Bu. Tapi, Ibu sesekali juga harus memperhatikan dan menasihatinya. Jangan sampe nih ya, Bu. Kayak yang lagi viral itu,’’ katanya sambil menyunggingkan bibirnya. Membuat aku terheran.
‘’Yang viral? Apa maksud kamu, Juwita?’’
‘’Eh, Ibu nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu? Itu lelaki berselingkuh di belakang istrinya, sampe selingkuhannya hamil. Ngeri nggak tuh, Bu?’’ Dia tampak bergidik ngeri.
__ADS_1
‘’Kita sebagai Ibunya harus terus memberi nasihat kepada anak lelaki. Jangan sampe Mas Deno kayak gitu. Ups!’’ Membuat aku terkesiap mendengar ucapan wanita berambut sebahu itu. Dia tampak membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
‘’Maksud kamu ini bagaimana? Kamu mengira anak saya bakalan sama kayak berita viral itu, iya?!’’ ketusku dengan nada yang naik lima oktav.
Kali ini aku tak bisa lagi seramah seperti biasanya sama wanita ini. Dia sungguh keterlaluan. Bisa-bisanya dia mencurigai anakku. Aku tahu bagaimana Deno. Dia tak mungkin seperti itu pada istrinya, apalagi dia begitu sangat mencintai Nelda.
‘’Lah, jangan marah dong, Bu. Makanya Ibu itu bermain sosial media sesekali biar tahu berita yang sedang viral itu.’’
Dia bergegas mengambil ikan yang sudah ditimbang oleh mba Nila dan menyodorkan uang, langsung saja dia bergegas pergi. Aku mengejarnya dan menahannya dengan mencekal lengan wanita itu.
‘’Tunggu! Apa kamu tahu sesuatu? Kok bisa-bisanya kamu mencurigai anak saya. Katakan!’’ ketusku sambil masih mencekal lengannya dengan kasar, membuat dia meringis.
‘’Sa—saya nggak tahu apa-apa. Kan saya cuman ngingatin Ibu. Saya mau buru-buru, permisi!’’
Dengan sekuat tenaga dia melepaskan tanganku. Akhirnya dia pun bisa melepaskan cekalan itu, wanita itu dengan terburu-buru melangkah. Membuat aku menghela napas gusar.
‘’Kenapa dengan wanita itu? Kenapa dia berbicara begitu padaku? Apa dia tahu sesuatu?’’ monologku dalam hati yang tak habis pikir dengan semua ucapan wanita yang bernama Juwita itu.
‘’Bu Minah!’’
‘’Ah, iya, Mba.’’ Aku kembali ke tempat jualan mba Nila. Ah iya, aku lupa dengan ikan yang sudah kupilih tadi.
‘’Berapa semuanya, Mba?’’ Aku membuka dompetku dan mengambil selembar uang lima puluhan.
‘’Seperti biasanya kok, Bu,’’ sahutnya sambil tersenyum. Aku bergegas menyodorkan.
‘’Makasih banyak ya, Bu.’’ Dia bergegas mengambil uang yang tengah aku sodorkan.
‘’Sama-sama. Kalo gitu saya pamit dulu, Mba,’’ kataku kemudian yang disahut dengan anggukan oleh mba Nila itu. Tanpa pikir lagi, aku bergegas membawa ikan-ikan segar itu ke rumah. Di perjalanan, aku teringat semua ucapan Juwita. Terngiang-ngiang di telingaku.
‘’Seperti ada yang tengah disembunyikannya. Tapi apa?’’
Bersambung.
Terima kasih banyak teruntuk Readers yang masih setia membaca novel ‘’Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor’’. Jika kalian suka dengan novel ini, mohon supportnya ya dengan cara like, vote, koment, dan share. Oke, semoga kalian sehat selalu dan dimudahkan segala urusannya.
See you next time.❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1