
Vino membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, tanpa mempedulikan Lara yang tegang di sampingnya. Ia begitu marah membayangkan Rio yang telah menikung cintanya dengan begitu licik.
Lara melirik laki-laki di sampingnya itu, Ia tak pernah melihat Vino bisa semarah itu.
Ada apa sebenarnya antara Vino dan Rio?. Pikirnya.
Sesampainya di perusahaan Ardi, Vino memarkirkan mobilnya dengan cepat sampai terdengar suara berderit saat ban mobilnya berbelok.
"Lara, kamu tunggu di lobi sebentar ya. Aku nggak lama. Aku nggak mau kamu melihat perdebatan kami, bagaimanapun kamu adalah temanku dan juga temannya Mas Rio," kata Vino dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban Lara.
Begitu sampai di depan ruangannya Rio, Vino langsung membuka pintunya.
Ia melihat Rio yang sedang duduk di kursinya.
"Aku udah peringati kamu ya Yo, aku nggak akan membiarkan kamu mendekati Dinda. Kamu sekarang malah menculik dia," teriak Vino.
"Memangnya kamu siapanya Dinda bisa ngelarang aku buat deketin dia?" tanya Rio sinis.
"Aku memang bukan siapa-siapanya Dinda, tapi aku nggak akan membiarkan kamu mendekatinya hanya untuk bersaing denganku," kata Vino.
"Aku memang ingin bersaing denganmu, tapi kau salah tentang niatku terhadap Dinda. Aku benar-benar menyukainya, bahkan sebelum aku tau kau juga menyukainya," jawab Rio.
"Baiklah, aku nggak bisa melarang perasaanmu, tapi aku mau kaubersaing secara sehat. Lepaskan Dinda!" seru Vino.
"Aku memang menculik Dinda, tapi aku nggak pernah menyekapnya. Dia sendiri yang setuju tinggal bersamaku", seru Rio tak kalah keras.
"Aku tidak percaya padamu," sanggah Vino cepat.
"Baiklah, kalau kau tidak percaya, aku akan membuktikannya padamu," kata Rio.
"Huh! Bagaimana cara mu membuktikannya?" tantang Vino sinis.
"Besok malam kita semua mendapatkan undangan di pesta anaknya pemilik perusahaan RCW. Aku akan membawa Dinda bersamaku sebagai bukti bahwa dia dengan suka rela tinggal bersamaku," jawab Rio.
"Oke, aku akan lihat," sahut Vino, dan langsung keluar dari ruangan Rio.
Begitu ia sampai di lobi, Lara langsung menyambutnya dengan wajah cemas.
"Gimana Vin? Kalian nggak berantem kan?" tanya Lara sambil memeriksa keadaan Vino.
"Nggak kok, aku cuma mau meluruskan suatu masalah dengannya," jawab Vino.
Lalu ia langsung keluar dari perusahaan yang ditangani Rio yang juga merupakan anak perusahaan dari perusahaan yang sekarang ditanganinya.
Lara mengikutinya dari belakang dengan raut wajah bingung.
Sesampainya di rumah keluarga angkatnya, Vino menghempaskan tubuhnya ke sofa di samping Mamanya.
"Ada apa Nak?" tanya Mamanya lembut.
"Gak ada apa-apa Ma, aku hanya lelah," jawab Vino.
__ADS_1
"Oh ya, bukannya besok ada undangan di pestanya anak Om Darmawan? Kamu harus datang ya, Vin" kata sang Mama.
"Iya Ma, insyaallah," jawab Vino.
"Kamu pergi sama Lara aja, biar Lara bisa jumpa sama teman-teman baru di sana," kata Mama sambil memandang Lara yang sedari tadi hanya diam.
"Gimana Ra? Kamu mau kan nemenin Vino?" tanyanya pada Lara.
"Iya Tan, Lara mau kok," jawab Lara sambil melirik Vino. Tampak laki-laki itu sedang tak bersemangat, bahkan terlihat tak peduli pada jawaban Lara yang setuju untuk menemaninya.
"Ya udah Ma, Vino pulang dulu ya, mau istirahat. Kamu nginap di sini aja ya Ra, nanti aku akan nyuruh orang buat ngambil barang kamu dari Hotel," kata Vino.
"Oke, makasih ya," jawab Lara.
****
Rio pulang dengan perasaan senang dan berbunga-bunga, karena saat pulang dia bisa melihat wanita yang dicintainya ada di rumahnya.
Begitu sampai di rumah, ia langsung membersihkan diri dan mengganti bajunya. Berkali-kali ia mematut diri di cermin dan merapikan rambutnya.
Ia benar-benar telah jatuh cinta kali ini.
Rio bergegas naik ke lantai atas untuk menemui Dinda, lalu ia mengetuk pintu kamarnya.
Dinda membuka pintunya dan langsung bisa menghirup aroma wangi parfum Rio.
Laki-laki tampan itu tersenyum lembut padanya.
Dinda membalas senyuman Rio.
Rio langsung merasa jantungnya berdebar mendengar pertanyaan Dinda, ia seolah merasa baru saja disambut kepulangannya oleh seorang istri.
Lalu ia tersenyum sendiri menyadari angannya yang melambung tinggi.
"Iya, aku baru aja pulang" jawabnya.
"Aku ada sedikit keperluan dengan mu, apa aku boleh masuk?, tanya Rio.
"Oh silahkan mas" jawab Dinda sambil berjalan menuju sofa, diikuti Rio yang kemudian duduk disampingnya.
"Ada apa Mas Rio?" tanya Dinda.
"Aku sebenarnya merasa tidak enak denganmu, tapi aku berusaha memberanikan diri meminta bantuan darimu," kata Rio.
"Bantuan apa Mas? Mas Rio nggak usah sungkan begitu, aku pasti akan berusaha membantu," jawab Dinda sungguh-sungguh, Rio begitu baik padanya, bagaimana mungkin ia menolaknya?
"Aku mau kamu nemenin aku pergi ke sebuah pesta" kata Rio
"Pesta? Tapi bukannya aku lebih baik nggak keluar dulu Mas?" tanya Dinda perlahan.
"Kalo masalah itu kamu nggak usah khawatir, pesta itu adalah pesta private anaknya seorang pengusaha ternama, jadi udah pasti terjamin keamanannya," jawab Rio.
__ADS_1
Dinda tampak ragu untuk menyetujuinya, karena selama ini ia tidak pernah menghadiri sebuah pesta besar seperti itu, jadi ia takut akan mempermalukan Rio di sana.
Lagipula ia sedang tak mau bertemu dengan Vino. Semenjak Vino pergi begitu saja kemarin, hatinya merasa kecewa.
Esok malam nya, Vino bersiap-siap untuk ke pesta. Ia langsung membawa mobilnya menuju ke rumah keluarganya untuk menjemput Lara.
Namun hatinya begitu resah, ia takut bagaimana kalau seandainya Dinda benar-benar datang dan membuktikan bahwa dia memang suka rela tinggal bersama Rio. Ia takut akan kehilangan kesempatan untuk membuat Dinda bahagia bersamanya.
Sementara Lara tampak sudah berulangkali bolak-balik di depan kaca riasnya.
Ia ingin membuat Vino terkesan padanya.
Lara memilih gaun berwarna hitam yang simpel namun elegan menurutnya.
Lalu ia keluar untuk menunggu Vino menjemput.
Mamanya Vino yang sedang duduk di ruang keluarga, tersenyum lembut padanya.
"Kamu cantik sekali Lara, persis seperti kecantikan ibumu," puji si Mama.
"Terimakasih Tante. Tante nggak ikut?" tanya Lara.
"Nggakk, Tante udah tua, jadi malas pergi-pergi ke pesta seperti ini," jawabnya.
"Eh, itu Vino datang," sambungnya ketika melihat sosok yang sudah dianggapnya seperti anak kandungnya itu.
Lara langsung berdiri dan tersenyum saat melihat kedatangan Vino, ia menanti reaksi Vino melihat penampilannya, dan berharap Vino akan memujinya.
Namun harapannya langsung punah saat Vino hanya melihatnya sekilas dan langsung menuju kepada Mamanya.
Vino menyalami Mamanya dan mencium punggung tangannya.
Si Mama tersenyum melihat sikap anaknya yang selalu sopan padanya.
"Vino berangkat dulu ya Ma," pamitnya.
****
Sesampainya di pesta, hati Vino resah memikirkan Dinda. Ia celingukan mencari Rio.
Apa Dinda akan datang? Kalau dia tidak datang, berarti dia memang sedang di sekap, dan aku akan mengobrak-abrik rumah Rio besok. Tapi kalau Dinda datang, aku harus membawa Dinda pergi. Aku yakin dia telah dipaksa Rio untuk datang, pikirnya.
Vino terus menatap ke arah pintu masuk dengan gelisah, tanpa mempedulikan Lara yang sedang bersamanya, dan ia juga tidak peduli dengan gadis-gadis cantik yang berusaha menyapa dan mencari perhatiannya.
Sampai akhirnya ia melihat Rio masuk bersama seorang wanita yang menundukkan wajahnya.
Vino langsung terpaku melihat wanita itu. Dia memang Dinda. Ia terlihat begitu anggun dengan balutan long dress berwarna krem lembut yang begitu sempurna membungkus tubuhnya yang langsing. Rambutnya yang berwarna hitam berkilau dibiarkan terurai dan di bawa ke samping.
Vino kembali tak bisa mengalihkan perhatiannya dari sosok wanita yang begitu ia rindukan itu.
Sementara Dinda berusaha memberanikan diri untuk melihat suasana di ruangan itu.
__ADS_1
Namun tanpa sengaja ia melayangkan pandangannya kearah Vino.
Dan pandangan merekapun bertemu.