
Refleks Vino bergerak mundur dari samping Dinda, ia terus berjalan menjauhi tempat tidur, dan menjauhi meja rias yang memajang foto itu.
Matanya terbelalak seperti orang yang sedang ketakutan, dan ada sebersit kebencian di matanya.
Perlahan ia menunjuk foto itu dengan tangan yang bergetar.
"Itu... itu foto siapa?" tanya Vino dengan suara bergetar.
Dinda menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Vino, dan ia melihat foto itu adalah foto almarhum kedua orang tuanya.
"Itu foto kedua orang tuaku," jawab Dinda dengan wajah bingung melihat ekspresi Vino yang aneh saat menatap foto itu.
"Orang tua?" tanya Vino sambil mengalihkan pandangan kepada Dinda, kali ini raut wajahnya terlihat bingung.
"Laki-laki itu?" tanya Vino lagi sembari menunjuk ke arah foto ayahnya Dinda.
Dinda menoleh lagi ke arah foto itu semakin bingung.
"Dia Ayahku"
Tiba-tiba tubuh Vino lunglai, ia terjatuh bersimpuh di lantai sambil memegang dadanya. Wajahnya tampak mengernyit menahan sakit.
Ia kembali merasakan trauma itu, trauma yang menderanya sejak kecil. Baru setahun ini telah ia lupakan, sejak ia bertemu Dinda.
Dinda yang melihat Vino terjatuh langsung turun dari ranjang dan menghampirinya.
"Kamu kenapa Vin?" tanya Dinda panik.
Perlahan Vino menunjuk ke arah foto itu dengan kepala yang tertunduk, seolah ia tidak ingin melihatnya.
"Kamu buang foto itu sekarang!" serunya keras.
Dinda terkejut mendengar perkataan Vino.
"Vino!" seru Dinda refleks, hatinya tidak bisa menerima perkataan Vino.
__ADS_1
Vino seperti tersadar saat mendengar teriakan Dinda yang terdengar marah, ia mengangkat kepalanya menatap Dinda.
"Maaf atas sikapku tadi, tapi aku benar-benar tidak bisa melihat foto itu lagi. Aku harus pergi dari sini. Kamu tidurlah sekarang. Aku benar-benar minta maaf," kata Vino sambil bangkit perlahan dan beranjak pergi keluar.
Dinda terpaku bingung di tempat nya berdiri, lalu ia segera memakai outer untuk menutupi tubuhnya yang hanya memakai lingerie. Kemudian ia berlari keluar mengejar Vino.
"Vin!" panggil Dinda saat melihat Vino sedang membuka pintu keluar. Namun Vino tak berhenti bahkan tidak menoleh sama sekali.
Dinda pun mengejarnya sampai keluar, ia langsung menarik tangan Vino yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa Vin? Kamu kenapa? Aku nggak mengerti maksud kamu dengan foto orang tuaku!" seru Dinda sambil menarik kuat tangan Vino agar menghadap padanya.
Vino dengan terpaksa menatap Dinda.
"Aku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja sekarang, biarkan aku pergi," ujar Vino lirih, dadanya terasa sesak sekali.
"Justru karena kamu sedang tidak dalam keadaan yang baik, jadi aku tidak bisa membiarkan kamu pergi," jawab Dinda bersikeras.
"Aku benar-benar tidak bisa di sini, dan saat ini aku sedang tidak bisa berfikir jernih"
"Tapi kamu kenapa Vin? Ada apa dengan foto Ayahku?"
"Dia orang yang aku benci selama ini, dia yang telah membuat ayahku meninggal. Dan dia juga yang menyebabkan aku menjadi anak terlantar," teriak Vino dengan mata yang berkaca-kaca sambil memegang dadanya.
Seketika Dinda terperangah mendengar perkataan Vino. Ia merasa tidak percaya dengan pendengarannya.
"Apa maksudmu Vin?"
"Maksudku adalah, ayahmulah yang malam itu bersekongkol dengan ibuku untuk meracuni ayahku. Lalu ia juga yang membuangku jauh dari rumah ditengah malam saat aku masih berumur tujuh tahun bersama dengan wanita iblis yang harus ku sebut sebagai ibu itu," seru Vino dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras.
Tanpa sadar mulut Dinda ternganga saking terkejutnya mendengar perkataan Vino. Perlahan tangannya melepaskan tangan Vino, ia menutup mulutnya dengan tangannya, dan air mata mulai menggenang. Namun matanya tidak bisa ia kedipkan sama sekali, keterkejutannya membuat matanya terbelalak tak percaya.
Sementara Vino kembali tersadar setelah meluapkan emosi yang tertahan di dadanya. Ia ingin mendekap Dinda dan melarangnya untuk menangis. Tapi hati dan pikirannya terus terbayang wajah ayah Dinda yang sedang tersenyum di foto itu. Seolah ia kembali melihat laki-laki itu sedang tersenyum jahat saat membuangnya dulu.
Akhirnya Vino pun memilih untuk pergi dari sana dan melaju dengan mobilnya meninggalkan Dinda yang kini telah terjatuh bersimpuh di tanah halaman rumahnya. Dinda yang tersadar bahwa Vino telah pergi kini mengerjapkan matanya, dan seketika air matanya mengalir dengan deras.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa Ayah melakukan itu? Kenapa Ayah bisa sekejam itu?" teriak Dinda sesenggukan, tangannya meremas rumput yang tumbuh di halamannya itu.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ayahnya lah sosok laki-laki jahat yang telah membuat hidup Vino menderita.
Satu jam sudah ia menangis di halaman rumah nya itu. Sampai akhirnya ia beranjak bangun dengan tubuh gontai memasuki rumahnya.
Sementara Vino terus mengemudikan mobilnya dengan air mata yang masih mengalir. Wajah laki-laki jahat itu terus membayangi pikiran nya. Ia kembali teringat seringai jahat laki-laki itu saat melihat ibunya menariknya dengan kasar untuk keluar dari mobil. Ia sudah memohon kepada mereka agar tidak meninggalkan nya dalam kegelapan malam itu, tapi mereka tetap meninggalkan anak kecil berumur tujuh tahun di tempat asing saat tengah malam itu.
Bayangan yang selalu hadir dalam mimpi buruknya itu kini hadir dalam kehidupan nyatanya. Laki-laki itu hadir untuk menghacurkan hidupnya lagi. Vino benar-benar merasa sudah tidak tahan, emosinya membuncah sampai ke ubun-ubun. Ia memukul setir mobil nya kuat-kuat, dan berteriak sekencang kencangnya.
"Aaaaaaakh!" Teriak Vino keras.
Namun karena Vino tak fokus dalam mengemudi, ia tidak melihat belokan tajam di depannya. Mobilnya terus melaju lurus, dan...
BBRAAAKKKK!!!
Terdengar suara benturan keras saat mobil Vino menabrak kencang tiang listrik yang ada di pinggir jalan.
Kap mobil nya hancur lebur, begitu juga dengan kaca depannya. Dan Vino tersentak ke depan, sehingga dadanya terbentur dengan setir, dan kepalanya pun terbentur dengan bagian badan mobil yang penyok ke dalam.
Sehingga membuat Vino tak sadarkan diri.
Beberapa mobil yang berada di belakangnya langsung berhenti. Dan pengemudinya pun turun dari mobilnya untuk memeriksa keadaan Vino. Salah seorang dari mereka langsung menghubungi Polisi.
Sementara Dinda di rumahnya sedang duduk tegak di atas ranjang sambil menatap foto orang tuanya, yang masih terpajang di atas meja riasnya itu.
Tiba-tiba saja pikirannya yang dari tadi memang di penuhi oleh Vino, kini ia merasa resah memikirkan suaminya itu. Perasaan gelisah itu begitu kuat, sehingga ia tidak bisa menahan dirinya untuk menelepon Vino.
Ia pun langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor ponsel Vino.
Sementara di lokasi kecelakaan Vino, telah datang beberapa Petugas Polisi. Salah seorang dari mereka sedang memegang ponsel Vino untuk menelepon keluarganya. Namun tiba-tiba saja ponsel itu berbunyi karena ada yang menelepon.
Bersambung....
Halo guys... Untuk tebakan kemarin, sudah ada yang benar. Sesuai janjiku, akunnya udah aku follow ya...
__ADS_1
Nah, episode ini ada tebakan lagi nih...
Kira-kira siapa ya yang menelepon Vino saat ponsel nya sedang di pegang Pak Polisi? Aku tunggu jawabannya di komentar ya... Cuma buat seru-seruan guys...