
Vino segera turun ke lantai bawah.
Namun betapa terkejutnya ia melihat di bawah sana ada Lara bersama Papanya dan juga seorang gadis yang tidak dikenalnya, mereka sedang bercakap-cakap dengan orang tuanya.
Mau apa lagi mereka? Pikirnya.
Vino memang tidak menyukai papanya Lara yang bernama Farhad itu, karena dari dulu laki-laki tua itu terus saja membuat hubungan nya dengan Rio kacau. Ia selalu menghasut Rio untuk membencinya, dan mengatakan bahwa Vino telah merebut kasih sayang orang tua nya dari nya.
Namun untuk menghormati orang tuanya yang berada di sana, Vino pun berjalan mendekat untuk menyapa mereka.
"Wah Tuan CEO baru bangun rupanya. Kalau CEO mah bebas ya," kata Farhad dengan senyum sinis nya.
"Semua orang bisa bebas bangun jam berapa pun di hari libur," jawab Vino sambil membalas senyum sinis Farhad.
Nyonya Aditya yang tau bahwa Vino tidak menyukai Farhad, langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Vin, mulai sekarang Pak Farhad dan juga kedua putrinya akan menjadi tetangga kita lagi. Mereka sudah membeli kembali rumah mereka yang dulu," kata Nyonya Aditya pada Vino.
"Oh ya?" tanya Vino sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Semoga kini bisa menjadi tetangga yang baik. Maaf Ma, Pa. Vino permisi dulu, mau mengambil teh jahe buat Dinda."
"Memangnya Dinda kenapa nak?" tanya Nyonya Aditya.
"Nggak tahu Ma, dari kemarin siang mual-mual terus," jawab Vino.
"Kamu sudah hubungi dokter Arif belum?"
"Belum Ma."
"Ya sudah, kamu ambil kan teh nya dulu untuk Dinda, biar Mama saja yang menghubungi dokter Arif," kata Nyonya Aditya.
"Baiklah Ma," jawab Vino mengangguk sambil beranjak pergi ke dapur, tanpa menoleh lagi ke arah keluarga Lara.
Sementara Lara menatap Vino dengan kecewa, ia berharap Vino akan menyapanya, namun kini Vino bersikap seperti tidak mengenalnya.
Dan Farhad hanya bisa menatap Vino dengan kesal, namun ia tidak bisa berkata apa-apa, karena dia tahu Aditya dan istrinya sangat menyayangi Vino.
Setelah mengambil teh, Vino langsung naik ke atas untuk memberikannya kepada Dinda.
Ia melihat istrinya masih terduduk lemah di pinggir tempat tidur dengan wajah yang sedikit pucat.
Vino pun memberikan teh hangat itu kepada Dinda, Dinda mengambil nya sambil tersenyum dan menyeruput teh hangat itu perlahan, kehangatan teh jahe itu mengalir melalui kerongkongan nya dan menghangatkan seluruh tubuhnya, sehingga membuat perutnya menjadi nyaman.
"Maafkan aku ya Sayang, gara-gara aku kamu jadi sakit begini," kata Vino merasa bersalah.
Dinda tersenyum lembut menanggapinya.
"Bukan salah kamu kok, Sayang. Kan aku tadi malam yang yang minta duluan," kata Dinda sambil tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Sebentar lagi Dokter akan datang untuk memeriksa kamu," kata Vino.
"Oh ya? Kenapa harus nelpon Dokter sih? Aku cuma masuk angin aja kok."
"Walaupun begitu, muka kamu terlihat begitu pucat, mungkin nanti Dokter bisa memberikan sedikit vitamin untuk menambah tenaga mu," jawab Vino.
"Ya udah, kamu mandi gih. Aku udah nggak apa-apa kok. Setelah minum teh hangatnya, rasanya perutku sudah mulai nyaman," kata Dinda.
"Basiklah aku mandi sekarang. Oh ya Sayang, kamu tahu enggak, di bawah ada Lara sama papanya," kata Vino
Dinda tampak mengerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya itu.
"Mau ngapain mereka kemari?" tanya Dinda.
"Mereka mau pindah lagi ke rumah mereka yang dulu di samping rumah ini, jadi sekarang dia akan menjadi tetangga kita," kata Vino sambil menatap istrinya, menunggu reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh Dinda, karena sebenarnya ia khawatir Dinda akan merasa tidak nyaman.
"Oh ya? Sudahlah," jawab Dinda sedikit cuek.
"Kamu nggak apa-apa kan Sayang? maksudku apa kamu merasa tidak nyaman kalau Larajadi tetangga kita?" tanya Vino.
"Nggak juga sih, karena kan kita nggak tinggal di sini terus. Kita hanya datang diakhir pekan saja. Jadi kita tidak akan bertemu terus dengannya kan?"
"Alhamdulillah kalau gitu. Lagipula kalau bertemu pun, kamu nggak usah khawatir, karena aku benar-benar tidak menyukai Lara sedikitpun," kata Vino.
Dinda tersenyum mendengar kata-kata Vino.
"Baiklah, aku percaya padamu," kata Dinda.
Dinda menatap Vino sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudku hanya mandi saja, aku tidak akan melakukan apa-apa kok," jelas Vino gelagapan, membuat Dinda tersenyum geli melihat sikapnya.
"Eggak ah, kamu duluan saja. Aku akan mandi sebentar lagi," jawab Dinda.
Tak lama kemudian Vino pun selesai mandi dan memakai bajunya, namun Dinda masih merasa malas beranjak ke kamar mandi.
Lalu terdengar ketukan di pintu kamar mereka, Vino pun berjalan untuk membukakan pintunya.
Ternyata Nyonya Aditya yang mengetuk pintu. Ia tersenyum lebar kepada anaknya itu.
"Dinda nya mana Nak?" tanyanya lembut.
"Ada di dalam Ma," jawab Vino.
"Kamu ajak Dinda turun dulu ya, dokternya sudah datang dan menunggu di bawah."
"Baik Ma, sebentar lagi kami akan turun."
Kemudian mereka pun segera turun ke bawah, namun betapa terkejutnya mereka ketika sampai di bawah, ternyata Lara dan keluarganya masih saja berada di sana.
__ADS_1
"Apa yang mereka tunggu sih? Kenapa mereka masih ada disini?" bisik Vino pada Dinda, dan istrinya itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
Begitu sampai di bawah, Dinda sengaja tidak melirik sedikitpun ke arah Lara dan keluarganya itu, dia masih sakit hati dengan kelakuan Lara padanya tempo hari.
"Kapan Rio akan datang? Kenapa dia harus pulang ke rumah nya sendiri?" tanya Farhad.
"Karena kemarin dia sedikit ngambek, mungkin sebentar lagi akan datang," jawab Pak Aditya.
Oh rupanya mereka sedang menunggu Rio. Laki-laki tua ini masih saja ingin menjodohkan Lara dengan Mas Rio, batin Vino.
"Dinda," panggil Nyonya Aditya.
"Iya Ma," jawab Dinda.
"Karena di sini lagi ada tamu, kita periksanya di sofa sebelah sana saja ya," kata Nyonya Aditya pada Dinda.
Dinda pun mengangguk dan mengikuti langkah mertuanya, begitu juga dengan dokternya dan Vino.
Setelah memeriksa Dinda, Dokter Arif pun tersenyum. Ia menatap Dinda dan Vino bergantian.
"Ada apa Dok? Dinda kenapa?" tanya Vino saat melihat senyum Dokter Arif.
"Selamat Mas Vino, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, karena Mbak Dinda sedang mengandung," kata Dokter Arif.
Vino dan ibunya langsung terkejut dengan mata terbelalak.
"Apa? Jadi Dinda hamil?" tanya Vino tak percaya.
"Iya Mas Vino, kehamilannya baru dua minggu, jadi harus dijaga ekstra ya," nasehat Dokter Arif sambil tersenyum.
Vino menutup mulutnya yang kini terbuka lebar dengan kedua tangannya.
Tubuhnya seketika terasa dingin dan tangannya bergetar. Sementara bibirnya kini tersenyum terus tanpa bisa ditahan. Ia benar-benar bahagia, sehingga tanpa sadar ia melompat-lompat kegirangan di tempatnya berdiri.
Kemudian ia langsung memeluk Dinda yang masih tertidur di sofa, lalu ia mengambil kedua tangan istrinya itu dan mencium-ciumi tangan Dinda tanpa henti.
"Terimakasih Sayang," bisiknya kemudian sambil tersenyum dan mata yang berkaca-kaca.
Setelah itu ia berjalan mendekati Mamanya dan memegang kedua tangannya.
"Ma, Vino akan menjadi seorang ayah Ma," kata Vino dengan senyuman lebar, namun kini ia tidak dapat lagi menahan air matanya.
Sementara Pak Aditya yang mendengar seruan Vino tentang kehamilan Dinda, langsung tergopoh-gopoh mendekati. Bibirnya pun nampak mengembangkan senyuman bahagia.
Namun berbeda dengan ekspresi keluarga Aditya, Lara tampak marah dan kecewa. Sementara papanya tersenyum mengejek sambil berkata,
"Huh, dasar orang-orang bodoh! Hanya cucu dari seorang anak pungut, senang nya bukan main!"
Di samping kanannya, tampak anak gadis bungsunya yang bernama Jeslyn, sedang menatap Vino dengan mata yang berbinar-binar.
__ADS_1
"Dia tampan sekali," bisiknya seorang diri. Tanpa mempedulikan apa yang terjadi, gadis itu terus menatap wajah tampan Vino yang begitu menarik perhatiannya.
Bersambung...