Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor

Kuserahkan Suamiku Kepada Pelakor
Tak Sudi Dijadikan Pembantu


__ADS_3

POV Si Pelakor


‘’Hei! Aku udah berbesar hati membuatkan telor ceplok untuk kamu. Kamu berani membentak aku? Kamu mau aku berlaku lebih kejam sama kamu, hah?’’ bentak wanita bersanggul besar itu, membuat aku terkesiap.


Bagaimana aku tak membentak wanita separuh baya ini. Pertama, dia berani menyuruhku untuk mencuci piring bekas makanannya yang bertumpuk. Padahal aku di rumah tak pernah mencuci piring walaupun satu buah pun, bahkan beberes rumah sekalipun aku tak pernah.


Lah, kenapa kini aku dipaksa olehnya mencuci piring sebanyak itu? Emang aku pembantunya? Kedua, ketika aku sudah selesai cuci piring, perut begitu demo karena sejak tadi tak diisi. Aku menemukan dua potong daging rendang. Eh, ternyata daging itu malah dijatuhkan oleh wanita itu ke lantai.


Sepertinya dia sengaja menjatuhkannya, namun dia tetap saja tak mengakui perbuatan kejamnya. Siapa yang tak marah dengan perlakuannya ini? Dan juga, katanya dia mau memasak telur ceplok untukku. Eh, tahu-tahu rasanya sangat asin. Hingga membuat perutku mual.


Aku yakin wanita bersanggul besar itu dengan sengaja memperlakukanku bak anak tirinya. Entah kenapa dia bersikap seperti itu padaku. Apa wanita ini punya dendam? Ah, tak mungkin. Toh, aku tak pernah menganggu kehidupannya. Lalu kenapa sikap wanita bersanggul besar itu aneh dan seperti ingin mencelakaiku?


‘’Tante! Cukup!’’ Aku langsung menepuk meja dengan keras membuat wanita itu terkesiap.


Aku memang menumpang di rumahnya, itu belum seberapa. Dibandingkan uangku yang kupinjamkan untuk biaya administrasi suaminya di rumah sakit. Kalau tak ada bantuan dariku, entah bagaimana nasip suaminya.


Aku bergegas bangkit lalu melangkah sambil menatap tajam ke arah wanita itu. Namun, belum sempat aku melangkah, tanganku dicekal dengan kuat.


‘’Mau ke mana kamu?’’


‘’Aku mau pergi dari sini. Buat apa aku tinggal di sini kalo perlakuan Tante sama kayak Mama tiri ke anak tirinya,’’ kesalku tanpa menatap ke arahnya.


Dengan sekuat tenaga aku melepaskan cekalan tangannya. Langkah kakiku tergesa-gesa. Sial! Dia seperti mengikutiku. Untuk apa dia mengikutiku? Dia ingin menghalangiku pergi dari sini, untuk apa? Apa aku akan dijadikannya pembantu gratis di rumahnya ini? Ih, amit-amit. Lebih baik aku jadi gelandangan di luar sana, daripada jadi pembantu gratis di sini.


‘’Chika! Tunggu!’’ teriaknya, yang berusaha menahan tanganku yang hendak mengambil koper.


‘’Emangnya kamu di mana akan tinggal? Selain di sini,’’ kata wanita itu yang nada suaranya mulai merendah.


Ada apa ini? Kenapa sifat wanita ini agak lain menurutku? Sifatnya selalu saja berubah-ubah, tak menentu. Terkadang di sorot matanya ada kebencian, terkadang pula tak bisa kuartikan.


‘’Apa wanita ini punya niat buruk padaku?’’


‘’Kamu yakin akan pergi dari sini? Pikir-pikir dulu, Chika. Kamu belum tahu bagaimana kerasnya hidup di jalanan. Apalagi wanita manja seperti kamu.’’ Aku menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


‘’Soal apa yang tadi Tante perbuat sama kamu. Tante minta ma’af ya. Mungkin karena udah terbiasa mendidik Fani dengan keras. Jadi terbawa ke kamu. Apalagi kamu anak manja. Tentu kamu merasa mendapat perlakuan kasar dari Tante. Kalo bagi Fani mungkin rasanya akan biasa saja. Karena dari kecil sudah dididik dengan keras.’’


Aku tersenyum sinis sambil menatap tajam bola matanya, kutepis tangan wanita itu dengan kasar. Lalu kembali mengambil koper, bergegas aku menentengnya.


‘’Chika!’’ Tak kuhiraukan panggilan wanita bersanggul besar itu, bergegas aku melangkah tanpa menoleh.


Aku harus pergi dari sini tanpa memberitahu Fani. Mumpung dia lagi pergi bersama temannya, jadi kesempatan untukku kabur. Kalau aku memberitahau Fani, tentu dia akan jadi penghalang kepergianku dari sini. Dari pada aku dijadikan pembantu di rumah ini, aku tak mau mati secara cuma-cuma karena dipaksa melakukan sesuatu yang tak pernah kulakukan. Aku mempercepat langkah keluar dari pekarangam rumahnya. Untung saja rumah ini berdekatan dengan jalan besar, jadi aku bisa menanti taxi.


‘’Taxi!’’


Aku melambaikan tangan dan bergegas menaiki si roda empat itu, tak kuhiraukan wanita yang berusaha untuk menahan kepergianku. Dia terus saja mengetuk kaca mobil sambil berteriak.


‘’Pak, jalan!’’ pintaku pada lelaki yang tercengang sejak tadi. Mobil pun melaju membelah jalanan. Aku tersenyum sinis.


‘’Dari pada aku tinggal sama wanita itu, lebih baik aku jadi gembel.’’


Teringat olehku perlakuan wanita bersanggul besar itu terhadapku. Begitu kejam! Aku curiga, jangan-jangan wanita itu punya dendam pribadi padaku? Atau pada kedua orangtuaku? Tidak! Mami dan papi tak pernah mengusik kehidupan orang lain, walaupun dia punya uang yang banyak. Dia tak pernah berlaku kasar pada orang lain, aku tahu bagaimana kedua orangtuaku itu. Ah, kalau teringat kedua orangtua membuat hatiku teriris.


‘’Ta—tapi kenapa aku diperlakukan kayak begitu?’’


Ah, iya. Aku lupa, aku tak memikirkan terlebih dahulu ke mana kaki ini akan dilangkahkan. Seketika perutku bagian bawah kembali terasa nyeri. Apa aku pergi ke rumah sakit saja untuk periksa kandunganku? Ah iya, aku belum menemui mas Deno. Aku harus cerita padanya apa yang terjadi padaku dan bagaimana keadaanku sekarang. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa mengerti aku, hanya dia yang kupunya sekarang.


‘’Ke rumah sakit Medina,’’ sahutku setelah sekian menit tak menyahut pertanyaannya.


‘’Baiklah, Mba.’’


Tak berselang lama, taxi yang kutumpangi sudah berada di depan rumah sakit. Aku bergegas turun dan menyerahkan ongkos. Aku kembali menatap koper yang tengah aku jinjing.


‘’Lah, gimana dengan koper ini? Nggak mungkin aku membawa koper ini masuk ke dalam.’’


Aku menghela napas berat. Kalau aku menitipkannya pada security rumah sakit, yang ada barang-barang berhargaku akan hilang. Di dalam koper ini ada barang-barang berharga, termasuk kartu kredit. Barang berharga yang sekarang satu-satunya kupunya. Seketika pandanganku tertuju pada lobi rumah sakit. Wanita yang tak asing lagi bagiku wajahnya, dia bergandengan tangan dengan wanita yang kukira itu adalah temannya.


‘’Aduuh! Ngapain sih harus ketemu si Fani di sini. Jangan sampai dia ngelihat aku. Nanti malah dia menyuruhku untuk nginap di rumahnya lagi.’’

__ADS_1


‘’Tapi, bukankah lebih baik jika aku mengadukan semua kebusukan wanita bersanggul besar itu pada Fani?’’


‘’Dengan begitu tentu mereka akan bertengkar.’’


Aku tersenyum sinis lalu melangkah menghampiri wanita itu. Seketika dia menoleh, wajahnya kaget menatapku yang tengah menenteng koper. Aku memasang muka biasa dan tersenyum semanis mungkin.


‘’Chi—Chika? Kamu ngapain bawa koper?’’


‘’Aku nggak kuat lagi tinggal di rumah kamu, Fan. Kamu tahu nggak, Mama kamu selalu saja berniat untuk mencelakaiku. Dia nggak menyukai kehadiranku. Mungkin kamu nggak akan percaya. Tapi, itulah yang aku rasakan sekarang ini. Aku capek, Fan. Aku nggak tahan lagi. Makanya aku sekarang cerita ke kamu,’’ kataku dengan suara bergetar. Buliran air mata buaya mulai menetes di pipiku.


‘’Fan, tapi kamu harus janji sama aku. Jangan marahi Mama kamu ya.’’ Aku memegangi jemari wanita itu.


Dia menggeleng cepat,’’Nggak, Chika. Mama aku harus aku beri pelajaran. Dan aku akan bilang ke Mama aku kalo biaya administrasi rumah sakit Papa, itu kamu yang bayar semuanya.’’


‘’Lagian kenapa sih Mama kayak gitu sama kamu. Heran deh, dulu sama Nelda baik banget,’’ rutuknya sambil melipat tangan di dada.


Aku tertawa dalam hati. Kali ini aku menang. Ya, setidaknya aku bisa membuat mereka bertengkar dan aku tentu akan kembali lagi ke rumah itu. Daripada aku jadi gembel di jalanan. Ah, tapi aku harus pastikan kalau wanita bersanggul besar itu tak kan lagi berlaku semena-menanya padaku. Dikiranya aku ini pembantunya apa.


‘’A—aku paham kenapa Mama kamu nggak suka sama aku. Mungkin dia mengira aku bukan perempuan baik-baik,’’ lirihku berkata.


‘’Nggak, Chika. Kamu nggak boleh bicara kayak gitu. Aku itu udah kenal banget sama kamu. Kamu orangnya baik bangeet. Contohnya saja kamu mau membayarkan biaya administrasi Papaku. Kalo nggak ada kamu, aku nggak tahu lagi harus bagaimana.’’


‘’Kamu harus kembali lagi ke rumahku. Biar aku yang membawamu kembali ke sana,’’ imbuhnya lalu menatap wanita yang berkerudung itu, yang kukira adalah temannya.


‘’Ella, kamu pulang sendirian aja ya. Aku ada urusan penting.’’


‘’Oke, Fan. Aku naik taxi aja.’’ Dia tersenyum dan berlalu meninggalkan Fani.


‘’Fan? Tapi aku takut kalo Mama kamu ngelakuin yang aneh-aneh lagi sama aku. Mama kamu itu nggak suka sama aku,’’ kataku lirih.


Terdengar helaan napas panjangnya,’’Kalo soal itu kamu jangan ragu. Aku akan pastikan kalo Mamaku nggak akan mengulangi kesalahannya yang sama.’’


‘’Kamu itu nggak ada tempat tinggal, Chik. Aku takut kamu kenapa-napa di jalan. Kamu itu udah baik banget sama aku. Masa aku akan membiarkan kamu begitu saja.’’

__ADS_1


‘’Mmm. Untung aja aku yang membiayai administrasi Papanya.’’


Bersambung...


__ADS_2