
Pagi ini terasa lebih ringan bagi Dinda, karena tidurnya lebih nyenyak malam ini. Dia sudah tau kalau Vino bukan psikopat.
Setelah bangun, Dinda langsung ke dapur untuk membuatkan sarapan.
Seperti permintaan Vino yang menginginkan dia yang memasak.
Begitu sampai di dapur Dinda mulai dengan memotong bahan untuk memasak nasi goreng. Dengan telaten dia memotong bahan masakan nya, namun wajahnya terasa gatal terkena helaian rambut yang terlepas dari ikatannya.
Dinda berusaha menyibak rambut nya dengan punggung tangannya.
Tapi tiba-tiba dia merasakan ada yang menarik ikatan rambutnya, Dinda refleks berbalik.
"Jangan berbalik dulu, aku akan mengikatkan rambutmu" kata Vino lembut sambil membalikkan tubuh Dinda kembali.
Ternyata Vino sudah dari tadi memperhatikan Dinda. Dia bersandar di pintu dapur sambil menatap Dinda yang sedang sibuk memotong bahan masakan nya. Dan wanita itu terganggu dengan rambutnya yang terlepas dari ikatannya, itu sungguh pemandangan yang mempesona bagi Vino.
Vino mengikat rambut Dinda dengan perlahan, tampak Dinda menjadi salah tingkah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Vino, wajahnya mulai merona.
"Aku baru pertama kali mengikat rambut wanita, mungkin akan terlihat berantakan," katanya sambil terus mengikat nya.
"Nah... sudah," katanya sesudah selesai mengikat.
"Apa ada yang bisa kubantu?" tanya Vino.
"hmm.. kamu ambil telur dari kulkas aja," kata Dinda
"Oke, apa kita akan membuat telur ceplok?" tanya Vino sambil berjalan ke kulkas
"Ya, untuk di campur ke nasi gorengnya juga," sahut Dinda.
Tanpa disadari ada perasaan hangat dalam hatinya mendapat perlakuan seperti itu dari Vino. Selama ini dia tidak pernah mendapat perhatian seperti itu.
Setelah selesai masak, mereka pun sarapan bersama.
"Hari ini aku akan bekerja seharian, jadi kamu masaknya untuk makan siang nya kamu aja ya. Malam nanti tidak usah memasak, aku akan membelikan sesuatu untuk makan malam kita" kata Vino.
Wajah Dinda tampak merah, ini seperti percakapan suami dan istri.
Apakah tidak apa-apa jika aku merasa seperti ini?
Tapi perhatian itu membuat hatinya menjadi hangat. Selama ini dalam keadaan sakit pun dia tetap harus memasak untuk keluarga nya, tidak ada kata libur.
Setelah Vino berangkat, Dinda menghabiskan waktunya untuk menulis novel nya. Selama ini dia memang sedang mencoba menulis novel, karena dia sangat suka membaca novel sehingga terinspirasi untuk menjadi penulis.
Sudah selama dua jam Dinda menulis, tiba-tiba dia mendengar suara pintu yang dibuka.
Apa Vino melupakan sesuatu?
pikirnya.
Tak lama kemudian Dinda melihat ternyata Rio yang datang.
__ADS_1
Laki-laki tampan itu langsung tersenyum lebar begitu melihat Dinda ada di ruang keluarga.
"Apa kabarnya kamu Din?" sapanya ramah.
Dinda membalas senyuman Rio.
"Baik", jawabnya.
Rio duduk di sofa yang berseberangan dengan Dinda.
Dia melihat Dinda memegang pulpen dan buku.
"Kamu lagi nulis apa?" tanya nya.
"Oh...aku lagi nulis novel," Jawab Dinda.
"Oya? jadi kamu itu seorang penulis?" seru Rio.
"Ah... bukan. Aku belum menjadi penulis profesional, cuma baru mencoba menulis aja. Soalnya aku suka baca novel," jelas Dinda.
"Ah kebetulan banget dong, aku juga suka baca novel. Besok akan kubawakan novel koleksi ku untukmu ya"
Dinda sangat senang mendengarnya.
"Wah aku seneng banget, aku tunggu ya," katanya sumringah.
Rio merasa senang melihat senyum Dinda, entah kenapa dia merasa tertarik kepada wanita ini sejak pertemuan singkat mereka kemarin.
Dia begitu manis, duh bisa diabetes nih aku kalau melihat dia terus, pikirnya sambil tertawa sendiri didalam hati.
Tiba-tiba saja ponsel Rio berbunyi. Laki-laki itu tampak berdecak kesal dan tak mempedulikan bunyi ponsel nya itu.
Ia kembali membahas novel yang disukai nya bersama Dinda.
"Kenapa nggak diangkat Mas? Siapa tau penting," kata Dinda.
"Ah nggak usah, paling dari perusahaan" jawab Rio.
Namun bunyi ponsel yang kembali berbunyi memaksanya menyudahi pertemuan yang sangat ia nikmati itu.
Rio baru kembali ke kantornya ketika sekretaris nya menelfon dan memaksa nya beranjak pergi.
Sore harinya Vino pun pulang. Senyumannya langsung menghiasi wajah nya yang lelah begitu melihat Dinda sedang menulis di ruang keluarga.
"Hai" sapanya begitu melihat Dinda telah menyadari kehadiran nya.
"Lagi apa? serius banget" tanya Vino.
"Oh kamu udah pulang" kata Dinda sambil menutup bukunya.
"Aku cuma lagi belajar menulis aja" sahut nya.
" Nulis apa?"
__ADS_1
"Nulis novel" jawabnya singkat.
"Oh... Ya udah, aku mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam bersama ya, ini aku sudah belikan makan malam nya" kata Vino.
"Oke, aku akan memindahkan makanan nya kedalam piring"
Setelah selesai mandi, Vino tampak sangat tampan keluar dengan kaos putihnya, dan wajah yang fresh.
Dinda sudah menunggu di meja makan, dan tampak terpana melihat Vino. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Vino tersenyum senang melihat ekspresi Dinda. Setelah makan, Dinda memindahkan piring-piring kotornya.
"Biar kubantu cuci piring nya ya, biar cepat selesai", kata Vino. Dinda mengangguk pelan.
Tapi tiba-tiba tangan Dinda tersenggol kursi dan piringnya jatuh berkeping-keping.
Dinda berteriak terkejut. Dengan cepat Vino menghampiri tanpa takut kakinya menginjak beling ( karena dia memakai sendal 😁 😁, biar nggak serius amat guys : author 😘 )
"kamu gak kenapa-napa kan?" tanya Vino cemas.
"iya aku baik-baik saja, biar kubersihkan belingnya dulu" jawab Dinda sambil berjongkok untuk mengambil beling nya.
"Tidak usah, biar aku..."
"Auh..." belum selesai Vino melarangnya Dinda sudah berteriak karena tangannya terluka.
Dengan cepat Vino menarik tangan Dinda dan menghisapnya.
Dinda terkejut mendapati perlakuan Vino. Wajahnya tampak bersemu merah dan dengan cepat menarik tangan nya kembali dari mulut Vino.
Vino tersenyum melihat reaksi Dinda.
"Apa kamu mulai tergoda melihatku?" tanya Vino nakal. Dinda menjadi salah tingkah mendengarnya. Lalu Vino memegang tangannya dan menariknya ke ruang keluarga.
"Ayo aku obati dulu lukanya" kata Vino.
Sambil membalut lukanya Dinda, Vino melirik sedikit, dia melihat wajah Dinda yang tampak gelisah.
"Kamu kenapa?" tanya Vino.
"Aku tidak tau, tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Aku jadi teringat sama Arka"
"Hmm aku akan menelfon orangku dulu untuk menanyakan keadaan Arka, biar kamu gak khawatir lagi".
Vino menelfon anak buahnya, lalu tampak wajah nya terkejut.
"Baiklah, kamu pantau terus keadaan nya ya" kata Vino sebelum menutup telfonnya.
Vino menatap Dinda yang sudah menunggu kabar anaknya dengan wajah cemas.
"Arka masuk rumah sakit, dia mengalami demam tinggi"
Seketika Dinda merasa tubuhnya begitu lemah.
__ADS_1
"Arka, anak Mama..." bisiknya.
Bersambung....