
‘’Nggak, Bi. Dodo itu orangnya baik kok. Nggak boleh berprasangka buruk sama orang lain. Apalagi tanpa bukti, iya kan?’’ kataku dengan lembut.
Dia begitu membutuhkan pekerjaan ini, jadi mana mungkin dia akan macam-macam. Lelaki itu baik dan sopan menurutku. Seketika putri semata wayangku terbangun dan bergegas memelukku dengan erat. Membuat aku dan bibi Sum saling tatapan.
‘’Eh, anak sayang Mama udah bangun nih. Nyenyak banget tidurnya ya, Nak?’’
‘’Iya, Ma. Adik mimpi Papa.’’
Membuat aku terkesiap,’’Papa?’’ ulangku kemudian yang melepaskan pelukan dari buah hatiku itu.
‘’Papa meninggalkan kita. Papa jahat banget,’’ lirihnya dengan suara bergetar. Itu membuat aku tersentak dan hatiku terenyuh. Aku coba menarik napas dan mengeluarkannya, agar pikiranku sedikit tenang. Aku tak bisa berkata yang sejujurnya pada anakku ini, seusia dia masih tak tahu apa-apa. Ya Allah! Tolong bantu aku.
‘’Dik, Papanya kan sibuk kerja di kantor.’’ Bibi bersuara mewakilkanku, karena aku yang tak kunjung bicara. Bukan apa-apa, aku tak tahu saja harus bicara apa lagi pada anak semata wayangku. Sudah berulang kali aku membohonginya, karena dia tak tahu apa-apa di usianya yang masih kecil.
‘’Kok kerja terus sih, Bi. Kapan pulangnya Papa?’’ Membuat buliran air mata menetes di pipi mungilnya itu, aku jadi tak tega. Membuat hatiku semakin teriris.
‘’Sayang, Mama tahu Adik kangen banget sama Papa. Tapi Papa itu sibuk banget, Nak. Tadi Papa nelpon ke Mama, katanya kangen banget sama Adik. Papa pasti pulang kalo selesai kerjanya di kantor. Adik kan udah gede sekarang, nggak boleh nangis lagi. Nanti malah jelek anak Mama ini,’’ kataku lembut yang berusaha menenangkan dan menyeka buliran air matanya.
‘’Tapi beneran Papa akan pulang kan, Ma?’’ Dengan cepat aku mengangguk.
‘’Iya, Sayang.’’
‘’Mandi dulu sama Bibi ya, Dik. Setelah itu Bibi kasih kue cokelat kesukaan Adik, mau?’’
‘’Mau, Bi,’’ sahutnya antusias.
Membuat aku tersenyum lebar. Si bibi memang pandai sekali membujuk anakku. Apalagi kalau bicara soal kue cokelat dibikini bibi Sum, yang rasanya tak pernah diragukan lagi. Pantas saja dia selalu nempel dengan wanita separuh baya itu, pandai mengambil hatinya.
‘’Kalo gitu ayo kita mandi, Dik!’’ ajaknya yang bergegas menarik tangan putriku dengan pelan. Namun, aku menahannya.
‘’Bi, kan kamar mandi ada juga di sini. Nggak usah ke depan.’’
‘’Bibi segan, Bu.’’
‘’Lah, kan sekarang cuman ada aku di kamar, Bi.’’ Membuat aku menggeleng.
‘’Nggak, biar di depan aja mandinya Naisya, Bu,’’ sahutnya yang bergegas menarik tangan putriku. Aku kembali menggelengkan kepala.
‘’Si Bibi ini ada-ada aja deh. Pake segan segala,’’ celetukku sambil terkekeh.
Ah iya, mumpung Naisya sedang mandi sama bibi, aku pengen ke depan dulu. Kulangkahkan kaki keluar dari kamar menuju luar rumah. Tatkala sudah berada di ambang pintu menuju ke luar, langkahku terhenti. Tampak lelaki berpakaian seragam itu tengah asyik mengobrol melalui ponselnya.
‘’Dodo nelpon siapa ya? Apa keluarganya di kampung?’’ gumamku. Ah iya, mungkin keluarganya. Kembali kulangkahkan kaki menuju pos security itu. Matanya seketika tertuju padaku. Dengan sigap dia meletakkan benda canggih yang tadi diletakkan di telinganya.
‘’Eh, Ibu?’’ Dia malah tampak kaget dengan kedatanganku. Kenapa ya?
__ADS_1
‘’Iya, Do. Kamu kok kaget kayak gitu? Kenapa?’’
‘’Humm, enggak. Habisnya Ibu datang tiba-tiba kayak Mba Kunti,’’ celetuknya yang membuat aku terkekeh pelan.
‘’Apaan sih kamu, Do. Masa kamu nggak ngelihat saya melangkah ke sini. Saking asyiknya menelpon, sama siapa sih kamu nelpon?’’ tanyaku seketika karena jiwa kepo meronta-ronta.
‘’A—anu, Bu,’’ katanya terbata membuat aku merasa ada yang aneh saja dengan lelaki ini. Namun, berusaha aku menepis perasaan itu. Mungkin cuman perasaanku saja. Tak baik juga jika su’udzon sama orang lain tanpa adanya bukti.
‘’Aduuh, santai aja deh, Do. Saya ini nggak makan orang kok, kok kamu malah kayak ketakutan gitu. Kenapa?’’ Aku tersenyum lebar memandangi ekspresi lelaki itu.
‘’Saya takut Ibu marah, apalagi saya sedang kerja. Eh, malah telponan sama temen,’’ sahutnya pelan. Membuat aku tertawa kecil.
‘’Kamu ada-ada aja deh. Nggak kayak gitu juga kali, Do. Kamu belum tahu, kalo kerja sama saya itu santai aja. Yang penting bertanggung jawab atas pekerjaan, disiplin, dan jujur. Itu aja kok. Kamu harus banyak belajar dari si Bibi.’’ Dia hanya tersenyum dan tak menyahut ucapanku.
‘’Saya ke sini mau nanya, kamu udah dikasih sarapan sama si Bibi apa belum?’’ imbuhku kemudian yang memandangi lelaki berseragam itu tengah termenung, entah apa yang ada di pikirannya.
‘’Do?’’ panggilku kemudian karena tanyaku tak dijawab olehnya.
‘’Ah iya, Bu. Ibu bicara apa tadi?’’ Membuat aku menggeleng. Ini lelaki ke mana pikirannya. Sedekat ini aku bicara padanya, kok dia malah tak mendengar ucapanku.
‘’Ya Allah, Do! Saya itu ke sini cuman mau nanya, kamu udah sarapan atau belum?’’ Kunaikkan nada suara beberapa oktav, saking kesalnya diriku.
‘’Humm, udah. Saya udah sarapan tadi, Bibi Sum yang ngantarin, Bu,’’ sahutnya sambil cengengesan dan menggaruk kepalanya.
‘’Maling juga masuk ke rumah kalo kamu melamun terusan kayak gini. Kamu nggak akan sadar Do kalo penyusup masuk ke sini. Makanya harus hati-hati ya!’’ tegasku kemudian mengingatkan security rumah pribadiku itu.
‘’Eh, iya. Ma’af ya, Bu. Saya janji, akan lebih berhati-hati lagi.’’
‘’Nah, gitu dong. Kalo gitu saya ke dalam dulu. Kamu kalo butuh apa-apa tinggal panggil Bi Sum aja, jangan sungkan.’’ Dia menyahut dengan anggukan. Aku kembali melangkahkan kaki menuju rumah yang sejangkal jaraknya dengan pos security.
‘’Bu, aku nyariin Ibu tadi loh. Eh, Ibunya ada di sini,’’ ujar bibi Sum yang menghampiriku, membuat aku menghentikan langkah.
‘’Iya, Bi. Ada apa? Bibi udah selesai mandiin Naisya?’’
‘’Udah kok, Bu. Tapi—‘’ Dia menghentikan ucapannya, ekspresi wanita separuh baya itu seperti tengah kebingungan.
‘’Tapi, bagaimana, Bi? Katakan aja,’’ lirihku tersenyum memandangi si bibi yang tampak menunduk.
‘’Naisya katanya mau bermain sama Mas Reno, Bu. Bibi udah membujuknya. Tapi nggak bisa,’’ jelasnya dengan hati-hati. Seketika membuat aku memijit kening dengan pelan.
‘’Awalnya dia nyuruh Bibi buat telepon Bapak supaya Bapak bisa ke sini main sama dia. Tapi setelah Bibi bilang kalo Papanya sibuk. Eh, katanya sama Om Reno aja deh. Begitu, Bu. Ma’afkan Bibi ya. Tapi Bibi nggak tahu harus bagaimana lagi,’’ kata wanita separuh baya itu dengan pelan.
Aku menghela napas dengan berat. Ya, aku tak ada pilihan lain lagi. Aku pilih Reno saja, daripada si lelaki pengkhianat itu. Jika dia menginjakkan kaki ke sini lagi, malah nanti dia akan membuat ulah. Apalagi dia begitu licik, aku tak mau dia nanti malah menjalankan rencana lain dan apalagi surat perjanjian itu masih kusimpan di kamarku. Aku tak ingin lelaki itu nanti malah diam-diam mengambil surat itu. Secara kan dia manusia licik dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.
‘’Bisa bahaya nanti kalo surat perjanjian itu ada di tangannya. Ya, aku nggak maua hal itu terjadi,’’ gumamku dalam hati.
__ADS_1
‘’Bu? Gimana? Dari tadi Naisya nangis mulu. Dia diam ketika Bibi bilang, mau nelpon Mas Reno. Ma’afkan Bibi—‘’
‘’Ya udah. Telpon aja Renonya, Bi,’’ sahutku cepat.
Ya, aku tak tega melihat anak semata wayangku yang murung dan sedih begitu. Walaupun aku merasa risih jika ada lelaki asing yang memasuki rumahku, tetapi harus bagaimana lagi. Aku tak punya pilihan lain, daripada aku memilih lelaki brengsek itu lebih baik aku memilih Reno.
‘’Alhamdulillah. Bibi telpon dulu ya, Bu,’’ sahutnya dengan semringah.
‘’Tu—tunggu!’’ Bibi Sum yang tadinya hendak melangkah, seketika langkahnya terhenti. Aku dan bibi terkesiap, saling pandang.
‘’Maksudnya, biar saya aja yang mainin Naisya, Bu.’’
‘’Emang kamu bisa mainin anak-anak, Do?’’
‘’Bi—bisalah, Bu. Daripada Naisya main sama lelaki itu. Apalagi lelaki itu bukan Papanya.’’ Kok aku merasa aneh ya?
‘’Humm, maksud saya nggak baik lelaki lain masuk ke rumah Ibu. Nanti terjadi fitnah loh. Ma’af, Bu. Bukan maksud saya ngatur-ngatur Ibu. Tapi—‘’
‘’Kamu bener juga, Do. Makasih banget kamu udah ngingatin saya,’’ sahutku cepat dan beralih memandangi si bibi yang terdiam, ekspresinya sulit untukku terjemahkan.
‘’Sama-sama, Bu. Ma’af sekali lagi kalo saya terkesan menceramahi dan mengatur Ibu,’’ katanya sambil tersenyum ramah.
‘’Nggak kok, kamu santai aja kali.’’
‘’Oh ya, gimana cara kamu bermain sama Naisya? Apa dibawa aja kali ya mainan Naisya ke pos. Supaya kamu juga bisa sekalian jaga rumah. Gimana?’’ usulku kemudian.
‘’Bagus juga tuh, Bu. Saya setuju.’’
‘’Bi, aku mau minta tolong bawakan mainan Naisya, bawa ke luar ya. Sekalian bawa Naisya ke luar juga.’’ Aku melirik wanita separuh baya itu yang sedari tadi terdiam membisu.
‘’Ta—tapi, Bu. Apa Naisya mau main sama Mas Dodo?’’
‘’Bi, insyaaAllah dia mau kok. Apalagi Dodo seramah ini. Naisya pasti seneng bermain sama Dodo.’’ Eh, si bibi masih mematung. Tak kunjung bergerak. Entah apa yang ada di pikirannya.
‘’Bi, ayo buruan! Kok malah bengong sih?’’ kesalku kemudian.
‘’Iya deh, Bu. Tapi nanti kalo Naisya nggak mau main sama si Mas ini, kita telpon langsung Mas Reno. Nggak ada yang bisa menyenangkan Naisya selain Mas Reno, Bu,’’ sungut bibi yang membuat aku tertawa kecil.
Bersambung.
Terima kasih banyak untuk yang masih setia menunggu kelanjutan dari novel ini, sehat selalu dan dimudahkan segala urusannnya.
See you next time!❤
Instagram: n_nikhe
__ADS_1